Rabu, 09 Oktober 2013

Jangan Menjadi Yang Keempat


Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita.

Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? (hal ini terus di-propagandakan oleh walikota Depok, Dr Nur Mahmudi Isma'il).
Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah? Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.

Menjadi penolong agama Allah, sekali lagi, merupakan amal dan profesi yang sangat mulia. Apa dasarnya? Banyak sekali. Antara lain:

Pertama, Allah sendiri telah memberikan label, bahwa menjadi penolong agama Allah – dalam bentuk berda’wah dan menyeru manusia – merupakan amal yang sangat mulia. Lihat dan perhatikan firman-Nya, yang artinya, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Qs. Fushilat: 33).

Kedua, menolong agama Allah sama artinya dengan mewarisi tugas mulia para Rasul. “Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Qs. Asshaf: 9).
Setelah Rasulullah wafat, tugas menolong agama Allah menjadi tanggung jawab generasi seterusnya. Ibarat mata rantai, para penolong agama Allah menjadi penjaga terpeliharanya kejayaan agama itu. Karenanya, di zaman kapan pun seorang muslim lahir dan hidup, maka ia menjadi penanggung jawab bagi tegaknya agama Allah pada zamannya itu. Dan, kini, di zaman ini, adalah tugas kita yang hidup saat ini untuk menjadi penolong agama Allah.

Ketiga, menolong agama Allah bisa menjadi penghalang dari azab Allah. Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah SWT menyatakan, bahwa salah satu yang menghalangi-Nya untuk mengazab sebuah kaum, adalah bila mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihun). (Qs. Hud: 17).

Lalu, bagaimana caranya menjadi penolong agama Allah? Mudah. Tinggal sejauh mana kesiapan kita untuk mau dan mampu menjadi penolong agama Allah? Jawaban pertanyaan ini penting kita ketahui, sebab fakta Sirah Rasulullah menunjukkan, penolong agama Allah itu berbeda-beda.

Setidaknya ada 4 golongan atau kelompok 'responden' terhadap aktifitas dakwah..

Pertama, Kader inti. Ialah mereka yang bersedia menjadi kader inti bagi sebuah perjuangan da‘wah. Orang-orang seperti ini secara tulus membina diri mereka lalu menyerahkan diri sepenuh hati untuk menolong dan menegakkan agama Allah. Yang paling menonjol dari karakter penolong inti adalah, mereka melakukan transaksi hidup dan perjuangannya dengan Allah, meski secara amal ia berjuang bersama saudara-saudaranya seaqidah. Simak firman Allah, yang artinya, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridha Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamban-Nya.” (Qs. Al-Baqarah: 207)

Dalam catatan perjuangan Rasulullah, banyak contoh kader dan penolong inti tersebut. Betapa banyak penghargaan-penghargaan terhormat yang diberikan Allah kepada para kader inti itu, yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Baca misalnya, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka…” (Qs. Al-Fath: 10).

Atau ayat lain, ”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (Qs. Attaubah: 111). Juga bacalah, “Di antara orang-orang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka, di antara mereka ada gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).” (Qs Al-Ahzab: 23).

Kedua, pendukung. Kelompok kedua ini adalah orang-orang yang mendukung perjuangan Islam, menolong agama Allah tapi keterikatan dirinya masih dibawah para penolong inti, atau kader inti di atas. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah, banyak juga orang yang menerima Islam dan mendukung perjuangan Rasulullah, meski kelasnya tidak sehebat para kader inti.
Fakta ini diberitakan sendiri oleh Al-Qur’an, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk dengan satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa’: 95).

Ayat di atas nyata sekali menjelaskan adanya penolong inti bagi Islam, ada juga yang menjadi pendukung saja, dengan balasan yang berbeda-berbeda.

Ketiga, simpatisan. Artinya, ada orang-orang yang kemampuannya menolong agama Allah hanya bisa sampai tingkat menjadi simpatisan perjuangan Islam. Orang-orang seperti ini dalam Islam tidak ditolak perannya. Sebab, karena satu dan lain hal mungkin saja orang tidak bisa memberi kontribusi yang luar biasa bagi perjuangan Islam.

Di masa Rasulullah, ada orang-orang yang tidak bisa menjadi kader inti bagi perjuangan-nya. Tapi begitupun mereka tidak disingkirkan dari pusaran perjuangan, apalagi dianggap orang buangan. Seperti kisah seorang wanita tukang sapu di masjid Rasulullah. Suatu hari Rasulullah tidak menemukan wanita tukang sapu itu seperti biasanya. Segera beliau bertanya kepada para sahabat. Ternyata wanita itu telah meninggal dunia. Rasulullah heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu.
Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu memberi alasan, barangkali para sahabat menganggapnya sepele. Akhirnya Rasulullah meminta ditunjukkan kuburan wanita itu. Di sana Rasulullah melakukan shalat gaib. Inilah yang oleh para ulama fiqih dijadikan salah satu dalil tentang dianjurkannya shalat gaib.

Hal serupa juga terjadi pada orang-orang miskin di Makkah yang dengan tulus menerima ajakan da’wah Rasulullah. Umayyah bin Khalaf pernah mengajak Rasulullah untuk mengusir sahabat-sahabat yang miskin itu agar bisa mendekatkan tokoh-tokoh besar Quraisy kepada Rasulullah. Hal serupa juga dilakukan oleh Umayyah bin Hishnin. “Jika kami datang, hendaknya orang-orang ini (menunjuk ke sahabat yang miskin) dikeluarkan, dan baru kami dipersilakan masuk.” Segera saja Allah menurunkan ayatnya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari karena mengharap ridha-Nya. Dan janganlah kedua mata-mu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya melewati batas.” (Qs Al-Kahfi: 28).

Wilayah simpatisan da’wah sangat luas. Bahkan bisa sampai kepada kaum non muslim sekalipun. Di masa Rasulullah ada sebuah kabilah yang semuanya kafir, tetapi mereka menjadi informan Rasulullah dalam perang melawan kaum musyrik Quraisy. Dalam kisah hijrah Rasulullah ada ‘Amir bin Fuhairah, yang dibayar Rasulullah untuk menjadi penunjuk jalan. Di Makkah ada Muth’im bin Addy, kafir Qurays yang menjadi penjamin Rasulullah ketika masuk Makkah sepulang Rasulullah dari berda’wah ke Thaif. Lebih dari itu, paman Rasulullah Abu Thalib, yang mati dalam kondisi kafir pun memberi andil besar bagi perjuangan Rasul.

Jelaslah sudah. Untuk menjadi penolong agama Allah bisa dilakukan siapa saja meski dalam pilihan yang berbeda. Perbedaan itu bukan kasta-kasta, tapi sunnatullah. Karena tabiat manusia sendiri berbeda-beda, kemampuan-nya pun berbeda pula. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup baik menjadi pendukung, ada pula yang bisanya menjadi simpatisan.
Selain itu, tuntunan amal da‘wah pun berbeda-beda. Kadang membutuhkan ketajaman lisan, kadang membutuhkan berjuta uang, membutuhkan tenaga dan pikiran, membutuhkan waktu, tapi kadang juga membutuhkan keberanian untuk mati di jalan agama ini, atau membutuhkan banyak lagi pengorbanan besar lainnya.

Alasan lain, tantangan amal da’wah berbeda-beda. Lain tempat lain tantangannya. Lain kondisi lain halangannya. Lain zaman lain pula rintangannya. Rasulullah sendiri pernah berkata kepada para sahabat, ”Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang menuntut kesabaran. Bagi mereka yang berpegang teguh seperti kalian, akan mendapat pahala limapuluh kali kalian.” Para sahabat bertanya, “Limapuluh kali dari mereka ya Rasulullah?” “Tidak, tapi limapuluh kali dari kalian,”jawab Rasulullah. (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)

Seruan untuk menjadi penolong agama Allah itu telah lama berkumandang, “Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah…” (QS. Asshaf: 14). Karenanya, setiap muslim, setiap da’i, setiap organisasi da’wah, harus mengelola diri sendiri dan juga umat ini dengan baik. Agar lahir penolong-penolong agama Allah yang handal, tulus, dan punya semangat kerja tinggi. Jangan biarkan agama ini kehilangan penolong. Jangan biarkan da’wah ini kehabisan kader.

Kian hari seruan itu kian bergema. Maka sambutlah, dan jadilah kader, pendukung, atau simpatisan da’wah. Dan, jangan jadi yang keempat: pengkhianat dan penghancur agama Allah.

Wallahu A'lam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar