Rabu, 09 Oktober 2013

belajar dari NAPOLEON

18 Juni 1815. Panglima besar Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan besar dalam pertempuran di Waterloo. Kekalahan yang mengakhiri segala peperangan yg disulut oleh Napoleon sendiri. Kekalahan yg juga menajadi penutup sejarah Napoleon sebagai Kaisar Perancis.

Peristiwa “The Battle Of Waterloo” ini dianalisa oleh banyak peneliti dari berbagi sudut pandang. Mengapa Napolen Bonaparte, kaisar besar dengan kemapuan besar, membawa visi besar denagan misi besar, tumbang. Ada analisa pinggiran yg bagi kita aktivis dakwah justru cukup kontekstual dan selalu actual untuk dijadikan pelajaran.

Napoleon kalah dalam pertempuran itu konon katanya karena penyakit ambeien yg dideritanya kambuh. Sehingga ia tidak bisa menunggang kuda dan memimpin langusng pertempuran di garis depan. Maka ambeien itu berbuah kekalahan.

Ada cerita, pimpinan pasukan kavalerinya yg bangun kesiangan. Marshall Grouchy, komandan kavaleri pasukan napoleon ternyata tidak biasa bangun pagi. Dan ketika ia terbangun, keadaan sudah teralu parah untuk di perbaiki.

Ada juga tuturan yg lain, tentang pengaruh jeleknya tulisan tangan Napoleon yg mempengaruhi kesalahan interpretasi komandan-komandan tempur di lapangan. Konon Napolen menulis memo agar pasukannya menghadang pasukan Prussia yg datang di bawah pimpinan Marshall Blucher untuk membantu pasukan Wellington di Waterloo. Tapi karena tulisan tangan Napoleon lebih buruk dari goresan cakar ayam, maka memo dinas yg teramat penting itu terabaikan.

Ikhwahfillah, bagi kita meski terasa guyonan, kisah-kisah diatas menyumbang pelajaran besar. Untuk kita, yg mengemban visi besar tentang kemenangan dakwah. Seringkali kita berujar dengan gagah perkasa bahwa kita sedang memperjuangkan hal-hal besar, ide-ide peradaban dengan jargon KERJA BESAR UNTUK PERUBAHAN BESAR. Tapi setiap hari justru kita disuguhi oleh pemandangan dan kenyataan betapa kita abai pada hal-hal kecil yg sering kali kita anggap rutin.

Kita lihat di sekitar kita, berapa banyak ikhwah, pejuang dakwah yg abai dan tak ambil pusing dengan kesehatannya. Dia bicara tentang peradaban besar, tapi dia lupa tentang perkara-perkara “kecil” seperti kesehatan, olahraga serta kebiasaan baik lainnya. Betapa banyak ikhwah yg usianya masih tergolong muda terkena beragam penyakit yg menjeratnya. Biasanya tak jauh-jauh dari penyakit yg ditimbulkan oleh gaya hidup. Mereka terserang asam urat, mereka mengeluh tentang gula darah yg tinggi, cepat capek dan banyak lagi.

Mana mungkin agama dan kemenangan dakwah ini ditegakkan oleh orang-orang yg tak sehat badan dan jiwanya?! Mana bisa dakwah yg berat dan panjang ini diusung oleh prajurit-prajurit dengan penyakit kencing manis, lemah fisik?!
Ingatlah.... Allah lebih mencintai mukmin yang lebih kuat.

begitu jg dengan kisah kedua dari Napoleon yg harus kita ambil hikmahnya. Bangun kesiangan, telat merespon keadaan dan keperluan. Urgensi memelihara kebiasaan-kebiasaan baik yg kecil-kecil adalah, melatih respon kita jika saatnya tiba. Kita sering telat merespon masalah. Para pemimpin dakwah ini seharusnya bukan hanya mampu bereaksi, tapi harus pula mampu mengantisipasi.

Masihkah hari ini, dengan tuntutan dakwah dan perjuangan yg semakin berat, kita tetap istiqamah dengan kebiasaan-kebiasaan baik yg kecil? Seperti menyapa orang-orang yg tidak kita kenal di pinggir jalan. Sekadar hello, tak jadi soal. Masih jugakah kita menengok sahabat-sahabat lama yg hilang dari peredaran. Atau sekadar berkirim SMS tanda rindu dan sayang. Silaturahim jarang-jarang, itupun kalau ada perlu. Jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan yg besar, lalu abai pada perihal remeh temeh yg kita anggap tak penting dan tak ada urusan.

Kisah terakhir, tentang kualitas komunikasi kita, sudahkah pada tingkat yg prima? Jangan hanya karena tulisan yg mirip cakar ayam, lalu kita kalah dalam perang. Jangan hanya karena komunikasi yg tak jelas, lalu pesan-pesan penting tak tersampaikan. Lalu karena ketidakjelasan pesan, kita berkutat, bertengkar, menghabiskan energi pada sesuatu yg sesungguhnya bukan persoalan. Jangan pernah merasa minder untuk berbicara di depan banyak orang. Salah satu alasan ikhwah tidak mau membina karena konon katanya dia tidak bisa berbicara. Padahal Rasulullah saw berdakwah dengan lisan beliau. Makanya dari awal, kita memang harus berlatih untuk itu.

janganlah kita menjadi orang-orang yg berjenggot panjang, tapi bernapas pendek. Sebab, perjuangan ini menuntut stamina yg besar. Janganlah kita menjadi orang-orang yg abai pada hal-hal yg kecil. Sebab dakwah ini seperti menyatukan kepingan puzzle yg berukuran sangat kecil.
Wallahu A'lam.

*dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar