Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Satu Menit Saja

Coba Anda pikir-pikir, sesungguhnya banyak sekali jalan untuk mengerjakan amal kebajikan tanpa memerlukan usaha yang berat. Amal kebajikan itu dapat Anda kerjakan saat berjalan dengan kedua kaki Anda, mengendarai kendaraan, sedang berdiri atau duduk.

Dalam waktu satu menit, sebenarnya Anda dapat membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 15 kali. Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang menguasai diriku, sesungguhnya nilai surat Al-Ikhlas serupa dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca surat Fatihah sebanyak lima kali. Rasulullah pernah berkata kepada Ibnu Ma’ali, “Aku hendak mengajarimu sebuah surat yang nilainya lebih utama di antara surat-surat yang ada dalam Al-Qur’an.” Kemudian beliau melanjutkan, “(Yaitu) bacalah ‘alhamdulillahi rabbi alamîn’, yaitu surat Al-Fatihah, dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadaku.” (HR.Bukhari)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-azhîm” sebanyak 50 kali. Rasulullah pernah bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lisan dan berat di timbangan, dan dua-duanya disenangi oleh Allah, yaitu kalimat ’subhanallah wa bihamdihi, subhanallah al-azhîm’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimâtihi” sebanyak 10 kali.

Dalam waktu satu menit, Anda bisa memohon ampunan kepada Allah lebih dari 70 kali.
Memohon ampun kepada Allah dapat menyebabkan terhapusnya dosa, masuk surga, menghilangkan malapetaka, memudahkan segala urusan, mendapat karunia baik berupa harta maupun anak-anak.

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “lâ ilâha illa Allah wahdahu la syarîkalah lahu al-mulk wa lahu al-hamd wa huwa ala kulli syai qadir” sebanyak 20 kali. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca kalimat ‘lâ ilâh illa Allah wahdahu la syarîkalah lahu al-mulk wa lahu al-hamd wa huwa ala kulli syai qadir’ sebanyak 10 kali, maka dia seperti seseorang yang telah memerdekakan empat jiwa dari seorang anak seperti Nabi Ismail.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “la haula wa la quwata illa billahi” sebanyak 40 kali. Diriwayatkan dari Abu Musa, bahwa Rasulullah pernah bersabda kepadanya,
“Tidakkah kamu ingin aku beritahukan tentang harta simpanan di antara harta simpanan yang terdapat di surga?” Abu Musa menjawab, “Baiklah, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Bacalah kalimat ‘la haula wa la quwwata illa billahi’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam waktu satu menit, Anda bisa membaca kalimat “subhanallah wa bihamdihi” sebanyak 100 kali. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membaca kalimat ’subhanallah wa bihamdihi’ sebanyak 100 kali dalam sehari, maka dosa-dosanya akan dilebur, walaupun dosa-dosanya seperti buih air laut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi, dalam waktu satu menit pula, sebenarnya Anda bisa mencegah kemungkaran dengan hikmah dan tutur kata yang baik. Atau menganjurkan berbuat kebajikan, mementingkan arti sebuah nasehat untuk sahabat, turut berbelasungkawa atas seseorang yang ditimpa musibah, menyingkirkan benda yang menghalang-halangi jalan umum… Semua ini termasuk jenis amal kebajikan.

Dalam waktu satu menit, bisa jadi Anda dapat menggapai ridha Allah. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda, dan waktu satu menit itu merupakan bekal Anda saat hari kiamat tiba.

Dalam kitab al-Durar, sebuah kitab yang ditulis untuk menasehati anaknya, terutama dalam bab Melembutkan Hati; Upaya Menasehati Anak, Ibnu al-Jauzi berkata, “Ketahuilah wahai anakku, sesungguhnya hari mencakup jam, dan setiap jam mencakup hembusan nafas, dan setiap hembusan nafas adalah bekal. Maka dari itu, hati-hatilah jangan sampai saat menghembuskan nafas tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat. Maka pada hari kiamat kamu akan menyaksikan dirimu hanya sebuah tempat yang kosong dan kamu akan menyesal.”

“Coba kamu perhatikan setiap waktu yang kamu lewati, apa saja yang telah kamu kerjakan. Jangan kamu menyia-nyiakan waktumu kecuali sebisa mungkin kamu berusaha berbuat kebajikan. Jangan biarkan dirimu tidak melakukan pekerjaan apa pun. Dan hendaklah kamu membiasakan diri beramal kebajikan dan terus-menerus memperbaikinya. Semoga saja amal kebajikan itu menjadi simpanan amalmu saat di kubur dan akan membahagiakanmu saat hari kiamat tiba.”

Minggu, 28 Oktober 2012

Sesungguhnya Jiwa Kita Yang Lemah


Bahwa kita mampu mengatasi semua masalah itu PASTI, yg belum pasti adalah keseriusan mengoptimalkan seluruh potensi diri untuk menghadapi masalah itu.

Karena ALLAH TIDAK PERNAH MENGUJI DILUAR KEMAMPUAN HAMBA-NYA
... (lihat Qs. Albaqarah:286)

Jadi kalo ada yg stress, gila, bahkan bunuh diri, maka itu karena ketidakmampuan/ kemalasannya menyadari & memanfaatkan potensi dirinya yang sesungguhnya lebih unggul dibanding masalah yang menghampirinya.

Bukankah masalah itu teratasi dengan:
- Menghilangkan masalahnya, atau
- Bersabar dan bersikap tegar hingga kita bisa MENELANnya, menikmatinya, bahkan mengambil hikmahnya untuk kemajuan kita ?.

Kuncinya adalah BERMENTAL JUARA, dimulai dengan mempertinggi CITA-CITA serta menjaga agar bara SEMANGAT terus berkobar didalam dada.

Percayalah... saat mental kita sudah benar2 kokoh, cita-cita dan semangat selalu prima, maka tak ada lagi kesulitan hidup yang bisa menyedihkan kita. Bahkan kita akan menyadari bahwa ujian yg makin kencang merupakan pertanda akan datangnya kemuliaan saat kita mampu melewatinya. Syekh Muhammad Al-Ghazali berkata:

مصاعب الحياة تتمشى مع همم الرجال علوا و هبوطا
Sesungguhnya kesulitan2 hidup itu berjalan naik turun seiring dengan cita-cita/ semangat seseorang.

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun



Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat istri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening istrinya dan bertanya, 'Bunda, udah sholat ashar belum?' Istrinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, 'sudah yah..' Istrinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu istrinya memasak kesukaan sang suami. 
'Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.'
Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya. 

Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Istrinya bertanya, 'Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam.' Suaminya menjawab, 'Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya istriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.'
Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. 'Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.' ucap sang istri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.

Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok ayah kita namun memiliki makna yang begitu besar, didalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab. Semoga cerita diatas kita bisa mengambil hikmah dengan mencintai setulus hati ayah kita yang telah berkorban untuk anak dan istrinya.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Harmonisasi Dakwah


Setiap kita (pasti) pernah ndengerin lagu/musik/nasyid atau senandung apapun...
mengapa kita bisa menikmatinya ? jawabnya adalah : karena ada harmonisasi dalam nada2 lagu yg dimainkan...
Ketika kita ditanya tentang Baiti jannati...rumahku surgaku...mengapa surga bisa tercipta didalam rumah kita ? jawabnya : ketika ada harmonisasi..
dan lain-lain pertanyaan atas kasus yg serupa...

Dalam suatu acara, saya pernah ditanya seputar hubungan antara musik dengan dakwah...
Ketika itu, saya diminta membahas keterkaitan dakwah dengan 3 jenis alat musik : piano, gitar, dan angklung..
“kalo dakwah kita pengen produktif, kita mesti bisa belajar dari ketiga jenis alat musik tersebut..” jawabku..


Piano, secara bahasa artinya lembut...
artinya, dakwah yg kita sampaikan harus dengan cara yg lembut, sehingga nyaman diterima...
ketika kita memainkan musik ---termasuk musik vokal tentunya--- maka kita akan dapati yg disebut dg tanda2 dinamik. Ada keras, tegas, lembut, perlahan2 keras, dst
kalo kita main piano atau kibor, maka kita mesti memahami apa yg disebut SOFT TOUCH..
ada nada2 tertentu yang cara kita memainkannya berbeda...
ada yg harus ditekan dengan keras...ada juga yg cukup dg sentuhan lembut...
demikianlah dakwah ini...
tidak bisa selalu lembut...dan tidak harus keras terus...

Bagaimana dengan Gitar ?
gitar adalah salah satu alat musik bernada, yg bisa ‘memuat’ puluhan nada dengan berbagai oktaf.
umumnya, gitar terdiri dari 6 snar...dari yg kecil hingga yg besar...
masing2 snar memiliki tugas dan fungsi masing2.
snar kecil tidak bisa dijadikan utk nada rendah (bass), karena memang bukan utk itu ia ada..
pun sebaliknya...
masing2 harus berperan sesuai fungsi dan posisinya..
selain itu, agar gitar enak dimainkan, maka harus di-stemp dulu...
disinilah harmonisasi itu dituntut...
ketika snar paling bawah harus berposisi sebagai nada 'MI' dg oktaf tiniggi, maka ia harus tetap di posisi tsb...ga boleh ia naik ke nada yg lebih tinggi lagi, meski ia mampu melakukannya...
sebab kalo ia naik ke yg lebih tinggi, maka akan terjadi disharmoni...dan tentunya akan merusak output yg ada...
ketika snar2 tsb setia dalam posisinya, maka akan terciptalah harmonisasi. Sehingga akan menghasilkan keindahan dan kenikmatan, baik bagi yg memainkan, maupun yg mendengarkan...

demikian dengan dakwah ini...
masing2 sudah punya posisi dan peran masing2..
ketika semuanya memainkan peran dg baik, maka akan terciptalah harmonisasi. Sehingga akan menghasilkan keindahan dan kenikmatan.

Lalu, bagaimana dengan angklung ?
memainkan angklung adalah potret harmonisasi dan amal jama’i yg sempurna..
sebagaimana kita tahu, bahwa angklung hanya ada/menghasilkan satu nada..
untuk memainkan sebuah lagu, kita ga bisa hanya memainkan satu angklung saja, karena ga ada lagu yg terdiri dari satu nada...
secanggih apapun sebuah angklung, tetap saja ia hanya menghasilkan satu nada saja.
Dalam sebuah ensambel (kelompok musik) angklung, biasanya satu orang hanya bertanggung jawab atas satu nada...sehebat apapun dia..
dan ia pun harus fokus konsentrasinya...sebab, ketika salah memainkan, maka ia bisa merusak kelompok musik tsb...

begitulah dakwah...
sehebat apapun kita, maka kita ga bisa berbuat banyak karena kita hanya bisa memainkan satu nada...Kita juga ga bisa seenaknya sendiri memainkan nada tersebut, karena bisa merusak tatanan yg ada...
Kita butuh komunitas atau jamaah utk bisa menciptakan harmonisasi...karena harmonisasi tidak akan pernah tercipta dengan single fighter..

pastinya, setiap kita berharap agar dakwah ini kan tetap langgeng dan terus berkembang. Tapi kita juga menyadari, bahwa hal tersebut tidak bisa secara ujug-ujug terjadi. Sebab, persoalan-persoalan internal maupun eksternal seringkali menjadi duri dalam dakwah.
Disinilah kematangan tarbawiyah kita diuji, yaitu bagaimana kita menyikapi dengan bijak persoalan yg terjadi, menyelesaikannya tanpa menimbulkan masalah yg baru.
Kita harus melakukan apa yg disebut PART OF SOLUTION, bukan part of problem...

Utk itu, harmonisasi mutlak dibutuhkan.
Sebaik apapun sebuah pergerakan, jika diantara unsur2nya terdapat friksi2 yg ‘liar’, maka pergerakan tersebut bisa menjadi retak.
kita harus melakukan harmonisasi sebagai upaya mengoptimalkan potensi masing-masing lini da’wah dan mengefektifkan sinergi antar lembaga. harmonisasi mencakup pembagian atau kerjasama peran, bidang garap, isu, obyek da’wah dan hal-hal lain, sehingga tercegah kondisi tumpang tindih, kesenjangan atau saling memperlemah antar elemen dakwah

“Ketika sibuk, bukan kuantitas amanah yang mesti dikurangi, tetapi kualitas dirilah yang harus dibenahi.”
demikian prinsip harmonisasi yg mesti ada di setiap diri kita...

Nasehat Untuk Diriku


tulisan ini kupersembahkan buat diri sendiri yg kadang masih merasa 'nyaman',
cuek, ga mau capek, santai2 dan malas serta ga peduli dengan kesibukan aktivitas saudara2nya...

Semutpun tahu, diamnya adalah beban bagi saudara semut yang lain.
Maka tidak akan pernah ada seekor semut yang berdiam diri di dalam barisan semut. Kecuali semut itu sedang menghadapi sakaratul maut.

Itulah hakekat amal jamai. Beban harus diusung bersama-sama, tidak ada
yang merasakan ringan dan tidak ada yang merasakan berat.
Masing-masing memiliki beban sekuat yang dia mampu memikulnya.
Sehingga amal-amal yang muncul adalah amal yang akan dirasakan dengan penuh kegembiraan dan keceriaan dalam naungan iman Rabbani.

Seseorang yang berada di dalam kereta Jamai, setiap orang mempunyai
beban masing-masing.
Manakala ada yang seseorang diam, maka sesungguhnya orang itu sudah menyuruh saudaranya untuk memikul beban yang dimilikinya.

Tegakah kita membiarkan saudara kita memikul beban itu sendirian ?
Tahukan engkau bahwa saudaramu mengharapkan bantuanmu ?
Karena rasa malu yang dia simpan dalam-dalam, membuat saudaramu tidak mampu mengungkapkannya.

Di mana engkau berada sekarang, wahai saudaraku ?
Muncullah, hanyutlah dalam limpahan aroma kerja dakwah ini.
Bangkitkanlah motor penggerak, keimanan di dalam hati, menyambut kemenangan abadi.

Bukankah Nabi kita yang mulia sudah pernah memberikan semangat kepada
sahabat-sahabatnya ketika di medan peperangan Badar ?
"Ayo bangkitlah kalian menuju Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.."
Ah, seandainya bukan karena Rasulullah amat sangat mengharapkan agar
sahabat-sahabat yang mulia itu menjadi penghuni Surga-Nya, mungkin kalimat itu tidak akan pernah muncul di peperangan Badar.

Masihkah kesibukanmu, membuat engkau enggan bersama-sama dengan dakwah ini ?

Saudaraku....
Aku sangat rindu dengan langkah-langkahmu..
Aku sangat rindu dengan nasehat-nasehatmu...
Aku kehilangan jejak langkahmu... Aku kehilangan pengobar semangat di wajahmu...

Diakhir pesanku ini kepadamu wahai saudaraku...
aku berdoa, memohon kepada Allah Aziizul Hakiim,
dengan sangat... semoga sakaratul maut tidak menjemput kita kecuali kita dalam limpahan aroma kerja dakwah ini, Amien...
Semoga Allah kumpulkan kita di surga-Nya bersama Rasulullah dan para nabi, para syuhada, shiddiqin, dan hamba-hambaNYA yang shaleh. Amien...

Kamis, 25 Oktober 2012

Malam Takbiran


Malam ini..tepatnya sejak terbenam matahari, jutaan hamba yg beriman melantunkan takbir, tahlil,  dan tahmid.
Mengagungkan nama Nya dan kuasaNya
Semoga lantunan 'takbiran' tsb bukan sebatas di lisan.
Tapi menjadi lantunan yg bisa membawa kemenangan dan persatuan..
Karena takbir adalah penyatu hati
Karena takbir adalah penegasan bahwa hanya Allah Yang Maha Besar dan Maha Benar.
Karena takbir yg terlantun yg didasari pemahaman dan keyakinan yg benar, akan melahirkan pertolongan yg dijanjikanNya..

Cinere, 10 dzulhijjah 1433.