Tampilkan postingan dengan label baiti jannati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baiti jannati. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Januari 2015

Qaulan Sadida untuk anak kita

Remaja.
Pernah saya menelusur, adakah kata itu dalam peristilahan agama kita?

Ternyata jawabnya tidak. Kita selama ini menggunakan istilah ‘remaja’ untuk menandai suatu masa dalam perkembangan manusia. Di sana terjadi guncangan, pencarian jatidiri, dan peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Terhadap masa-masa itu, orang memberi permakluman atas berbagai perilaku sang remaja. Kata kita, “Wajar lah masih remaja!”

Jika tak berkait dengan taklif agama, mungkin permakluman itu tak jadi perkara. Masalahnya, bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis ‘amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah, dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja. Begitu penanda baligh muncul, maka dia bertanggungjawab penuh atas segala perbuatannya; ‘amal shalihnya berpahala, ‘amal salahnya berdosa.

Isma’il ‘alaihissalaam, adalah sebuah gambaran bagi kita tentang sosok generasi pelanjut yang berbakti, shalih, taat kepada Allah dan memenuhi tanggungjawab penuh sebagai seorang yang dewasa sejak balighnya. Masa remaja dalam artian terguncang, mencoba itu-ini mencari jati diri, dan masa peralihan yang perlu banyak permakluman tak pernah dialaminya. Ia teguh, kokoh, dan terbentuk karakternya sejak mula.

Mengapa? Agaknya Allah telah bukakan rahasia itu dalam firmanNya:

Dan hendaklah takut orang-orang yang meninggalkan keturunan di belakang mereka dalam keadaan lemah yang senantiasa mereka khawatiri. Maka dari itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengatakan perkataan yang lurus benar.
(QS.An Nisaa’ 9)

Ya. Salah satu pinta yang sering diulang Ibrahim dalam doa-doanya adalah mohon agar diberi lisan yang shidiq. Dan lisan shidiq itulah yang agaknya ia pergunakan juga untuk membesarkan putera-puteranya sehingga mereka menjadi anak-anak yang tangguh, kokoh jiwanya, mulia wataknya, dan mampu melakukan hal-hal besar bagi ummat dan agama.

Nah, mari sejenak kita renungkan tiap kata yang keluar dari lisan dan didengar oleh anak-anak kita. Sudahkah ia memenuhi syarat sebagai qaulan sadiidaa, kata-kata yang lurus benar, sebagaimana diamanatkan oleh ayat kesembilan Surat An Nisaa’? Ataukah selama ini dalam membesarkan mereka kita hanya berprinsip “asal tidak menangis”. Padahal baik agama, ilmu jiwa, juga ilmu perilaku menegaskan bahwa menangis itu penting.

Kali ini, izinkan saya secara acak memungut contoh misal pola asuh yang perlu kita tata ulang redaksionalnya. Misalnya ketika anak tak mau ditinggal pergi ayah atau ibunya, padahal si orangtua harus menghadiri acara yang tidak memungkinkan untuk mengajak sang putera. Jika kitalah sang orangtua, apa yang kita lakukan untuk membuat rencana keberangkatan kita berhasil tanpa menyakiti dan mengecewakan buah hati kita?

Saya melihat, kebanyakan kita terjebak prinsip “asal tidak menangis” tadi dalam hal ini. Kita menyangka tidak menangis berarti buah hati kita “tidak apa-apa”, “tidak keberatan”, dan “nanti juga lupa.” Betulkah demikian? Agar anak tak menangis saat ditinggal pergi, biasanya anak diselimur, dilenabuaikan oleh pembantu, nenek, atau bibinya dengan diajak melihat –umpamanya- ayam, “Yuk, kita lihat ayam yuk.. Tu ayamnya lagi mau makan tu!” Ya, anak pun tertarik, ikut menonton sang ayam. Lalu diam-diam kita pergi meninggalkannya.

Si kecil memang tidak menangis. Dia diam dan seolah suka-suka saja. Tapi di dalam jiwanya, ia telah menyimpan sebuah pelajaran, “Ooh.. Aku ditipu. Dikhianati. Aku ingin ikut Ibu tapi malah disuruh lihat ayam, agar bisa ditinggal pergi diam-diam. Kalau begitu, menipu dan mengkhianati itu tidak apa-apa. Nanti kalau sudah besar aku yang akan melakukannya!”

Betapa, meskipun dia menangis, alangkah lebih baiknya kita berpamitan baik-baik padanya. Kita bisa mencium keningnya penuh kasih, mendoakan keberkahan di telinganya, dan berjanji akan segera pulang setelah urusan selesai insyaallah. Meski menangis, anak kita akan belajar bahwa kita pamit baik-baik, mendoakannya , tetap menyayanginya, dan akan segera pulang untuknya. Meski menangis, dia telah mendengar qaulan sadiida, dan kelak semoga ini menjadi pilar kekokohan akhlaqnya.

Di waktu lain, anak yang kita sayangi ini terjatuh. Apa yang kita katakan padanya saat jatuhnya? Ada beberapa alternatif. Kita bisa saja mengatakan, “Tuh kan, sudah dibilangin jangan lari-lari! Jatuh bener kan?!” Apa manfaatnya? Membuat kita sebagai orangtua merasa tercuci tangan dari salah dan alpa.  sang anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu menyalahkan dirinya sepanjang hidupnya.

Atau bisa saja kita katakan, “Aduh, batunya nakal yah! Iih, batunya jahat deh, bikin adek jatuh ya Sayang?” Dan bisa saja anak kita kelak tumbuh sebagai orang yang pandai menyusun alasan kegagalan dengan mempersalahkan pihak lain. Di kelas sepuluh SMA, saat kita tanya, “Mengapa nilai Matematikamu cuma 6 Mas?” Dia tangkas menjawab, “Habis gurunya killer sih Ma. Lagian, kalau ngajar nggak jelas gitu.”

Atau bisa saja kita katakan, “Sini Sayang! Nggak apa-apa! Nggak sakit kok! Duh, anak Mama nggak usah nangis! Nggak apa-apa! Tu, cuma kayak gitu, nggak sakit kan?” Sebenarnya maksudnya mungkin bagus: agar anak jadi tangguh, tidak cengeng. Tapi sadarkah bahwa bisa saja anak kita sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa? Dan kata-kata kita, telah membuatnya mengambil pelajaran; jika melihat penderitaan, katakan saja “Ah, cuma kayak gitu! Belum seberapa! Nggak apa-apa!” Celakanya, bagaimana jika kalimat ini kelak dia arahkan pada kita, orangtunya, di saat umur kita sudah uzur dan kita sakit-sakitan? “Nggak apa-apa Bu, cuma kayak gitu. Jangan nangis ah, sudah tua, malu kan?” Akankah kita ‘kutuk’ dia sebagai anak durhaka, padahal dia hanya meneladani kita yang dulu mendurhakainya saat kecil?

Ah.. Qaulan sadiida. Ternyata tak mudah. Seperti saat kita mengatakan untuk menyemangati anak-anak kita, “Anak shalih masuk surga.. Anak nakal masuk neraka..” Betulkah? Ada dalilnya kah? Padahal semua anak jika tertakdir meninggal pasti akan menjadi penghuni surga. Juga kata-kata kita saat tak menyukai keusilan –baca; kreativitas-nya semisal bermain dengan gelas dan piring yang mudah pecah. Kita kadang mengucapkan, “Hayo.. Allah nggak suka lho Nak! Allah nggak suka!”

Sejujurnya, siapa yang tak menyukainya? Allah kah? Atau kita, karena diri ini tak ingin repot saja. Alangkah lancang kita mengatasnamakan Allah! Dan alangkah lancang kita mengenalkan pada anak kita satu sifat yang tak sepantasnya untuk Allah yakni, “Yang Maha Tidak Suka!” Karena dengan kalimat kita itu, dia merasa, Allah ini kok sedikit-sedikit tidak suka, ini nggak boleh, itu nggak benar.

Alangkah agungnya qaulan sadiida. Dengan qaulan sadiida, sedikit perbedaan bisa membuat segalanya jauh lebih cerah. Inilah kisah tentang dua anak penyuka minum susu. Anak yang satu, sering dibangunkan dari tidur malas-malasannya oleh sang ibu dengan kalimat, “Nak, cepat bangun! Nanti kalau bangun Ibu bikinkan susu deh!” Saat si anak bangun dan mengucek matanya, dia berteriak, “Mana susunya!” Dari kejauhan terdengar adukan sendok pada gelas. “Iya. Sabar sebentaar!” Dan sang ibupun tergopoh-gopoh membawakan segelas susu untuk si anak yang cemberut berat.

Sementara ibu dari anak yang satunya lagi mengambil urutan kerja berbeda. Sang ibu mengatakan begini, “Nak, bangun Nak. Di meja belajar sudah Ibu siapkan susu untukmu!” Si anakpun bangun, tersenyum, dan mengucap terimakasih pada sang ibu.

Ibu pertama dan kedua sama capeknya; sama-sama harus membuat susu, sama-sama harus berjuang membangunkan sang putera. Tapi anak yang awal tumbuh sebagai si suka pamrih yang digerakkan dengan janji, dan takkan tergerak oleh hal yang jika dihitung-hitung tak bermanfaat nyata baginya. Anak kedua tumbuh menjadi sosok ikhlas penuh etos. Dia belajar pada ibunya yang tulus; tak suka berjanji, tapi selalu sudah menyediakan segelas susu ketika membangunkannya.

Ya Allah, kami tahu, rumahtangga Islami adalah langkah kedua dan pilar utama dari da’wah yang kami citakan untuk mengubah wajah bumi. Ya Allah maka jangan Kau biarkan kami tertipu oleh kekerdilan jiwa kami, hingga menganggap kecil urusan ini. Ya Allah maka bukakanlah kemudahan bagi kami untuk menata da’wah ini dari pribadi kami, keluarga kami, masyarakat kami, negeri kami, hingga kami menjadi guru semesta sejati.

Ya Allah, karuniakan pada kami lisan yang shidiq, seperti lisan Ibrahim. Karuniakan pada kami anak-anak shalih yang kokoh imannya dan mulia akhlaqnya, seperti Isma’il. Meski kami jauh dari mereka, tapi izinkan kami belajar untuk mengucapkan qaulan sadiida, huruf demi huruf, kata demi kata. Aamiin. Sepenuh cinta.

[sumber: salimfillah.com]

Selasa, 16 Desember 2014

Ayah tak bisa membantumu, Nak....

SETELAH bertahun-tahun perjuangan dan penderitaan, misi suci Rasulullah SAW akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah-ruah mengalir ke Madinah dari berbagai negeri-negeri persemakmuran Islam. Di antara putra-putri Rasulullah SAW, hanya Fatimah yang masih hidup saat itu.

Sang ayah sangat mencintai putri satu-satunya itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikian juga Fatimah, setiap kali datang ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah. Jika ia datang, Rasulullah SAW sering mendudukkan Fatimah di samping beliau sembari menyeka peluh yang membasahi wajah putrinya dengan sapu tangannya atau meraba dahinya dan mengecek kesehatan sang putri.

Suatu hari Fatimah datang menemui Rasulullah SAW. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing, Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada mengeluh, “Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kelelahan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang ke Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah satu dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku.”

Rasulullah SAW menjawab permintaan putrinya itu dengan suara parau, “putriku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Aku hanyalah bendahara, tugasku adalah mengumpulkan mereka dari berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang berhak. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatu pun dari aset negara ini.“ 

Kemudian beliau melanjutkan, “Dunia ini adalah tempat untuk beramal. Lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya. Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan.”

Kesetiaan Rasulullah SAW

Suatu hari, seorang nenek datang menemui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah Anda wahai nenek?”

“Aku adalah Jutsamah al-Muzaniah, ” jawab wanita tua itu.

Rasulullah SAW pun berkata, “Wahai nenek, sesungguhnya saya mengenalmu. Engkau adalah wanita yang baik hati. Bagaimana kabarmu dan keluargamu. Bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah kita berpisah sekian lama?”

Nenek itu menjawab, “Alhamdulillah kami dalam keadaan baik. Terima kasih, Rasulullah.”

Tak lama kemudian, wanita tua itu pergi meninggalkan Rasulullah SAW. Aisyah RA yang melihat kejadian itu datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, seperti inikah engkau menyambut dan memuliakan seorang wanita tua? Istimewa sekali.”

Rasulullah menimpali, “Ya, dahulu nenek itu selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih hidup. Sesungguhnya melestarikan persahabatan adalah bagian dari iman.”

Setelah kejadian itu, Aisyah mengatakan, “Tak seorang pun dari istri-istri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah SAW seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”

Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah SAW menanggapinya dengan berkata, “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak.”

Pada kesempatan lainnya, Aisyah mengatakan, “Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah SAW, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah SWT telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”

Rasulullah SAW menjawab, “Demi Allah SWT, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah SWT menganugerahkan anak kepadaku darinya.”

Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan hakiki, bukan kesetiaan semu. Kesetiaan imani, bukan materi. Kesetiaan yang dilandaskan rasa cinta kepada Allah SWT, bukan cinta nafsu syaithani. Kesetiaan suami kepada istri yang telah lama mengarungi rumah tangga dalam segala suka dan duka.

Kecantikan Aisyah tidak membuat Rasulullah SAW untuk melupakan jasa baik dan pengorbanan Khadijah, betapa pun usianya yang lebih tua. Kesetiaan inilah yang membuat cendikiawan muslim Nahzmi Luqa mengatakan, “Ternyata kecemburuan Aisyah tidak mampu melunturkan kesetiaan Nabi kepada Khadijah, kesetiaan yang harus diteladani para pasangan suami istri.“

Semoga kita diberi kekuatan untuk memiliki kesetiaan pada suami/istri kita seperti halnya Rasulullah SAW. Amin.

Selasa, 25 November 2014

karena Ucapan kita adalah DOA

PAGI ini saya melihat seorang ibu yang mengantar anaknya ke sekolah seraya berkata, “Sana masuk, tuh umminya sudah ada.”

Namun anaknya tidak segera bergerak malah memgangi rok sang bunda.
“Anak bandel, malah narik-narik rok mama, sana cepat masuk,” dengan nada suara yang meninggi sang bunda berkata lantas mendorong putranya supaya bergerak.
Setelah anaknya didepan pintu kemudian sang ibu beranjak meninggalkan halaman sekolah.

Tak lama kemudian datang seorang anak bersama bundanya. Tiba di gerbang sekolah, sang bunda berkata, “Kakak, tuh lihat ummi sudah di menyambut, mama peluk dulu.”

Kemudian bunda memeluk anaknya lantas tangan bunda memgang kepala sang anak seraya membacakan Surat al-Fatihah. “Sayang teman ya, bersikap yang baik, bunda pulang dulu, assalamu’alaikum daahh,” ucapnya sambil tersenyum lalu berlalu.


Ucapan seorang ayah atau ibu kepada anak juga merupakan do’a. Namun sering para orangtua tidak menyadari hal ini. Dalam kehidupan seorang muslim serangkaian kegiatan yang dilakukan dari bangun tidur hingga tidur lagi selalu diawali dan diakhiri dengan do’a.


Menurut Wismiarti (2010), dalam bukunya “Mengapa surga di bawah telapak kaki ibu” dikatakan bahwa: Apapun yang kita lakukan di dunia ini tergantung kepada dua hal yaitu niat dan do’a. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Prof. Kazuro Murakami, Ph.D dengan judul “The Devine Massage of DNA”yang dikutip oleh wismiarti (2010) menjelaskan bahwa disetiap rantai DNA ada tombol-tombol positif dan negatif.


Tombol positif dan negatif setiap orang tidak sama. Lebih banyak tombol positif atau tombol negatif pada masing-masing orang juga berbeda. Hal itu merupakan blue print tiap-tiap manusia di dunia. Memiliki komposisi tombol positif dan tombol negatif seperti apa merupakan takdir kita. Namun , kita bisa menyalakan tombol yang positif dan mematikan tombol yang negatif dengan do’a.


Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya : “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Jika dalam mengawali dan mengakhiri sebuah kegiatan, kita berdo’a, maka kehidupan kita selalu dipenuhi dan diisi dengan do’a. Artinya tombol positif akan menyala dan tombol negatif tidak. Tombol mana yang menyala itulah yang menentukan arah hidup kita. Kekuatan berpikir akan membuat hidup kita berjalan kearah do’a-do’a kita. Berkata, bersikap dan mendampingi anak penuhi dengan do’a maka tombol positif pada anak kita lah yang akan menyala dan menentukan arah hidupnya kelak. Hati-hatilah berbicara dengan anak ayah atau bunda, karena itu adalah do’a. []
 --
copas dari milis

Selasa, 28 Oktober 2014

Tentang PERNIKAHAN

Pernikahan bukan sekadar tentang CINTA, Tapi yang paling utama adalah tentang KOMITMEN.
Komitmen kepada janji2..
Komitmen kepada tugas dan peran...
Komitmen utk terus mencintai...
Komitmen utk selalu membersamai...
Komitmen utk selalu memahami....

Ya Allah, cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu 
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat, Saling menjaga kehormatan dikala jauh, Saling menghibur dikala duka, Saling mengingatkan dikala bahagia, Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan...,

Genap 20 th bersama Lusi Ummu Hanina
Semoga kan selalu bersama dalam cintaNYA
Disini dan kelak disana...

28 okt 1994 - 28 okt 2014

Selasa, 30 Oktober 2012

Sakitku Ibadahku

Sudah 2 bulan sejak akhir syawal 1433 lalu, usai menunaikan shoum Syawal, tiba-tiba Allah berikan nikmat yg lain. Tepat tgl 10 Sept, aku mesti bedrest dan dirawat di rmh sakit. Dan sepertinya rahmat Allah yg satu ini demikian luas, hingga memasuki bulan kedua aku masih harus bedrest. Tanpa bisa diketahhui apa sebenarnya penyakit yg kuderita saat ini. Ada 4 dokter spesialis yang menanganiku. Bahkan seorang dokter 'diimpor' dari RSPAD Gatot Subroto sebagai pakar penyakit yg sedang kuderita, masih belum bisa memastikan jenis penyakitku...

Sebagai hamba yg beriman, pastinya aku ga boleh mengeluh atas kondisi yg kualami. Aku yakin bahwa Allah punya rencana untukku. Dan, rencana Allah selalu indah pada waktunya, karena rencanaNYA dan keputusanNYA adalah pasti yang terbaik buat hambaNYA.

Alhamdulillah, aku memiliki orang2 hebat di sekitarku. Orang2 yg selalu memotivasi dan menumbuhkan harapan. Mulai dari keluarga 'kecil'ku, istri dan anak2 ku yg luar biasa sabar. Terutama istriku, yg begitu sabar merawatku, mencari info ttg penyakitku. Selalu setia menunggu dan menemani. Semoga Allah membalasnya dg balasan terbaik. Juga keluarga besar Bani Salim... Ibu dan saudara2ku, yg selalu mendoakan dan menyemangati.

Juga segenap ikhwah yg tak kalah hebatnya. Aku dapatkan dan rasakan hak-hak ukhuwah sebagai seorang muslim. Semoga Allah selalu mengampuniku yg terkadang tidak membalas sms, tidak menerima/menjawab telpon mereka, tidak bisa menemui mereka ketika berkunjung ke rumah, atau menemui cuma sebentar saja. Semua karena kondisiku. Sama sekali bukan karena kemalasan atau kebencian.
Ya Allah, ampunilah dosa2 kami, dan dosa saudara2 kami yg telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan ganjalan kebencian dalam hati kami terhadap orang2 yg beriman...

Tak lupa kepada saudara2ku dari forum shalahuddin DJP, keluarga besar komunitas Sekolah Alam Indonesia, keluarga besar Izzatuislam dan izispro, yg ketulusan doa dan ta'awunnya sangat kurasakan. Semoga Allah himpun dan kumpulkan kita di surgaNya kelak.

Setiap kita pasti tak ingin sakit. Kita benci sakit, termasuk dokter sekalipun. Tapi, apa yg tdk kita sukai, boleh jadi justru baik buat kita. "boleh jadi kamu membenci sesuatu, tapi justru baik bagimu" demikian firman Allah.
Dibalik ketidaksukaan kita, pastinya Allah memiliki rencana yg terbaik buat kita. Dan, rencana Allah selalu indah pada waktunya.

Tak perlu menunggu rencanaNYA, karena itu pasti terjadi dan terwujud. Yang mesti disiapkan adalah, bagaimana sikap kita ketika rencana tersebut terjadi. Apakah menjadi pribadi yang bersyukur atau malah kufur ---na'udzu billahi min dzalik.

Allahummar-zuqni qalban muthmainnatan tu'minu bi liqoo-ika, wa turdhii bi qadhaa-ika...
Ya Allah, anugerahilah aku hati yg tenang, yang beriman ketika berjumpa denganMU, dan ridho dengan segala ketetapan-MU. Doa ini selalu kupanjatkan, dalam kondisi apapun.

Senin, 8 Okt 2012....
sehari setelah meminta pulang/keluar (pulang paksa) dari rumah sakit....rencananya hari selasa besok (9 Okt) akan ke Pekalongan utk menyempurnakan ikhtiar dengan terapi herbal dan refleksi. Tapi, masih bingung karena belum dapat transport ---baca : mobil-- utk perjalanan kesana. Mobil belum punya...ada juga punya mertua yang tinggalnya lumayan jauh dan mobilnya pun kemungkinan dipakai.

Di tengah kegalauan ini, tiba-tiba telpon-telponan dengan manajer izzatulislam...dia menanyakan kabar dan kondisiku.. aku ceritakan tentang kondisi dan rencanaku.
"insya Allah kami kirim mobil + drivernya, untuk anter mas fathur dan keluarga ke pekalongan...gratiss..mas fathur tinggal naik dan duduk manis." demikian hasil bincang-bincang kami. Subhanallah walhamdulillah wa Allahu akbar..!!
Betapa Allah begitu pemurahnya....maka nikmat-NYA yang mana lagi yg kau dustakan ?

Selasa, 9 Okt....road to pekalongan....segalanya Allah mudahkan selama perjalanan. Sampe di rumah Pekalongan menjelang Isya... sudah ada beberapa kerabat yg nunggu. Malamnya, sekitar pukul 21.30, sang terapis datang. Setelah berbincang sejenak, terapi pun dimulai...di kamar, hanya ada aku yg ditemani istri yg mencatat hasil diagnosa sang terapis...termasuk mencatat pantangan2 makanan yg sebaiknya kuhindari, juga makanan yg bagus utk dikonsumsi.
"yang paling bagus makan ikan tongkol segar..." demikian sang terapis.
keesokan harinya, kuceritakan kepada Ibu hasil diagnosa dan terapi semalam, termasuk kusampekan tentang ikan tongkol tadi.
"ya, nanti insya Allah Ibu ke pasar utk mencari ikan tongkol.ibu mau sholat dhuha dulu..." jawab ibuku.
Belum juga Ibu selesai menunaikan sholat dhuha, tiba2 bel rumah berbunyi..
rupanya tamu ibuku yg datang..
Sebenarnya ga begitu penting menceritakan tamu-tamu ibuku yg datang. Apalagi memang cukup banyak tamu ibuku yg sering berkunjung.
Tapi, tamu yg satu ini terasa 'istimewa'. Ya...istimewa, karena kedatangannya secara ga langsung menunjukkan betapa kebesaran Allah. Tamu tersebut ---sebut saja bu Haji--- datang dengan membawa 15 ekor ikan tongkol segar nan besar. Ternyata suami bu Haji ini seorang nelayan yang semalem baru saja mendarat.
Aku hanya tercenung melihatnya, sambil tak lupa berucap syukur kepada Allah.
Kulihat ibuku pun menangis melihat apa yg dibawa oleh tamunya...

Yaa Rabb...Engkau Maha mengetahui apa-apa yg hamba butuhkan...
bahkan Engkau telah memberi ketika hamba belum sempet meminta...
Betapa Rahman dan Rahim-MU lebih besar dan lebih luas dari rasa syukur-KU..
ampuni hambaMu ini, yang sedikit sekali mensyukuri nikmat-nikmat-MU...



14 Okt...back to Cinere....
Alhamdulillah...setelah beberapa kali terapi...aku diizinkan pulang ke Cinere. Meski belum pulih betul. Insya Allah tinggal  recovery. Selama masa recovery ini, selain masih menjaga pantangan yg ada, juga disarankan mengkonsumsi kurma, apalagi kondisiku yg sering lapar. Jadi kurma bisa buat cemilan. Tapi, mencari kurma diluar bulan Ramadhan ternyata susah. Bahkan di Mall deket rumah juga ga ada. Pun di beberapa market di sekitar.
Akhirnya kami coba browsing. Alhamdulillah dapat, tapi berjarak lumayan jauh dari rumah, dan harganya pun ternyata lumayan mahal :(  😓
Keinginan beli kurma ini sementara dipending dulu.

kutinggal rebahan....
Tapi...sesaat setelah 'melupakan' keinginan beli kurma tersebut, tiba-tiba siang itu ada sms masuk dari seorang ikhwan.
"Assalamu'alaikum pak...ada di rumah ga ? saya mau silaturrahim.."
"Insya Allah saya di rumah" jawabku.
Ketika temenku ini datang, lagi2 aku mesti menangis karena mensyukuri semua nikmat yg DIA berikan..
Bagaimana tidak ? sang ikhwan ---temenku ini, datang ke rumah sambil membawa kurma kemasan 1kg sebanyak 2 dus. kurma tsb persis yg kulihat sewaktu browsing tadi...yg lumayan mahal harganya...



Ya Allah...utk ke sekian kalinya Engkau perlihatkan kebesaran dan kemurahanMU kepadaku....
Engkau menahanku untuk membeli kurma, ternyata  Engkau ---melalui perantara hamba-MU--- akan memberiku secara cuma-cuma ...semoga hamba bisa selalu mensyukuri nikmat-nikmatMU.



Kiranya kucukupkan sampe disini dulu tulisan ini...
Satu hal yang harus kukatakan, bahwa sesungguhnya dibalik ujian ini, Allah perlihatkan kebesaranNYA demikian banyak.
masih banyak kisah yg bisa disampekan...tapi kondisi ku tidak memungkinkan untuk menulis semuanya disini. Biarlah semua ini menjadi penguat keimanan dan kepasrahan atas takdir-NYA.
Tentang hikmah sakit dan ujian, sudah saya posting di awal-awal. silakan membuka-buka kembali blog ini.
Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang selalu bersyukur.

Minggu, 28 Oktober 2012

Nasehat Untuk Suami-Istri



Nasihat Khusus Untuk Suami

Wahai para suami!

1.    Apa yang memberatkanmu—wahai hamba Allah—untuk tersenyum di hadapan istrimu ketika masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala?

2.    Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika melihat istri dan anak-anakmu, padahal engkau akan mendapatkan pahala karenanya?
3.    Apa sulitnya apabila engkau masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna: “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” agar engkau memperoleh tiga puluh kebaikan?
4.    Apakah yang menyusahkanmu jika engkau berkata kepada istrimu dengan perkataan yang baik, sehingga dia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?
5.    Apakah menyusahkanmu—wahai hamba Allah—jika engkau berdo’a: “Ya Allah. Perbaikilah istriku, dan curahkan keberkahan padanya?”

6.    Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan sedekah?

7.    Apa yang memberatkanmu untuk membawa hadiah (oleh-oleh) untuk istri dan anak-anakmu ketika engkau pulang dari safar?

8.    Luangkan waktumu untuk menemani istrimu membaca al-Qur-an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan mendatangi majlis ta’lim (majelis ilmu) yang mengajarkan al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman para Sahabat.
9.    Tahukah engkau wahai hamba Allah, bahwa jima’ (ber­setubuh) akan mendatangkan ganjaran dari Allah? Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

((
مِنْ أَمَاثِلِ أَعْمَالِكُمْ إِتْيَانُ الْحَلَالِ – يَعْنِى النِّسَاءَ. ))

“Di antara amal perbuatan kalian yang paling utama adalah mendatangi (bersetubuh) yang halal, yaitu dengan istri-istri kalian.”
[Hadits shahih: diriwayatkan oleh Ahmad (IV/231), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (II/26, no. 1391), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (XXII, no. 848). Lihat: Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 441)]


Nasihat Khusus Untuk Istri
Wahai para istri!
1.    Apakah yang menyulitkanmu jika engkau menemui suamimu ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?

2.    Beratkah bagimu untuk menghilangkan debu di wajah, kepala, dan pakaian suamimu kemudian engkau men­ciumnya?
3.    Berhiaslah untuk suamimu dan raihlah pahala di sisi Allah Ta’ala. Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut di hadapannya!

4.    Janganlah engkau melembutkan suaramu kepada laki-laki yang bukan mahram sehingga terfitnahlah orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit, sehingga ia ber-prasangka buruk kepadamu!
5.    Jadilah seorang istri yang memiliki sifat lapang dada, tenang, dan selalu ingat kepada Allah di dalam segala keadaan!
6.    Ringankanlah segala beban suami, baik berupa musibah, luka, dan kesedihan!
7.    Didiklah anak-anakmu dengan baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid, dan tahlil; serta perbanyaklah membaca al-Qur-an, khususnya surat Al-Baqarah, karena surat tersebut dapat mengusir syaitan!

8.    Bangunkanlah suamimu untuk mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak; serta janganlah melarangnya untuk berbuat baik kepada orang tua dan menjaga tali silaturahim!
9.    Perbanyaklah istighfar untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum Muslimin; serta berdo’alah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh kebaikan dunia dan akhirat; dan ketahuilah bahwa Rabbmu Maha Mendengar do’a. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Rabb kalian berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian ….” (QS. Al-Mu’min [40]: 60)

10.    Bersihkanlah rumahmu dari segala gambar-gambar makhluk hidup, alat-alat yang melalaikan, alat-alat musik, dan segala sesuatu yang dapat merusak!

Diringkas dari Fiqhut Ta’aamul Baina
az-Zaujaini wa Qabasat min Baitin Nubuwwah (hlm. 107-112) karya Abu ‘Abdillah Mushthafa bin al-‘Adawi, cet I/Darul Qasim, dengan sedikit tambahan dari penulis.

Jangan Remehkan Kebaikan Sekecil Apapun



Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat istri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening istrinya dan bertanya, 'Bunda, udah sholat ashar belum?' Istrinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, 'sudah yah..' Istrinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu istrinya memasak kesukaan sang suami. 
'Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.'
Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya. 

Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Istrinya bertanya, 'Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam.' Suaminya menjawab, 'Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya istriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.'
Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. 'Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.' ucap sang istri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.

Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok ayah kita namun memiliki makna yang begitu besar, didalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab. Semoga cerita diatas kita bisa mengambil hikmah dengan mencintai setulus hati ayah kita yang telah berkorban untuk anak dan istrinya.

Saling Memahami Antara Suami Istri


Siapapun tidak pernah menginginkan perselisihan dengan orang lain. Namun, siapa pun tidak selayaknya melarikan diri ketika dia mempunyai perselisihan dengan orang lain, sekiranya masih ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikannya. Demikian pula dalam hidup berkeluarga, tidak ada satupun suami atau istri  yang dengan sengaja membuat perselisihan dengan pasangannya. Bagaimanapun juga, jika sebuah keluarga dibangun diatas fondasi cinta, kasih sayang, dan saling membutuhkan, tidak akan ada diantara mereka yang menginginkan berpisah dari pasangannya.

Sesungguhnya,  munculnya perselisihan , pertikaian, cek-cok dalam hidup berumah tangga adalah suatu keniscayaan. Setiap manusia tidak dilahirkan dalam kondisi sama persis tanpa perbedaan. Bahkan anak kembar pun, ada yang berbeda dari diri mereka. Bahkan, perbedaan itu sendiri adalah sunatullah yang tak terelakkan. Sehingga wajar saja apabila sepasang suami istri menemukan riak-riak kecil dalam romantika bahtera rumah tangganya.

Perselisihan dalam rumah tangga ibarat garam dalam masakan. Apabila masakan kebanyakan garamnya, akan terasa keasinan. Sebaliknya, jika tanpa garam, masakan pun terasa hambar. Pun demikian dengan rumah tangga. Apabila terlalu sering terjadi perselisihan, maka keutuhannya akan terancam. Jika sama sekali tidak pernah ada, maka hidup pasangan suami istri akan monoton, cenderung tertutup, dan enggan saling terbuka. Bukan tidak mungkin ketika permasalahan yang terpendam sudah sampai puncaknya, maka yang ada adalah perpisahan. Tak ada semangat untuk berbicara karena mereka memang tidak terbiasa.

Perbedaan dan perselisihan itu sendiri bukanlah suatu aib yang harus dibuang jauh-jauh. Ia bukanlah perbuatan maksiat dimana orang yang melakukannya dicatat sebagai orang yang berdosa dan tercela. Tentu saja selama perbedaan tersebut bukan masalah akidah dan masalah agama yang fundamental atau mendasar.

Ada suami istri yang berhasil mengatasi dengan baik segala permasalahan dan perbedaan yang muncul diantara mereka, hingga mereka pun terus langgeng dalam ikatan suci perkawinannya. Namun, ada pula pasangan yang terhempas gagal ketika diterpa angin badaipersoalan rumah tangga, sehingga tidak ada yang dapat dilakukan selain berpisah.

Sesungguhnya rumah tangga yang kokoh itu berdiri diatas fondasi dialog, saling memahami, dan saling mengisi antara dua pihak. Bagaimanapun juga, manusia tidak terlahir sebagai sosok yang langsung menguasai metode paling ideal dalam berumah tangga. Diperlukan kesiapan mental dan tekad yang kuat apabila seseorang ingin menjadi suami yang sukses atau istri yang berhasil. Alangkah baiknya jika masing-masing suami-istri menambah referensi pemahaman tentang tips hidup berumah tangga, berusaha memahami karakter pasangannya, menumbuhkan sikap mengalah, melatih teknik berdialog yang menyenangkan, selalu memperbarui rasa cinta kasih dan mengasah berbagai keterampilannya.

SALING MEMAHAMI (tafahum), adalah kata kunci dari sekian banyak tips dan kiat untuk membina keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Tiada artinya memiliki berbagai macam keahlian dan keterampilan tentang dunia keluarga apabila tidak ada kemauan untuk saling memahami pasangan masing-masing. Seiring dengan itu, juga tidak begitu bermanfaat jika hanya satu pihak saja yang mau memahami pasangannya, sementara pihak lain tidak mau tahu.    (fr)

*edisi 18th wedding anniversary, 28 okt 1994 - 28 okt 2012.