Rabu, 09 Oktober 2013

Nasehat ALI bin Abi Thalib


Ali r.a. menasihati seorang lelaki yang meminta nasihat kepadanya, maka Ali RA pun menasehatinya dengan berucap :

“Jangan menjadi orang yang mengharap akhirat tanpa persiapan amal. Jangan mengundur taubat kerana panjang angan-angan. Jangan bertutur kata seperti orang zuhud,tetapi beramal seperti orang durhaka. Jika diberi, tidak pernah puas, jika tidak diberi,selalu menuntut. Tidak mensyukuri pemberian, selalu mengharap tambahan. Melarang, tetapi dia terus melakukan. Menyuruh sesuatu yang tidak dia lakukan. Mencintai orang saleh,tetapi tidak beramal seperti mereke. Benci terhadap orang yang melakukan dosa,padahal dia selalu melakukannya. Takut terhadap kematian,kerana banyaknya dosa yang dia lakukan.

Ketika sakit
, dia sangat menyesal. Ketika sehat, dia merasa aman untuk berbuat dosa. Merasa sombong ketika diberi maaf. Berputus asa bila ditimpa cobaan. Ketika diuji dengan musibah, dia berdoa seperti orang yang sangat memerlukan. Ketika dalam keadaan lapang, dia berpaling dengan kesombongan. Dia dikalahkan oleh hawa nafsu melebihi dugaannya. Dia tidak mampu menundukkan hawa nafsunya. Dia takut menghadapi orang lain walau kerana sedikit kesalahan. Dia selalu mengharapkan imbalan melebihi amal yang dia lakukan.


Ketika
diberi kekayaan, dia masih merasa kurang dan merasa selalu mendapat cobaan. Ketika dalam keadaan fakir, dia berputus asa dan takut menghadapi mati. Jika beramal, dia melakukannya sedikit saja. Ketika bertanya, dia ber tele-tele(buat bodoh). Dia selalu berbuat maksiat dan menunda-nunda taubat.

Dia mampu memberi pelajaran, tetapi dirinya tidak mendapatkan pelajaran. Pintar menasihati, tetapi dia sendiri tidak mendapatkanya.Ucapannya meyakinkan, amalnya sangat minimal. Senang berbuat sesuatu yang cepat sirna, sementara yang pasti kekal dia abaikan. Dia melihat kekayaan sebagai hutang, dan melihat hutang sebagai satu keberhasilan. Dia takut menghadapi kematian, tetapi tidak menyiapkan bekal. Membesar-besarkan maksiat yang dilakukan orang lain, padahal yang dia lakukan lebih banyak. Membesar-besarkan kebaikan yang dia lakukan, sehingga kebaikan yang dilakukan orang lain dia sepelekan(dia remehkan)


Selalu
menuduh orang lain, padahal dia sendiri melakukannya. Lebih senang bersenda gurau dan menyanyi ketimbang(perbandingan) berzikir bersama orang-orang fakir. Dia telah menghukum orang lain untuk dirinya, dan tidak mau menghukum dirinya untuk orang lain. Dia membimbing orang lain, sementara dia mejerumuskan dirinya sendiri.”

belajar dari NAPOLEON

18 Juni 1815. Panglima besar Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan besar dalam pertempuran di Waterloo. Kekalahan yang mengakhiri segala peperangan yg disulut oleh Napoleon sendiri. Kekalahan yg juga menajadi penutup sejarah Napoleon sebagai Kaisar Perancis.

Peristiwa “The Battle Of Waterloo” ini dianalisa oleh banyak peneliti dari berbagi sudut pandang. Mengapa Napolen Bonaparte, kaisar besar dengan kemapuan besar, membawa visi besar denagan misi besar, tumbang. Ada analisa pinggiran yg bagi kita aktivis dakwah justru cukup kontekstual dan selalu actual untuk dijadikan pelajaran.

Napoleon kalah dalam pertempuran itu konon katanya karena penyakit ambeien yg dideritanya kambuh. Sehingga ia tidak bisa menunggang kuda dan memimpin langusng pertempuran di garis depan. Maka ambeien itu berbuah kekalahan.

Ada cerita, pimpinan pasukan kavalerinya yg bangun kesiangan. Marshall Grouchy, komandan kavaleri pasukan napoleon ternyata tidak biasa bangun pagi. Dan ketika ia terbangun, keadaan sudah teralu parah untuk di perbaiki.

Ada juga tuturan yg lain, tentang pengaruh jeleknya tulisan tangan Napoleon yg mempengaruhi kesalahan interpretasi komandan-komandan tempur di lapangan. Konon Napolen menulis memo agar pasukannya menghadang pasukan Prussia yg datang di bawah pimpinan Marshall Blucher untuk membantu pasukan Wellington di Waterloo. Tapi karena tulisan tangan Napoleon lebih buruk dari goresan cakar ayam, maka memo dinas yg teramat penting itu terabaikan.

Ikhwahfillah, bagi kita meski terasa guyonan, kisah-kisah diatas menyumbang pelajaran besar. Untuk kita, yg mengemban visi besar tentang kemenangan dakwah. Seringkali kita berujar dengan gagah perkasa bahwa kita sedang memperjuangkan hal-hal besar, ide-ide peradaban dengan jargon KERJA BESAR UNTUK PERUBAHAN BESAR. Tapi setiap hari justru kita disuguhi oleh pemandangan dan kenyataan betapa kita abai pada hal-hal kecil yg sering kali kita anggap rutin.

Kita lihat di sekitar kita, berapa banyak ikhwah, pejuang dakwah yg abai dan tak ambil pusing dengan kesehatannya. Dia bicara tentang peradaban besar, tapi dia lupa tentang perkara-perkara “kecil” seperti kesehatan, olahraga serta kebiasaan baik lainnya. Betapa banyak ikhwah yg usianya masih tergolong muda terkena beragam penyakit yg menjeratnya. Biasanya tak jauh-jauh dari penyakit yg ditimbulkan oleh gaya hidup. Mereka terserang asam urat, mereka mengeluh tentang gula darah yg tinggi, cepat capek dan banyak lagi.

Mana mungkin agama dan kemenangan dakwah ini ditegakkan oleh orang-orang yg tak sehat badan dan jiwanya?! Mana bisa dakwah yg berat dan panjang ini diusung oleh prajurit-prajurit dengan penyakit kencing manis, lemah fisik?!
Ingatlah.... Allah lebih mencintai mukmin yang lebih kuat.

begitu jg dengan kisah kedua dari Napoleon yg harus kita ambil hikmahnya. Bangun kesiangan, telat merespon keadaan dan keperluan. Urgensi memelihara kebiasaan-kebiasaan baik yg kecil-kecil adalah, melatih respon kita jika saatnya tiba. Kita sering telat merespon masalah. Para pemimpin dakwah ini seharusnya bukan hanya mampu bereaksi, tapi harus pula mampu mengantisipasi.

Masihkah hari ini, dengan tuntutan dakwah dan perjuangan yg semakin berat, kita tetap istiqamah dengan kebiasaan-kebiasaan baik yg kecil? Seperti menyapa orang-orang yg tidak kita kenal di pinggir jalan. Sekadar hello, tak jadi soal. Masih jugakah kita menengok sahabat-sahabat lama yg hilang dari peredaran. Atau sekadar berkirim SMS tanda rindu dan sayang. Silaturahim jarang-jarang, itupun kalau ada perlu. Jangan-jangan kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan yg besar, lalu abai pada perihal remeh temeh yg kita anggap tak penting dan tak ada urusan.

Kisah terakhir, tentang kualitas komunikasi kita, sudahkah pada tingkat yg prima? Jangan hanya karena tulisan yg mirip cakar ayam, lalu kita kalah dalam perang. Jangan hanya karena komunikasi yg tak jelas, lalu pesan-pesan penting tak tersampaikan. Lalu karena ketidakjelasan pesan, kita berkutat, bertengkar, menghabiskan energi pada sesuatu yg sesungguhnya bukan persoalan. Jangan pernah merasa minder untuk berbicara di depan banyak orang. Salah satu alasan ikhwah tidak mau membina karena konon katanya dia tidak bisa berbicara. Padahal Rasulullah saw berdakwah dengan lisan beliau. Makanya dari awal, kita memang harus berlatih untuk itu.

janganlah kita menjadi orang-orang yg berjenggot panjang, tapi bernapas pendek. Sebab, perjuangan ini menuntut stamina yg besar. Janganlah kita menjadi orang-orang yg abai pada hal-hal yg kecil. Sebab dakwah ini seperti menyatukan kepingan puzzle yg berukuran sangat kecil.
Wallahu A'lam.

*dari berbagai sumber

Jangan Menjadi Yang Keempat


Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita.

Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? (hal ini terus di-propagandakan oleh walikota Depok, Dr Nur Mahmudi Isma'il).
Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah? Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.

Menjadi penolong agama Allah, sekali lagi, merupakan amal dan profesi yang sangat mulia. Apa dasarnya? Banyak sekali. Antara lain:

Pertama, Allah sendiri telah memberikan label, bahwa menjadi penolong agama Allah – dalam bentuk berda’wah dan menyeru manusia – merupakan amal yang sangat mulia. Lihat dan perhatikan firman-Nya, yang artinya, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Qs. Fushilat: 33).

Kedua, menolong agama Allah sama artinya dengan mewarisi tugas mulia para Rasul. “Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Qs. Asshaf: 9).
Setelah Rasulullah wafat, tugas menolong agama Allah menjadi tanggung jawab generasi seterusnya. Ibarat mata rantai, para penolong agama Allah menjadi penjaga terpeliharanya kejayaan agama itu. Karenanya, di zaman kapan pun seorang muslim lahir dan hidup, maka ia menjadi penanggung jawab bagi tegaknya agama Allah pada zamannya itu. Dan, kini, di zaman ini, adalah tugas kita yang hidup saat ini untuk menjadi penolong agama Allah.

Ketiga, menolong agama Allah bisa menjadi penghalang dari azab Allah. Dalam Al-Qur’an, dengan tegas Allah SWT menyatakan, bahwa salah satu yang menghalangi-Nya untuk mengazab sebuah kaum, adalah bila mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan (mushlihun). (Qs. Hud: 17).

Lalu, bagaimana caranya menjadi penolong agama Allah? Mudah. Tinggal sejauh mana kesiapan kita untuk mau dan mampu menjadi penolong agama Allah? Jawaban pertanyaan ini penting kita ketahui, sebab fakta Sirah Rasulullah menunjukkan, penolong agama Allah itu berbeda-beda.

Setidaknya ada 4 golongan atau kelompok 'responden' terhadap aktifitas dakwah..

Pertama, Kader inti. Ialah mereka yang bersedia menjadi kader inti bagi sebuah perjuangan da‘wah. Orang-orang seperti ini secara tulus membina diri mereka lalu menyerahkan diri sepenuh hati untuk menolong dan menegakkan agama Allah. Yang paling menonjol dari karakter penolong inti adalah, mereka melakukan transaksi hidup dan perjuangannya dengan Allah, meski secara amal ia berjuang bersama saudara-saudaranya seaqidah. Simak firman Allah, yang artinya, “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridha Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamban-Nya.” (Qs. Al-Baqarah: 207)

Dalam catatan perjuangan Rasulullah, banyak contoh kader dan penolong inti tersebut. Betapa banyak penghargaan-penghargaan terhormat yang diberikan Allah kepada para kader inti itu, yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Baca misalnya, “Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka…” (Qs. Al-Fath: 10).

Atau ayat lain, ”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” (Qs. Attaubah: 111). Juga bacalah, “Di antara orang-orang mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka, di antara mereka ada gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya).” (Qs Al-Ahzab: 23).

Kedua, pendukung. Kelompok kedua ini adalah orang-orang yang mendukung perjuangan Islam, menolong agama Allah tapi keterikatan dirinya masih dibawah para penolong inti, atau kader inti di atas. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah, banyak juga orang yang menerima Islam dan mendukung perjuangan Rasulullah, meski kelasnya tidak sehebat para kader inti.
Fakta ini diberitakan sendiri oleh Al-Qur’an, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk dengan satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (Qs. An-Nisa’: 95).

Ayat di atas nyata sekali menjelaskan adanya penolong inti bagi Islam, ada juga yang menjadi pendukung saja, dengan balasan yang berbeda-berbeda.

Ketiga, simpatisan. Artinya, ada orang-orang yang kemampuannya menolong agama Allah hanya bisa sampai tingkat menjadi simpatisan perjuangan Islam. Orang-orang seperti ini dalam Islam tidak ditolak perannya. Sebab, karena satu dan lain hal mungkin saja orang tidak bisa memberi kontribusi yang luar biasa bagi perjuangan Islam.

Di masa Rasulullah, ada orang-orang yang tidak bisa menjadi kader inti bagi perjuangan-nya. Tapi begitupun mereka tidak disingkirkan dari pusaran perjuangan, apalagi dianggap orang buangan. Seperti kisah seorang wanita tukang sapu di masjid Rasulullah. Suatu hari Rasulullah tidak menemukan wanita tukang sapu itu seperti biasanya. Segera beliau bertanya kepada para sahabat. Ternyata wanita itu telah meninggal dunia. Rasulullah heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu.
Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu memberi alasan, barangkali para sahabat menganggapnya sepele. Akhirnya Rasulullah meminta ditunjukkan kuburan wanita itu. Di sana Rasulullah melakukan shalat gaib. Inilah yang oleh para ulama fiqih dijadikan salah satu dalil tentang dianjurkannya shalat gaib.

Hal serupa juga terjadi pada orang-orang miskin di Makkah yang dengan tulus menerima ajakan da’wah Rasulullah. Umayyah bin Khalaf pernah mengajak Rasulullah untuk mengusir sahabat-sahabat yang miskin itu agar bisa mendekatkan tokoh-tokoh besar Quraisy kepada Rasulullah. Hal serupa juga dilakukan oleh Umayyah bin Hishnin. “Jika kami datang, hendaknya orang-orang ini (menunjuk ke sahabat yang miskin) dikeluarkan, dan baru kami dipersilakan masuk.” Segera saja Allah menurunkan ayatnya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari karena mengharap ridha-Nya. Dan janganlah kedua mata-mu berpaling dari mereka (karena) mengharap perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya melewati batas.” (Qs Al-Kahfi: 28).

Wilayah simpatisan da’wah sangat luas. Bahkan bisa sampai kepada kaum non muslim sekalipun. Di masa Rasulullah ada sebuah kabilah yang semuanya kafir, tetapi mereka menjadi informan Rasulullah dalam perang melawan kaum musyrik Quraisy. Dalam kisah hijrah Rasulullah ada ‘Amir bin Fuhairah, yang dibayar Rasulullah untuk menjadi penunjuk jalan. Di Makkah ada Muth’im bin Addy, kafir Qurays yang menjadi penjamin Rasulullah ketika masuk Makkah sepulang Rasulullah dari berda’wah ke Thaif. Lebih dari itu, paman Rasulullah Abu Thalib, yang mati dalam kondisi kafir pun memberi andil besar bagi perjuangan Rasul.

Jelaslah sudah. Untuk menjadi penolong agama Allah bisa dilakukan siapa saja meski dalam pilihan yang berbeda. Perbedaan itu bukan kasta-kasta, tapi sunnatullah. Karena tabiat manusia sendiri berbeda-beda, kemampuan-nya pun berbeda pula. Ada yang layak menjadi kader inti, ada yang cukup baik menjadi pendukung, ada pula yang bisanya menjadi simpatisan.
Selain itu, tuntunan amal da‘wah pun berbeda-beda. Kadang membutuhkan ketajaman lisan, kadang membutuhkan berjuta uang, membutuhkan tenaga dan pikiran, membutuhkan waktu, tapi kadang juga membutuhkan keberanian untuk mati di jalan agama ini, atau membutuhkan banyak lagi pengorbanan besar lainnya.

Alasan lain, tantangan amal da’wah berbeda-beda. Lain tempat lain tantangannya. Lain kondisi lain halangannya. Lain zaman lain pula rintangannya. Rasulullah sendiri pernah berkata kepada para sahabat, ”Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang menuntut kesabaran. Bagi mereka yang berpegang teguh seperti kalian, akan mendapat pahala limapuluh kali kalian.” Para sahabat bertanya, “Limapuluh kali dari mereka ya Rasulullah?” “Tidak, tapi limapuluh kali dari kalian,”jawab Rasulullah. (HR. Tirmidzi dan dihasankannya)

Seruan untuk menjadi penolong agama Allah itu telah lama berkumandang, “Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah…” (QS. Asshaf: 14). Karenanya, setiap muslim, setiap da’i, setiap organisasi da’wah, harus mengelola diri sendiri dan juga umat ini dengan baik. Agar lahir penolong-penolong agama Allah yang handal, tulus, dan punya semangat kerja tinggi. Jangan biarkan agama ini kehilangan penolong. Jangan biarkan da’wah ini kehabisan kader.

Kian hari seruan itu kian bergema. Maka sambutlah, dan jadilah kader, pendukung, atau simpatisan da’wah. Dan, jangan jadi yang keempat: pengkhianat dan penghancur agama Allah.

Wallahu A'lam



karena Berbagi tak kan pernah Rugi

Ini kisah seorang pedagang bubur
Tukang bubur ini memiliki  keponakan yang sudah yatim piatu...
dagangan buburnya laku dan laris...
sang paman selalu menjaga dan mengajari pemuda yatim piatu ini sampai remaja..
"Ayoo dagang bubur..!!!" ajak si paman suatu ketika...
lalu diajarkanlah sang keponakan ini berdagang bubur hingga bisa mandiri..
Sampailah si-anak yatim ini berdagang bubur....
Sebagaimana pamannya, dagangan sang keponakan pun laris manis sampai banyak yg ngantri beli.. bahkan dari luar kota...
Melihat semakin banyak pembelinya.... pemuda ini tidak tega banyak orang antri untuk beli buburnya...
dan kemudian dia menuliskan resep masakan buburnya yang dia dapat dari pamannya, dicopy....diperbanyak dan dibagikan kepada para langganan yg membeli buburnya tsb.
"Mengapa kamu melakukan ini..?!!" salah seorang pelanggannya bertanya... 
"Yaa.. dari pada antri di sini kan bisa buat bubur sendiri di rumah...
atau buat usaha yg sama di tempat lain..!!" demikian jawab si pemuda..
"Nanti gimana kalo jualanmu  tdk laku lagi kalo resepnya dibagi-bagikan..." tanya pelanggan.
"Bagaimana tdk laku.... paman saya saja yg mendidik sy begini tetep rezekinya cukup dan dagangan buburnya rame dan saya juga maju.... 
mengapa saya harus takut membagikan ilmu ini" jawab pemuda penjual bubur.
Pemuda ini melihat pamannya senang membagikan ilmu, yg diberi ilmu maju, yg memberi ilmu juga tidak  berkurang ilmunya.
Karena sang paman yakin rezeki dari al-ghoniy dr Allah yg Maha Pemberi kekayaan.
Ciri-ciri orang kaya adalah orang yg tdk membutuhkan/tdk bergantung kepada siapapun,
tapi orang sekaya apapun pasti bergantung pada Allah.
Dan Allah Maha Kaya yg tdk perlu apapun dari siapapun...
karena segala-galanya adalah milik Allah...

Siapakah Kita ?


“Di dunia ini, dari banyaknya jumlah manusia hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dari sedikit yang sadar itu hanya sedikit yang ber-Islam. Dari sedikit yang ber-Islam itu hanya sedikit yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari mereka yang berjuang sedikit sekali yang bersabar. Dan dari mereka yang bersabar hanya sedikit sekali dari mereka yang sampai akhir perjalanan” (Hasan Al-Banna)


dari sekian banyak hamba Allah....
kita dipilihNYA menjadi hambaNYA yg beriman...
dari sekian hambaNYA yg beriman...
kita dipilihNYA sebagai kader dakwah...
dari sekian kader dakwah...
kita dipilihNYA sebagai  kader yg peduli dengan kerja-kerja dakwah..
Semoga Allah senantiasa menjaga dan menguatkan kita
dalam mengemban tugas dakwah ini....


“Dan mereka yang bejuang untuk menegakkan agama Kami,
niscaya akan Kami tunjuki ke jalan Kami.
Dan sesungguhnya Allah selalu bersama-sama
dengan orang-orang yang berbuat baik.” 

 (Surah Al-’Ankabut (29) ayat 69)
 

Selasa, 08 Oktober 2013

belajar dari SAHABAT Rasulullah saw

Dengarkanlah ungkapan dari lisan seorang sahabat bernama Abu Dhamdham radhiallahu anhu. “Ya Allah, aku tidak punya harta lagi untuk aku sedekahkan kepada orang yang membutuhkan. Karenanya, sudah aku sedekahkan kehormatanku untuk mereka. Siapa saja yang menghinaku, atau mencaciku, itu adalah halal untukku.”

Hampir tidak ada, orang yang keinginannya untuk memberi kepada orang lain lebih besar daripada keinginannya untuk diri sendiri. Seperti sahabat Abu Dhamdam radhiallahu anhu dan juga para sahabat lainnya. Karenanya, kita pasti aneh mendengarkan ucapan itu. Ternyata ada seseorang yang sangat ingin menghibahkan apa yang menjadi miliknya untuk orang lain. Ternyata ada hati seseorang yang begitu lapang, yang tak mengisi jiwanya untuk kepentingan dirinya, kecuali untuk kepentingan orang lain yang membutuhkannya. Sampai tatkala tak ada lagi yang layak diberikan kepada orang lain, ia menghadirkan kehormatan, kemuliaan, harga dirinya, untuk diberikan kepada orang lain. Lalu, semua caci maki, umpatan, hinaan, akan dijadikan sedekah dari dirinya untuk orang yang mencaci, mengumpat dan menghinanya. Subhanallah.

Abu Dhamdham pasti mempunyai logika keimanannya sendiri untuk memiliki sikap seperti itu. Sebab semua orang lazimnya mempunyai keinginan diri, menyimpan obsesinya untuk diri sendiri. Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari ungkapan Abu Dhamdham ra ini. Katanya, ”Kedermawanan Abu Dhamdham ini mencerminkan kelapangan hati, ketenangan jiwa, dan kebersihannya dari rasa memusuhi orang lain.” (Tahdzib Madarij As Saalikin, 407). Hati yang lapang, jiwa yang tenang dan tak menyimpan masalah dalam hati. Ketiganya saling bertautan. Hati yang sempit, menandakan jiwa yang selalu resah, dan keadaan itu umumnya dipicu oleh suasana tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Dan ketiga hal itulah yang bisa diatasi oleh Abu Dhamdham hingga ia sangat ingin memberi, melebihi keinginannya untuk dirinya sendiri 
 
Membersihkan hati dari rasa tidak enak dengan saudara sesama Muslim, tidak mudah dan bahkan membutuhkan kesabaran berlipat. Melapangkan dada, setelah melihat prilaku saudara yang mungkin membuat luka, membikin kecewa, memunculkan amarah, seiring sejalan dengan kemampuan seseorang melatih diri untuk mengendalikan diri saat marah. Dan itu tidak gampang. Karena itulah, sikap tidak menyimpan luka, sikap lapang dada, sikap lapang jiwa yang tidak menyimpan sedikitpun rasa yang mengganggu persaudaraan, adalah sifat-sifat yang menjamin seseorang masuk surga. 
 
Masalah ini yang ingin disampaikan Rasulullah saw, saat ia tiga kali memuji seorang pemuda yang datang ke majlisnya, bahwa pemuda yang datang itu adalah penghuni surga. Di tengah nasihat dan arahannya di dalam masjid, Rasulullah saw tiba-tiba mengatakan, ”Akan datang pada kalian sekarang seorang yang menjadi ahli surga.” Tak lama setelah itu, datanglah seorang pemuda Anshar yang bersih janggutnya karena wudhu. Sedangkan tangannya yang kiri menenteng dua sandalnya. Peristiwa serupa ini terjadi lagi keesokan harinya, hingga tiga kali berulang.

Abdullah bin Umar radhiallahu anhu tersentak rasa keingintahuannya, dan berniat untuk bermalam di rumah pemuda itu, sampai ia tahu apa rahasianya, hingga mendapat sebutan ahli surga oleh Rasulullah saw, sebanyak tiga kali. Setelah tiga hari bermalam di rumah pemuda itu, Abdullah bin Umar ra merasa tak ada bagian hidupnya yang istimewa. Ia pun bertanya, dan menjelaskan maksud sebenarnya ia bermalam bersama pemuda itu. Pemuda itu menjawab, ”Saya tidak lebih seperti apa yang engkau lihat. Tapi, dalam jiwa saya tak sedikitpun ganjalan perasaan, dan saya tidak hasad sedikitpun atas kebaikan yang mereka terima.” Lalu, Abdullah bin Umar ra pun mengatakan, ”Inilah yang meninggikan kedudukanmu, yang kami tidak sanggup melakukannya.” 
 
Hati yang lapang, hati yang tak mempunyai dendam, hati yang tak memiliki rasa kesal, dengan saudara sesama Muslim, adalah surga dunia. Itu kesimpulan dari hadits panjang tentang Abdulah bin Umar dan pemuda Anshar tersebut. Abdullah bin Umar radhiallahu anhu yang terkenal zuhud dan ahli ibadah bahkan mengakui, bila dirinya tidak mampu memiliki kebersihan hati, kelapangan dada, seperti pemuda itu. 
 
Setidaknya kita harus berusaha mengusir rasa benci, atau sekedar meminimalisir suasana yang tidak bersih dengan orang lain. Sebab bila rasa dengki, hasad, ganjalan yang ada tak kunjung mampu kita redam, ada bahaya besar yang akan menimpa kita. Hasad, dengki, memang pasti punya logikanya sendiri, dalam arti pasti memiliki alasan untuk bisa dibenarkan. Tapi juga bisa menjadi alasan untuk disalahkan. Alasan yang membenarkan itu sendiri, belum tentu asli kebenarannya karena sangat mungkin ada dalam buaian dan bisikan syetan yang membenarkan sesuatu yang keliru. Dan itu semua berakibat pada perpecahan, perkubuan, bisa merebak, bahkan melebar tak melibatkan satu atau dua orang tertentu melainkan satu kelompok orang. Sampai kita benar-benar menjadi lemah dan berada dalam kondisi seperti yang tegas dilarang Allah swt dalam surat Al Anfal ayat 46, ”... Dan janganlah kalian bertikai, lalu kalian menjadi gagal dan kekuatan kalian hilang.... ” 
 
Camkan dalam-dalam bagaimana persaudaraan yang dihidupkan oleh Rasulullah saw di zaman kenabian, dan hidup bergerak dalam dunia para sahabat dan orang-orang shalih. Mereka bukan tak pernah mengalami masalah, merasa terluka, kecewa, dalam interaksi sesamanya. Mereka orang-orang yang hatinya lapang, jiwanya bersih lalu paras mukanya menjadi bercahaya. Mereka berhasil mengatasi permasalahan dalam hubungan mereka dengan sangat baik. 
 
Dengar bagaimana perkataan Abu Dujjanah radhiallahu anhu saat sakit. Ketika itu, para sahabatnya terkejut melihat wajah Abu Dujjanah berseri dan bercahaya, padahal mereka tahu Abu Dujjanah dalam kondisi sakit parah yang mengantarkan ajalnya. Merekapun bertanya kepada Abu Dujjanah, dan ia menjawab, ”Tak ada suatu amalanpun yang paling aku pegang teguh kecuali dua hal. Pertama, aku tidak mau bicara yang tidak bermanfaat. Kedua, hatiku bersih dari perasaan yang mengganjal dengan kaum muslimin.”
 
 
 
 
 

militansi ABU DZAR

Musim panas akan segera berakhir. Namun sengatan udaranya masih terasa mencekik penduduk kota madinah. Kering sepanjang tahun, dan harga barang-barang yang semakin mahal, menambah penderitaan penduduk kota itu.

Musim memetik kurma tiba. Penduduk Madinah baru hendak bernafas lega, Tiba – tiba Nabi – disebabkan berita dan ancaman pasukan Romawi terhadap kaum Muslimin yang berdomisili di Timur Laut – mengumandangkan jihad dan memerintahkan kaum Muslimin bersiap – siaga.
Penduduk Madinah baru melalui musim kemarau dan ingin menikmati buah – buahan yang segar. Tidak mudah memang, meninggalkan panen dan buah-buahan, terlebih lagi setelah melewati musim kemarau; lalu berjalan ke Syam dalam jarak yang begitu jauh. Orang-orang munafik mempunyai alasan untuk melakukan provokasi. Namun udara panas musim kemarau dan usaha provokasi orang-orang munafik, tidak dapat menghambat kepergian pasukan Islam yang berjumlah 30.000 orang, untuk menghadapi kemungkinan serangan pasukan dari Romawi itu. 
 
Nabi dan sahabat – sahabatnya bergerak melalui padang pasir, dibawah panas terik matahari dan kekurangan kendaraan serta bekal yang dibawa. Hal ini sebenarnya, tidak kurang bahayanya dari ancaman musuh itu sendiri. Di tengah jalan, sebagian yang lemah iman merasa menyesal setibanya di medan. Tidak diduga, tiba – tiba seseorang yang bernama Ka’ab bin Malik pulang.”

“Biarlah, kata Nabi. “Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahayanya.” 
 
Tidak lama kemudian, sahabat yang lain berkata; “Ya Rasulullah, Mararah bin Rabi’ juga pulang.”
“Biarlah, kalau memang kehadirannya membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian: dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahayanya.”

Sejenak kemudian, sahabat berkata lagi, “Ya Rasulullah, Hilal bin Umayyah juga pulang!”
Rasulullah tetap menjawab seperti yang dikatakannya untuk dua orang sebelum ini. 
 
Sementara itu, unta Abu Dzar yang tadinya berangkat bersama – sama dengan rombongan kafilah, tiba – tiba mogok di tengah jalan. Betapapun Abu Dzar berusaha menggerakkan untanya itu, namun hasilnya tetap saja sia – sia. Tiba – tiba sahabat sadar bahwa Abu Dzar ternyata tidak ada. “Ya Rasulullah, Abu Dzar juga tidak ada!” Mereka berteriak.”

Dengan tenang Nabi menjawab: “Biarkanlah! Kalau memang kehadirannya akan membawa kebaikan, Allah tentu akan mengembalikannya kepada kalian, dan jika tidak, berarti Allah telah menyelamatkan kalian dari bahayanya.” 
 
Betapapun Abu Dzar berusaha untuk mendorong untanya agar dapat mengejar kafilah, namun hasilnya masih tetap sia – sia. Akhirnya diambilnya barang – barangnya, dan dia berjalan kaki meninggalkan untanya. Matahari dengan dahsyatnya menyengat kepala Abu Dzar. Dia amat sangat kehausan. Tidak dihiraukannya dirinya lagi. Yang dipikirkannya hanyalah keinginannya untuk segera sampai ke kafilah Nabi dan sahabat – sahabatnya, serta bergabung dengan mereka.
 
Dengan semangat baja. Abu Dzar terus melangkahkan kakinya menelusuri padang pasir. Entah bagaimana. Tiba – tiba matanya terpandang pada segumpalan awan yang hinggap di suatu sudut langit. Abu Dzar berkesimpulan bahwa hujan baru saja turun, beberapa saat lalu. Dibelokkannya jalannya kea rah itu. Disana dia menjumpai batu besar yang menampung sedikit sisa – sisa hujan. Abu Dzar menghirupnya sedikit, dan tidak meneguknya sampai puas. “Sebaiknya air ini kubawakan untuk Rasulullah, mungkin beliau merasa haus dan tidak mempunyai persediaan air yang cukup, “pikirnya.
 
Dituangkannya air itu ke dalam qirbah (tempat air) yang dibawanya, lalu dipikulnya bersama – sama barang bawaannya yang lain. Dengan semangat yang tinggi, dia menelusuri tinggi rendahnya padang pasir, hingga dari kejauhan, tampak bayangan hitam pasukan kaum Muslimin. Hatinya semakin bergelora, dan dia memacu jalannya lebih cepat lagi. 
 
Dari jauh pula, salah seorang prajurit Islam melihat bayangan hitam tengah mendekati mereka. “Ya Rasulullah! Seakan – akan ada seseorang yang tengah datang ke arah kita,” katanya kepada Nabi.
“Alangkah baiknya kalau itu Abu Dzar, “ jawab Nabi.
Bayangan tadi bertambah dekat. Tiba – tiba seseorang berteriak: “Demi Allah, dia adalah Abu Dzar.!”
Lalu Nabi berkata: “Semoga Allah ampunkan Abu Dzar. Abu Dzar hidup sendirian, mati sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.”
Nabi menyambut Abu Dzar. Diambilnya pikulan Abu Dzar dari pundaknya, lalu diletakkannya di tanah. Karena terlalu letih dan haus, Abu Dzar pun terjatuh tanpa daya.
“Ambilkan air. Beri dia minum, dia sangat haus.”
“ Ya Rasulullah, aku punya air,” sahut Abu Dzar.
“Engkau mempunyai air, tapi kau tidak minum?” Tanya Nabi.
“Betul Ya Rasulullah. Demi Allah, tadi aku melihat batu besar yang menampung air dingin sekadarnya. Setelah kuhirup sedikit, kukatakan kepada diriku: tenggorokan ini tidak akan meneguknya sebelum kekasihku, Muhammad Rasulullah, meneguknya.”

======

pelajaran apa yg bisa kita ambil dari kisah tsb ? 
 
sangat mungkin kita akan mengalami seperti apa yg dialami oleh para sahabat diatas...
mundur dari aktifitas, mendapat hambatan dan cobaan, mengalami berbagai kesulitan yg sangat...
apakah kita akan menjadi spt Abu Dzar yg kuat militansinya dan, atau spt Ka'ab bin Malik dkk yg dikalahkan nafsunya, meski akhirnya mereka bertobat dan Allah pun menerima tobat mereka ?