...karena kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan...
Senin, 03 November 2014
Pengaruh Orang Tua terhadap ANAK
“Berapa banyak orang yang mencelakan anaknya -belahan hatinya- di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 351)
Beliau rahimahullah menyatakan pula,
“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud, hlm. 337)
[Diambil dari Huququl Aulad 'alal Aba' wal Ummahat, hlm. 8-9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah]
Ketika Doa kita Belum Terkabul
Kelakuannya juga sering nggak beres, sering tipu-tipu, bohong sana-sini. Tapi anehnya, apa yang dia doain, semuanya dipenuhi. Orang sholeh ini pun heran. Akhirnya, dia pun dateng ke seorang ustadz. Ceritalah dia permasalahan yang sedang dihadapi. Tentang doanya yang sulit terkabul padahal dia taat, sedangkan temannya yang bandel, malah dapat apa yang dia inginkan.
Tersenyumlah ustadz ini. Bertanyalah si ustadz ke orang ini. Kalau Anda lagi duduk di warung, kemudian datang pengamen, tampilannya urakan, maen musiknya gak bener, suaranya fals, bagaimana? Orang sholeh tadi menjawab, segera saya kasih pak ustadz, gak nahan ngeliat dan ndengerin dia lama-lama di situ, sambil nyanyi pula.
Kalau pengamennya yang dateng rapi, main musiknya enak, suaranya empuk, bawain lagu yang kamu suka, bagaimana? Wah, kalo gitu, saya dengerin ustadz. Saya biarin dia nyanyi sampai habis. Lama pun nggak masalah. Kalau perlu saya suruh nyanyi lagi. Nyanyi sampai sealbum pun saya rela. Kalau pengamen tadi saya kasih 500, yang ini 10.000 juga berani, ustadz.
Pak ustadz pun tersenyum. begitulah nak. Allah ketika melihat engkau, yang sholeh, datang menghadap-Nya, Allah betah ndengerin doamu. Melihat kamu. Dan Allah pengen sering ketemu kamu dalam waktu yang lama. Buat Allah, ngasih apa yang kamu mau itu gampang betul. Tapi Dia pengen nahan kamu biar khusyuk, biar deket sama Dia. Coba bayangin, kalo doamu cepet dikabulin, apa kamu bakal sedeket ini? Dan di penghujung nanti, apa yang kamu dapatkan kemungkinan besar jauh lebih besar dari apa yang kamu minta.
Beda sama temenmu itu. Allah gak mau kayaknya, dia deket-deket sama Allah. Udah dibiarin biar bergelimang dosa aja dia ini. Makanya Allah buru-buru kasih aja. Udah. Jatahnya ya segitu doang. Gak nambah lagi.
Dan yakinlah, kata pak ustadz, kalaupun apa yang kamu minta ternyata gak Allah kasih sampai akhir hidupmu, masih ada akhirat, nak. Sebaik-baik pembalasan adalah jatah surga buat kita. Nggak bakal ngerasa kurang kita di situ.
Tersadarlah orang tadi. Ia pun beristighfar, sudah berprasangka buruk kepada Allah. Padahal Allah betul-betul amat menyayanginya. Semoga kisah ini menjadi dapat pelajaran bagi kita semua... Aamiin
----
#terinspirasi dari obrolan temen....
tentang Adab Makan
Islam adalah din yang sempurna dan menyeluruh, yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari hal-hal yang kecil seperti adab sehari-hari hingga hal-hal yang besar seperti tata negara. Bahkan ini telah diakui oleh orang-orang kafir sekalipun, sebagaimana terdapat dalam Sunan Abi Dawud:
“Dari Salman (Al-Farisi) radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: dikatakan kepadanya,”Sungguh Nabimu telah mengajarkan kamu segala sesuatu hingga kepada tata cara buang air.” Beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Betul”.[1]
Termasuk dalam adab yang diatur oleh Islam adalah perihal makan dan minum. Di sini, akan disebutkan dua di antara banyak sekali adab makan.
(1) Tidak Makan Terlalu Banyak
Seorang Muslim yang baik hendaknya tidak terlalu banyak makan. Ini sebagaimana termaktub dalam hadits yang shahih dari ibnu ‘Umar, Jabir bin ‘Abdillah, Abu Hurairah, dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Orang kafir makan dengan tujuh usus, sedangkan orang mu’min makan dengan satu usus”.[2]
Begitu pula hadits Al-Miqdam bin Ma’diykarib radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:
“Tidaklah ada sesuatu yang memenuhi wadah ibnu Adam yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah ibnu Adam itu dengan beberapa (suap) makanan yang menegakkan sulbinya. Kalau tidak mungkin, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk nafasnya”[3]
Kedua hadits di atas dan yang sema’na dengannya menunjukkan anjuran untuk menyedikitkan makan dan meninggalkan banyak makan. Sesungguhnya sedikit makan adalah ciri seorang mu’min karena hal tersebut menandakan dirinya tidak terlalu mencintai dan mengejar dunia sebagaimana orang kafir. Hadits tersebut juga menerangkan ukuran yang sesuai untuk makan dan minum.
Ada pembahasan yang panjang tentang bagaimana memahami kedua hadits di atas, apakah dibawa kepada ma’na zhahir atau tidak.
Ringkasnya sebagai berikut:
*Yang mengambil zhahir hadits ini:
Di antara mereka pun masih terdapat perselisihan pendapat.
1: Hadits ini hanyalah untuk kisah tertentu dan tidak digeneralisir kepada selainnya. Huruf alif lam dalam Al-Mu’min dan Al-Kafir menunjukkan mu’min dan kafir pada masa tersebut, bukan untuk jenis (keseluruhan mu’min dan kafir). Pendapat inilah yang dipilih oleh Ath-Thahawi dan ibnu ‘Abdil Barr.
2: Hadits ini menunjukkan ma’na kebiasaan. Jumlah di sini dimaksudkan untuk mubalaghah (hiperbolisme) dalam banyaknya. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari dan inilah yang dipilih oleh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi.
3: Maksud dari mu’min dalam hadits tersebut adalah mu’min yang sempurna imannya. Pendapat ini disebutkan dalam Fathul Bari dan Tuhfatul Ahwadzi.
4: Maksudnya sebagian mu’min makan dalam satu usus, sedangkan kebanyakan kafir makan dengan tujuh usus. Ini adalah pendapat An-Nawawi seperti dalam Syarah Shahih Muslim.
5. Dan pendapat-pendapat lainnya.
*Yang tidak membawanya kepada ma’na zhahir:
Ada beberapa penafsiran:
1: Ini hanyalah permisalan bagi orang mu’min akan kezuhudan mereka di dunia, dan orang kafir akan ketamakan mereka akan dunia. Pendapat ini disebutkan oleh Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar.
2: Yang dimaksud adalah anjuran bagi mu’min untuk menyedikitkan makan ketika diketahui bahwa banyak makan adalah sifat orang kafir. Jadi lafadznya adalah informasi (khabar) tetapi maksudnya adalah perintah (insya’).
3: Maksudnya orang mu’min memakan yang halal sedangkan orang kafir memakan yang haram, dan makanan yang haram lebih banyak dari yang halal.
Perlu diingat bahwa ikhtilaf ini tidak berma’na bahwa menyedikitkan makan bukanlah perkara yang mustahab karena jelasnya hadits Al-Miqdam. Hadits ini juga tidak berma’na kita dianjurkan menyiksa diri dengan sengaja tidak makan selama berhari-hari.
Hadits ini tidak pula berma’na kita tidak boleh makan atau minum lebih dari sepertiga bagian. Ini karena tsabitnya hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda padanya,”Minumlah!” Maka dia minum (susu), kemudian beliau memerintahkannya untuk kali kedua dan ketiga sehingga Abu Hurairah berkata, “Demi Yang mengutusmu dengan Haq, Aku tidak mendapati ruang (tersisa di perut, yakni kenyang).”[4]
Rujuk Tuhfatul Ahbab untuk penjelasan lebih detail tentang masalah ini.
Sementara ungkapan yang masyhur di telinga kita:
“Kami adalah kaum yang tidak makan sehingga kami lapar dan ketika kami makan tidaklah kenyang.”
hanyalah perkataan orang arab, bukan hadits. Tetapi ma’nanya benar. Terlalu banyak makan menjadi penyebab obesitas, gangguan pencernaan, badan yang lemah lagi pemalas, dan menjadi pintu gerbang masuknya berbagai penyakit.[5]
(2) Tidak Makan Makanan yang Terlalu Panas
Termasuk dalam adab makan dan minum, yaitu tidak memakan makanan atau minuman yang terlalu panas. Tidaklah mengapa memakan makanan ataupun minuman yang masih panas asalkan tidak terlalu panas. Di antara hadits yang menerangkan tentang perkara ini adalah hadits Asmaa’ bintu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya beliau apabila menghancurkan sesuatu (roti), beliau merendamnya (ke dalam kuah) sehingga hilang panasnya, kemudian beliau berkata,”Aku telah mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya itu lebih banyak berkahnya”.[6]
Begitu juga hadits Juwairyah bintu Al-Harits radhiyallahu ‘anha bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“membenci makanan hingga hilang panas asapnya”.[7]
Catatan Kaki:
[1] Potongan hadits dari Sunan Abi Dawud (7). Penjelasan lebih panjang tentang hadits ini bisa dilihat di antaranya di: http://e-hadith.info/home/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=15&mode=thread&order=0&thold=0
[2] Hadits ini telah diriwayatkan dengan jalan yang banyak. Di antaranya:
– Hadits ibnu ‘Umar yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam shahihnya (5393), Muslim (2060), Ahmad, At-Tirmidzi (1818), ibnu Majah (3257), Ad-Darimi dan selain mereka.
– Hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim (2061), Ahmad, Ad-Darimi dan selain mereka.
– Hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’, Muslim (2063), At-Tirmidzi (1819), ibnu Majah (3256), dan selain mereka.
(Rujuk pada catatan kaki Tuhfatul Ahbab halaman 16-17).
[3] Hadits riwayat Ahmad, At-Tirmidzi (2380), An-Nasai dalam Al-Kubra (6768, 6770), dan selain mereka. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah 5/336. Penjelasan lebih lengkap rujuk kitab tersebut. Bisa juga merujuk pada catatan kaki Tuhfatul Ahbab halaman 18-19.
[4] Hadits riwayat Al-Bukhari (6087 dan 6452) dan lain-lain.
[5] Disarikan dari Makalah Al-Ustadz Hasan dalam pelajaran bahasa ‘Arab.
[6] Hadits riwayat Ahmad, Ad-Darimi, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan lain-lain. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, 1/676. Lihat takhrij lengkapnya dalam kitab tersebut. Bisa juga merujuk pada Tuhfatul Ahbab.
[7] Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dan dinilai hasan oleh Mahmud Muhammad Asy-Syibli dalam Tuhfatul Ahbab (halaman 53, catatan kaki).
Maraji':
– Tuhfatul Ahbab. Tersedia online di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/attachment.php?attachmentid=23782
– Makalah pelajaran bahasa ‘Arab oleh Al-Ustadz Hasan.
P/S:
Artikel tentang masalah ini banyak bertebaran di internet, kalau kita mau mencarinya. Saya menuliskannya di sini sebagai pengingat supaya tidak lupa mengamalkan sunnah ini.
Ketika menuliskan catatan ini, saya menemukan artikel yang bagus di forum myQuran yang ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’.
http://myquran.org/forum/index.php?PHPSESSID=9406bd2e40806737d3ed30a90e0e9160&topic=1950.msg27386#msg27386
Ada yang Enggan Masuk Surga
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“
Hadits ini hadits yang shahih, diriwaytakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,
Makna Hadits
Barangsiapa yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mentauhidkan Allah serta istiqomah dalam syariat Allah serta menunaikan shalat, menunanaikan zakat, melaksanakan puasa Ramadhan, berbakti kepada kedua orangtua, menjaga dari perkara yang Allah haramkan seperti perbuatan zina, meminum minuman yang memabukkan, dan perkara haram lainnya, maka akan masuk ke dalam surga. Karena orang tersebut telah mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun orang yang enggan dan tidak mau mentaati syariat maka maknanya orang tersebut enggan untuk masuk surga. Orang tersebut telah mencegah dirinya untuk masuk ke dalam surga dengan amal keburukan yang dia lakukan. Inilah yang dimaksud makna hadits di atas.
Wajib bagi setiap muslim untuk mentaati syariat Allah, serta mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap syariat yang beliau bawa. Beliau adalah Rasulullah yang hak, penutup para Nabi ‘alaihis shalatu wa salaam. Allah Ta’ala telah berfirman tentang Nabi-Nya,
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah menyayangimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran :31)
Mencintai Rasulullah adalah di antara sebab timbulnya rasa cinta Allah kepada hamba-Nya dan juga sebab datangnya ampunan, serta sebab masuknya hamba ke dalam surga.
Adapun bermaksiat kepada beliau dan menyelisihi beliau merupakan sebab kemurkaan Allah dan sebab terjerumusnya seseorang ke dalam neraka. Barangsiapa melakukan yang demikian itu, dia enggan untuk masuk ke dalam surga. Barangsiapa yang menolak untuk mentaati rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia telah enggan untuk masuk surga.
Wajib bagi setiap muslim, bahkan bagi seluruh penduduk bumi, baik laki-laki maupun perempuan, baik jin maupun manusia, seluruhnya wajib mentaati syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti beliau, melaksanakan perintah beliau, dan menjahui seluruh apa yang beliau larang.
Ini merupakan sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Allah Ta’ala berfirman,
“Barangsiapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah “ (QS. An Nisa: 80)
“Katakanlah: “Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya” (QS. An Nur: 54)
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“(Al A’raf: 158)
Dalam ayat sebelumnya Allah Ta’ala berfirman
“Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al A’raf: 57)
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. Al Hasyr:7)
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Maka wajib bagi setiap orang yang mau berpikir dan bagi setiap muslim untuk mentauhidkan Alah dan komitmen di atas ajaran agama Islam, mentatai rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mentaati perintah beliau, menjauhi apa yang beliau larang. Itu semua merupakan sebab masuk ke dalam surga dan jalan menuju surga. Adapun barangsiapa menolak untuk melakukkannya maka orang tersebut telah enggan untuk masuk surga.
Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/12057
kisah Syahidnya Al-Husein bin Ali radhiyallahu ‘anhu
- Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.
- Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.
- Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.
- Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.
- Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.
Selasa, 28 Oktober 2014
Tentang PERNIKAHAN
Pernikahan bukan sekadar tentang CINTA, Tapi yang paling utama adalah tentang KOMITMEN.
Komitmen kepada janji2..
Komitmen kepada tugas dan peran...
Komitmen utk terus mencintai...
Komitmen utk selalu membersamai...
Komitmen utk selalu memahami....
Ya Allah, cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu
Jadikanlah kami Suami & Istri yang saling mencintai di kala dekat, Saling menjaga kehormatan dikala jauh, Saling menghibur dikala duka, Saling mengingatkan dikala bahagia, Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan, Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan...,
Genap 20 th bersama Lusi Ummu Hanina
Semoga kan selalu bersama dalam cintaNYA
Disini dan kelak disana...
28 okt 1994 - 28 okt 2014
Senin, 27 Oktober 2014
Syarat Diterimanya Amal
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Suatu perbuatan dan ucapan tidak disebut amal sholeh kecuali memenuhi dua syarat:
1. Ikhlas: dlm melaksanakan perbuatan & ucapan itu motivasinya murni hanya ingin menaati Allah.
2. Benar: perbuatan dan ucapan itu sesuai dengan tuntunan Allah dan RosulNya.
Saudaraku, berapa banyak orang yg melakukan perbuatan tertentu & mengucapkan ucapan tertentu yg dia anggap sebagai amal sholeh namun tidak memperhatikan dua syarat ini. Mereka hanya sibuk memperbanyak ucapan dan perbuatan serta merasa cukup dengannya, tanpa mau peduli apakah amal sholeh yg dilakukan diterima oleh Allah atau tidak. Na'udzubillah min dzalik! Mudah-mudahan kita tidak termasuk diantaranya.
Ketahuilah saudaraku bahwa tentang dua syarat diterimanya amal sholeh ini, Ibnul Qoyyim menjelaskan: “Perbuatan hati (diantaranya adalah niat yg ikhlas, pent) adalah pondasi sedang perbuatan anggota badan adalah pengiring & penyempurna. Kedudukan niat itu seperti ruh dan perbuatan adalah jasad yg ketika ruh meninggalkan badan maka akan mati. Karena itu mengetahui hukum-hukum yg berkaitan dengan hati lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yg berkaitan dengan anggota badan.” (Bada'i Al-Fawaid 3/224)
Saudaraku, sudahkah kita sibuk mengoreksi amal-amal sholeh kita masing-masing? Sudahkah memenuhi syarat-syarat diterimanya?
بارك الله فيكم