Sabtu, 27 Oktober 2012

Mengapa Kami Berdakwah ?


Mengapa kami berada  di jalan da’wah ?
Setelah sekian lama perjalanan, pertanyaan seperti itu selalu penting untuk kami renungkan lagi.
Tentu saja banyak uraian alasan terhadap pertanyaan tersebut. Tapi sebelum menguraikan alasan ‘mengapa kami berada di jalan da’wah’, sesungguhnya jalan da’wah ini adalah kebutuhan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang melebihi sekedar merasakan bahwa jalan ini merupakan kewajiban yang harus kami lakukan. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini merupakan bagian dari rasa syukur kami atas hidayah Allah SWT.

Da’wah mengajarkan kepada kami bahwa kami memang membutuhkan da’wah. Lalu kebersamaan kami dengan saudara-saudara kami di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam kehidupan dunia dan akhirat kami.

Kami semakin mendalami pesan Rasulullah saw, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pahala mereka” (H.R. Muslim)

Ada banyak orang-orang mulia, para pendahulu kami yang telah banyak menuai pahala karena menyebabkan kami mengenal  Islam dan mengantarkan kami mengimani agama ini. Ada begitu banyak para pendahulu kami di jalan da’wah yang memperoleh nilai pahala yang besar karena  mereka membimbing kami sedikit demi sedikit untuk melangkah di jalan ini. Mungkin tidak sedikit dari jasad orang-orang mulia itu yang telah rusak dimakan tanah. Tetapi para malaikat pencatat kebaikan senantiasa mencatat pahala mereka karena peran-peran da’wahnya yang tidak terkira. Para malaikat akan terus menerus mencatat pahala mereka hingga hari kiamat tiba.

Kami ingin seperti  mereka --pendahulu kami di jalan ini yang telah banyak memperoleh pahala dan keridhoan Allah karena peran-peran da’wahnya. Karena itulah, kami memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat kami.

Tidak heran jika para penyeru kebaikan menjadi alasan turunnya limpahan rahmat, kasih sayang, dan ampunan Allah swt. Tidak ada makhluk  Allah yang mendapat dukungan do’a seluruh makhluk-Nya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berda’wah. Sebagaimana sabda Rasul saw : “Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di dalam lubangnya, bahkan ikan yang berada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia” (H.R. Tirmidzi).

Alasan lainnya  adalah karena da’wah akan menjadi penghalang turunnya azab Allah swt, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 164-165. Sesungguhnya Al Qur’an merupakan peringatan bagi kami, bahwa meninggalkan peran da’wah tidak pernah diterima apapun alasannya. Bahkan bisa jadi sikap tersebut mengundang murka dan kemarahan Allah swt.

Kami berharap agar keberadaan kami di jalan ini, merupakan salah satu langkah menyelamatkan diri kami dan manusia dari azab Allah SWT. Bukan sekedar azab berupa musibah atau bencana alam.
Tapi termasuk azab Allah SWT berupa keterhinaan, kerendahan hingga keterjajahan umat Islam di dunia ini.

Alasan lain mengapa kami memilih jalan ini, adalah karena kami ingin mendapat kuatamaan yang Allah janjikan. Sebagaimana firman-Nya dalam surat An Nisaa’ ayat 95-96.  Dalam ayat tersebut Allah membagi  orang-orang yang beriman menjadi dua kelompok : kelompok mukmin yang duduk-duduk, santai  dan kelompok mukmin mujahid.  Ayat tersebut menegaskan  bahwa Allah swt akan memberikan sedikitnya 4 keutamaan kepada orang-orang beriman yang berjihad, yang melakukan tugas-tugas da’wah, dimana keutamaan-keutamaan tersebut tidak Allah berikan kepada orang-orang beriman yang duduk-duduk santai saja dalam kehidupannya. Adapun keempat keutamaan tersebut adalah : ditinggikan derajatnya, pahala yang besar, diberikan ampunan, dicurahkan rahmat Allah swt. dalam kehidupan kami.

Untuk menolong, bukan ditolong, demikian alasan kami selanjutnya.
Salah satu pelajaran yang kami terima dalam perjalanan ini adalah bahwa menjadi da’i sekaligus merupakan pernyataan bahwa kami ingin lebih memberi perhatian dan pertolongan kepada orang lain. Bukan sebaliknya, untuk lebih menerima perhatian dan ditolong orang lain. 
Kami menyadari, sesungguhnya kami datang dan bergabung  ke dalam  jamaah ini, adalah untuk memberi apa yang bisa kami berikan, bukan untuk meminta. Kami datang untuk meringankan beban da’wah, bukan untuk menjadi dan/ atau menambah beban bagi da’wah ini dan juga beban jamaah atau masyarakat.  Kami datang untuk menawarkan solusi, bukan untuk mencari keuntungan atau ambisi pribadi. Sesungguhnya da’wah ini tidak menjanjikan sesuatu kecuali  ridho Allah dan surga-Nya.

Di jalan ini, kami harus memberikan lebih banyak untuk kemaslahatan masyarakat dan ummat Islam, ketimbang kemaslahatan yang berisifat pribadi. Kami mempercayai bahwa klehidupan ini milik Allah swt, milik kaum muslimin, dan bukan milik kami sendiri. Semua yang digunakan untuk diri sendiri akan hilang, tapi kebaikan yang diberikan kepada orang lain itulah yang abadi.  Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sayyid Quthb rahimahullah  :” Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri, ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil.  Sedangkan orang yang hidup untuk ummatnya, ia akan hidup mulia dan besar dan tidak akan pernah mati”.

Sesungguhnya di jalan inilah kami semakin mendalami makna kehidupan yang bersumber dari keberartian bagi orang lain. Kehidupan seseorang menjadi lebih berharga ketika ia mempunyai saham dan peran bagi orang lain. Dan kehidupan akan menjadi miskin makna dan rendah nilainya ketika  hanya banyak bermanfaat bagi lingkup hidup pribadi. Filosofi inilah yang menyebabkan kami menikmati kesibukan berfikir dan melakukan banyak aktifitas da’wah diantara kesibukan lain yang menyertai kami.

Disini, kami lebih merasakan pengaruh firman Allah swt : “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya DIA  (Allah)  menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian”. (Q.S. Muhammad (47) ayat 9).

Sesungguhnya kami menyadari, bahwa kebersamaan kami di jalan ini bukan tanpa perselisihan.  Boleh jadi ada diantara kami yang mengalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal.  Padahal, keharusan kami untuk bersama  dan kemungkinan kami berselisih adalah dua kutub yang saling berlawanan. Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakan, kesesuaian, kedekatan, dan keintiman.  Sementara perselisihan bisa mengakibatkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian hingga keterpisahan.

Maka, di jalan inilah, kami berulangkali menempa diri untuk bisa mengarahkan agar perselisihan tidak berakibat pada perpecahan. Jiwa toleran, adalah salah satu pelajaran berharga yang kami petik dari jalan ini. Kami belajar untuk bisa menerapkan wasiat Rasulullah saw dalam sebuah hadits : ”Dibuka pintu-pintu surga setiap hari Senin dan Kamis. Ketika itu diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu. Kecuali seseorang yang antara dirinya dengan saudaranya ada perselisihan. Dikatakan kepada orang tersebut :”Tunda dulu orang ini sampai mereka berdamai”. (H.R. Muslim)

Jalan ini, adalah jalan yang dijauhi oleh orang-orang yang selalu dibalut kekhawatiran tentang masa depan keduniaannya. Jalan yang membuat orang-orang jahil merasa heran, mengapa kami mau dan bisa bertahan di atas jalan ini.
Disinilah, berkumpul orang-orang yang menghendaki perjalanan menuju kebahagiaan akhirat. Di jalan inilah terhimpun orang-orang yang berusaha melawan kecenderungan syahwat dan hawa nafsu keduniaan.
Meski demikian, perjalanan da’wah ini tetap menyimpan karakternya sebagai perjalanan yang ditempuh oleh manusia. Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah menyebutkan bahwa di jalan ini, setidaknya ada tiga kelompok manusia. Mereka adalah kelompok zaalimun li nafsihi, kelompok muqtashid, dan kelompok saabiqun bil khairaat.

Kelompok  zaalimun li nafsihi, adalah orang-orang yang lalai dalam mempersiapkan bekal perjalanan. Mereka enggan untuk mengumpulkan apa-apa yang bisa membuatnya sampai ke tujuan.

Kelompok Muqtashid, adalah mereka yang mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa sampai ke tujuan perjalanan. Mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimiliki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu, yang menyulitkan perjalanannya. Jika mereka sampai ke ujung perjalanan ini, mereka sebenarnya tetap merugi karena luput dari perniagaan yang bisa menguntungkan mereka karena barang dagangan mereka pas-pasan dan secukupnya saja.

Adapun kelompok saabiqun bil khairaat, adalah orang-orang yang obsesinya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Mereka membawa perbekalan dan barang dagangan lebih dari cukup karena mereka tahu hal itu akan memberi keuntungan besar baginya. Selain itu, mereka juga tahu bahwa di tengah perjalanan ini, sangat mungkin mereka mengalami situasi sulit yang membutuhkan perbekalan tambahan. Disisi lain mereka juga memandang kerugian yang sangat besar  jika ia menyimpan sesuatu dari apa yang dimilikinya dan tidak dijual.

Kami dan saudara-saudara kami di jalan da’wah, berusaha memiliki karakter kedua atau ketiga, tapi tidak untuk kelompok yang pertama. Kami harus memiliki dan mengambil perbekalan yang mencukupi hingga perjalanan ini usai. Perbekalan yang bisa membantu kami untuk tetap mampu bertahan dan melangkahkan kaki melewati rintangan apapun di hadapan.

Dan kami menyadari bahwa sebaik-baik perbekalan adalah TAQWA. Barangsiapa diantara kami yang minim ketaqwaan, maka ia akan semakin melemah dan tidak akan mampu mengikuti perjalanan ini.

Begitu pentingnya, bekal  ketaqwaan sangat erat kaitannya dengan modal ruhiyah kami di jalan ini. Maka setiap kali ketaqwaan kami melemah, pada saat itulah intensitas da’wah  kami menurun. Dan ketika tingkat ketaqwaan kami berkurang dari yang seharusnya, ketika itulah kami mengalami situasi futur (kelemahan) untuk meneruskan perjalanan ini.  Demikianlah pelajaran yang kami temukan dalam diri kami, dan juga saudara-saudara kami di jalan ini.
  
Kami telah memilih dan meyakini jalan ini. Maka, seharusnya, kami lah yang melakoni dan memenuhi tuntutan dan kewajibannya. Perjalanan ini, memberi keyakinan kepada kami bahwa kami tidak akan bisa konsisten dan teguh berjalan, jika masih tetap mengandalkan orang lain untuk terus menerus mengarahkan dan mendorong kami bergerak dalam da’wah. Kami berusaha memiliki Taharruk Dzaati  atau gerakan yang didorong dari diri sendiri, bukan orang lain.

Hal ini karena langkah apapun yang kami tempuh, kamilah  yang akan menerima kebaikan maupun keburukannya. Kami tidak boleh terlibat dalam da’wah hanya karena terpesona oleh figur atau kekaguman kami terhadap seorang murabbi (atau da’i). Tapi dari mereka pula kami belajar bahwa motif dan dorongan kami berada di jalan ini harus muncul dari motivasi iman.

Kami juga memahami bahwa menggantungkan peran pada sosok figur boleh jadi memberikan kekecewaan pada diri kami di kemudian hari. Sebab, zaman ternyata membuktikan bahwa tidak sedikit sosok yang awalnya terlihat sangat kuat berinteraksi dengan da’wah dan tarbiyah, namun menjadi lunglai dan lemah ketika ia harus terputus interaksinya dengan figur-figur tertentu. Atau bahkan, ketika ia menyaksikan kekeliruan yang dilakukan oleh orang-orang yang sangat ia idolakan sebelumnya.

Apalagi bila kami memahami, tak ada manusia yang sempurna dalam kehidupan ini. Terlalu bergantung pada figur bisa menyebabkan seseorang terjerumus pada pemikiran Taqdiis (pensakralan) yang justru tidak mungkin terjadi dan bahkan terlarang. Itu sebabnya, kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan sebagian saudara-saudara kami, bahkan pemimpin kami, seharusnya tidak membuat kami meninggalkan jalan ini, atau tidak mempengaruhi aktifitas pengabdian kami di jalan ini.

Kami adalah orang-orang yang  telah memilih jalan da’wah sebagai pijakan kaki kami. Sosok figur mungkin saja mempesona  kami untuk lebih giat melaksanakan banyak kontribusi di jalan ini. Tapi bukan itu yang dominan dalam hati kami. Sosok figur bisa melakukan kesalahan, dan kesalahan itu juga tidak boleh membuat kami tertahan atau meninggalkan jalan ini. Karena kami telah memilih untuk melangkah diatas kaki kami sendiri, diatas pemahaman  dan keyakinan lubuk hati kami sendiri.
Sekali lagi, karena kami sendiri yang telah memilih jalan ini.

Adakah orang-orang yang akan bergabung bersama kami menempuh jalan ini ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar