Selasa, 03 Oktober 2017

Kekuatan Sejati Ada Di Hati

Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya.
Tidakkah engkau perhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam?
Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.”
(Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)

Jumat, 29 September 2017

Munajat CINTA (bukan judul lagu lho)

Ya Allah...
Berilah kami cinta-MU
dan cinta orang-orang yang mencintai-MU
TUnjukkan kami amalan yang dapat menyampaikan kami pada cinta-MU
Jadikan cinta-MU lebih kami cintai dari diri kami sendiri, keluarga kami dan semua yang kami miliki...
Aamiin...

Kamis, 28 September 2017

Nilai Tingkatan Amal disisi Allah



๐Ÿ‹ ... Sesungguhnya, nilai suatu amal itu bertingkat-tingkat di sisi Allah Ta'ala sesuai tingkatan hati pelakunya.

Tingkatan di sini bukan berdasarkan banyaknya amal atau bentuknya, melainkan berdasarkan motivasi, ketulusan, dan sikapnya dalam mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri.

Al-Hasan meriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Utsman bin 'Affan ra. "Wahai orang kaya, kalian memborong kebaikan, kalian bersedekah, memerdekakan budak, melaksanakan haji, dan berinfak!"

Mendengar itu, Utsman lalu berkata, "Kalian iri kepada kami, padahal kami iri kepada kalian. Demi Allah, satu dirham yang disedekahkan oleh seseorang dengan susah payah, lebih baik daripada sepuluh ribu dirham yang diambil dari harta yang melimpah."

๐Ÿ‰ ... Apa yang dikatakan Utsman ra. sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah ๏ทบ saat Abu Hurairah ra. bertanya, "Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?"

Beliau menjawab, "Sedekah yang dikeluarkan dengan susah payah oleh fakir miskin. Dan mulailah (bersedekah) kepada orang yang menjadi tanggunganmu" ... (HR Abu Dawud)

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan pula hadits riwayat Abu Dzar Al-Ghiffari ra. "Aku bertanya kepada Rasulullah ๏ทบ," ujar Abu Dzar. "Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?"

Beliau lalu menjawab, "(Sedekah) yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang yang melarat (karena mengharap ridha Allah)."

๐Ÿ ... Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Risรขlah Al-Mustarsyidรฎn.

Rabu, 27 September 2017

Macam-macam Rezeki Dari Allah

1.Rezeki Yang Telah Dijamin.

‎ูˆَู…َุง ู…ِู† ุฏَุงุจَّุฉٍ ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุฅِู„َّุง ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฑِุฒْู‚ُู‡َุง ูˆَูŠَุนْู„َู…ُ ู…ُุณْุชَู‚َุฑَّู‡َุง ูˆَู…ُุณْุชَูˆْุฏَุนَู‡َุง ูƒُู„ٌّ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ู…ُّุจِูŠู†ٍ

"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."(Surah Hud : 6).

2. Rezeki Karena Usaha.

‎ูˆَุฃَู† ู„َّูŠْุณَ ู„ِู„ْุฅِู†ุณَุงู†ِ ุฅِู„َّุง ู…َุง ุณَุนَู‰

"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."(Surah An-Najm : 39).

3. Rezeki Karena Bersyukur.

‎ู„َุฆِู† ุดَูƒَุฑْุชُู…ْ ู„َุฃَุฒِูŠุฏَู†َّูƒُู…ْ ูˆَู„َุฆِู† ูƒَูَุฑْุชُู…ْ ุฅِู†َّ ุนَุฐَุงุจِูŠ ู„َุดَุฏِูŠุฏٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."(Surah Ibrahim : 7).

4. Rezeki Tak Terduga.

‎ูˆَู…َู† ูŠَุชَّู‚ِ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฌْุนَู„ ู„َّู‡ُ ู…َุฎْุฑَุฌًุง( ) ูˆَูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ู„َุง ูŠَุญْุชَุณِุจُ

"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Karena Istighfar.

‎ูَู‚ُู„ْุชُ ุงุณْุชَุบْูِุฑُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ْ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุบَูَّุงุฑًุง ( ) ูŠُุฑْุณِู„ِ ุงู„ุณَّู…َุงุกَ ุนَู„َูŠْูƒُู… ู…ِّุฏْุฑَุงุฑًุง

"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. Rezeki Karena Menikah.

‎ูˆَุฃَู†ูƒِุญُูˆุง ุงู„ْุฃَูŠَุงู…َู‰ٰ ู…ِู†ูƒُู…ْ ูˆَุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِูƒُู…ْ ูˆَุฅِู…َุงุฆِูƒُู…ْ ุฅِู† ูŠَูƒُูˆู†ُูˆุง ูُู‚َุฑَุงุกَ ูŠُุบْู†ِู‡ِู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู† ูَุถْู„ِู‡ِ

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).

7. Rezeki Karena Anak.

‎ูˆَู„َุง ุชَู‚ْุชُู„ُูˆุง ุฃَูˆْู„َุงุฏَูƒُู…ْ ุฎَุดْูŠَุฉَ ุฅِู…ْู„َุงู‚ٍ ู†َّุญْู†ُ ู†َุฑْุฒُู‚ُู‡ُู…ْ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).

8. Rezeki Karena Sedekah

‎ู…َّู† ุฐَุง ุงู„َّุฐِูŠ ูŠُู‚ْุฑِุถُ ุงู„ู„َّู‡َ ู‚َุฑْุถًุง ุญَุณَู†ًุง ูَูŠُุถَุงุนِูَู‡ُ ู„َู‡ُ ุฃَุถْุนَุงูًุง ูƒَุซِูŠุฑَุฉً

“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).

Kita ingin dimaklumi tapi ga mau memaklumi.

Betapa sering kealpaan, kelalaian, kekhilafan, dan segala kekurangan yang melekat pada diri orang lain, terlihat begitu jelas dimata kita, dan kitapun menilainya melalui persepsi kesempurnaan, sehingga manusia itu terlihat begitu banyak cela dan dosa.
Sementara pada saat yang sama, saat kita melakukan kekeliruan, kelalaian, atau apapun namanya, kita sudah siapkan 1001 alasan pembenaran dan pengecualian (untuk menjaga sebuah kesempurnaan semu).
Kita ingin dimaklumi tapi ga mau memaklumi....

Astaghfirullah....

Ingatlah dan Lupakanlah

ingatlah selalu orang yang pernah menolongmu,
lupakanlah orang yang pernah engkau tolong.
ingatlah selalu dosa-dosa yang telah kau lakukan,
lupakanlah menghitung pahala yang telah kau kumpulkan..

  ingatlah orang yang pernah engkau sakiti,
lupakanlah orang yang pernah menyakitimu.

  ingatlah harta yang belum engkau sedekahkan,
lupakanlah harta yang telah engkau infakkan…

Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk


FIQIH
๐Ÿ“š F-005
Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk

✅ Yang dimaksud dengan madzhab fiqih mayoritas penduduk dalam hal ini adalah salah satu dari sekian madzhab yang mu’tabar (diakui) menurut Ahlu As-Sunnah wa Al-Jama’ah, terutama empat madzhabnya yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, di mana perbedaan pendapat di antara empat madzhab tersebut adalah perbedaan yang mu’tabar dan sah.
Dan untuk Indonesia, mayoritas ulamanya mendalami dan mengajarkan fiqih madzhab Syafi’i kepada masyarakat.

๐Ÿ“– Dalil yang menunjukkan penghormatan kepada madzhab mayoritas penduduk diantaranya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ุงَู„ุตَّูˆْู…ُ ูŠَูˆْู…َ ุชَุตُูˆู…ُูˆู†َ، ูˆَุงู„ْูِุทْุฑُ ูŠَูˆْู…َ ุชُูْุทِุฑُูˆู†َ، ูˆَุงู„ุฃَุถْุญَู‰ ูŠَูˆْู…َ ุชُุถَุญُّูˆู†َ

Berpuasa adalah pada hari di mana kalian berpuasa, idul fitri adalah hari kalian beridul fitri, dan idul adha adalah hari kalian beridul adha (berqurban). (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra,  Ad-Daraquthni – shahih).

✅ Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan makna hadits ini:

ูˆَูَุณَّุฑَ ุจَุนْุถُ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ุนِู„ْู…ِ ู‡َุฐَุง ุงู„ุญَุฏِูŠุซَ، ูَู‚َุงู„َ: ุฅِู†َّู…َุง ู…َุนْู†َู‰ ู‡َุฐَุง ุฃَู†َّ ุงู„ุตَّูˆْู…َ ูˆَุงู„ูِุทْุฑَ ู…َุนَ ุงู„ุฌَู…َุงุนَุฉِ ูˆَุนُุธْู…ِ ุงู„ู†َّุงุณِ .

Dan sebagian ulama menafsirkan hadits ini, dengan perkataan: “Yang dimaksud adalah bahwa berpuasa dan beridul fitri itu bersama jamaah dan mayoritas masyarakat.”

Dari hadits dan penjelasannya terlihat bahwa penghormatan terhadap pendapat mayoritas masyarakat – selama bukan kesesatan – adalah bagian dari arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pendapat salah satu madzhab fiqih yang mu’tabar bukanlah kesesatan. Bahkan untuk masalah-masalah yang berkaitan erat dengan syiar persatuan dan kebersamaan, seperti puasa Ramadhan, idul fitri dan idul adha, penghormatan itu diarahkan sampai pada tingkat mengikuti pendapat mayoritas masyarakat muslim dan meninggalkan pendapat sendiri, bukan sekedar menghargai lalu tetap melaksanakan pendapat sendiri atau pendapat minoritas. Apalagi jika pendapat mayoritas ini dikuatkan dengan keputusan dari pihak yang berwenang.

๐ŸŽฏ Praktek Salaf Shalih dan Para Ulama Besar

✅ Sikap ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah

Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz menetapkan dan mengumumkan ketetapannya ke seluruh wilayah khilafah saat itu:

ู„ِูŠَู‚ْุถِ ูƒُู„ُّ ู‚َูˆْู…ٍ ุจِู…َุง ุงุฌْุชَู…َุนَ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูُู‚َู‡َุงุคُู‡ُู…ْ

Hendaklah setiap kaum memutuskan perkara (diantara mereka) dengan kesepakatan dari ahli fiqih mereka masing-masing. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya).

Zuraiq bin Hakim rahimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz saat ia menjadi gubernur Syam:

ุฅِู†َّูƒَ ูƒُู†ْุชَ ุชَู‚ْุถِูŠ ุจِุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ุจِุดَู‡َุงุฏَุฉِ ุงู„ุดَّุงู‡ِุฏِ ุงู„ูˆَุงุญِุฏِ ูˆَูŠَู…ِูŠู†ِ ุตَุงุญِุจِ ุงู„ุญَู‚ِّ، ูَูƒَุชَุจَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ุนُู…َุฑُ ุจู†ُ ุนَุจْุฏِ ุงู„ุนَุฒِูŠุฒِ: ุฅِู†َّุง ูƒُู†َّุง ู†َู‚ْุถِูŠ ุจِุฐَู„ِูƒَ ุจِุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ، ูَูˆَุฌَุฏْู†َุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ุดَّุงู…ِ ุนَู„َู‰ ุบَูŠْุฑِ ุฐَู„ِูƒَ، ูَู„َุง ู†َู‚ْุถِูŠ ุฅِู„َّุง ุจِุดَู‡َุงุฏَุฉِ ุฑَุฌُู„َูŠْู†ِ ุนَุฏْู„َูŠْู†ِ، ุฃَูˆْ ุฑุฌُู„ٍ ูˆَุงู…ْุฑَุฃَุชَูŠْู†ِ

“Sesungguhnya engkau dulu di Madinah memutuskan (perkara) dengan kesaksian seseorang dan sumpah dari pemilik hak.”
Maka Umar bin Abdul Aziz menulis balasannya: “Sesungguhnya kami sebelumnya memutuskan seperti itu di Madinah, lalu kami menemukan penduduk Syam tidak seperti itu. Maka kami tidak memutuskan kecuali dengan kesaksian dua orang laki-laki yang terpercaya atau dengan kesaksian seorang laki-laki dan dua orang perempuan (mengikuti kebiasaan penduduk Syam).” (I’lam Al-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 3/97).

Hal tersebut menunjukkan bahwa Umar bin Abdul Aziz amat peduli untuk TIDAK MENGUBAH kebiasaan suatu masyarakat selama kebiasaan itu tetap dalam bingkai syariat.

✅ Sikap Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah

Saat Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur hendak menyatukan kaum muslimin dari berbagai wilayah dengan pendapat Al-Imam Malik, beliau menolak dan menyatakan:

ูَุฅِู†ْ ุฐَู‡َุจْุชَ ุชُุญَูˆِّู„ُู‡ُู…ْ ู…ِู…َّุง ูŠَุนْุฑِูُูˆู†َ ุฅِู„َู‰ ู…َุง ู„َุง ูŠَุนْุฑِูُูˆู†َ ุฑَุฃَูˆْุง ุฐَู„ِูƒَ ูƒُูْุฑًุง ูˆَู„َูƒِู†ْ ุฃَู‚ِุฑَّ ุฃَู‡ْู„َ ูƒُู„ِّ ุจَู„ْุฏَุฉٍ ุนَู„َู‰ ู…َุง ูِูŠู‡َุง ู…ِู†َ ุงู„ุนِู„ْู…ِ.

Jika Anda pergi mengubah dari apa yang mereka kenal menjadi apa yang tidak mereka kenal, mereka akan menganggapnya kufur. Akan tetapi, akuilah setiap negeri atas ilmu yang ada pada penduduknya masing-masing. (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, hlm 29).

✅ Sikap Ibnu Abdil Bar rahimahullah

Ibnu Abdil Bar mengemukakan alasan mengapa ia mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya dalam melakukan syarah terhadap kitab Al-Muwatha karya Al-Imam Malik rahimahullah:

ุฅِู†َّู…َุง ุงุนْุชَู…َุฏْุชُ ุนَู„َู‰ ุฑِูˆَุงูŠَุฉِ ูŠَุญْูŠَู‰ ุจْู†ِ ูŠَุญْูŠَู‰ ุฎَุงุตَّุฉً ู„ِู…َูˆْุถِุนِู‡ِ ุนِู†ْุฏَ ุฃَู‡ْู„ِ ุจَู„َุฏِู†َุง ู…ِู†َ ุงู„ุซِّู‚َุฉِ ูˆَุงู„ุฏِّูŠู†ِ ูˆَุงู„ูَุถْู„ِ ูˆَุงู„ุนِู„ْู…ِ ูˆَุงู„ูَู‡ْู…ِ، ูˆَู„ِูƒَุซْุฑَุฉِ ุงุณْุชِุนْู…َุงู„ِู‡ِู…ْ ู„ِุฑِูˆَุงูŠَุชِู‡ِ، ูˆِุฑَุงุซَุฉً ุนَู†ْ ุดُูŠُูˆุฎِู‡ِู…ْ ูˆَุนُู„َู…َุงุฆِู‡ِู…ْ، ูَูƒُู„ُّ ู‚َูˆْู…ٍ ูŠَู†ْุจَุบِูŠ ู„َู‡ُู…ُ ุงู…ْุชِุซَุงู„ُ ุทَุฑِูŠู‚ِ ุณَู„َูِู‡ِู…ْ ูِูŠู…َุง ุณَุจَู‚َ ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุฎَูŠْุฑِ، ูˆَุณُู„ُูˆูƒُ ู…ِู†ْู‡َุงุฌِู‡ِู…ْ ูِูŠู…َุง ุงุญْุชَู…َู„ُูˆู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุจِุฑِّ، ูˆَุฅِู†ْ ูƒَุงู†َ ุบَูŠْุฑُู‡ُ ู…ُุจَุงุญุงً ู…َุฑْุบُูˆุจุงً ูِูŠู‡ِ.

Yang membuat aku mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya secara khusus adalah karena posisi beliau yang terhormat di mata penduduk negeri kami dari sisi kepercayaan mereka terhadapnya, keagamaan, kelebihan, ilmu, dan pemahaman beliau. Juga karena para penduduk banyak menggunakan riwayatnya sebagai warisan dari para syaikh dan ulama mereka. Maka setiap kaum hendaklah mempraktekkan cara pendahulu mereka yang baik dan menempuh metode kebajikan yang telah mereka bawa selama ini, meskipun cara dan metode yang lain boleh atau menarik. (At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 1/10).

✅ Sikap Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Hasyim rahimahullah, guru Ibnu Abdil Bar

Dalam masalah mengangkat tangan saat berpindah gerakan dalam shalat, madzhab Maliki dari riwayat Ibnu Al-Qasim rahimahullah adalah tidak mengangkat tangan sama sekali kecuali saat takbiratul ihram, berdasarkan riwayat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Sementara mengangkat tangan berdasarkan riwayat Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Abu Umar Ahmad bin Abdullah memuji gurunya yaitu Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim rahimahullah  yang mengangkat tangan tidak hanya saat takbiratul ihram karena mengikuti hadits riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Namun, ketika Ibnu ‘Abdil Bar bertanya kepada gurunya mengapa beliau tidak mengangkat tangan seperti “kakek gurunya” sesuai hadits Ibnu Umar? Sang guru menjawab:

ู„َุง ุฃُุฎَุงู„ِูُ ุฑِูˆَุงูŠَุฉَ ุงุจْู†ِ ุงู„ู‚َุงุณِู…ِ؛ ู„ِุฃَู†َّ ุงู„ุฌَู…َุงุนَุฉَ ุนِู†ْุฏَู†َุง ุงู„ูŠَูˆْู…َ ุนَู„َูŠْู‡َุง، ูˆَู…ُุฎَุงู„َูَุฉُ ุงู„ุฌَู…َุงุนَุฉِ ูِูŠู…َุง ู‚َุฏْ ุฃُุจِูŠุญَ ู„َู†َุง ู„َูŠْุณَ ู…ِู†ْ ุดِูŠَู…ِ ุงู„ุฃَุฆِู…َّุฉِ

Aku tidak akan menyalahi riwayat Ibnu Al-Qasim, alasannya karena jamaah (masyarakat) hari ini mengikuti beliau. Dan menyalahi jamaah dalam hal yang kita telah diperbolehkan mengamalkannya (maksudnya dalam maslah furu’) bukanlah sikap para imam. (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Bar, 1/408-409).

✅ Sikap Ibnu Taimiyah rahimahullah

Ketika membahas bacaan basmalah dalam Al-fatihah di dalam shalat, apakah dibaca keras atau tidak dst .. Ibnu Taimiyah menyelingi dengan satu adab fiqih dengan menyatakan:

ูˆَูŠُุณْุชَุญَุจُّ ู„ِู„ุฑَّุฌُู„ِ ุฃَู†ْ ูŠَู‚ْุตِุฏَ ุฅِู„َู‰ ุชَุฃْู„ِูŠูِ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ ุจِุชَุฑْูƒِ ู‡َุฐِู‡ِ ุงู„ْู…ُุณْุชَุญَุจَّุงุชِ؛ ู„ِุฃَู†َّ ู…َุตْู„َุญَุฉَ ุงู„ุชَّุฃْู„ِูŠูِ ูِูŠ ุงู„ุฏِّูŠู†ِ ุฃَุนْุธَู…ُ ู…ِู†ْ ู…َุตْู„َุญَุฉِ ูِุนْู„ِ ู…ِุซْู„ِ ู‡َุฐَุง

Disukai bagi seorang (imam) untuk menyengaja mengakrabkan hati (mayoritas jamaah) dengan meninggalkan (yang ia yakini mustahab/sunnah), karena maslahat keakraban (ukhuwah) di dalam agama ini lebih agung dari pada maslahat melakukan hal seperti ini (yang mustahab tsb). (Al-Qawa’id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah, hlm 46).

Dari ucapan dan sikap para ulama besar yang teramat memahami Al-Quran dan Hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa madzhab atau pendapat mayoritas masyarakat dalam hal-hal yang tidak sesat, atau dalam hal yang memang diperbolehkan terjadi perbedaan pendapat lalu mayoritas masyarakat menganut salah satu diantaranya, maka sikap yang baik adalah menghormati mereka.

๐ŸŽฏ Prinsipnya adalah:
ุนَุฏَู…ُ ุงู„ุชَّุดْูˆِูŠุดِ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَุฅِุซَุงุฑَุฉِ ุงู„ูِุชْู†َุฉِ ุจَูŠْู†َู‡ُู…ْ

Tidak mengganggu ketenangan masyarakat dan tidak memancing kegaduhan di tengah masyarakat.

Ini adalah prinsip umum yang harus didahulukan dari maslahat mengamalkan perbuatan yang kita anggap sunnah atau mustahab namun masyarakat tidak memahaminya atau membutuhkan waktu untuk memahaminya.

✅ Prinsip ini diambil dari sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak memugar Ka’bah sesuai bangunan Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau membiarkannya karena jika dilakukan pemugaran akan memancing kegaduhan masyarakat Quraisy. Beliau bersabda kepada ‘Aisyah radhiyallau ‘anha:

«ูŠَุง ุนَุงุฆِุดَุฉُ، ู„َูˆْู„ุงَ ู‚َูˆْู…ُูƒِ ุญَุฏِูŠุซٌ ุนَู‡ْุฏُู‡ُู…ْ - ุจِูƒُูْุฑٍ - ู„َู†َู‚َุถْุชُ ุงู„ْูƒَุนْุจَุฉَ ูَุฌَุนَู„ْุชُ ู„َู‡َุง ุจَุงุจَูŠْู†ِ ุจَุงุจٌ ูŠَุฏْุฎُู„ُ ุงู„ู†َّุงุณُ، ูˆَุจَุงุจٌ ูŠَุฎْุฑُุฌُูˆู†َ» (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…)

Wahai Aisyah, kalau bukan karena kaummu belum lama kafir, pasti telah kuubah Kabah, aku jadikan dua pintu, satu pintu untuk orang-orang masuk, satu pintu untuk mereka keluar. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

✅ Juga dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

ุญَุฏِّุซُูˆุง ุงู„ู†َّุงุณَ ุจِู…َุง ูŠَุนْุฑِูُูˆู†َ، ุฃุชُุญِุจُّูˆู†َ ุฃู†ْ ูŠُูƒَุฐَّุจَ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆู„ُู‡ُ ؟!

Bicaralah kepada masyarakat dengan hal yang mereka kenal (mereka mudah memahami), apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?! (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari  dalam Shahihnya).

Ungkapan beliau “apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?!” menunjukkan bahwa meskipun yang kita sampaikan adalah ayat Al-Quran atau Hadits Rasul yang tentu saja baik, namun jika hal itu belum dapat dimengerti oleh masyarakat, atau perlu waktu bagi mereka untuk memahaminya, maka hendaklah kita hindari, paling tidak bertahap menyampaikannya. Karena bila kita sembrono, mungkin yang terjadi adalah ayat atau hadits itu didustakan.

Membiarkan masyarakat mengamalkan amalan dari madzhab yang mu’tabar akan membuat potensi para da’i dan pemimpin lebih fokus dalam membangun hal-hal lain yang diperlukan oleh ummat.

Channel Telegram Ilmu SYARIAH :

@ilmusyariah / bit.ly/1RF5IPk