Senin, 29 September 2014

Jangan MAKSIAT

Khalid bin Walid adalah seorang petarung tiada banding di zaman Rasulullah hingga sahabat. Berbagai peperangan yang dipimpinnya selalu meraih kemenangan. Semua musuh-musuhnya dapat ditaklukan dengan pedangnya. Maka pantaslah jika Kholid mendapat julukan dari Rasulullah “Si Pedang Allah”

Saksikanlah perang Yarmuk!! 10ribu pasukan muslimin dibawah komando Kholid mampu menghancurkan 240ribu pasukan Romawi. Disaat yang sama, pada saat perang Yarmuk tersebut, ia memiliki pasukan khusus sebanyak 100 pasukan. Ketahuilah, 100 pasukan khusus ini mampu menghantam habis 40ribu pasukan Romawi. Luar biasa!!

Bagaimana Kholid bisa begitu hebat?

Setelah Kholid dan pasukannya berhasil menghancurkan pasukan Persia di Irak, Kholid kemudian mendapat perintah dari Khalifah Abu Bakar ra. Agar segera berangkat ke Syam untuk menghadang pasukan Romawi yang sudah begitu nafsu ingin membumikan kaum Muslimin pada saat itu. Maka Kholid dan 10ribu pasukannya pun berangkat ke Syam. Ketika Kholid hendak berangkat, Abu Bakar as memberikan nasihat yang begitu singkat dan padat. Namun begitu dalam makna dan efek dari sebuah nasihat tersebut. “Ya Kholid....Jangan Maksiat!!” begitulah nasihat Abu Bakar as kepada Kholid bin walid.

Diperjalanan menuju Syam, Kholid merasa gundah, resah dan gelisah. Ada apakah gerangan, yang membuat hati Kholid tiada menentu??

Kholid menghentikan langkahnya, diikuti oleh seluruh pasukannya. “yaa jundullah....siapa diantara kalian yang tidak memiliki wudhu?” Kholid berteriak kepada pasukannya. Setelah dicek, ternyata ada 1 dari 10ribu pasukannya yang tidak memiliki wudhu!

1 orang pasukannya yang tidak memiliki wudhu telah membuat hati Kholid gelisah. 1 orang yang tak memiliki wudhu adalah maksiat kepada Allah baginya..!!

Rupanya inilah rahasia kesuksesan Kholid dalam menghadapi musuh dalam peperangan yang jumlahnya berlipat lipat dari jumlah kaum muslimin. Keteguhannya dalam mengimani Allah dan Rasul-Nya, Keistiqomahannya dalam menjaga keikhlasan dalam beramal, sikapnya yang tak ingin menonjolkan diri sebagai panglima hebat, terbentenginya hati dari sifat melampaui batas, serta keteguhannya dalam shaff barisan dalam kondisi bagaimanapun barisan itu, menjadi rahasia kemenangan yang selalu terulang.

Bagi Khalid, Tsabat (keteguhan hati) adalah kunci utama dalam meraih kemenangan dalam pertempuran. Satu atau dua tentara yang melarikan diri dari pertempuran akan berdampak negatif pada keteguhan hati pasukan, bahkan lebih parah dan berbahaya dari serangan musuh.

Kisah Kholid yang luar biasa ini hendaknya menjadi renungan kita bersama. Ketika kita menganggap sebuah pengorbanan dalam dakwah ini sudah begitu luar biasa, saat harta kian terkuras, ketika tenaga kian habis, ketika pikiran terus diberikan dalam menyusun puzzle puzzle dakwah, siang malam bertarung mencoba memberikan yang terbaik untuk dakwah ini, dan berharap penuh agar ALLAH memberikan kemenangan atas segala perjuangan yang telah dipersembahkan, seolah layak mendapatkan apa yang diinginkan karena telah merasa berkorban dengan sepenuh daya dan kekuatan..lantas, kemenangan itu tak kunjung hadir, kemenangan itu hanya sekedar angan yang tak jua datang. Semua perjuangan dan pengorbanan siang malam itu...hanya menyisakan air mata; tangis haru penuh pertanyaan...serta sesaknya dada akibat tersianya seluruh pengorbanan ”ya Allah...kurangkah apa yang telah kami lakukan, tidak cukupkah pengorbanan yang telah kami berikan??, kami korbankan apa yang telah kami miliki, harta, waktu, tenaga, keluarga, pikiran serta semua potensi sudah kami persembahkan, lalu mengapa Engkau tidak memberikan kemenangan??”

Lihatlah 10ribu pasukan dengan keteguhan iman yang tak usah dipertanyakan lagi kualitasnya, mereka adalah barisan dengan keteguhan hati yang luar biasa, ternyata 1 orang yang tak memiliki wudhu saja menjadi kegelisahan dan kekhawatiran bagi kafilah dakwah itu. Pantaslah Kholid mendapat kemenangan demi kemenangan. Bagaimana dengan kafilah dakwah kita hari ini??

Jika pengorbanan terasa sudah begitu hebat, yakinkah tidak ada yang maksiat diantara kita?? Jika 1 orang tak berwudhu diantara 10ribu pasukan menjadi kekhawatiran Khalid bin walid..bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita mendapatkan kemenangan dari-Nya?? Yakinkah diantara pengorbanan yang luar biasa itu tak ada maksiat kepada-Nya??

Mari kita bermuhasabah. Mengevalusi kerja dakwah dan amal amal kita yang selama ini mungkin harus “didandani” kembali. Keikhlasan dalam beramal, kesabaran dalam menghadapi fitnah, keteguhan hati ditengah terjangan ujian dan hantaman mihnah, harus menjadi PR yang sama sama harus kita jawab. Mari kita evalusi diri kita masing-masing. Bukan mengevalusi orang lain, bukan menyalahkan saudara seiman, tapi mari kita berkaca pada cermin kejujuran, sudah sempurnakah amal kita sendiri? Tidak ada maksiatkah selama perjuangan? Jika tidak memiliki wudhu saja adalah sebuah maksiat, bagaimana dengan yang melalaikan sholat??

jangan maksiat...wahai saudaraku....

Senin, 01 September 2014

Harapan ku di tanggal ini

Manusia terbaik adalah yang mengisi waktu-waktunya dengan amalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhiratnya.

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ“

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)

Orang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya maka akan banyak pahalanya dan dilipatgandakanderajatnya. Maka bertambahnya umur akan bertambah pula pahala dan amalannya.

Tidak ada hebatnya menjadi tua jika itu berarti bertambah bawel, bertambah rewel, bertambah sensitif..
Karena seharusnya Become older become wiser

Mukmin itu, bertambah usianya..bertambah kebaikannya..

أَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُوْرَنَا فِى طَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُوْلِكَ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ 

Ya Allah...panjangkan usia kami dalam ketaatan kepada Mu dan taat kpd rasul Mu dan jadikanlah kami hamba2MU yg shaleh.

Rabu, 20 Agustus 2014

Anugerah dari Allah atau ISTISRAJ?

Semoga postingan ini bisa menjadi pengingat kita semua...bahwa apa yg Allah berikan kpd hambaNya, ada kalanya merupakan adzab....

Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses Berbisnis

Ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Gimana tuh?

Jawabannya ada pada hadits berikut ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.

Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.

Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.

Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalat berjama’ahnya, bagaimana ketaatan-ketaatannya kepada Allah dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.

Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?

Kesimpulan: Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan.

Kamis, 07 Agustus 2014

Satu Hari di Akhirat

Satu hari di akhirat....

ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Surat al Hajj (22) ayat 47)

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (surat As Sajdah (32) ayat 5)

Misalnya diasumsikan bhw 1 hari di akhirat juga ada 24 jam, maka :

✔ 1 hari akhirat = 1000 tahun.
✔ 24 jam akhirat = 1000 tahun.
✔ 3 jam akhirat = 125 tahun.
✔ 1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Apabila umur manusia itu rata-rata
60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja...
Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.

Semoga kita senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. 

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah terlebih baik bagi orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” [Al-An'am ayat 32]

Masihkah kita hanya 'main-main' dalam mengisi kehidupan ini ?

Catatan :
Dalam ayat lain, Al Quran juga menyebutkan bhw 1 hari di akhirat nilainya sama dengan 50 rb tahun di dunia...
Sebagaimana tersebut dalam surat Al Ma'arij (70) ayat 4 :

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.

Senin, 28 Juli 2014

Jiwa-Jiwa Yang Tertinggal

Sahabat.......
Ramadhan telah berlalu,, maka tertinggal jiwa-jiwa yang menyikapi kepergian ramadhan secara berbeda..

JIWA PERTAMA ...
Adalah jiwa orang-orang beriman yang sebelum Ramadhan datang mereka telah di sibukkan dengan ketaatan dan kebaikan..

lalu saat Ramadhan menghampiri mereka, maka mereka semakin sibuk dalam meningkatakan ketaatan diri mereka. Mereka menganggap Ramadhan sebagai ghanimah (harta rampasan) dari Allah. Di dalamnya Amal-amal hamba dilipat gandakan. lalu saat ramadhan meninggalkan mereka, maka mereka tetap dalam ketaataan dan kesungguhan mengejar beragam kebaikan akhirat..

Mereka sadar bahwa justru diselain bulan ramadhanlah seharusnya mereka semakin giat beramal, karena pahala mereka tidak di lipat gandakan sebagaimana dibulan Ramadhan.
Inilah jiwa mu'min sejati..
Merekalah yang akan di seru dengan seruan YA AYYATUHANNAFSUL MUTMAINNAH.. (wahai jiwa Yang tenang)..
Semoga Allah menganugerahi kita dengan jiwa yang seperti ini.

JIWA KEDUA...
Adalah jiwa yg terlenakan oleh kelalaian, tersibukkan oleh kemaksiatan dan terbuai oleh kenikmatan dunia. Lalu saat ramadhan datang, mereka kemudian menyingsingkan lengan dan meninggalkan semua kemaksiatan tersebut.. Kemudian melakukan ketaatan dan kebaikan pada hari-hari ramadhan. Mereka menyibukkan diri dengan Al-Qur'an, puasa, shalat malam, dan mereka menangis mengingat segala kemaksiatan mereka. Mereka juga senantiasa khusyu dan aktif di segala kebaikan ramadhan.

Namun saat ramadhan berlalu... segala kebaikan mereka juga ikut berlalu, mereka kembali kepada keburukan keburukan yang telah mereka tinggalkan sebelumnya..
Maka untuk orang seperti ini,. dikatakan kepada mereka, Bila engkau menyembah ramadhan.. maka ramadhan telah berlalu, namun bila engkau menyembah Allah, maka Allah tetap hidup dan tidak akan mati. Rabb yang menyuruhmu beribadah di bulan ramadhan, Dialah Rabb yang menyuruhmu beribadah di luar ramadhan. Sebelum engkau terlalu jauh melangkah meninggalkan Allah, maka berfikirlah sejenak. Fikirkan hal berikut:

Maukah engkau merusak bangunan megah yang telah engkau bangun dengan susah payah. ??

Saat Allah telah menjanjikanmu surga dengan segala kenikmatannya.  Engkaupun berusaha meraihnya di bulan Ramadhan..

Lalu mengapa saat ramadhan pergi dan tinggal selangkah lagi engkau memasuki pintu Surga itu, engkau malah berpaling dan kembali kejalanmu semula yang penuh kelalaian.??.

Saat Allah telah membebaskanmu dari neraka, dan menjanjikan pengampunan dan keridhoan dari-Nya, hal itu tentu di sebabkan karena ibadahmu selama Ramadhan dan tangisanmu ketika mendengar ancaman neraka.. lalu mengapa saat ramadhan berlalu engkau malah berontak dan berusaha memasukkan dirimu lagi kedalam neraka ,.. tempat yang sebelumnya engkau di bebaskan darinya ??..

Renungkan firman Allah berikut ini:
“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai”. (QS: An-Nahl: 92).

Benar kawan.. Selama ramadhan engkau telah menyibukkan diri dengan memintal benang-benang ketakwaan dengan segala jerih payahmu.. sehingga terbentuklah sebuah PAKAIAN KETAKWAAN YANG AKAN MELINDUNGIMU DARI NERAKA DAN MEMASUKKANMU KE SURGA. Namun saat ramadhan berlalu. Engkau malah mengurai helai demi helai benang yang telah engkau pintal.. sehingga engkau kembali menjadi Telanjang dan terancam dengan neraka.. padahal belum tentu Ramadhan akan datang kembali menyapamu..

Sahabat..

Inilah jiwa kebanyakan dari kita.. Dan sebelum ramadhan terlalu jauh  meninggalkan kita, maka marilah kita instropeksi diri.  Semoga Allah mengeluarkan kita dari belenggu jiwa yang seperti ini.

JIWA KETIGA...
Adalah jiwa yang ada atau tidaknya ramadhan, mereka tetap dalam kemaksiatan dan kelalaian.. Mereka adalah orang yg sebelum ramadhan datang senantiasa melakukan kemaksiatan... dan saat ramadhan datang ia tetap tak pernah mau melakukan kebaikan. Inilah jiwa yang mati, yang tidak tersentuh dengan janji janji Allah.. Inilah jiwa yang hina, jiwa yang akan dibangkitkan dalam penyesalan yang mendalam.. Inilah jiwa merugi, yg tidak tersentuh secercahpun sinar dakwah.. yang tak terenyuh oleh ayat-ayat adzab, dan tak berharap pada ayat-ayat surga.. Inilah jiwa yang dibahasakan dalam ayat Al Quran: "mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (kepada jalan yg benar)" (QS: Al-Baqarah : 18)

Maka dikatakan kepada orang sperti ini.. aduhai jiwa yang merugi, tidakkah engkau iri dengan ketenangan yang dirasakan orang beriman,,. saat menahan lapar dan dahaga karena mengharapkan kebahagiaan (kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat bertemu ALLAH).. saat melelah-lelahkan diri berdiri di malam yg sepi, dan berharap keridhoan Iilahi. Saat melantunkan ayat-ayat alquran dan mengalirkan air mata ketika mereka merenungi kalam Ilahi...

Ahh.. Andai engkau tau kebahagiaan apa yang mereka rasakan..
Andai engkau bisa membandingkan kebahagiaan yg engkau rasakan dengan kebahagiaan yg mereka rasakan..
engkau akan tau bahwa kebahagiaanmu hanyalah kebahagiaan sementara yang kan melahirkan kegelisahan hati.
Dan kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan abadi yang kan memberikan ketenangan hati..

Maka bertaubatlah,, sebelum kematian mendatangimu,, dan barulah engkau mengatakan

“Sampai tatkala kematian mendatangi salah seorang di antara mereka, ia berkata: Tuhanku, kembalikanlah aku agar aku dapat berbuat kebaikan dari perkara yang aku lalaikan. Tak mungkin! Sesungguhnya itu kata-kata yang ia ucapkan, Dan di hadapan mereka ada tabir, sampai hari mereka dibangkitkan” (QS: Al mu'minun: 99-100).

Semoga Allah melindungi kita dari jiwa seperti ini.

Sejenak renungkanlah sajak-sajak perpisahan yang diucapkan oleh Ibnu Rajab -rahimahumallah-. Beliau mengatakan:

"Di mana kepedihan (dan kesedihan) orang-orang yang bersungguh-sungguh di siang hari Ramadhan?
Di manakah duka orang-orang yang shalat pada waktu malam?

Jika demikian keadaan orang-orang yang telah mendapatkan keuntungan selama Ramadhan, bagaimanakah keadaan orang-orang yang telah merugi pada siang dan malamnya?

Apalah guna tangisan mereka yang melalaikan bulan Ramadhan ini, sementara musibah yang akan menimpanya demikian besar?

Alangkah banyaknya nasihat yang telah diberikan kepada orang yang malang, namun tidak juga memberikan manfaat untuknya.

Betapa sering ia diajak untuk melakukan perbaikan diri, namun ia tidak juga menyambutnya.

Betapa sering ia menyaksikan orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya, namun ia sendiri memilih untuk semakin jauh dari-Nya.

Alangkah seringnya berlalu dihadapannya rombongan orang-orang yang menuju Allaj, sedangkan dia hanya duduk berpangku tangan (tanpa seberang hasrat untuk beribadah).

Hingga saat waktu menyempit dan kemurkaan-Nya telah membayang,

Ia pun menyesali kelalaiannya pada saat penyesalan tidak lagi bermanfaat dan kesempatan untuk memperbaiki keadaan telah menghilang".

Demikianlah ...

Dan Ramadhanpun pergi....

Baarakallahu fiikum. ..

Cinere, 1 syawal 1435 H

-diposting kembali dari sebuah Milis

Adab Berhari Raya sesuai Sunnah Nabi

Adab dan Sunnah Berhari Raya

1. Mandi Sebelum Shalat ‘Id

Ibnul Qayyim dalam Za’dul Maad mengatakan, Nabi mandi pada dua hari raya, telah terdapat hadits shahih tentang itu, dan ada pula dua hadits dhaif.

2. Memakai Pakaian Terbaik dan Minyak Wangi

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang  kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya. (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, hasan)

3. Makan Dulu Sebelum Shalat ‘Idul Fitri, Tidak Makan Dulu Sebelum Shalat Idul Adh-ha

“Pada saat Idul Fitri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma.” Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari No. 953)

4. Melaksanakan Shalat ‘Id di Mushala (Lapangan)

Shalat hari raya di lapangan adalah sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena Beliau tidak pernah shalat Id, kecuali di lapangan (mushalla). Namun, jika ada halangan seperti hujan, lapangan yang berlumpur atau becek, tidak mengapa dilakukan di dalam masjid. Dikecualikan bagi penduduk Mekkah, shalat ‘Id di Masjidil Haram adalah lebih utama.

5. Dianjurkan Kaum Wanita dan Anak-anak Hadir di Lapangan

Mereka dianjurkan untuk keluar karena memang ini adalah hari raya mesti disambut dengan suka cita. 
Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Kami diperintahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengeluarkan anak-anak gadis, wanita haid, wanita yang dipingit, pada hari Idul Fitri dan idul Adha. Ada pun wanita haid, mereka terpisah dari tempat shalat. Agar mereka bisa menghadiri kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang kami tidak memiliki jilbab.” Beliau menajwab: “Hendaknya saudarinya memakaikan jilbabnya untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dan ini lafaznya Imam Muslim)

6. Shalat Hari Raya  ‘Id

Dalam hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

7. Mendengarkan Khutbah Hari Raya

Berkhutbah hari raya adalah sunah menurut jumhur ulama, mendengarkannya juga sunah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika shalat sudah selesai, beliau bersabda: “Kami  akan berkhutbah, jadi siapa saja yang mau duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan yang ingin pergi, pergilah!” (HR. Abu Daud, shahih)

8. Berangkat dan Pulang Melewati Jalan yang Berbeda

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhuma, katanya: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika keluar pada hari Id akan menempuh jalan yang berbeda. (HR. Bukhari No. 986)

9. Mengucapkan Selamat Hari Raya: “Taqabbalallahu Minna wa Minka”

Imam Ibnu Hajar berkata:” “Kami meriwayatkan dalam kitab Al Mahamilliyat, dengan sanad yang hasan (bagus), dari Jubeir bin Nufair, katanya: dahulu para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika mereka berjumpa pada hari raya, satu sama lain berkata: “Taqabbalallahu minna wa minka.”

10. Bergembira dengan Pesta yang Halal

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, saat itu mereka memiliki dua hari untuk bermain-main. Lalu Beliau bersabda: “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab: “Dahulu, ketika kami masih jahiliyah kami bermain-main pada dua hari ini.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan buat kalian dua hari itu dengan yang lebih baik darinya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Daud)

11. Bertakbir Pada Hari Raya

Untuk bertakbir pada ‘Idul Fitri, Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah (2): 185)

Rabu, 23 Juli 2014

Menjadi Pemenang Sejati

Ada dua hal yang harus selalu kita ingat:

1. Tugas kita adalah bekerja. Adapun hasil, itu prerogatif Allah.

2. Allah tidak akan mengurangi apa yang menjadi jatah kita dan Dia pun tak akan menambah apa yang bukan jatah kita. Seperti apapun kerja kita.

Kalau dua hal itu selalu kita ingat, maka tawakkal kita akan sempurna. Kita tidak akan mengeluh dan menyesali apa yg kita kerjakan atau apapun yang luput dari kita. 

Jadilah Pemenang Sejati...

Tak ada yg sia2 disisi Allah.

ٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

ALLAAHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THAITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADD 
( Ya Allah, tiada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak bermanfaat pemilik kekayaan, dan dari-Mulah segala kekayaan).” 

(HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 593)