Engkau hanya memerlukan kesadaran, bahwa yang engkau lakukan
seluruhnya dalam dakwah ini adalah untuk Allah. Kerjamu untuk Allah.
Keringatmu untuk Allah. Waktu yang engkau habiskan untuk Allah. Harta
yang engkau alokasikan dalam dakwah adalah untuk Allah. Pikiran yang
engkau curahkan untuk Allah. Tenaga yang engkau sumbangkan untuk Allah.
Berjalanmu dalam melakukan semua kegiatan, berangkat dan pulangnya,
untuk Allah. Dudukmu dalam mengikuti rapat dan koordinasi, untuk Allah.
Suaramu saat engkau menyampaikan pendapat dan pandangan, untuk Allah.
Mengawali dan mengakhiri rapat dan semua pertemuanmu, untuk Allah.
Program kerja yang engkau tunaikan, untuk Allah. Berlelah-lelahmu untuk
Allah. Berpagi-pagimu untuk Allah. Bermalam-malammu untuk Allah.
Engkau hanya memerlukan kesetiaan, bahwa segala yang engkau pikirkan
adalah untuk Allah. Segala yang engkau kerjakan adalah untuk Allah.
Segala yang engkau rancang adalah untuk Allah. Segala yang engkau
inginkan adalah ridha Allah.
Engkau tidak perlu memusingkan dirimu akan mendapatkan apa dalam
jalan dakwah ini, karena itu urusan Allah. Engkau tidak perlu merisaukan
posisimu seperti apa dalam organisasi dakwah karena telah diatur oleh
Allah. Mungkin saja engkau mengetahui ada sebagian orang yang hasad
kepadamu, kepada posisimu, kepada kedudukanmu, namun engkau telah
menyerahkan semuanya kepada Allah. Engkau tidak perlu menyimpan rasa iri
dengki atas posisi, kedudukan, jabatan, dan harta benda yang dimiliki
saudaramu di jalan dakwah, karena engkau lebih menginginkan kedudukan
mulia di sisi Allah.
Engkau tidak perlu resah memikirkan omongan dan sikap orang kepadamu,
selama engkau selalu bersandar kepada Allah. Engkau tidak perlu
menyibukkan diri untuk berharap-harap jabatan, posisi, kedudukan,
kekuasaan tertentu dalam perjalanan dakwah, karena telah dikelola oleh
Allah. Engkau tidak perlu menyibukkan diri untuk mencari-cari
gemerlapnya pujian dalam mengemban amanah dakwah, karena segala puji
hanyalah milik Allah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri untuk selalu membawa kesadaran
Rabbaniyah dalam segala langkah.
Engkau hanya perlu menyibukkan diri
untuk selalu mengingat Allah dalam segala kegiatan. Engkau hanya perlu
menyibukkan diri untuk memberikan kontribusi terbaik di jalan dakwah,
dengan segala potensi dan kemampuan yang engkau miliki, karena Allah.
Engkau hanya perlu menyadari bahwa kemuliaan itu hanya milik Allah.
Bukan pada jabatan, posisi, kedudukan, harta dan materi duniawi. Engkau
hanya perlu memupuk dan menguatkan kecintaan kepada Allah, karena pada
sisi Allah terdapat segala kekuatan dan kesempurnaan. Tidak ada orang
terhina selama dia mendekat kepada Allah. Tidak ada orang mulia dalam
menjauhi Allah.
Maka, resapilah setiap hari setiap saat, betapa nikmat berada di
jalan dakwah ini. Karena proposalmu adalah kepada Allah, bukan kepada
manusia. Proposalmu adalah kerja di jalanNya, bukan untuk posisi dunia.
Selamat menempuh jalan dakwah yang begitu nikmat, setiap waktu setiap saat.
*dikutip dari tulisannya ust Cahyadi Takariawan "Agar Bisa Menikmati Indahnya Dakwah
...karena kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami dan diamalkan...
Jumat, 30 Agustus 2013
Selasa, 13 Agustus 2013
Memaafkan
Tujuan puasa adalah utk mencapai derajat TAQWA
Diantara tanda TAQWA adalah MEMAAFKAN
Memaafkan bukan bagaimana kita mendengar, tapi bagaimana kita mengerti.
Bukan bagaimana kita melupakan, tapi bagaimana kita mengikhlaskan
Sejatinya, memaafkan itu bisa :
>menghapus dendam
>menghapus luka jiwa
>Menghapus sakit hati
Setiap jiwa pemaaf pasti akan tenang
hingga ketenangan itu menghantarkan perjumpaan dengan NYA
Mohon maaf lahir batin....
semoga Allah menerima semua amal kita dan mengampuni segala dosa2 kita...
Teladan MEMAAFKAN dari nabi Yusuf alayhis-salam
قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Nabi Yusuf berkata (kepada saudara-saudaranya): "Tak ada cercaan kepada kalian. Semoga Allah mengampuni kalian dan Dia Paling Penyayang diantara para penyayang." (Yusuf: 92).
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُم مِّنَ الْبَدْوِ مِن بَعْدِ أَن نَّزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِّمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Nabi Yusuf menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka semua bersujud menghormat kepada Nabi Yusuf
Dan dia berkata: "Wahai ayahku, inilah ta'wil mimpiku yang dulu itu Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika Dia membawa kalian dari dusun setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia lah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (surat Yusuf ayat 100
Yang menarik adalah bahwa ucapan Nabi Yusuf benar-benar mencerminkan kesempurnaan maaf yang diberikannya untuk saudara-saudaranya yang dulu telah hampir membunuhnya dengan menceburkannya ke dalam sumur.
Nabi Yusuf mengalami setidaknya dua kejadian yang membahayakan dan menyakitkan : diceburkan ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan mencoba memperkosa majikannya.
Namun saat berbicara dihadapan orang tua dan saudaranya tentang nikmat Allah kepadanya di ayat 100 tsb Nabi Yusuf hanya menyebutkan nikmat keluar dari penjara tanpa menyinggung peristiwa sumur.
Pun saat menyebutkan nikmat berkumpul kembali dg mereka, Nabi Yusuf hanya menyalahkan setan yang telah mengganggu hubungannya dg mereka.
Nabi Yusuf benar-benar membuktikan bahwa "tak ada cercaan kpd kalian" baik langsung atau tidak langsung.
Maaf yang tulus dan sempurna yang lahir dari kasih sayang kepada saudaranya seolah mereka tak pernah menyakitinya.
Shalawat dan salam kepada Nabi Yusuf dan Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
Rabu, 31 Juli 2013
Wujudkan Mimpi dengan ISTIGHFAR
fragmen 1
Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, ‘Istighfarlah engkau kepada Allah.’Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah, mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, ‘Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mintalah ampunan kepada Allah.’Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering.Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mohonlah ampun kepada Allah.’
Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, ‘Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, ‘Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya),
“Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -seseungguhnya DIA adalah Maha Pengampun-, niscaya DIA akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh [71]: 10-12)
fragmen 2
Dikisahkan bahwa, sekali waktu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam disana. Seusai shalat dan ketika hendak merebahkan tubuh tua beliau di masjid kecil tersebut guna melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya. Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapinya adalah seorang ulama besar.Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya.Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat disana. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.
Tapi takdir Allah, tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hambal.
Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.
Imam al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dari Ibnu Subaih rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “Ada seorang yang mengadu musim paceklik kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, ‘Istighfarlah engkau kepada Allah.’Ada lagi yang mengadu bahwa dia miskin, Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah, mintalah ampun kepada Allah.’ Lain lagi orang yang ketiga, ia berkata, ‘Doakanlah saya agar dikaruniai anak.’ Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mintalah ampunan kepada Allah.’Kemudian ada juga yang mengadu bahwa kebunnya kering.Hasan al-Bashri rahimahullah tetap menjawab, ‘Istighfarlah…mohonlah ampun kepada Allah.’
Melihat hal itu, Rabii’ bin Subaih bertanya, ‘Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?’ Hasan al-Bashri rahimahullah menjawab, ‘Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya),
“Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, -seseungguhnya DIA adalah Maha Pengampun-, niscaya DIA akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.’” (QS. Nuh [71]: 10-12)
fragmen 2
Dikisahkan bahwa, sekali waktu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam disana. Seusai shalat dan ketika hendak merebahkan tubuh tua beliau di masjid kecil tersebut guna melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya. Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapinya adalah seorang ulama besar.Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya.Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat disana. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.
Tapi takdir Allah, tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hambal.
Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.
Ternyata Imam Ahmad tidak langsung tidur, melainkan
malah memperhatikan segala gerak gerik sang pembuat roti yang menjamu beliau.
Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni
ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus
sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.
Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya: Sejak kapan kamu selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?
Ia menjawab: Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.
Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau: Lalu apakah kamu bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfarmu ini?
“Ya, tentu saja”, jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan.
“Apa itu, kalau boleh tahu?”, tanya Imam Ahmad lagi.
Iapun menjelaskan seraya bertutur: “Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan untuk kebutuhan saya selama ini, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terijabahi sampai saat ini.”
Sang Imam semakin penasaran dan bertanya: “Apa gerangan doa yang satu itu?”
Si lelaki tukang roti nan saleh inipun melanjutkan jawabannya dan berkata: “Ya, sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hambal…”
Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir: “Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu..”
Disini gantian si pembuat roti yang kaget dan penasaran: “Apa yang tuan katakan ? Doaku telah dikabulkan ? Bagaimana caranya ? Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu? “
Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang: “Ya. Benar, Allah telah mengijabahi doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampungmu ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan kamu di jalanan, sampai menginap di rumahmu sekarang ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hambal…!
Dan tentu setiap kita sudah bisa membayangkan, apa yang mungkin terjadi dan dilakukan oleh sang tukang roti saleh tersebut setelah itu…!
Rahimahumallahu rahmatan wasi’ah…!
Semoga Allah merahmati keduanya dengan rahmat yang seluas-luasnya…!
----
Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya: Sejak kapan kamu selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?
Ia menjawab: Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.
Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau: Lalu apakah kamu bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfarmu ini?
“Ya, tentu saja”, jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan.
“Apa itu, kalau boleh tahu?”, tanya Imam Ahmad lagi.
Iapun menjelaskan seraya bertutur: “Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan untuk kebutuhan saya selama ini, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terijabahi sampai saat ini.”
Sang Imam semakin penasaran dan bertanya: “Apa gerangan doa yang satu itu?”
Si lelaki tukang roti nan saleh inipun melanjutkan jawabannya dan berkata: “Ya, sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hambal…”
Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir: “Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu..”
Disini gantian si pembuat roti yang kaget dan penasaran: “Apa yang tuan katakan ? Doaku telah dikabulkan ? Bagaimana caranya ? Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu? “
Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang: “Ya. Benar, Allah telah mengijabahi doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampungmu ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan kamu di jalanan, sampai menginap di rumahmu sekarang ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hambal…!
Dan tentu setiap kita sudah bisa membayangkan, apa yang mungkin terjadi dan dilakukan oleh sang tukang roti saleh tersebut setelah itu…!
Rahimahumallahu rahmatan wasi’ah…!
Semoga Allah merahmati keduanya dengan rahmat yang seluas-luasnya…!
----
Dengan Bismillah kita melangkah
membangun peradaban
membangun peradaban
wujudkan cita-cita mencerdaskan bangsa
berdoa dan terus berusaha
semangat tiada kenal putus asa
berbekal keikhlasan dan kesabaran
berjuang bersama-sama
wujudkan mimpi sekolah kita
Sekolah Alam Indonesia
meski lagu hymne tsb sudah berusia 3 th lebih….mungkin sebagian (besar) kita masih ada yg belum pernah mendengarkan…atau baru tau ketika acara buka bersama hari Sabtu (27 Juli) kemarin..
Tapi kita ga akan bahas lagu tsb….
Kita hanya ingin menguatkan azzam dan motivasi kita utk mewujudkan mimpi besar kita, sebagaimana tercantum dalam syair tersebut…
Lalu…apa hubungannya mewujudkan mimpi besar kita, dengan 2 (dua) kisah pembuka diatas ? Jelas sangat kuat dan erat…. :)
2 kisah diatas adalah kisah tentang orang-orang yang memiliki mimpi-mimpi besar…
dan atas ijin Allah, mimpi-mimpi besar mereka terwujud…
kita pun insya Allah bisa mengalaminya….
Kalau kita melakukan flashback sejenak…. Sesungguhnya sudah sedemikian banyak pertolongan Allah yang kita rasakan…
Sejak bergabung bersama komunitas Sekolah Alam Indonesia pada kisaran th 1998-1999, (sejak Sekolah Alam masih berdomisili di jalan Damai) saya pribadi sangat merasakan betapa pertolongan Allah kepada komunitas SAI ini sudah demikian banyak…
Sejauh ini, komunitas ini telah berhasil melewati masa-masa kritis yang pernah dialaminya. Masih terekam jelas dalam ingatan ketika saat itu kita berusaha keras ‘mencari murid’ yang mau sekolah di Sekolah Alam, hingga akhirnya atas pertolongan Allah kita mendapati antusias masyarakat yg demikian besar untuk memasukkan anaknya di Sekolah Alam Indonesia. Berbagai prestasi dan penghargaan pun sudah banyak dicapai.
Tapi….selain pencapaian tersebut, masih ada mimpi dan harapan kita yang sampai saat ini belum terwujud… yaitu memiliki lahan sendiri… sehingga lahirlah tim ‘task force’ bernama Tim MSI (Menjemput Sekolah Impian)
Kita semua yakin, bahwa mimpi ini akan (segera) terwujud insya Allah…
segala upaya dan ikhtiar sudah kita lakukan… proposal, kupon, bazaar, dll.
Doa-doa pun tak ketinggalan senantiasa kita panjatkan…
Tanpa bermaksud menafikan segala upaya dan doa2 yg ada…. Tulisan ini ingin mengajak kita semua utk menyempurnakan ikhtiar dalam mewujudkan mimpi besar kita..
Kita ingin sempurnakan ikhtiar kita dengan memperbanyak ISTIGHFAR… yang (akan) diamalkan oleh keluarga besar komunitas SAI--- ortu, guru, anak2, dll---
Mengapa harus istighfar ?
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas ia berkata, Rasulullahsaw bersabda:
مَنْ أَكْثَرَاْلاِسْتِغْفَارَجَعَلَ اللهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya
Allah menjadikan kelapangan untuk setiap kesedihannya/kegalauannya, dan Jalan keluar (solusi) untuk setiap kesempitannya dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(Dishahihkan oleh Imam Al-Hakim (AlMustadrak, 4/262) dan Syaikh Ahmad
Muhammad Syaikh (Hamisy Al-Musnad, 4/55)
Hadits tersebut akan memotivasi kita untuk merutinkan istighfar…
Insya Allah…. Istighfar yang kita lantunkan akan mempercepat terwujudnya mimpi besar kita.
Dua kisah pembuka di tulisan ini sudah menjelaskan sekaligus membuktikan hadits tersebut.
So…..di penghujung Ramadhan ini…mari kita kuatkan doa dan istighfar kita… terutama di waktu2 sahur…. Karena beristighfar di waktu sahur merupakan kebiasaan orang2 shalih..
Wallahu a’lam.
@cinere, 20 Ramadhan 1434 H
Tulisan ini kupersembahkan utk keluarga besar komunitas Sekolah Alam Indonesia khususnya.....juga kepada mereka yang ingin mewujudkan mimpi-mimpinya...
mari sempurnakan ikhtiar kita dengan memperbanyak istighfar....
mari sempurnakan ikhtiar kita dengan memperbanyak istighfar....
Kamis, 27 Juni 2013
Sedikit tapi MENGUATKAN
Tidak selamanya banyak itu menguatkan...
ibarat buih, meski jumlahnya banyak, tapi sejatinya ia sangat lemah...
Dalam perjuangan, sumber kekuatan bukan ditentukan oleh besarnya jumlah...
Sejarah menunjukkan, jumlah kader inti perjuangan da’wah selalu sedikit. Namun itulah sesungguhnya rahasia kekuatan mereka. Seperti terlihat dalam beberapa peperangan yang dilakukan Rasulullah:
ibarat buih, meski jumlahnya banyak, tapi sejatinya ia sangat lemah...
Dalam perjuangan, sumber kekuatan bukan ditentukan oleh besarnya jumlah...
Sejarah menunjukkan, jumlah kader inti perjuangan da’wah selalu sedikit. Namun itulah sesungguhnya rahasia kekuatan mereka. Seperti terlihat dalam beberapa peperangan yang dilakukan Rasulullah:
Perang Badar
Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.
Rasulullah
SAW berangkat bersama tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada
yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka
kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170
kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah
besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua
ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di
samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara
bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw
sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi
Murtsid Al-Ghanawi.
Sementara jumlah pasukan
kafir Quraisy sepuluh kali lipat. Tak kurang seribu tiga ratusan
prajurit. Dengan seratus kuda dan enam ratus perisai, serta onta yang
jumlahnya tak diketahui secara pasti, dan dipimpin langsung oleh Abu
Jahal bin Hisyam. Sedangkan pendanaan perang ditanggung langsung oleh
sembilan pemimpin Quraisy. Setiap hari, mereka menyembelih sekitar
sembilan atau sepuluh ekor unta.
Perang Uhud
Kekalahan di Badar menanamkan dendam mendalam di hati kaum kafir Quraisy. Mereka pun keluar ke bukit Uhud hendak menyerbu kaum Muslimin. Pasukan Islam berangkat dengan kekuatan sekitar seribu orang prajurit, seratus diantaranya menggunakan baju besi, dan lima puluh lainnya menunggang kuda.
Di sebuah tempat bernama asy-Syauth, kaum muslimin melakukan shalat subuh. Tempat ini sangat dekat dengan musuh sehingga mereka bisa dengan mudah saling melihat. Ternyata pasukan musuh berjumlah sangat banyak. Mereka berkekuatan tiga ribu tentara, terdiri dari orang-orang Quraisy dan sekutunya. Mereka juga memiliki tiga ribu onta, dua ratus ekor kuda dan tujuh ratus buah baju besi.
Pada kondisi sulit itu, Abdullah bin Ubay, sang munafiq, berkhianat dengan membujuk kaum muslimin untuk kembali ke Madinah. Sepertiga pasukan, atau sekitar tiga ratus prajurit akhirnya mundur. Abdullah bin Ubay mengatakan, “Kami tidak tahu, mengapa kami membunuh diri kami sendiri?"
Setelah kemunduran tiga ratus prajurit tersebut, Rasulullah melakukan konsolidasi dengan sisa pasukan yang jumlahnya sekitar tujuh ratus prrajurit untuk melanjutkan perang. Allah memberi mereka kemenangan, meski awalnya sempat kocar-kacir.
Perang Mu’tah
Perang Mu’tah merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Pemicu perang Mu’tah adalah pembunuhan utusan Rasulullah bernama al-Harits bin Umair yang diperintahkan menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Al-Harits dicegat oleh Syurahbil bin Amr, seorang gubernur wilayah Balqa di Syam, ditangkap dan dipenggal lehemya. Untuk perang ini, Rasulullah mempersiapkan pasukan berkekuatan tiga ribu prajurit. Inilah pasukan Islam terbesar pada waktu itu.
Mereka bergerak ke arah utara dan beristirahat di Mu’an. Saat itulah mereka memperoleh informasi bahwa Heraklius telah berada di salah satu bagian wilayah Balqa dengan kekuatan sekitar seratus ribu prajurit Romawi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari pasukan Lakhm, Judzam, Balqin dan Bahra kurang lebih seratus ribu prajurit. Jadi total kekuatan mereka adalah dua ratus ribu prajurit.
Perang Ahzab
Dua puluh pimpinan Yahudi bani Nadhir datang ke Makkah untuk melakukan provokasi agar kaum kafir mau bersatu untuk menumpas kaum muslimin. Pimpinan Yahudi bani Nadhir juga mendatangi Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk melakukan apa yang mereka serukan pada orang Quraisy. Selanjutnya mereka mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah untuk melakukan hal yang sama. Semua kelompok itu akhirnya sepakat untuk bergabung dan menghabisi kaum muslimin di Madinah sampai ke akar-akarnya.
Jumlah keseluruhan pasukan Ahzab (sekutu) adalah sekitar sepuluh ribu prajurit. Jumlah itu disebutkan dalam kitab sirah adalah lebih banyak ketimbang jumlah orang-orang yang tinggal di Madinah secara keseluruhan, termasuk wanita, anak-anak, pemuda dan orang tua. Menghadapi kekuatan yang sangat besar ini, atas ide Salman al-Farisi, kaum muslimin menggunakan strategi penggalian parit untuk menghalangi sampainya pasukan musuh ke wilayah Madinah.
Perang Tabuk
Romawi memiliki kekuatan militer paling besar pada saat itu. Perang Tabuk merupakan kelanjutan dari perang Mu’tah. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Romawi dan raja Ghassan. Informasi tentang jumlah pasukan yang dihimpun adalah sekitar empat puluh ribu personil.
Keadaan semakin kritis, karena suasana kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan pangan.
Mendengar persiapan besar pasukan Romawi, kaum muslimin berlomba melakukan persiapan perang. Para tokoh sahabat memberi infaq fi sabilillah dalam suasana yang sangat mengagumkan. Utsman menyedekahkan dua ratus onta lengkap dengan pelana dan barang-barang yang diangkutnya. Kemudian ia menambahkan lagi sekitar seratus onta lengkap dengan pelana dan perlengkapannya. Lalu ia datang lagi dengan membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah saw. Utsman terus bersedekah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus onta seratus kuda, dan uang dalam jumlah besar. Abdurrahman bin Auf membawa dua ratus uqiyah perak. Abu bakar membawa seluruh hartanya dan tidak menyisakan untuk keluarganya kecuali Allah dan Rasul-Nya. Umar datang menyerahkan setengah hartanya. Abbas datang menyerahkan harta yang cukup banyak. Thalhah, Sa’d bin Ubadah, dan Muhammad bin Maslamah, semuanya datang memberikan sedekahnya. Ashim bin Adi datang dengan menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma dan diikuti oleh para sahabat yang lain.
Jumlah pasukan Islam yang terkumpul sebenarnya cukup besar, tiga puluh ribu personil. Tapi mereka minim perlengkapan perang. Bekal makanan dan kendaraan yang ada masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah pasukan. Setiap delapan belas orang mendapat jatah satu onta yang mereka kendarai secara bergantian.
Berulangkali mereka memakan dedaunan sehingga bibir mereka rusak. Mereka terpaksa menyembelih unta, meski jumlahnya sedikit, agar dapat meminum air yang terdapat dalam kantong air onta tersebut. Oleh karena itu, pasukan ini dinamakan jaisyul usrrah, atau pasukan yang berada dalam kesulitan.
Kisah-kisah
di atas, adalah kisah tentang kiprah kader-kader inti perjuangan Islam.
Bersama (pertolongan) Allah mereka mengukir prestasi gemilang yang
selalu dikenang sepanjang masa.
http://cahaya-hidayahiman.blogspot.com/2009/01/kader-inti-bersama-pertolongan-allah.html
http://cahaya-hidayahiman.blogspot.com/2009/01/kader-inti-bersama-pertolongan-allah.html
Kamis, 13 Juni 2013
sudahkah kita ber-ISTIGHFAR ?
Rasul dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar dan bertaubat padahal beliau adalah orang yang telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (1) لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata , supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni’mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.” (Qs. Al Fath: 1-2)
Dalam kitab shohih, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ . يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ
أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa shalat sehingga kakinya pecah-pecah. Kemudian aku mengatakan kepada beliau, ‘Wahai rasulullah, kenapa engkau melakukan hal ini padahal engkau telah diampuni dosa yang telah lalu dan akan datang.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Tidakkah engkau menyukai aku menjadi hamba yang bersyukur.’” (HR. Muslim no. 7304)
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Inilah kekhususan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seorang pun tidak ada yang menyamainya. Tidak ada dalam satu hadits shohih pun yang menceritakan tentang balasan amalan kepada selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni. Inilah yang menunjukkan kemuliaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala perkara ketaatan, kebaikan dan keistiqomahan yang tidak didapati oleh manusia selain beliau, baik dari orang yang terdahulu maupun orang yang belakangan. Beliaulah manusia yang paling sempurna secara mutlak dan beliaulah pemimpin (sayid) seluruh manusia di dunia dan akhirat.”
Walaupun dosa-dosa beliau telah diampuni, namun beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling banyak beristigfar di setiap waktu. Para sahabat telah menghitung dalam setiap majelisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat paling banyak beristigfar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristigfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim)
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ فِى لِسَانِى ذَرَبٌ عَلَى أَهْلِى لَمْ أَعْدُهُ إِلَى غَيْرِهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-
“Dulu lisanku biasa berbuat keji kepada keluargaku. Namun, aku tidaklah menganiaya yang lainnya. Kemudian aku menceritakan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ يَا حُذَيْفَةُ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
“Mana istigfarmu, wahai Hudzaifah? Sesungguhnya aku selalu beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-Nya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sabda Nabi ‘…إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ’ adalah shohih lighoirihi yaitu shohih namun dilihat dari jalur lainnya yang lebih kuat atau semisal dengannya. Sedangkan sanad hadits ini dho’if)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطٌّ إِلاَّ اِسْتَغْفَرْتُ اللهَ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Tidaklah aku berada di pagi hari (antara terbit fajar hingga terbit matahari) kecuali aku beristigfar pada Allah sebanyak 100 kali.” (HR. An Nasa’i. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani di Silsilah Ash Shohihah no. 1600)
Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa jika kami menghitung dzikir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majelis, beliau mengucapkan,
رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
‘Robbigfirliy wa tub ‘alayya, innaka antat tawwabur rohim’ [Ya Allah ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang] sebanyak 100 kali. (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 556)
Dan bacaan istighfar yang paling sempurna adalah penghulu istighfar (sayyidul istighfar) sebagaimana yang terdapat dalam shohih Al Bukhari dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Penghulu istighfar adalah apabila engkau mengucapkan,
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ
يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
“Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta [Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau].” (HR. Bukhari no. 6306)
Faedah dari bacaan ini adalah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dari lanjutan hadits di atas,
وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ »
“Barangsiapa mengucapkannya pada siang hari dan meyakininya, lalu dia mati pada hari itu sebelum waktu sore, maka dia termasuk penghuni surga. Dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, lalu dia mati sebelum waktu pagi, maka dia termasuk penghuni surga.”
Hadits sayyidul istigfar ini meliputi makna taubat dan terdapat pula hak-hak keimanan. Di dalam hadits ini juga terkandung kemurnian ibadah dan kesempurnaan ketundukan serta perasaan sangat butuh kepada Allah. Sehingga bacaan dzikir ini melebihi bacaan istigfar lainnya karena keutamaan yang dimilikinya. –Semoga kita termasuk orang yang selalu merutinkannya di setiap pagi dan sore-
Bacaan istigfar lainnya adalah sebagaimana terdapat dalam shohih Bukhari dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Aisyah berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika menjelang kematiannya) sedang bersandar padanya. Lalu beliau mengucapkan,
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَأَلْحِقْنِى بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى
“Ya Allah, ampunilah aku, kasihilah aku dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang sholih.” (HR. Bukhari no. 5674. Lihat Al Muntaqho Syar Al Muwatho’)
Jadi lihatlah kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang setiap waktunya selalu diisi dengan istighfar bahkan sampai akhir hayat hidupnya pun beliau tidak lepas dari amalan tersebut. Sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengakhiri amalan-amalan sholihnya seperti shalat, haji, shalat malam dengan istigfar, beliau juga mengakhiri hidupnya dengan istigfar.
Saudaraku… Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang sudah dijamin dosanya yang telah lalu dan akan datang akan diampuni, bagaimana lagi dengan kita yang tidak dijamin seperti itu[?] Sungguh, kita sebenarnya yang lebih pantas untuk bertaubat dan beristighfar setiap saat karena dosa kita yang begitu banyak dan tidak pernah bosan-bosannya kita lakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di waktu siang dan malam, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR. Muslim no. 6737)
Semoga Allah mengaruniakan kita untuk selalu mengikuti jejak beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan kepada kita akhir hidup yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan do’a.
***
sumber : www.rumaysho.com
Dari artikel 'Nabi Tidak Pernah Bosan Beristighfar — Muslim.Or.Id'
Minggu, 09 Juni 2013
Buku Kehidupan Kita
Hidup Manusia seperti Sebuah BUKU....
Cover depan adalah tanggal lahir. Cover belakang adalah tanggal kematian.
Tiap lembarnya, adalah tiap hari dalam hidup kita dan apa yg kita lakukan.
Ada buku yg tebal, ada buku yg tipis.
Ada buku yg menarik dibaca, ada yg sama sekali tidak menarik.
Sekali tertulis, tidak akan pernah bisa di edit lagi.
Tapi hebatnya, seburuk apapun halaman sebelumnya, selalu tersedia halaman selanjutnya yg putih bersih, baru dan tiada cacat.
Sama dengan hidup kita, seburuk apapun kemarin, Allah selalu menyediakan hari yang baru untuk kita.
Kita selalu diberi kesempatan baru untuk melakukan sesuatu yg benar dalam hidup kita setiap harinya.Kita selalu bisa memperbaiki kesalahan kita dan melanjutkan alur cerita kedepannya sampai saat usia berakhir, yang sudah ditetapkan-NYA.
Terima kasih Allah untuk hari yg baru ini..
Syukuri hari ini.... dan isilah halaman buku kehidupanmu dengan hal-hal yg baik semata.
Dan, jangan pernah lupa, untuk selalu berdoa kepada Allah meminta keridoan-Nya, tentang apa yang telah ditulis tiap harinya.
Supaya pada saat halaman terakhir buku kehidupan kita selesai, kita dapati diri ini sebagai pribadi yg berkenan kepada-NYA.
Dan buku kehidupan itu layak untuk dijadikan teladan bagi anak-anak kita dan siapapun setelah kita nanti.
Selamat menulis di buku kehidupanmu, Menulislah dengan tinta cinta dan kasih sayang, serta pena kebijaksanaan.
Tempat Kita di Surga ditentukan oleh banyaknya ayat quran yg kita baca
يجيء
القران يوم القيامة ، فيقول : يارب حله ، فيلبس تاج الكرامة ، ثم يقول :
يارب زده ، فيلبس حله الكرامة ، ثم يقول : يارب ارض عنه ، فيرضى عنه ،
فيقول له : اقرأ وارق وتزاد بكل اية حسنة ، رواه الترمذي عن ابى هريرة
Pada hari Kiamat Al Qur'an akan datang dan berkata : Ya Rabbi, berikanlah perhiasan ( kepada orang yang membaca Al Qur'an ), maka orang tersebut pun dikenakan mahkota kemuliaan. Kemudian Al Qur'an berkata : Ya Rabbi tambahkanlah, maka orang itu pun ( ditambahkan ) dikenakan perhiasan kemuliaan. Lalu Al Qur'an kembali berkata : Ya Rabbi, ridhailah dia, maka Allah pun meridhai orang itu. Kemudian dikatakan kepadanya : Bacalah ( Al Qur'an ) dan naiklah ( ke syurga ). Lantas derajadnya ( di syurga ) pun terus bertambah. Pada setiap ayat ( yang dibacanya ) terdapat satu kebaikan [ At Tirmidzi dari Abu Hurairah ]
وقالت
أم الدرداء ، دخلت على عائشة رضي الله عنها فقلت لها ، مافضل من
قرأالقران على من لم يقرأه ممن دخل الجنة ؟ فقالت عائشة رضي الله عنها :
إن عدد اي القران على عدد درج الجنة ، فليس أحد دخل الجنة أفضل ممن
قرأالقران ، ذكره أبو محمد مكي
Ummu Darda' berkata : Aku masuk menemui Aisyah radhiyallaahu 'anha. Lalu kukatakan kepadanya : Apa fadhilah ( keutamaan ) orang yang membaca Al Qur'an dibandingkan dengan orang yang tidak membaca Al Qur'an namun dia termasuk orang yang akan masuk syurga ? Aisyah radhiyallaahu 'anha menjawab : Sesungguhnya jumlah ayat Al Qur'an itu sama dengan jumlahnya derajad di syurga. Tidak ada seorang pun yang masuk syurga yang lebih baik dari orang yang membaca Al Qur'an. [ Disebutkan oleh Abu Muhammad Makki ]
Langganan:
Postingan (Atom)





