Kamis, 27 Desember 2012

UJIAN DAPAT MENINGGIKAN DERAJAT & MENGGUGURKAN KESALAHAN

Sesungguhnya di surga ada tingkatan yang tidak dapat dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya, apa pun amalnya. Allah telah menyediakan kedudukan tertentu di surga bagi hamba-hambanya yang beriman bukan karena amal mereka melainkan karena ujian dan cobaan yang menerpa. Oleh karenanya Allah swt menyiapkan bagi mereka sebab-sebab yang akan mengantarkan mereka kepada ujian dan cobaan itu. Ya, sama persis seperti halnya Dia memberikan taufik kepada mereka untuk beramal shalih yang juga merupakan sebab-sebab yang akan menyampaikan mereka ke sana.

Ada tingkatan iman yang tidak bisa dicapai oleh seorang hamba dengan amalnya. Ia hanya akan mencapainya dengan ujian dan cobaan. Allah beriradah untuk meningkatkan imannya, maka Allah pun menetapkan ujian dan menolongnya untuk bersabar dan teguh menghadapinya. Jadi ini merupakan rahmat dari-Nya bagi sang hamba.

Bukankah sekiranya orang-orang musyrik Quraisy tidak merampas harta Shuhaib ar-Rumiy niscaya ia tidak akan mencapai derajat “Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung.”[1]

Bukankah sekiranya keluarga Yasir tidak merasakan pedihnya siksa yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy niscaya tidak akan sampai ke darajat, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.”[2]
Demi, sekiranya bukan karena Anas bin Nadlar tercacah tubuhnya dalam perang Uhud, ia tidak akan mendapatkan kemuliaan ‘Seandainya ia bersumpah, memohon sesuatu kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.’

Kalaulah bukan karena itu, niscaya wajahnya tidak akan berseri-seri dan tidak akan terealisirlah apa yang diinginkannya saat ia bersumpah, ‘Demi Allah, gigi depan Rubayyi’ tidak akan copot.’[3]
Jika bukan karena siksa yang dirasakan oleh Bilal bin Rabah dari tangan Umayyah bin Khalaf dan algojo-algojonya, niscaya ia tidak mendapatkan gelar ‘Bilal, penghulu kita’[4]
Kalaulah bukan karena kesabaran nabi Yusuf  saat digoda dan saat dipenjara, ia tidak akan mendapatkan panggilan ‘wahai yang terpercaya’ (Yusuf : 46)
Sekiranya bukan karena kesabaran ‘Umar bin Khathab mengenyam pahit-getirnya kebenaran dan keadilan, niscaya tangannya tidak akan terbentang menguasai dunia seisinya, atau seperti banyak dikatakan, ‘Tangannya terbentang, menyentuh bumi dengan kilau perhiasan.’
Sekiranya bukan karena kesabaran ‘Umar bin ‘Abdul’aziz mengenyam pahit-getirnya kebenaran dan keadilan, ia tidak akan diakui sebagai khalifah yang kelima.[5]
Jika bukan karena kesabaran ashhaburraji’ atas apa yang menerpa mereka di jalan Allah, niscaya mereka tidak akan menjadi orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ
Dan di antara manusia ada yang menjual nyawanya demi mengharapkan keridlaan Allah. (al-Baqarah : 207)

Jika bukan karena kesabaran Sa’ad bin Mu’adz, perjuangannya di jalan Allah, darahnya yang mengalir saat perang Khandaq, dan hukumnya yang adil terhadap Bani Quraizhah, niscaya ia tidak akan meraih derajat ‘’Arsy ar-Rahman berguncang saat kematian Sa’ad’[6]
Jika bukan karena kesungguhan, pengorbanan, dan kesabaran ‘Abdullah bin Haram saat perang Uhud dan sebelumnya, ia tidak akan meraih derajat, ‘Wahai hamba-Ku, berangan-anganlah, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu.’[7]

Andai bukan karena kesabaran Ahmad bin Hambal dalam menghadapi siksaan dan keteguhannya di atas kebenaran, ia tidak akan mencapai gelar ‘imam ahlussunnah’.
Andai bukan karena kesabaran dan keteguhan Sayyid Quthb dalam menghadapi ujian dan saat digantung, kata-katanya tidak akan dikenang, dan buku-bukunya pun tidak akan tersebar dan berpengaruh di berbagai belahan dunia.

Dus, jika Allah beriradah untuk memilih sebagian hamba-Nya supaya menjadi syuhada`, Dia akan menguasakan musuh kepada mereka yang akan membunuh dan menumpahkan darah mereka dalam cinta dan ridla-Nya, supaya mereka mengorbankan jiwa mereka di jalan-Nya.

Syahadah adalah derajat tertinggi setelah derajat para Nabi dan Shiddiqin. Syuhada` adalah orang-orang yang berkorban untuk Rabbnya. Mereka telah ridla kepada Allah, dan Allah pun telah memilih mereka untuk-Nya sendiri. Karena itulah Allah mengadakan sebab-sebab untuk itu. Allah menjadikan musuh-Nya ~yang juga musuh orang-orang yang beriman~ sebagai sebab tercapainya syahadah orang-orang yang beriman. Sungguh derajat yang tinggi. Apabila Allah beriradah untuk mengangkat para da’i dan para mujahid ke derajat ini, maka mereka harus terbunuh di tangan musuh.

Di sana ada dosa besar yang hanya dapat dihapus oleh kebaikan yang besar atau ujian yang berat. Maka Allah menetapkan ujian bagi wali-wali-nya, supaya dosa-dosa mereka terhapuskan; yang kecil ataupun yang besar, yang tampak ataupun yang kasat mata, yang awal ataupun yang akhir, sampai tak tersisa lagi satu kesalahan pun. Lalu mereka menghadap Rabbnya sedangkan dosa-dosa mereka telah berguguran.

Kemuliaan yang tak terkira dan derajat yang sangat tinggi!
Kiranya inilah yang diisyaratkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidziy dari Abu Hurairah  katanya, Rasulullah saw bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Ujian akan terus menimpa seorang mukmin; laki-laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.[8]



# maraji' :  Washiyyatul Musthafa Li Ahli Da'wah, DR. Abdullah Azzam Rahimahullah







[1] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/398 dari Anas ra, “Ketika Shuhaib ra keluar dari Mekah untuk berhijrah, para penduduk Mekah mengikutinya. Shuhaib meraih kantung anak panahnya dan mengambil 40 batang anak panah seraya berkata, ‘Jangan mendekat, atau masing-masing kalian akan mendapatkan sebatang anak panah ini, lalu aku mencabut pedangku dan kalian akan tahu bahwa aku benar-benar laki-laki! Aku telah meninggalkan dua orang budak di Mekah, keduanya untuk kalian.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ
Dan di antara manusia ada yang menjual nyawanya demi mengharapkan keridlaan Allah.
Ketika Shuhaib memasuki Madinah dan Nabi melihatnya, beliau saw bersabda, ‘Wahai Abu Yahya, perniagaanmu benar-benar beruntung.’ Lalu beliau membacakan ayat di atas.”
Al- Hakim berkata, “Shahih sesuai dengan syarat Muslim.”
Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqiy dari Shuhaib seperti tertera dalam al-Bidayah 3/173 dan ath-Thabrani. Di dalam Majma’uz Zawaid 6/60, al-Baihaqiy berkata, “Ada beberapa perawi yang tidak saya kenal.”
Hadits di atas juga diriwayatkan secara mursal dari Sa’id bin Musayyib oleh Abu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 3/162, Ibnu ‘Abdulbarr dalam al-Isti’ab 2/180; dan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya`1/152.
Hadits ini banyak sekali ‘syahid’nya, sehingga ini menunjukkan kebenarannya.
[2] Diriwayatkan oleh al-Hakim dari jalur ‘Uqail dari az-Zuhriy dari Isma’il bin ‘Abdullah bin Ja’far dari ayahnya seperti tersebut di dalam al-Ishabah 10/331. Ini adalah contoh sanad yang shahih dari hadits-hadits mursal shahabi. Yang seperti ini diterima oleh para ulama. Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Msnad 1/62, ath-Thabraniy seperti tertera dalam Majma’uz Zawaid 9/293, dan Abu Nu’iam dalam Hilyatul Auliya` 1/140 dari jalur Salim bin Abu Ja’ad dari ‘Utsman ra. Al-Haitsmiy dalam Majma’ mengatakan bahwa para perawi hadits ini terpercaya. Hanyasaja, hadits dengan sanad tersebut munqathi’, karena Salim tidak pernah mendengar dari ‘Utsman.
Diriwayatkan pula oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak 3/388, ath- Thabarani dalam al-Mu’jamul Awsath 1531, al-Baihaqiy ~seperti tersebut dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 3/59~, dan adz-Dzahabiy dalam Tarikh Islam 1/129 dari Abu Zubeir dari Jabir ra.
Di dalam Majma’uz Zawaid, al-Haitsamiy mengatakan, “Para perawinya orang-orang yang shahih selain Ibrahim bin ‘Abdul’aziz, ia seorang yang dapat dipercaya.”
Al-Hakim berkata, “Ini shahih sesuai dengan syarat Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.”
Adz-Dzahabi menyepakati al-Hakim.
[3] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 5/306, Abu Dawud 4595, an-Nasa`iy 8/26, Ibnu Majah 2649, dan Ahmad dalam Musnad 3/128 dari Anas bin Malik ra. Terjemahan lafaz al-Bukhariy  sebagai berikut, “Adalah Rubayyi’ ~putri Nadlar~ mematahkan gigi depan seorang anak perempuan. Keluarga Rubayyi’ meminta agar keluarga anak perempuan itu mau menerima uang tebusan dan memaafkan, namun mereka menolaknya. Maka mereka mendatangi Rasulullah saw dan Nabi pun memerintahkan qishash. Anas bin Nadlar berkata, ‘Haruskah gigi depan Rubayyi’ dipatahkan wahai Rasulullah? Tidak, demi yang telah mengutusmu dengan benar, gigi depannya tidak akan dipatahkan!’ Rasulullah membalas, ‘Wahai Anas, Allah memajibkan qishash.’ Setelah itu, keluarga anak perempuan itu ridla dan mau memaafkan. Maka Nabi saw bersabda, ‘Di antara sekian hamba Allah ada yang jika bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.’”
Diriwayatkan pula oleh Imam Muslim 11/162 dari hadits Anas dengan perbedaan orang yang mematahkan dan orang yang bersumpah. Para ulama mengatakan, ‘Riwayat yang lebih terkenal adalah riwayat al-Bukhariy.’ Imam an-Nawawiy berkata, “Memang ada dua kejadian yang melibatkan orang yang berbeda.”
[4] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/99 dari Jabir bin ‘Abdullah ra katanya, “‘Umar pernah berkata, ‘Abu Bakar tetua kita telah membebaskan tetua kita.’ Maksudnya Bilal.”
[5] Sufyan ats-Tsauriy mengatakan, “Khalifah itu ada lima; Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan ‘Umar bin ‘Abdul’aziz.”
Penuturan yang semisal diriwayatkan dari Mujahid dan Imam Ahmad. Bahkan kabarnya Sa’id bin Musayyib berkata, “Khalifah itu ada tiga; Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Umar”
Maksudnya ‘Umar bin Khathab dan ‘Umar bin ‘Abdul’aziz.
Baca kembali sirah beliau dalam karya Ibnul Jauzi hal. 59-60 cet. al-Muayyad tahun 1331 H.
[6] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 7/122, Muslim 16/12, at-Tirmidziy 3848, Ibnu Majah 158, dan Ahmad dalam Musnad 3/296 dari Jabir bin Abdullah ra. Tentang ini ada juga hadits dari Anas bin Malik, Usaid bin Hudlair, Asma` binti Zaid, Rumaitsah, dan selain mereka. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar berkata, “Hadits tentang berguncangnya ‘Arsy ar-Rahman karena Sa’ad bin Mu’adz ini diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat.” (Fathul Baari 7/124)
[7] Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, 3010 daan ia menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, 190, lafazh di atas lafazhnya, Ahmad, 361, dan al-Baihaqiy dalam Dalailun Nubuwwah 3/129 dari Jabir bin ‘Abdullah ra katanya, “Ketika ‘Abdullah bin ‘Amru bin Haram terbunuh dalam perang Uhud, Rasulullah saw bersabda, ‘Wahai Jabir, maukah kamu aku beritahukan apa yang Allah katakan kepada ayahmu?’ ‘Tentu saja, wahai Rasulullah.’, jawabku. Lalu Rasulullah berkata, ‘Allah selalu berbicara dengan siapa pun dari balik hijab, tetapi Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Dia berkata, ‘Wahai hamba-Ku, mintalah sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikannya!’ Ayahmu berkata, ‘Duhai Rabbku, hidupkan aku sekali lagi supaya aku bisa terbunuh di jalan-Mu untuk yang kedua kali.’ Lalu Allah menjawab, ‘Sesungguhnya, telah aku putuskan bahwa orang-orang yang meninggal dunia tidak akan kembali lagi ke sana.’ ‘Wahai Rabbku, kalau begitu, sampaikan keadaanku kepada orang-orang yang ada di belakangku.’, kata ayahmu. Maka Allah menurunkan firman-Nya,
وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rizki. (Ali ‘Imran : 169)
Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syekh al-Albaniy.
Diriwayatkan juga oleh al-Hakim 3/203 dan ia berkata, “Isnadnya shahih, hanyasaja keduanya tidak meriwayatkannya.”
[8]  Diriwayatkan oleh at-Tirmidziy, 2399 katanya, “Hadits hasan shahih.”
Diriwayatkan pula oleh Ahmad dalam Musnadnya 2/287 semisal dengannya dan dishahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir. Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadrak 4/314 dan berkata, “Shahih sesuai dengan syarat muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.” Adz-Dzahabiy menyetujuinya.
Diriwayatkan pula oleh Imam Malik dalam al-Muwatha` 558, artinya: “Seorang mukmin akan terus ditimpa musibah; anaknya dan orang-orang dekatnya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa.”

Agama ini Hanya Mampu Dipikul Oleh Orang Yang Bermental Baja

Ketahuilah bahwa dien ini hanya tegak di atas pundak orang-orang yang memiliki ‘azam yang kuat. Ia tidak akan tegak di atas pundak orang-orang yang lemah dan suka berhura-hura, tidak akan pernah!

Dien (=agama) yang agung ini hanya akan tegak di pundak orang-orang yang agung pula. Tanggung jawab besar yang sempat dienggani oleh langit dan bumi, pasti hanya akan dipikul oleh ahlinya, rijalnya.
Bagaimana mungkin Islam akan tegak tanpa ‘azam seteguh ‘azam Anas bin Nadlar yang pernah berkata, 

“Sekiranya Allah memberi kesempatan kepadaku untuk memerangi orang-orang musyrik, niscaya Dia akan melihat apa yang aku lakukan.”

Lalu ia mengikuti perang uhud, berperang, dan gugur di sana. Pada tubuhnya didapati lebih dari 80 luka bekas anak panah, pedang, dan tombak. Tubuhnya terkoyak tak terkenali lagi. Hanya saudara perempuannya yang mengenalinya, dari jari-jemarinya.[1]

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali jaya dan mulia tanpa ‘azam sekokoh ‘azam Abu Bakar ash-Shiddiq saat terjadi gerakan murtad massal. Saat itu, ia yang telah lanjut usia dan sangat gampang menangis, dengan ketegaran batu karang berkata, “Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan antara shalat dan zakat. Sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah sekiranya mereka tidak membayarkan satu iqal yang mereka bayarkan kepada Rasulullah r niscaya aku akan benar-benar memerangi mereka karenanya.”[2]

Ia juga berkata, “Demi Allah yang tiada Ilah yang haq selain Dia, kalaupun anjing-anjing menyeret kaki istri-istri Rasulullah saw, aku tidak akan menarik mundur pasukan yang telah diberangkatkan oleh Rasulullah r dan aku pun tidak akan melipat panji yang telah dikibarkan oleh Rasulullah r”[3]

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Mush’ab bin ‘Umair. Tekad yang membuatnya meninggalkan kehidupan masa muda, masa hura-hura[4], menuju kehidupan yang keras, fakir, dan bersahaja. Tekad yang telah menjadikan Mush’ab sebagai pintu masuk Islamnya kebanyakan penduduk Madinah.

Bahkan Anda akan merasakan bahwa Mush’ab adalah seorang pemilik tekad, sampai di saat kematiannya! Ia yang memegang panji dalam perang Uhud, tangan kanannya terputus, sehingga ia memegangnya dengan tangan kiri. Tangan kirinya pun terputus, maka ia memegang panji dengan kedua lengannya. Dalam keadaan seperti itu, Ibnu Qum’ah ~yang terlaknat~ menyabetkan pedangnya, dan Mush’ab pun gugur, semoga Allah merahmatinya. Bahkan lagi, mungkin Anda akan merasakan betapa tekad Mush’ab melekat erat padanya. Mush’ab, seorang pemuda perlente … para sahabat tidak mendapati kain yang cukup untuk mengkafaninya selain secarik kain, jika bagian atasnya ditutup akan tampaklah kakinya, dan jika kakinya yang ditutup akan tampaklah kepalanya! Maka Rasulullah saw memerintahkan mereka supaya menutup bagian kepalanya, dan menutupi kedua kakinya dengan rumput idzkhir.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah memporak-porandakan pasukan salib di Hithin dan mengembalikan ummat Islam kepada aqidah yang benar… setelah hampir saja tenggelam di kegelapan lautan Syi’ah dan kesesatan Bathiniyyah.

Betapa kita sangat membutuhkan tekad yang dimiliki oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Tekad yang telah menjadikan Sultan yang agung ini meninggalkan kemewahan hidup para raja, dan justru memilih kehidupan di bawah kemah yang terombang-ambing ditiup angin di tengah gurun sahara. Seluruh hidupnya dia habiskan di bawah terpaan terik dan keringnya gurun pasir di musim panas serta dinginnya angin yang bertiup dan salju yang turun di musim dingin… Ia bersama para mujahidin.

Betapa indah penuturan seorang sejarawan, Ibnu Syidad tentangnya, “Kecintaan dan rindu dendamnya terhadap jihad telah meluapi hati dan seluruh persendiannya. Semua pembicaraannya tentang jihad. Semua kajiannya tentang perlengkapan jihad. Semua perhatiannya tentang pasukan tempur. Semua kecenderungannya terhadap orang-orang yang mengingatkan dan mendorong kepada jihad. Demi cintanya kepada jihad fi sabilillah, ia telah meninggalkan keluarga, anak-anaknya, kampungnya, tempat tinggalnya, dan seluruh negerinya dan rela memilih hidup di bawah kemah yang bergoyang ke kanan dan ke kiri dihembus angin.”[5]

Jikalau bukan karena Allah menganugerahkan tekad Shalahuddin al-Ayyubi kepada ummat ini, niscaya dien ummat ini dan juga buminya akan sama rata, tidak tersisa tempat untuk hidup baginya.

Bagaimana mungkin Islam akan tegak dan kembali mendapatkan kemuliaan dan ‘izzahnya tanpa tekad baja seperti tekad ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz, yang lewat tangan ‘Umar Allah memperbaharui kondisi ummat dalam waktu dua setengah tahun saja; sampai-sampai dikatakan bahwa seekor serigala pun berdamai dengan seekor kambing pada masanya![6] Ini bukanlah suatu hal yang aneh atau asing kecuali bagi orang-orang yang ilmunya tentang Allah dan sunnah-Nya terhadap wali-wali-Nya hanya sedikit.

Betapa Islam sangat membutuhkan tekad semacam tekad ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz yang pernah dikirimi surat ‘protes’ oleh salah seorang pegawainya. Isi surat itu, “Sesungguhnya reformasi keuangan yang dilakukan oleh khalifah dan penghapusan jizyah dari orang-orang Barbar yang masuk Islam pasti akan mengakibatkan defisit pada kas negara.”

Maka ‘Umar pun membalasnya sebagai berikut, “Demi Allah, aku benar-benar menginginkan andai semua orang masuk Islam, lalu aku dan kamu ke sawah, membajak, dan makan dari hasil jerih payah tangan kita.”[7]

Pada kesempatan lain ‘Umar berkata, “Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad sebagai pembawa petunjuk, bukan penarik pajak.”[8]

Sehubungan dengan urgensi tekad inilah Rasulullah r memohon kepada Rabb-nya, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam melaksanakan perintah dan tekad yang utuh untuk memberi petunjuk.”

Ini adalah pengajaran bagi kita, pendidikan bagi ummat Islam pada umumnya, dan bagi para aktivis pada khususnya. Untuk itu, hendaknya kita banyak-banyak memanjatkan doa yang agung ini disertai dengan memenuhi faktor-faktor pendukungnya.

Himmah, semangat yang tinggi benar-benar menggelegak di dalam dada orang-orang yang memilikinya seperti air mendidih dalam kuali. Ia akan mendorong pemiliknya untuk terus-menerus bekerja dari pagi hingga sore hari, sehingga terwujudlah penuturan Imam Syafi’i, “Bagi rijal, istirahat itu sama saja dengan lalai.”

Pemilik himmah yang tinggi akan menjadikan syair yang selalu digemakan oleh Imam Syafi’i berikut ini sebagai motto hidupnya.

أَنَا إِنْ عِشْتُ لَسْتُ أَعْدِمُ
قُوْتًا وَإِذَا مِتُّ لَسْتُ أُحْرَمُ قَبْرًا
هِمَّتِي هِمَّةُ الْمُلُوْكِ وَنَفْسِي
نَفْسُ حُرٍّ تَرَى الْمَذَلَّةَ كُفْرًا

Aku, jika aku masih hidup aku pasti akan bisa…
makan. Dan jika aku mati aku pasti kebagian kuburan.
Semangatku adalah semangat para raja, jiwaku adalah …
jiwa yang merdeka, yang memandang kehinaan adalah kekafiran

Betapa rijal harakah Islamiyyah membutuhkan himmah yang tinggi itu. Himmah yang tidak mengenal kata mustahil, yang tidak berhenti karena adanya aral melintang; apa pun itu..

Bukankah himmah telah menjadikan dua orang sahabat Nabi r ~keduanya adalah saudara kandung dan terluka parah dalam perang Uhud~ sebagai … kita biarkan salah seorang dari keduanya mengisahkan sendiri tentang himmahnya yang tinggi, “Aku dan saudara kandungku sama-sama mengikuti perang Uhud bersama Rasulullah r. Kami berdua pulang dalam keadaan terluka parah. Ketika seorang utusan Rasulullah r mengumandangkan seruan untuk keluar kembali mengejar musuh, aku katakan kepada saudaraku ~atau ia katakan kepadaku~, ‘Apakah kita akan kehilangan kesempatan berperang bersama Rasulullah r?!’ Demi Allah, kami tidak memiliki tunggangan untuk berangkat padahal kami berdua benar-benar terluka parah. Kendati demikian, kami tetap berangkat bersama Rasulullah r. Lukaku lebih ringan daripada luka saudaraku. Ketika ia benar-benar tidak mampu lagi berjalan, maka aku mengendongnya. Jika aku kelelahan menggendongnya, ia pun berjalan tertatih-tatih, dan begitu seterusnya sampai kami berdua tiba di tempat pemberhentian kaum muslimin.”[9]

Perlu diketahui bahwa Hamra`ul Asad, tempat pemberhentian yang ditetapkan oleh Nabi r berjarak lebih dari delapan mil dari kota Madinah!

Saya sendiri sangat takjub dengan himmah Waraqah bin Naufal. Seorang yang telah lanjut usia, lemah jasadnya, rapuh tulangnya, bungkuk punggungnya, dan memutih rambutnya… kepada Rasulullah r ia ber’azam, “Sungguh, jika aku nanti mendapati harimu, aku akan menolongmu dengan sebenar-benarnya!”[10] Lalu ia mendekatkan kepala Nabi kepadanya dan menciumnya.
Waraqah yang telah renta itu pernah berharap mendapati masa turunnya wahyu sehingga ia berkesempatan untuk membantu dakwah Rasulullah r

Sebenarnyalah, kata-kata Waraqah bin Naufal ini menyisakan pengaruh yang sangat kuat dalam diri saya dan banyak ikhwah. Seorang yang sudah sangat tua menantang dunia seisinya demi menolong Rasulullah r. Bahkan ia sempat berharap menjadi orang yang pertama kali masuk Islam dan yang pertama kali mengikuti Rasul r yang mulia, sampai ‘walau Mekah terguncang’. Itu pun tidak cukup! Ia masih meneriakkan dengan lantang di hadapan orang-orang musyrik, sekiranya Allah memanjangkan umurnya sampai hari itu tiba, niscaya akan dapat disaksikan upaya dahsyat darinya demi menegakkan kebenaran dan membela Rasul r meski orang-orang kafir menghalangi. Ia tidak takut kepada celaan selagi berada di jalan Allah.

Kalimat-kalimat Waraqah benar-benar mengalirkan ‘darah muda’ dan semangatnya  di dalam dada saya, sesuatu yang selama ini saya dan para aktivis selalu mencari-carinya, padahal saya masih muda. Saya merasa, Waraqah benar-benar siap untuk memerangi dunia seisinya sendirian demi menjaga dan membela Rasul r yang mulia. Masih banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kisah Waraqah bin Naufal. Saya berharap semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menampilkannya dalam sebuah risalah khusus.

Benarlah kata orang,

إِذَا كَانَتِِِ النُّفُوْسُ كِبَارًا
تَعِبَتْ فِيْ مُرَادِهَا اْلأَجْسَامُ

Apabila jiwa-jiwa itu besar
Tubuh ‘kan lelah memenuhi keinginannya

Semoga Allah merahmati orang yang telah mengucapkan kalimat berikut, “Wahai orang yang meminang bidadari surga tetapi tidak memiliki ‘sepeser’ pun semangat, jangan Anda bermimpi, jangan Anda bermimpi! Telah sirna manisnya masa muda dan yang tersisa tinggallah pahitnya penyesalan.”
Benar juga Ibnul Qayyim yang telah berkata, “Wahai orang yang bersemangat banci! Ketahuilah, yang paling lemah di papan catur adalah bidak. Namun jika ia bangkit, ia bisa berubah menjadi menteri.”


Maraji' : Washiyyatul Musthafa Li Ahlid-Da'wah, DR Abdullah Azzam Rahimahullah




[1] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 6/21, Muslim 13/48, at-Tirmidziy 3200, an-Nasa`iy, dan Ahmad dalam Musnad 3/194 dari Anas bin Malik ra. Di akhir hadits, Anas berkata, “Kami menyangka berkenaan dengannya dan orang-orang yang semisal dengannya ayat ini turun.
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ
Di antara orang-orang beriman ada rijal yang memenuhi janji mereka kepada Allah.
[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 13/14, Ahmad dalam Musnad 3/11 dari Abu Hurairah ra.
[3]  Diriwayatkan oleh al-Baihaqiy seperti tertera dalam al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir 6/11.
[4] Ibnu Sa’ad meriwayatkan dalam ath-Thabaqat 3/82 dari Muhammad al-‘Abdari dari ayahnya katanya, “Mush’ab bin ‘Umair dulu adalah seorang pemuda Mekah yang paling ganteng.”
[5]  Biografi Shalahuddin berjudul ‘an-Nawadir as-Sulthaniyyah wal Mahasin al-Yusufiyyah’ karya Baha`uddin yang lebih dikenal dengan Ibnu Syidad (633 H.) hal. 16 cet. Muhammad Shabih th. 1346 H.
[6]  Berkenaan dengan ini ada tiga atsar; dari Malik bin Dinar, Hasan al-Qishar, dan Musa bin A’yun.
Dari Malik bin Dinar katanya, “Ketika ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz  memerintah, para penggembala kambing di puncak-puncak gunung pernah bertanya, ‘Siapa khalifah shalih yang sedang memimpin manusia saat ini?’ Maka ada yang balik bertanya, ‘Bagaimana kamu bisa tahu tentang hal itu?’ Mereka menjawab, ‘Begini, jika seorang khalifah yang shalih memerintah, kami mendapati serigala dan singa enggan memangsa ternak kami.’”
Atsar ini setidaknya berderajat hasan. Di antara para perawinya ada Ja’far adl-Dlab’iy yang kabarnya cenderung kepada Syi’ah. Hanyasaja para imam ahli jarh wa ta’dil lebih cenderung untuk menguatkan hadits-haditsnya dan mengkategorikannya sebagai hadits hasan.
Atsar ini dan dua atsar tersebut di atas dapat dibaca dalam Hilyatul Auliya` karya Abu Nu’aim 5/255 dan dalam Sirah ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz karya Ibnul Jauzi hal. 70 cet. Al-Muayyad th. 1331 H. dan dalam ath-Thabaqatul Kubra, Ibnu Sa’ad 5/386-387.
[7]  Ibnul Jauzi menyebutkan ini dalam Sirah ‘Umar bin ‘Abdul‘aziz hal. 99 dari Jabir bin Hanzhalah adl-Dlab’iy. Disebutkan bahwa yang menulis surat itu adalah ‘Adi bin Artha`ah.
[8]  Diriwayatkan oleh Abu Yusuf dalam kitab al-Kharaj hal. 142 dari para ulama Kufah dengan sedikit perbedaan lafazh.
[9] Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari ‘Abdullah bin Kharijah bin Zaid bin Tsabit dari Saib bekas budak ‘Aisyah binti ‘Utsman. Sirah Ibnu Hisyam vol. 2/101. Dari al-Waqidiy, Ibnu Sa’ad dalam kitab ath-Thabaqat 3/21 menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Sahal dan saudaranya Rofi’ bin Sahal ra adalah dua orang yang turut keluar sampai di daerah Hamra`ul Asad dalam keadaan terluka parah. Salah satu dari mereka menggendong yang lain. Keduanya tidak memiliki binatang tunggangan.
[10]  Diriwayatkan oleh al-Bukhariy 1/22, Muslim 2/204, Ahmad 6/223 dari ‘Aisyah ra

Rabu, 26 Desember 2012

Kader 'Rohilah"






حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا النَّاسُ كَالْإِبِلِ الْمِائَةِ لَا تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً


Manusia seperti unta seratus, hampir kamu tidak mendapatkan dari kalangan mereka unta ROHILAH (=yang mampu memikul beban)


الراحلة هى الجمل القوي الذي يقود قافلة الإبل في مقدمة الركب و تتبعه

Rohilah adalah unta kuat yang memimpin kawanan unta, dia selalu ada di depan dan diikuti yang lain

Imam Syahid Hasan Al Banna mengatakan :

نريد جيلا ” يحمل“ الإسلام
و ليس ” يحمله“ الإسلام


Kami menginginkan generasi yang memikul Islam, bukan yang dipikul Islam

sementara, Asy-Syahid Sayid Quthb berpesan :

” الناس في حاجة الى كنف رحيم و الى عناية فائقة و الى بشاشة سمحة و الى ود يسعهم و حلم لا يضيق بجهلهم و ضعفهم و نقصهم ... في حاجة الى قلب كبير يعطيهم و لا يحتاج منهم الى عطاء ... و يحمل همهم ... يجدون عنده دائما الاهتمام و الرعاية و العطف و السماحة و الود و الرضا
“

Manusia membutuhkan dekapan kasih, perhatian lebih, senyuman ramah, cinta yang mewadai mereka, dan kesabaran yang mampu menampung kebodohan, kelemahan, dan kekurangan mereka… Mereka juga membutuhkan jiwa besar yang memberi pada mereka dan tidak membutuhkan pemberian dari mereka, memikul keprihatinan mereka, dan selalu memberikan perhatian, pemeliharaan, simpati, keramahan, kecintaan, dan keridlaan

salah satu ciri kader ROHILAH adalah, ia selalu 'maju', mengembangkan dirinya dan kompetensinya, serta 'menambah kekuatan' daya tampung, daya tahan dan daya dukungnya terhadap tugas2 dakwah...

pepatah arab mengatakan :

من لايتقدم يتقادم


barang siapa yug tidak MAJU berati dia MUNDUR

kader ROHILAH bukanlah kader yg sering/selalu menuntut ini itu...
tapi ia adalah kader yg selalu SIAP DITUNTUT oleh jalan dakwah...
apapun dan bagaimanapun kondisinya..
baik dikala senang maupun susah...
baik ketika sedang malas maupun sedang bersemangat....

ternmasuk kader ROHILAH juga adalah, mereka yang tidak 'memudahkan diri' dalam mengajukan 'uzur', tidak meminta rukhsah thd suatu tugas dimana dia memang masih mampu melakukannya...
ada kaidah yg selalu dipegangnya :

"nahnu jamaah azhimah, laisa jamaah rukhsah"

kita adalah jamaah.komunitas yg penuh azzam, bukan jamaah yg suka mengambil rukhsah..
Kader Rohilah adalah mereka yg KUAT --baik kuat ruhiyah, fisik, tsaqofi,maupun maknawiyahnya--- yg selalu memimpin kader2 yg lain... posisinya selalu didepan, memotivasi sekaligus menjadi contoh teladan bagi yg lain... 

semoga kita bisa menjadi kader2 Rohilah...