Rabu, 28 November 2012

Belajar dari Khalid bin Walid & Shalahuddin Al Ayyubi




Siapa yang tidak kenal Abu Sulaiman? Mungkin Kita tidak begitu familiar, karena memang dia lebih terkenal dengan nama aslinya, Khalid Bin Walid. Rasulullah memberinya gelar “Sang Pedang Allah”. Namanya begitu menyejarah dalam kitab-kitab sirah. Pernah hampir mencelakakan bahkan membunuh Rasulullah dalam Perang Uhud, tapi juga memberikan kontribusi luar biasa dalam memenangkan Islam di berbagai pertempuran setelah ia mengucapkan syahadat. 

Mari kita tengok sejenak satu fragmen dalam kisah fathul makkah. 

“Hadzal yaum, yaumul marhamah. Hari ini, hari kasih sayang”, kata Rasulullah mengingatkan para sahabatnya tentang kondisi fathul makkah tersebut. Tidak boleh ada pertumpahan darah sedikitpun dalam pembebasan Kota Makkah. 

Tapi apa yang terjadi? Khalid bin Walid yang ditugasi memimpin pasukan berkuda dari arah bawah kota, bertemu dengan orang-orang yang memang dari dulu paling benci terhadap Rasulullah. Perintah Rasulullah tidak lagi diindahkan, dan pertumpahan darah pun tak terelakkan. Beberapa orang terbunuh dalam peristiwa itu. 
“Sudah takdir Allaoh”, begitu kira-kira jawaban Khalid bin Walid ketika ditegur Rasulullah. 
Ternyata delapan bulan masuk Islam belum cukup untuk mengajari Khalid tentang konsep takdir dan tentang penafsiran julukan yang diberikan Rasulullah.

 
Sekarang mari kita berpindah ke catatan berikutnya. Peristiwa Bani Jadzimah, begitu para ahli sejarah menuliskan. 

Khalid bin Walid diutus Rasulullah ke perkampungan Bani Jadzimah, sebagai da’i, bukan panglima perang. Tentu misinya bukan untuk berperang, melainkan berdakwah. 
Melihat kedatangan Khalid, penduduk Bani Jadzimah menghunuskan pedang mereka, khawatir terhadap keagresifan Khalid. 
“Letakkan senjata kalian, karena saat ini semua orang telah masuk Islam.”, kata Khalid, dan mereka menurutinya. 
Tapi ketika semua orang telah meletakkan senjatanya, Khalid memerintahkan agar mereka ditangkap, kemudian dibantai. Dan terbunuhlah sebagian besar di antara mereka. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepadaMu dari apa yang dilakukan Khalid bin Walid.”, kata Rasulullah berlinang air mata setelah mendengar tindakan di luar batas dari Khalid bin Walid. 
Maka Rosululloh memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk membayarkan tebusan atas semua kerugian jiwa dan harta, sampai tidak ada yang terlewat sedikitpun.


Dan ketika Khalid bin Walid mendebat Abdurrahman bin Auf yang mencoba menegur Khalid dalam insiden itu, Rasulullah memberikan teguran sangat keras terhadap Khalid. 
“Tahan dirimu wahai Khalid! Jangan kau cela sahabat-sahabatku! Demi Allah, andaikan kau memiliki emas seberat Gunung Uhud, lalu kau infakkan semua di jalan Allah, itu tidak akan bisa menyamai satu genggam kurma atau setengah genggam kurma yang mereka infakkan!” 

Dan Khalid pun sadar, ia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan para sahabat yang dari awal masuk Islam, yang berdarah-darah membela risalah kenabian, yang rela meninggalkan semuanya demi perintah hijrah ke Madinah. Sedangkan ia hanyalah orang yang justru pernah hendak mencelakakan Rasulullah di Gunung Uhud. 


Yusuf yang Menyejarah
Tampangnya perlente, gagah, sekaligus anggun. Hobinya bermain bola, bertamasya naik kuda, juga bersyair. Khas anak manja dengan kehidupan penuh dengan kemewahan. 

“Demi Allah, bahkan kalaupun seluruh kerajaan Mesir diberikan kepadaku, aku takkan berangkat!”, katanya ketika Sultan Nuruddin Mahmud Zanki memerintahkannya untuk turut serta berperang menemani sang paman, Asaduddin Syirkuh, mempertahanan Mesir dari serbuan Almaric, Raja Yerusalem di tahun 1164. 

Ia merasa, berperang bukanlah bidangnya, apalagi hobinya. Yang cocok untuk dirinya adalah bersenang-senang, dan hidup dalam ketenangan. Hedonis mungkin kalau orang sekarang bilang. 
Tapi entah kenapa, ia berangkat juga ke medan jihad. Dan bayangannya tentang peperangan seketika berubah ketika ia bersama-sama para mujahidin berjuang mempertahankan Mesir waktu itu. Kenikmatan ukhuwah, kenikmatan perjuangan, begitu menggelorakan gairahnya dan memunculkan bakat terpendamnya dalam seni peperangan. Sampai akhirnya ia bisa membebaskan Al Quds, kiblat pertama ummat Islam, dari penjajah salib. Hingga sejarah mencatat harum namanya sebagai seorang ksatria besar yang pemaaf. 

Yusuf ini bukanlah Nabiyullah ‘alaihisslaam, melainkan pejuang besar yang dunia mengenalnya dengan nama, Shalahuddin Al Ayyubi. 

Banyak mutiara-mutiara hikmah yang berkilauan di antara nama besar pahlawan Islam.

----

Dua kisah di atas, terserah Anda mau mengambil hikmah di sebelah manapun. Tapi ijinkan saya untuk menukil sedikit hikmah, tentu dengan keterbatasan yang saya miliki. 


Pertama, tentang shibghoh Allah. 

Tentu kita sepakat bahwa Islam mampu merubah pribadi lembek menjadi pejuang, seorang pengecut menjadi pahlawan. Dan seharusnya, dalam tataran agak lebih khusus, kita juga sepakat bahwa tarbiyah seharusnya juga bisa merubah seseorang. Maka keberingasan Khalid bin Walid bisa diarahkan hanya untuk hal-hal yang memang perlu diluruskan dengan kekerasan. 

Kedua, tentang proses. 
Khalid bin Walid memang menorehkan prestasi ketika Perang Mu’tah. Menghancurkan ratusan ribu musuh, bahkan hingga berganti pedang 13 kali. Tapi ternyata dirinya tidak cukup “cerdas” untuk segera paham tentang konsep Islam, tentang konsep takdir, tentang konsep ketaatan, dan mungkin juga tentang konsep ‘bagaimana menerima penghargaan yang tinggi dari Rosululloh’. 

Delapan bulan dalam tarbiyah Islam belum cukup untuk mengendalikan sifat agresifnya dan pendendamnya. 

Sedangkan Shalahuddin Al Ayyubi, dilahirkan dalam keluarga Islam. Tapi kondisi kesehariannya tidak cukup untuk menjadikannya sosok pejuang sejati. Sampai dia berhasil melewati semua itu, dengan proses pemaksaan. 


Ketiga, tentang komunitas. 
Kita lihat, dua tokoh besar itu ternyata membutuhkan orang lain untuk meluruskan mereka. Awal keIslaman Khalid belum mampu memberikan kefahaman yang cukup kepada dirinya sehingga harus dinasehati oleh beberapa sahabat dan Rasulullah. Dan Salahuddin Al Ayyubi ketika menghadapi peperangan pertamanya, juga harus dipaksa turun ke medan jihad oleh ayahnya sendiri. Dan komunitas itu akan menjadi penting sebelum akhirnya sang mujahid bisa mandiri, melesat menjadi anak panah yang meninggalkan busur-busur komunitasnya. 

Keempat, tentang kesempatan. 
Khalid telah melakukan kesalahan besar, dan para sahabatpun mencela dan mengolok-olok dirinya karena kesalahan yang diluar batas itu. Tapi apa kata Rasulullah? 
“Jangan lagi kalian mencela Khalid, sesungguhnya dia adalah satu pedang dari pedang Allah yang dihunusnya kepada kaum musyrikin.” 

Ya, memang ada catatan dalam diri Khalid. Tapi Rasulullah lebih senang memikirkan bagaimana memaksimalkan potensi kebaikan dalam diri Khalid. Maka gelar 'Sang Pedang Allah' pun tidak pernah dicabut. Dan Khalid berhasil belajar dari pengalaman itu. Hingga kedalaman pemahamannya akan makna perjuangan mengantarkannya pada kalimat, “Satu malam yang dingin berjaga dalam perang, lebih aku cintai daripada bermalam pertama dengan gadis perawan” 

Dan kesempatan itu pulalah yang merubah seorang Yusuf menjadi Shalahuddin Al Ayyubi. 

Melengkapi dari point yg keempat, terkadang kita sering 'terjebak' dengan 'catatan' atau sesuatu yang 'negatif' tentang seseorang, tanpa mau melihat potensi sisi kebaikan dan keutamaan orang tersebut. Kita disibukkan membahas 'catatan' tadi, sehingga tak tersedia waktu untuk berusaha menggali potensi & kompetensi yg dimililki seseorang….

Semoga kita bisa meniru apa yang dicontohkan oleh Rasulullah… 

Wallahu a'lam....
 

Uniknya SIDIK jari



Setiap orang, termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini. 

Saat dikatakan dalam Al Qur'an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:

"Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna." (Al Qur'an, 75:3-4)

Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.

Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur'an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.

Selasa, 27 November 2012

Belajar dari ALAM semesta

Kita perlu belajar banyak hal dari alam sekitar.

Dari air kita belajar ketenangan..
Dari batu kita belajar ketegaran..
Dari tanah kita belajar kehidupan..
Dari kupu-kupu kita belajar merubah diri..
Dari padi kita belajar rendah hati..
Dari banyak Sahabat kita belajar tentang Kasih Sayang yang sempurna..

Melihat ke atas : memperoleh semangat untuk maju.
Melihat ke bawah : bersyukur atas semua yg ada.
Melihat ke samping : mendapat semangat kebersamaan.
Melihat ke belakang : mendapat pengalaman berharga.
Melihat ke dalam : untuk instropeksi &
Melihat ke depan : untuk menjadi lebih baik..

Senin, 26 November 2012

Jangan ada Dendam dan Iri diantara kita

Doa agar dihilangkan sifat dendam & iri hati sesama mukmin/ah

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“…Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)


-Imam Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya, Al-Jami’ li Ahkamil- Qur`an, bahwa makna ( غِلاًّ ) adalah sifat dendam dan iri hati.

Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya bahwa dalam doa tersebut mereka memohon kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala agar dihilangkan dari hati-hati mereka sifat dendam dan iri hati, baik sedikit maupun banyak.Jika hilang dua sifat tercela tersebut, maka akan tertanam dalam hati itu sifat kebalikannya, yaitu adanya kecintaan sesama mukmin, loyalitas, saling menasehati, dan lain-lain.
———
Jika kita mendoakan bagi saudara sesama muslim/muslimah suatu kebaikan apapun tanpa sepengetahuannya dan juga tanpa adanya wasiat dari dirinya untuk minta didoakan dengan sesuatu, maka hal itu merupakan suatu petunjuk akan kecintaan yang jujur kepada saudara kita tersebut. Ini juga berarti bahwa kita benar-benar menginginkan suatu kebaikan ada pada diri saudara kita sebagaimana kita menginginkan kebaikan itu ada pada diri kita sendiri.

“Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri (dari segala hal yang baik).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Wallahu A’lam

mengenal Mahrom

Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi karena hubungan nasab atau hubungan susuan atau karena ada ikatan perkawinan. Lihat Ahkam An-Nazhar Ila Al-Muharramat hal.32.

Adapun ketentuan siapa yang mahram dan yang bukan mahram telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 23 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ الأَخِ وَبَنَاتُ الأُ خْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَآئِبِكُمُ اللاَّتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الأُخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْراً رَحِيْماً.

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak-anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuai yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa : 4 / 32).

Di dalam ayat ini disebutkan beberapa orang mahram yaitu :

Pertama : أُمَّهَاتُكُمْ (ibu-ibu kalian). Ibu dalam bahasa arab artinya setiap yang nasab lahirmu kembali kepadanya. Defenisi ini akan mencakup :
1. Ibu yang melahirkanmu.
2. Nenekmu dari ayah maupun dari Ibumu.
3. Nenek ayahmu dari ayah maupun ibunya.
4. Nenek ibumu dari ayah maupun ibunya.
5. Nenek buyut ayahmu dari ayah maupun ibunya.
6. Nenek buyut ibumu dari ayah maupun ibunya.
7. dan seterusnya ke atas.

Kedua : وَبَنَاتُكُمْ (anak-anak perempuan kalian). Anak perempuan dalam bahasa arab artinya setiap perempuan yang nisbah kelahirannya kembali kepadamu. Defenisi ini akan mencakup :
1. Anak perempuanmu.
2. Anak perempuan dari anak perempuanmu (cucu).
3. Anaknya cucu.
4. dan seterusnya ke bawah.

Ketiga : وَأَخَوَاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan kalian). Saudara perempuan ini meliputi :
1. Saudara perempuan seayah dan seibu.
2. Saudara perempuan seayah saja.
3. dan saudara perempuan seibu saja.

Keempat : وَعَمَّاتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ayah kalian). Masuk dalam kategori saudara perempuan ayah :
1. Saudara perempuan ayah dari satu ayah dan ibu.
2. Saudara perempuan ayah dari satu ayah saja.
3. Saudara perempuan ayah dari satu ibu saja.
4. Masuk juga di dalamnya saudara-saudara perempuan kakek dari ayah maupun ibumu.
5. dan seterusnya ke atas.

Kelima : وَخَالاَتُكُمْ (saudara-saudara perempuan ibu kalian). Yang masuk dalam saudara perempuan ibu sama seperti yang masuk dalam saudara perempuan ayah yaitu :
1. Saudara perempuan ibu dari satu ayah dan ibu.
2. Saudara perempuan ibu dari satu ayah saja.
3. Saudara perempuan ibu dari satu ibu saja.
4. Saudara-saudara perempuan nenek dari ayah maupun ibumu.
5. dan seterusnya ke atas.

Keenam : وَبَنَاتُ الْأَخِ (anak-anak perempuan dari saudara laki-laki). Anak perempuan dari saudara laki-laki mencakup :
1. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah dan satu ibu.
2. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ayah saja.
3. Anak perempuan dari saudara laki-laki satu ibu saja.
4. Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
5. Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara laki-laki.
6. dan seterusnya ke bawah.

Ketujuh : وَبَنَاتُ الْأُخْتِ (anak-anak perempuan dari saudara perempuan). Ini sama dengan anak perempuan saudara laki-laki, yaitu meliputi :
1. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah dan ibu.
2. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ayah saja.
3. Anak perempuan dari saudara perempuan satu ibu saja.
4. Anak-anak perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan,.
5. Cucu perempuan dari anak perempuannya saudara perempuan.
6. dan seterusnya ke bawah.

Catatan penting :
Tujuh yang tersebut di atas adalah mahram karena nasab.
Sehingga kita bisa mengetahui bahwa ada empat orang yang bukan mahram walaupun ada hubungan nasab, mereka itu adalah :
1. Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ayah (sepupu).
2. Anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibu (sepupu).
3. Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ayah (sepupu).
4. Anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibu (sepupu).

Mereka ini bukanlah mahram dan boleh dinikahi.

Kedelapan : وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِيْ أَرْضَعْنَكُمْ(ibu-ibu yang menyusui kalian). Yang termasuk ibu susuan adalah :
1. Ibu susuan itu sendiri.
2. Ibunya ibu susuan.
3. Neneknya ibu susuan.
4. dan seterusnya keatas.

Catatan Penting :
Kita melihat bahwa dalam ayat ini Ibu susuan dinyatakan sebagai mahram, sementara menurut ulama pemilik susu adalah suaminya karena sang suamilah yang menjadi sebab isterinya melahirkan sehingga mempunyai air susu. Maka disebutkannya ibu susuan sebagai mahram dalam ayat ini adalah merupakan peringatan bahwa sang suami adalah sebagai ayah bagi anak yang menyusu kepada isterinya. Dengan demikian anak-anak ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki maupun yang perempuan dianggap sebagai saudaranya (sesusuan), dan demikian pula halnya dengaan saudara-saudara dari ayah dan ibu susuannya baik yang laki-laki maupun yang perempuan dianggap sebagai paman dan bibinya. Karena itulah Nabi r menetapkan di dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari hadits ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- :

إِنَّهُ يُحْرَمُ مِنَ الرَّضَاعَةِ مَا يُحْرَمُ مِنَ النَّسَبِ

“Sesungguhnya menjadi mahram dari susuan apa-apa yang menjadi mahrom dari nasab”.

Kesembilan : وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ (dan saudara-saudara perempuan kalian dari susuan). Yang termasuk dalam kategori saudara perempuan sesusuan adalah :
1. Perempuan yang kamu disusui oleh ibunya (ibu kandung maupun ibu tiri).
2. Atau perempuan itu menyusu kepada ibumu.
3. Atau kamu dan perempuan itu sama-sama menyusu pada seorang perempuan yang bukan ibu kalian berdua.
4. Atau perempuan yang menyusu kepada istri yang lain dari suami ibu susuanmu.

Kesepuluh : وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ (dan ibu isteri-isteri kalian) ibu isteri mencakup ibu dalam nasab dan seterusnya keatas dan ibu susuan dan seterusnya keatas . Mereka ini menjadi mahram bila/dengan terjadinya akad nikah antara kalian dengan anak perempuan mereka, walaupun belum bercampur.
Tidak ada perbedaan antara ibu dari nasab dan ibu susuan dalam kedudukan mereka sebagai mahram.

Demikian pendapat jumhur ulama seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, Jabir dan Imran bin Husain dan juga pendapat kebanyakan para tabi’in dan pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad dan Ashhab Ar-ro’y yang mana mereka berdalilkan dengan ayat ini, oleh karena itu kita tidak bisa menerima perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menyatakan bolehnya seorang lelaki menikah dengan ibu susuan isterinya dan saudara sesusuan istrinya. Wallahu A’lam.

Kesebelas : مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ
(anak-anak istrimu (Ar-Raba`ib) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ar-Raba`ib adalah mahram. Dan menurut bahasa arab Ar-Raba`ib ini mencakup :
Anak-anak perempuan istrimu.
Anak-anak perempuan dari anak-anak istrimu ( cucu perempuannya istri).
Cucu perempuan dari anak-anak istrimu.
dan seterusnya ke bawah.

Tapi Ar-Raba`ib ini dalam ayat ini menjadi mahram dengan syarat apabila ibunya telah digauli adapun kalau ibunya diceraikan atau meninggal sebelum digauli oleh suaminya maka Ar-Raba‘ib ini bukan mahram suami ibunya bahkan suami ibunya itu bisa menikahi dengannya. Dan ini merupakan pendapat Jumhur Ulama seperti Imam Malik, Ats-Tsaury, Al-Auza’y, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lain-lainnya.

Hal ini berdasarkan dzhohir ayat diayat :
مِنْ نِسَآئِكُمُ اللاَّتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ

“ Dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya.”

Adapun yang tersebut di ayat (Ar-Raba`ib yang dalam pemeliharaanmu) kata “dalam pemeliharaanmu” dalam ayat ini bukanlah sebagai syarat untuk dianggapnya Ar-Raba`ib itu sebagai mahram. Semua Ar-Rabaib baik yang dalam pemeliharaan maupun yang diluar pemeliharaan adalah mahram menurut pendapat jumhur ulama. Jadi kata “dalam pemeliharaanmu” hanya menunjukkan bahwa kebanyakan Ar-Raba`ib itu dalam pemeliharaan atau hanya menunjukkan dekatnya Ar-Raba`ib tersebut dengan ayahnya. Dengan demikian nampaklah hikmah kenapa Ar-Raba`ib menjadi mahram. Wallahu A’lam.

Keduabelas : وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ (istri-istri anak-anak kandungmu (menantu).
Ini meliputi :
Istri dari anak kalian.
Istri dari cucu kalian.
Istri dari anaknya cucu.
dan seterusnya kebawah baik dari nasab maupun sesusuan.
Mereka semua menjadi mahram setelah akad nikah dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam hal ini.
Lihat pembahasan di atas dalam :
Al-Mughny 9/513-518, Al-Ifshoh 8/106-110, Al-Inshof 8/113-116, Majmu’ Al-Fatawa 32/62-67, Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah 2/589-592, Zadul Ma’ad 5/119-124, Taudhil Al-Ahkam 4/394-395, Tafsir Al-Qurthuby 5/105-119, Taisir Al-Karim Ar-Rahman.

Catatan :
Demikian mahrom dalam surah An Nisa. Tapi perlu diingat, pembicaraan dalam ayat ini walaupun ditujukan langsung kepada laki-laki dan menjelaskan rincian siapa yang merupakan mahrom bagi mereka, ini tidaklah menunjukkan bahwa di dalam ayat ini tidak dijelaskan tentang siapa mahrom bagi perempuan. Karena Mafhum Mukhalafah (pemahaman kebalikan) dari ayat ini menjelaskan hal tersebut.

Misalnya disebutkan dalam ayat : “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian”, maka mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai para ibu, diharamkan atas kalian menikah dengan anak-anak kalian.”
Misal lain, disebutkan dalam ayat : “Dan anak-anak perempuan kalian.” Maka mafhum mukhalafahnya adalah : “Wahai anak-anak perempuan diharamkan atas kalian menikah dengan ayah-ayah kalian.” Dan demikian seterusnya.

Sebagai pelengkap dari pembahasan ini, kami sebutkan ayat dalam surah An-Nur ayat 31 :
وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أو أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِيْ أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرَ أُوْلِي الإِْ رْبَةِ مِنَ الرَّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ اللَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ.

“Janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki mereka yang tidak mempunyai keinginan (kepada wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang ‘aurat.”

Demikianlah, mudah-mudahan jawaban ini bermanfaat. Wa akhiru da’wana `anilhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.
Sumber:http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=Annisa&article=25

belajar dari PENSIL

Setiap kita pasti tau, mengenal dan pernah menggunakan pensil...
tapi, pernahkah kita belajar tentang arti sebuah pensil dalam kehidupan kita ?

fragmen dibawah ini insya Allah bermanfaat buat kita dalam memaknai kehidupan kita...


Melihat Neneknya sedang asyik menulis Adi bertanya, "Nenek sedang menulis apa?"

Mendengar pertanyaan cucunya, sang Nenek berhenti menulis lalu berkata, "Adi cucuku, sebenarnya nenek sedang menulis tentang Adi. Namun ada yang lebih penting dari isi tulisan Nenek ini, yaitu pensil yang sedang Nenek pakai. Nenek berharap Adi dapat menjadi seperti pensil ini ketika besar nanti."

"Apa maksud Nenek bahwa Adi harus dapat menjadi seperti sebuah pensil? Lagipula sepertinya pensil itu biasa saja, sama seperti pensil lainnya," jawab Adi dengan bingung.

Nenek tersenyum bijak dan menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana Adi melihat pensil ini. Tahukah kau, Adi, bahwa sebenarnya pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup."

"Apakah Nenek bisa menjelaskan lebih detil lagi padaku?" pinta Adi

"Tentu saja Adi," jawab Nenek dengan penuh kasih

"Kualitas pertama, pensil dapat mengingatkanmu bahwa kau bisa melakukan hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kau jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkahmu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".


"Kualitas kedua, dalam proses menulis, kita kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil yang kita pakai. Rautan itu pasti akan membuat pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, pensil itu akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga denganmu, dalam hidup ini kau harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".


"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".


"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".


"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga Adi, kau harus sadar kalau apapun yang kau perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".

"Nah, bagaimana Adi? Apakah kau mengerti apa yang Nenek sampaikan?"

"Mengerti Nek, Adi bangga punya Nenek hebat dan bijak."

Begitu banyak hal dalam kehidupan kita yang ternyata mengandung filosofi kehidupan dan menyimpan nilai-nilai yang berguna bagi kita. Semoga memberikan manfaat. 
 
sumber : milis

kado istimewa itu....

hari ini saya dapat kado spesial dari salah satu binaan..  *)
dia minta ijin utk mengkompilasi STATUS saya di fesbuk selama sebulan terakhir, dan minta ijin utk mempublikasikannya...
saya terharu dg kreativitasnya..
berikut hasil kompilasinya :



Satu Bulan Bersama Sang MURABBI di Facebook

Saudaraku, seringkali kita sangat dengan mudah melihat keburukan orang lain tapi tak sadar bahkan enggan untuk melihat keburukan diri kita sendiri. Kenalilah dirimu sendiri. Barangsiapa yang mengenal dirinya sendiri, niscaya ia akan sibuk untuk memperbaiki diri, daripada sibuk mencari aib, kekurangan atau kesalahan org lain. Ya Rabb, kenalkan aku dengan diriku....

Apa kabar wahai diriku ? sudahkah engkau menyiapkan segala sesuatu, jika Tuhanmu tiba-tiba memanggilmu ? Apa yang sudah engkau siapkan ? Apa yang menghalangimu untuk menambah keimanan ? Apa yg memberatkanmu untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya ? Apakah engkau merasa yakin bahwa engkau akan selamat dihadapan mahkamah-Nya kelak hanya dengan prestasi ala kadarnya ?

Saudaraku, marilah kita bangkit, beramallah semampu diri kita. Ingat, ketulusan dalam beramal itu jauh lebih baik dari pada sebuah amal yang jauh dari ketulusan. Sesungguhnya, memberi tidak akan membuat kita kehilangan. Seperti pupuk, ia malah bisa menyuburkan tanaman. Kadang, keinginan untuk memberi itu sudah ada,, tetapi ia terpatahkan oleh rasa malu karena sedikitnya pemberian. Padahal, sesedikit apa pun, ia tetap bernilai lebih banyak daripada tidak memberi sama sekali.
Sepotong kue yang kita ulurkan kepada seseorang, sementara hati masih menginginkan, jauh lebih besar pahalanya daripada seikat makanan segar yg kita berikan kepada orang lain karena tubuh enggan untuk memakan... ayo ikhlash..!

Tapi sadarilah saudaraku, agar amalmu tak lagi menipu keikhlasanmu. Kadang kita merasa telah beramal dengan ikhlas saat memasukkan uang lima ratus atau seribu rupiah untuk 'menolong' agama-Nya. Padahal uang itu memang tidak kita butuhkan. Hilang pun tidak kita cari, ada juga tidak berarti. Ia hanya berguna untuk memberi para pengamen...

Untuk itu saudaraku, marilah kita tetap bertahan dalam perjuangan ini. Beramal dengan penuh kesungguhan sehingga kemenangan kan kita dapatkan. Karena banyak org siap memperjuangkan kemenangan, tetapi tidak banyak org yang siap untuk menang. Seringkali kita melihat kemenangan sebagai titik akhir perjuangan. Padahal hakikatnya, kemenangan itu tetap menjadi bagian dari proses yg menuntut perjuangan, sampai Allah menetapkan surga untuk kita, karena itulah kemenangan yang hakiki sesungguhnya kita perjuangkan...

Ayo tetaplah bersemangat saudaraku. Teruskan perjuangan. Bukankah Engkau lihat sekumpulan orang, tetapi engkau seperti tidak melihat apapun. Tetapi engkau akan dapati semangat seribu orang ada pada satu orang... Ayo Tingkatkan kualitas diri...!!

Saudaraku, bila kualitas dirimu telah meninggi. Dan derajat keimananmu di mata tetanggamupun tak usah diragukan lagi, tetap rendah hatilah... karena seringkali seseorang yang berilmu terjatuh karena sebuah hawa nafsu.

Saudaraku, Sungguh memilih berkata "saya tidak tahu" itu jauh lebih baik dari pada memaksakan diri untuk mencari-cari jawaban yang ia tidak menguasai akan ilmunya, semata hanya karena takut harga dirinya jatuh di hadapan org lain...

Dan tetap ingatlah Atas setiap tetes nikmat yg kita rasakan hari ini, Allah akan bertanya kepada kita. Lalu, apakah yg telah kita lakukan agar Allah tidak murka kepada kita, sementara untuk menegakkan shalat malam atau tilawah rutin saja teramat berat kita lakukan ?

Sesungguhnya banyak pelajaran yg Hadir di hadapan kita, tetapi seringkali kita tak menemukan pelajaran apa-apa, karena sedikit sekali yang kita renungkan dalam hidup ini...

Saudaraku, sesungguhnya orang yang paling baik bukanlah orang yang tidak pernah melkukan sebuah kesalahan, karena tidak ada org yg terbebas dari kesalahan dan dosa. Namun orang yang paling baik adalah orang yang mau melakukan penyesalan diri guna memperbaiki kesalahan yg telah ia lakukan..

Dan tetaplah saudaraku, untukmu, jadilah org yg bersemangat kepada segala hal yg memberi manfaat ; selalu meminta pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa menjadi org yg tidak mampu untuk melakukan sesuatu..

Mulailah saudaraku kita menggerakkan hati, menggeser diri, menuju hijrah yang diridhoi. Bukankah Rasul telah bersabda "Diantara kebaikan bagi seorang muslim adalah, meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya" *H.R Muslim)

Saudaraku, ingatlah selalu nasihat indah ini. salah satu kepastian dalam hidup ini adalah, bahwa keburukan dan kebathilan pasti berakhir pada kesengsaraan dan kehancuran. Sementara kebaikan dan kebenaran akan berakhir pada kebahagiaan, kemenangan dan keabadian. Dan Sesungguhnya, perjalanan bersama kebatilan hanya bergulir sesaat, sementara perjalanan bersama kebaikan dan kebenaran berlangsung hingga akhir kehidupan. Semoga kita selalu setia menapaki jalan ini, hingga akhir dari sebuah perjalanan...

Dan marilah kita berdoa dan mengumandangkan bukti cinta kita terhadap -Nya “Ya Allah..aku berlindung kepadaMu dari hal-hal yg membuatku besar di mata manusia tapi kosong dimata Engkau..”

Untuk itu, tersenyumlah saudaraku...karena senyum itu ibadah..

Dan Bersiap-siagalah saudaraku, karena kewaspadaan terhadap setan yang tak pernah jenuh mengintai dan tak akan bosan membisikkan kejahatan akan selalu hadir untuk menghancurkan diri kita.

Saudaraku, Seseorang jika tidak dihimpun dan diikat oleh kebenaran, maka ia akan tercerai-berai oleh kebathilan...

Saudaraku, jagalah hatimu. Sesunggunya dakwah ini akan tegak dengan niat lurus para pejuangnya. Dakwah ini akan menyentuh dengan kebersihan hati para penegaknya, dan dakwah ini akan memberikan kontribusi kebaikan kepada bangsa, diawali ketika Allah memandang indah kepribadian dan hati para pecintanya.

Saudaraku, jagalah kepercayaan dirimu, sesungguhnya Yang pertama kali mesti kita percayai adalah diri kita sendiri...kalo kepada diri sendiri saja sudah tak lagi percaya, bagaimana mungkin akan percaya kepada selain diri sendiri ?

Saudaraku, jagalah ukhrawimu. Sesungguhnya Parameter kemenangan dan kekalahan yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah kemenangan atau kekalahan yang berkaitan dengan moral spiritual. Bahwa kesuksesan paling hakiki adalah kesuksesan akhirat. Seseorang tidak dilihat sejauh mana prestasi dunia yang dicapai, akan tetapi sejauh mana ia membangun mahligai kejayaan ukhrawi.

Dan saudaraku, dendangkanlah di setiap langkahmu. “Semoga kusetia di jalan ini....sampai akhir nanti....”
Saudaraku, pernahkah kau rasakan... lelah pencarian... saat resah menyerang rindumu... rindu akan segenap ampunanNYA... rindu dengan syafaat rasulNYA...

Dan ingatlah sebagai penghias rangkaian kata yang penuh arti ini, Diantara ciri kebahagaiaan dan kemenangan adalah, bila ilmu pengetahuanmu bertambah,maka bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangn. Setiap amal shalih bertambah, maka semakin takut kepada Allah lah yang kan kita dapatkan. Semakin bertambah usia, semakin berkurang ambisi keduniaan. Ketika harta bertambah, maka bertambah pula kedermawanan dan pemberian kepada sesama. Semakin tinggi kemampuan dan kedudukan, akan semakin dekat semua insan.

Dan sebagai penutup untukmu, ingatlah sukses dan gagal adalah dua istilah yg berlawanan, namun penyebabnya bisa sama, kesusahan dan kesenangan, harta, nafsu dunia, dan sebagainya. Oleh sebab itu, artikulasi kesuksesan dan kegagalan sangat berkaitan erat dengan tingkat kecerdasan mengelola diri, menentukan orientasi, dan kemampuan memanfaatkan momentum.


So, bersabarlah dan bersiap siagalah.
Wallahu a'lam bishawab.

13 april -15 mei 2009

Depok, hari deklarasi capres SBY... :-( 
 
 
* kado ini saya terima tgl 15 Mei 2009