Senin, 11 September 2017

Ada Yang Perlu Kita RENUNGI

Atas berlimpahnya harta yang tak menambah keteduhan hati dan kesejukan jiwa, tentu ada yang perlu kita renungi :
Tentang diri sendiri,
tentang tetangga kita,
tentang do'a-do'a kita
serta berbagai hal
yang berkaitan hubungan kita dengan Allah Ta'ala
maupun hubungan dengan sesama.


ketika Semakin Bertambah USIA

 💧 Semakin bertambah usia semakin lemah Tangan menggenggam..karena Alloh sedang mendidik kita agar melepaskan cinta Dunia.
                   (Qs.Hud:15-16)

💧   Semakin bertambah usia semakin kabur Matanya... Karena Alloh sedang menCerahkan mata hati untuk  melihat Akhirat.
                     (Qs.Al Isra:72)

 💧  Semakin bertambah usia semakin Sensitif.... karena Alloh sedang mengajar.. bahwa pautan Hati dengan makhluk senantiasa mengHampakan.. namun Hati yang berpaut kepada Alloh, tiada pernah meNgecewakan.
            (Qs.Al Lukman :22)

 💧  Semakin bertambah usia semakin gugur gigi-giginya....karena Alloh sedang mengingatkan bahwa suatu hari kita akan Gugur kedalam Tanah selamanya.
             Qs.Ali Imran:145) 

 💧  Semakin bertambah usia semakin ditarik Nikmat kekuatan Tulang & Sendi....karena Alloh sedang mengingatkan bahwa tak lama lagi Nyawanya akan di ambil...
                 (Qs.An Nisa:78)

 💧  Semakin bertambah usia semakin Rambut putih....karena Alloh sedang ingatkan kain kafan yang Putih.
            (Qs.Ali Imran:185)

 💧  Begitu juga Hati...semakin bertambah usia semakin sepi dan ingin bersendirian...karena Alloh sedang mendidik kita untuk melepaskan cinta manusia dan dunia...
                (Qs.Al-An'am:32)

#copasWAG

Jumat, 08 September 2017

Gusti Allah Mboten Sare, Allah Tidak Tidur, tidak juga Lalai



Kita sering kesal dan marah ketika melihat kezhaliman yg semakin merajalela, bahkan seakan tak tersentuh oleh aturan hukum yg ada...
Pelaku kezhaliman semakin sombong dan arogan, merasa sudah menang....
padahal  ia lupa, bahwa sesunggunnya ia hanya menunggu waktu untuk menerima balasan dari Allah...

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

" Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, " (surat Ibrahim ayat 42)

Menjadi PEMENANG Kehidupan

Sesungguhnya pemenang kehidupan adalah orang yang tetap semangat meski kelelahan senantiasa hadir dalam kehidupan nyata. Tetap tegar dalam setiap ujian yang menyapa. Tetap teguh meski godaan tak henti menyesakan dada.

Kenyataannya, terlampau banyak kisah hidup yang memilukan bermula dari cara kita yang salah dalam menata hati. Oleh karena itu, menata hati adalah cara kita dalam menyiasati kehidupan. Menyiasati berbagai kondisi kehidupan agar tetap dalam keadaan lebih baik. Dan kunci dalam menata hati adalah iman dan positif thinking.

Maka sudah saatnya kita bertanya pada hati kita masing-masing? Di bagian mana dalam kehidupan ini, dalam kesibukan yang melelahkan; dalam hari-hari yang penuh langkah perjuangan; dalam pergolakan cinta dan kebencian; dalam kesunyian dan keramaian; di antara kegembiraan dan kesedihan; di antara ketenangan dan kegelisahan; di antara ritme keagamaan dan keduniaan; di antara berbagai lintasan ujian dan harapan; di antara kearifan melihat zaman; di antara tugas dan amanat menjalankan jabatan, saatnya bertanya, di mana hati ini kita posisikan?


Sebagus dan seindah apa pun bentuk manusia, hanya akan membawa kehinaan bila tidak disertai dengan keindahan hati yang dihiasi iman dan amal shalih.

Penentu baik dan buruknya amalan seseorang amat bergantung kepada hati. Seperti yang digambarkan baginda Rasulullah Saw, “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (H.r. Bukhari Muslim)

Dengan menata hati, berarti kita tengah menata kehidupan ini. Hati menjadi penentu atas segala keputusan yang kita ambil karena di sanalah niat terletak. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tetapi hanya tinggal keinginan. Berhenti pada kata ingin saja. Tidak pernah sukses karena orang sukses adalah mereka yang selalu berbuat. Kalau kita ingin mengubah hidup kita menjadi lebih dari yang kita impikan, kita harus mengubah tindakan kita sampai menjadi kebiasaan.

(Disarikan dari Buku Menjadi Lebih Baik Agar Ditolong Allah, Pro U Media Jogja)


Sumber :
Biro Tausiyah Rutin ODOJ

Keep SYUKUR

Seseorang mungkin lebih cantik
ataupun lebih tampan dari kita,
sehingga lebih diperhatikan dan
punya banyak teman.
Seseorang mungkin lebih kaya dan
punya kedudukan dibanding diri kita,
sehingga mudah mendapatkan
apa yang diinginkannya.
Seseorang mungkin lebih pintar
dan punya banyak relasi dibanding kita,
sehingga punya kesempatan
lebih banyak untuk melakukan
banyak kegiatan.
Seseorang yang lain mungkin telah
meraih impiannya
sementara kita
masih di sini berjuang mengejar
impian.
Yakinlah,
Ketika kita terus membandingkan
diri dengan orang lain, maka kita
tidak akan pernah menemukan
ujungnya
walaupun kita telah
memiliki kelebihan.

Ingat....
masih ada langit di atas langit.
Maka bersyukur adalah kuncinya.
Bersyukur atas segala yang telah
kita miliki.
Bersyukur karena setiap diri kita
diciptakan unik dan tak satupun
yang bisa menjadi seperti diri kita.

Kamis, 07 September 2017

Berbaik Sangka kepada Allah

عندما تظن بأن بعد الشقاء

 السعادة وبعد دموعك إبتسامة

 فقدأديت عبادة عظيمة ألاوهي

 حسن الظن بالله

 'Indamaa Tazhunnu Bi-anna ba'dasy Syaqoo-i As Sa'aadatu Wa ba'da Dumuu'ika Ibtisaamatun
Faqod addaita 'Ibaadatan 'Azhiimatan Allaa Wahiya Husnuzh Zhonni Billaah

Di kala kamu yakin bahwa sesudah kesengsaraan terdapat kebahagiaan, dan setelah linangan air matamu, terdapat senyuman, maka sungguh kamu telah menunaikan ibadah yang mulia, yaitu  berbaik sangka kepada Allah...

Rabu, 06 September 2017

Islam, antara Toleran dan Kemuliaan

Islam memang agama rahmat, agama damai, agama kasih sayang, agama toleran, agama wasathiyah.
Tapi semuanya itu baru betul-betul terwujud bila Islam punya kekuatan dan kekuasaan. Bagaimana akan membuktikan kalau kita orang yang penuh rahmah, kedamaian, toleran dan wasathiyah, kalau kita sendiri dalam keadaan terhina dan tertindas.

Justru kampanye Islam agama damai dalam kondisi di bawah telapak orang, yang muncul adalah kemunafikan dan menjilat kepada musuh agar dikasihani, takut dituduh teroris, dan membungkuk-bungkuk kepada musuh demi kesenangan dunia.
Supaya dikatakan agama damai, dia rela saudaranya sesama muslim dibantai di mana-mana. Demi julukan umat yang toleran dia lebih marah kalau gereja dirusak dari pada mesjid dan mushaf al Qur'an dihancurkan.

Yang melakukan hal itu bukanlah memperlihatkan kerahmatan dan ketoleransian Islam, tapi lagi memperagakan sikap najisnya. Sementara Islam sendiri berlepas diri dari tindakan seperti itu.

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. (Al Anfal: 61)
Tadabburilah ayat ini dan ayat sebelumnya.
Alangkah izzahnya kita bila semacam kalimat "wa mu'tashima" berkumandang, musuh gemetaran dan dan seluruh hak Islam kembali ke pangkuannya. Keadilan ditegakkan dan tidak ada yang terzalimi.

Sekalipun tidak mampu meng-'izzahkan Islam ini dihadapan musuh, aku tidak akan menghinakannya di hadapan mereka.


Akhirnya aku katakan: Aku tidak pernah menemukan najis yang lebih kotor dan menjijikkan dari pada seorang muslim yang jadi agen musuh untuk menghancurkan umat Islam ini dari dalam, ia sadari atau tidak.

Tidak percuma kalau Allah mengatakan bahwa tempat orang munafik itu di dalam kerak neraka. Lebih dalam dari pada tempat Fir'aun, Abu Jahal dll.

by. ust Zulfi Akmal