Rabu, 13 Januari 2016

Fanatisme dan Toleransi

FANATISME DAN TOLERANSI

Ust. DR. Amir faishol Fath, MA.

1. Kapan kita harus fanatik dan kapan harus toleran? Inilah pertanyaan yg selalu muncul dan menuntut jawaban segera.

2. Salah menjawab akan salah bersikap. Dan tidak mustahil akan menyebabkan perpecahan.

3. Agar tidak terjebak dalam perpecahan para ulama telah meletakkan kerangka berpikir yg sangat cerdas dalam memahami setiap persoalan keagaamaan.

5. Kerangka berpikir ini diringkas dalam dua istilah penting yaitu ushul dan furu'. (Usul artinya pokok tidak boleh ada perbedaan pendapat di dalamnya dan furu' adalah cabang, yg di dalamnya ada kemungkinan berbeda pendapat).

6. Siapapun yg melihat persoalan keagamaan dengan kerangka ini ia tidak akan berpecah belah. Sebaliknya orang yang tidak ikut kerangka ini, akan mudah menyerang orang lain dan boleh jadi menyebabkan perpecahan.

7. Dari pemahaman terhadap dua kerangka berpikir ini akan terjawab pertanyaan kapan kita fanatik dan kapan kita toleran. Bahwa dalam urusan ushul kita fanatik dan dalam urusan furu' kita toleran.

8. Ushul maksudnya pokok-pokok yang tidak boleh ada beda pendapat di dalamnya. Jadi bukan hanya akidah tetapi pokok apa saja yang sudah disepakatai itu namanya ushul. Selain itu adalah furu'.

9. Contoh ushul furu' dalam shalat: takbir dalam shalat  adalah rukun maka ia termasuk ushul. Tapi cara bertakbir furu'. Sujud : rukun/ushul tapi cara bersujud : furu'. Tasyahud : rukun/ushul. Tapi cara bertasyahud : furu'. Karena itu dalam cara mengangkat tangan saat takbir, cara sujud, cara gerakkan telunjuk pada saat tasyahud ada perbedaan pendapat. Sungguh tidak ada yang paling benar dalam cara takbir, tasyahud, sujud dll. Sebab semua tidak ada yang bisa memastikan bahwa dirinya paling persis sama dengan Nabi. Karenanya itu masuk wilayah khilafiyah furuiyah.

10. Contoh ushul furu dalam berbagai masalah : cinta Nabi : ushul. Adapun membuktikan cinta Nabi dengan mengadakan maulidan : furu'. Membaca lailaaha illallah : ushul, tahilialn furu'. Membaca alfatihah dalam shalat : ushul. Membaca alfatihah untuk mayit : furu'.  dst.

11. Hindari cara pandang sunnah bid'ah. Maksudnya ada dalilnya sunnah/tidak ada dalilnya bid'ah. Sebab ini akan menimbulkan banyak masalah tidak saja dalam pemahaman terhadap Islam tetapi juga dalam persaudaran keumatan. Karenanya para ulama fikih tidak menggunakan manhaj-sunnah-bid'ah ini. Sebab apa yg menurut Anda tidak ada dalilnya boleh jadi bagi ulama ada dalilnya.

12. Ketahuilah bahwa dalil tidak selamanya khusus tetapi ada juga dalil umum. Karenanya apa yg menurut seseorang tidak ada dalilnya, boleh jadi ada dalil umum yg bisa menjadi landasan. Dari sini terjadi khilafiyah. Seperti dalam kasus maulidan.

13. Pun hindari memudahkan menghukumi bid'ah dalam suatu masalah fikih, sebab para ulama juga berbeda pendapat dalam banyak hal mengenai bid'ah. Boleh jadi bid'ah menurut Anda tapi tidak bid'ah menurut orang lain.

14. Ingat persatuan umat adalah ushul yg harus dipertahankan dan sangat menentukan. Jangan sampai anda menjadi bagian yang menghancurkan umat ini hanya karena salah cara pandang terhadap berbagai masalah fikih.

15. Dalam hal ini tidak cukup kita hanya punya samangat ikhlash dan beramal. Tetapi juga harus mempunyai cara pandang yang benar. Inilah unrgensi iqra'. Di sini kita paham mengapa Allah turunkan pertama-tama perintah iqra'.

Selasa, 12 Januari 2016

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Ilmu Agama Vs Ilmu Dunia

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻋَﺰَّ ﻭَﺟَﻞَّ ﻳُﻌْﻄِﻲ
ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﺤِﺐُّ ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﺎ
ﻳُﺤِﺐُّ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﻌْﻄِﻲ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﺇِﻟَّﺎ
ﻟِﻤَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ، ﻓَﻤَﻦْ ﺃَﻋْﻄَﺎﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ
ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ، ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺣَﺒَّﻪ

”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi (ilmu) agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri (ilmu) agama, berarti Allah mencintainya.” (HR. Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545)

بَارَكَ اللهُ فِيْك
------------------------------- //// -------------------------------

Minggu, 03 Januari 2016

SEMPURNANYA MANUSIA


"Sempurna"-nya Manusia

Tawazun itu seimbang.
Antara dunia dengan akhirat.
Antara jasad dan ruh.
Antara muamalah dan ibadah.
Antara akhlak dengan syariat.
Antara duka dan bahagia.
Antara benci dan cinta.
Antara lemah dan kuat.
Antara takut dan berani.
Antara sabar dan syukur.
Bahkan antara tidak takut mati dan berani hidup.
Karena banyak manusia yang berani mati semata karena takut hidup.
Berani mati tidak boleh meniadakan keberanian untuk hidup, pun begitu sebaliknya.
Yang satu tidak boleh menegasikan yang lain.
Yang satu justru menjadi penyempurna yang lain.
Karena begitulah yang Allah perintahkan.

Sebagaimana kamu tidak bisa menghilangkan rasa takut, begitu juga kamu tidak bisa menghilangkan kelemahan.
Karena itu sesuatu yang alami--given--dari sang pencipta dan menjadi cirimu sebagai makhluk
Karena begitulah Allah mengabarkannya pada kita dalam ayatnya yang mulia

يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.
(An-Nisa: 28)

Jangan negasikan kemanusiaanmu dengan menihilkan kelemahan, ketakutan, kedukaan, ketakberdayaan, kegagalan dan apapun yang terkesan negatif.
Karena kelemahan, ketakutan, kedukaan, kegagalan, ketakberdayaan dan kejatuhanlah yang membuatmu sadar akan ke-makhlukan-mu dan terhindar dari menuhankan dirimu.
Itulah yang membuatmu sadar untuk bersandar.
Bersandar pada sandaran yang kokoh; yang bukan makhluk; bukan manusia; bukan dirimu. Tapi Allah Sang Pencipta; yang tak lemah, tak takut, tak beduka dan tak pernah kalah.

إِذْ هَمَّت طَّائِفَتَانِ مِنكُمْ أَن تَفْشَلَا وَاللَّهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.
(Ali Imran: 122)

Jadi jangan takut dengan ketakutan, jangan lemah dengan kelemahan, jangan berduka dengan kedukaan, karena itulah dirimu-- manusia.

Bahkan takut itu adalah separuh kekuatan sebagaimana halnya keberanian merupakan separuh lainnya.
Lemah itu adalah separuh kesempurnaan sebagaimana halnya kekuatan adalah separuhnya lagi.
Negatif itu adalah separuh dari keutuhan sebagaimana halnya positif merupakan pelengkap separuhnya lagi.
Sebagaimana jasad adalah separuhnya manusia dan ruh adalah separuhnya yang lain.
Nikmati dan jalani saja kemanusiaanmu sambil bersandar pada Allah, Tuhanmu.

Saat manusia mengambil yang satu tapi meniadakan yang lain, maka saat itulah sunnatullah diabaikan.
Saat itulah dia menjadi setengah manusia.
Dan saat itulah dia menjadi lemah.
Tidak "sempurna"...

#copasanGrupWasap

Jumat, 01 Januari 2016

Aku Belajar

Renungan diawal tahun 2016

- AKU BELAJAR -  ​

Aku belajar lebih banyak diam dari pd lbh banyak bicara...  

Aku belajar bersabar
dari sebuah kemarahan...  

Aku belajar mengalah
dari sebuah keegoisan...  

Aku belajar tersenyum dari suatu kesedihan....  

Aku belajar tegar
dari suatu kehilangan..

Hidup adalah BELAJAR.....   
Belajar bersyukur meski tak puas...  
Belajar ikhlas meski tak rela....  
Belajar taat meski berat...  
Belajar memahami meski tak sehati...  
Belajar sabar meski terbebani...  
Belajar memberi meski tak seberapa...

Belajar mengasihi meski tersakiti....  
Belajar tenang meski gelisah....  
Belajar percaya meski susah....  
Belajar tabah meski cobaan menerpa... 

​Aku belajar.... 
bahwa tidak selamanya hidup ini indah, 
kadang...
ALLAH menyapaku melalui derita.
Tetapi aku tahu, bahwa IA tidak pernah meninggalkanku,
sebab itu...
aku belajar menikmati hidup
dengan bersyukur.    

Aku belajar.... 
bahwa tidak semua yang aku harapkan
akan menjadi kenyataan, 
kadang...
ALLAH membelokkan rencanaku.  
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik
dari yang kurencanakan, 
sebab itu...
aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.    

Aku belajar.... 
bahwa cobaan itu pasti datang
dalam hidupku.
Aku tak mau dipengaruhi setan
utk marah dan emosi,
aku tak mau menyalahkan orang lain, 
Juga tidak mungkin berkata
"tidak adil ALLAH".  
Karena aku tahu bahwa semua itu
tidak akan melampaui kekuatanku, sebab itu aku belajar menghadapinya
dengan sabar.    

Aku belajar.... 
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali & ditangisi, karena....
semua rancangan NYA indah bagiku.  

Maka dari itu..
aku belajar bersabar,
bersyukur & bersukacita dalam segala perkara.  
Karena semua itu menyehatkan jiwa
dan menyegarkan hidupku...    

Saudaraku...

• Ketika "Kaki"
Sudah tak kuat berdiri...
"BERSIMPUHLAH".  
 
• Ketika "Tangan"
sudah tak kuat menggenggam...
"LIPATLAH"  
 
• Ketika "Kepala"
sudah tak kuat ditegakkan...
"MENUNDUKLAH"  
 
• Ketika "Hati"
sudah tak kuat menahan kesedihan...
"MENANGISLAH.    

• Ketika "Hidup" .
sudah tak mampu untuk dihadapi...
"BERDOALAH"    

ALLAH selalu setia bersama kita...  
dan apa saja yang kamu minta dalam DOA dengan penuh keyakinan, pasti Ia akan menerimanya...    

ALLAH mendengar
Lebih dari yang kau katakan...  

ALLAH menjawab
Lebih dari yang kau minta...  

ALLAH memberi
Lebih dari yg kau inginkan...    

Karena...
di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga... 

di hadapanmu ada kemungkinan
tanpa batas... 

di sekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir...

Lebih dari itu, di atasmu ada ALLAH
yang selalu menyertaimu... 

Ingatlah saudara-ku tercinta...
Cinta  ALLAH padamu abadi,
seperti lingkaran,
tak berawal & tak berakhir...

SEMOGA HARI ESOK KITA LEBIH BAIK DARIPADA HARI INI 🌴🍃

Tdk ada th 2015 sebenarnya begitu juga 2016. Yang ada adalah amalan yg hrs meningkat sampai ditutup oleh hayat kita....

#copasanGrupWasap

Kamis, 31 Desember 2015

Manajemen Waktu Para Ulama

Manajemen Waktu Para Ulama

“Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa kaum, mereka lebih bersungguh sungguh dalam menjaga waktu mereka daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham” (Al- Hasan Basri).

Saudaraku,
Waktu adalah salah satu diantara nikmat Allah yang paling berharga dan agung bagi manusia. Cukup bagi kita kesaksian Al-Qur’an tentang betapa agungnya tentang nikmat yang satu ini. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan tentang urgensi waktu, ketinggian tingkatannya, dan juga pengaruhnya yang besar.Bahkan Allah telah bersumpah dengan waktu dalam kitab-Nya yang mulia dan ayat-ayat-Nya yang luhur dalam konteks yang berbeda-beda. Allah yang urusan-Nya yang begitu agung telah bersumpah dengan waktu malam, siang, fajar, subuh, saat terbenamnya matahari, waktu dhuha, dan dengan masa.

Hanya orang-orang hebat dan mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui urgensi waktu lalu memanfaatkanya seoptimal mungkin.Dalam hadits, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang (HR.Bukhari).Banyak manusia tertipu didalam keduanya, itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan hanya sedikit.Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya.

Saudaraku,
Allah memberikan kita setiap hari “ modal” waktu kepada semua manusia di muka bumi ini adalah sama, yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Namun kenapa prestasi bisa berbeda? Dalam waktu yang sama, Mereka mampu berbuat dan berkarya seperti berikut:

1. Rasulullah SAW : Dalam waktu 23 tahun bisa membangun peradaban Islam yang tetap ada sampai sekarang. Ikut 80 peperangan dalam tempo waktu kurang dari 10 tahun, santun terhadap fakir miskin, menyayangi istri dan kerabat, dan yang luar biasa adalah beliau seorang pemimpin umat yang bisa membagi waktu untuk umat dan keluarga secara seimbang!!

2. Zaid bin Tsabit RA : Sanggup menguasai bahasa Parsi hanya dalam tempo waktu 2 bulan! Beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasul dan penghimpun ayat Quran dalam sebuah mush’af

3. Abu Hurairah : Masuk Islam usia 60 tahun. Namun ketika meninggal di tahun 57 H, beliau meriwayatkan 5374 Hadits! (Subhanallah!)

4. Anas bin Malik : Pelayan rasulullah sejak usia 10 tahun, dan bersama rasul 20 tahun. Meriwayatkan 2286 Hadits.

5. Abul Hasan bin Abi Jaradah (548 H) : Sepanjang hidupnya menulis kitab-kitab penting sebaganyak tiga lemari.

6. Abu Bakar Al-Anbari : Setiap pekan membaca sebanyak sepuluh ribu lembar.

7. Syekh Ali At-Thantawi : Membaca 100-200 halaman setiap hari. Kalkulasinya, berarti dengan umurnya yang 70 tahun, beliau sudah membaca 5.040.000 halaman buku. Artikel yang telah dimuat di media massa sebanyak tiga belas ribu halaman. Dan yang hilang lebih dari itu.

8. Ibnu Jarir Ath-Thabari, beliau menulis tafsir Al-Qur’an sebanyak 3000 lembar,menulis kitab Sejarah 3000 lembar.Setiap harinya beliau menulis sebanyak 40 lembar selama 40 tahun.Total karya Ibnu Jarir 358.000 lembar.

9. Ibnu Aqil menulis kitab yang paling spektakuler yaitu Kitab Al-Funun, kitab yang memuat beragam ilmu, adz-Dzahabi mengomentari tentang kitab ini, bahwa didunia ini tidak ada karya tulis yang diciptakan setara dengannya.Menurut Ibnu Rajab,sebagian orang mengatakan bahwa jilidnya mencapai 800 jilid.

10. Al-Baqqilini tidak tidur hingga beliau menulis 35 lembar tulisan.

11. Ibnu Al Jauzi senantiasa menulis dalam seharinya setara 4 buah buku tulis.Dengan waktu yang dimilikinya,beliau mampu menghasilkan 2000 jilid buku.Bekas rautan penanya Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, bahkan masih ada sisanya.

12. Iman An-Nawawi setiap harinya berlajar 12 mata pelajaran, dan memberikan komentar dan catatan tentang pelajarannya tersebut.Umur beliau singkat, wafat pada umur 45 tahun, namun karya beliu sangat banyak dan masih dijadikan sumber rujukan oleh umat muslim saat sekarang ini.

Masih banyak lagi contoh-contoh luar biasa lainnya. Kenapa tidak banyak orang yang bisa menyamai mereka? Padahal waktu yang diberikan Allah kepada mereka sama dengan waktu yang diberikan Allah pada hambaNya yang lain? Jawabannya adalah kecerdasan manajemen waktu.

Saudaraku,
Bercermin kepada genarasi salafus shaleh umat ini, dimana mereka telah menorehkan contoh-contoh yang mengagumkan dalam memanfaatkan waktu, detik-detik umur dan setiap hembusan nafas untuk amal kebajikan.Dengan mengetahui jalan hidup orang-orang saleh dan kesungguhan mereka mereka dalam memanfaatkan detik-detik umur mereka dalam ketaatan, memiliki pengaruh besar dihati seorang muslim.yaitu pengaruh dalam menumbuhkan dan membangun gairah untuk memanfaatkan waktu dan memaksimalkan deti-detik usia dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah.Mari kita telusuri kisah indah dan uniknya mereka dalam memaksiamalkan waktu:

1. Para genarasi salafus shaleh umat ini sangat bersemangat untuk menjaga waktu hingga dalam keaadaan sakit dan sakratul maut

– Al Biruni, ( 362 H-440H),seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta,ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India.Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya.Tidak lama setelah itu beliau wafat.

– Ibrahim bin Jarrah berkata, “ Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya.Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri.Ketika tersadar, dia berkata kepadaku,”hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?” Saya menjawab, “Dalam kondisi ini seperti ini?” Dia menjawab, “Tidak apa-apa, kita terus belajar.Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.Lalu aku pulang.Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan.Ternyata ia telah wafat.

-Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku, ,’sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki.Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bias mencegah datanya sakit? Dokter itu pun menjawab , ‘Benar.’ Lantas saya katakana, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu,dan tabiatku semakin kuat dengannya.Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.

2. Mempersingkat Waktu makan, serta mengurangi makan agar tidak selalu sering ke WC
Kesungguhan genarasi salafus shaleh umat ini dalam memanfaatkan waktu sampai pada tingkat bahwa mereka merasa sayang dengan waktu yang dipakai untuk makan, maka mereka mempersingkat sebisa mungkin.

-Dawud At-Tha’i rahimahullah memakan alfatit ( roti yang di basahi dengan air).Dia tidak memakan roti kering (tanpa dibasahi).Pembantunya bertanya, “Apakah anda tidak berhasrat makan roti?” Dawud menjawab, Saya mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca 50 ayat antara memekan roti kering dan basah” ( Sifatus Shafwah, 3/92)

-Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menceritakan kepada kita, “ Ibnu Aqil berkata,”Aku menyingkat semaksimal waktu-waktu makan, sehingga aku lebih memilih memakan kue kering yang dicelup ke dalam air (dimakan sambil dibasahi) dari pada memakan rot kering, karena selisih waktu mengunyahnya (waktu dalam mencelup kue dengan air lebih pendek daripada waktu memakan rot keringi) bisa aku gunakan untuk membaca dan menulis suatu faedah yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Dia melakukan hal itu supaya bisa memanfaatkan waktu lebih). (Dzailut Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab,1/177)

-Asy-Syamsul Ashbahani, (674H-749 H), seorang tokoh mahzab Syafii, pakar fiqih dan tafsir .Apa yang diceritakan tentang beliau menunjukkan antusiasnya terhadap ilmu dan ‘pelitnya’ beliau untuk menyia-nyiakan waktu.Sebagian sahabatnya pernah menuturkan bahwa beliau sangat mengindari makan yang banyak,yang tentunya akan butuh banyak minum, dan selanjutnya butuh waktu masuk WC. Sehingga waktu pun banyak terbuang.Lihatlah! bagaimana mahalnya waktu dalam pandangan imam yang mulia ini. Dan tidaklah waktu itu mahal bagi beliau melainkan karena betapa sangat mahalnya ilmu tersebut.

3. Memanfaatkan waktu perjalanan dengan membaca buku, berzikir, menuntut ilmu, bahkan menyampaikan hadist.

-Said bin Jabir berkata, “ Saya pernah bersama Ibnu Abbas berjalan disalah satu jalan di Mekah malam hari.Dia mengajari saya beberapa hadis dan saya menulisnya di atas kendaraan dan paginya saya menulisnya kembali diatas kertas” (Sunan Ad-Darimi, Imam Ad-Darimi,1/105)

-Tentang Al Fath bin Khaqan, beliau membawa kitab dalam kantong bajunya.Apabila beliau bangun dari tempat duduknya untuk shalat atau buang air kecil atau untuk keperluan lainnya, beliau membaca kitabnya hingga sampai ke tempat ingin dia tuju.Beliau juga melakukan hal tersebut ketika kembali dari keperluanya.( Taqyiidul ‘Ilm, Al Khatib Al-Baghdadi )

-Imam An-Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik diwaktu siang atau pun malam, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu.Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ngulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang telah ditelaahnya sambil berjalan.Beliau melakukan itu selama enam tahun.( Tadzkiratul Huffaz, Adz- Dzahabi, 4/1472).

– Ibnu Khayyath An-Nahwi, wafat tahun 320 H. Konon, beliau belajar di sepanjang waktu, hingga saat beliau sedang berada di jalanan. Sehingga terkadang, beliau terjatuh ke seleokan, atau tertabrak binatang.( Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilm wal ijtihad fi jam’ihi, Abu Hilal Askari,hal 77)

4. Memanfaatkan waktu-waktu makan, saat istirahat , bahkan saat di Kamar kecil ( WC) sekalipun untuk membaca atau mendengar ilmu.

-Ahmad bi Ali berkata kepada Abdur Rahman bin Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah, “Apa penyebabnya anda banyak mendengar hadis dari bapakmu? Dan anda banyak bertanya kepadanya?” Dia menjawab, mungkin karena ketika dia makan, saya belajar hadis kepadanya.Ketika berjalan, saya belajar kepadanya.Ketika dia buang hajat, saya belajar kepadanya dan ketika dia masuk rumah untuk mencari sesuatu, saya belajar kepadanya.” (Siyar A’lamin Nubala, Imam Adz-Dzahabi,13/50)

-Simaklah cerita Ibnu Aqil Hambli rahimahullah tentang bagaimana ia menjaga waktunya, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apa bila lisanku telah lelah membaca dan berdiskusi, mataku telah lelah membaca, maka aku menggunakan pikiran aku dalam keadaan beristirahat ( berbaring di tempat tidur).Aku tidak akan berdiri, kecuali telah terlintas di benakku apa yang akan aku tulis. Dan aku mendapi kesungguhanku belajar ikmu dalam usia 80 tahun lebih kuat daripada apa yang kudapai ketika aku berumur 20 tahun.” ( Al Muntadzim fi Tarikhil Umam, Ibnu Jauzi, juz 9)

-Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Telah memberitahukan kepadaku saudara Syaikh kami, Abdur Rahman bin Abdul halim Bin Taimiyah dari ayahnya berkata, “ Adalah kakek ( yaiyu Majdudin Bin Taimiyah ) apa bila ia masuk WC, dia berkata kepadaku, “Bacalah buku ini untukku, keraskanlah suaramu sehingga aku mendengarkannya. Maka Ibnu Rajab mengomentari, “ hal ini menunjukkan akan kuatnya antusias beliau terhadap ilmu, sekaligus semangatnya untuk menggapainya, dan juga penjagaan beliau terhadap waktunya.( Dzailuth Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 2/24)

-Ibnu Nafis seorang ulama dan dokter terkemuka yang unggul,ia senantiasa menjaga setiap waktunya dan kesempatannya guna menorehkan ide dan pemikirannya,justru disaat-saat yang paling unik dan asing bagi yang lainnya.Beliau adalah pemuka dan orang yang terkemuka dalam ilmu kedokteran,dan memiliki banyak karya dalam bidang kedokteran. Diceritakan bahwa beliau mencatat sejumlah persoalan kedokteran disela-sela mandinya yaitu mengenai denyut nadi.Beliau lahir di Damaskus tahun 610H ,dan wafat di Kairo pada tahun 687 H.( Raudharul Jannat ,Al Khawanisari)

5. Melakukan dua aktivitas yang berbarengan sekaligus, untuk mengoptimalkan waktu-waktu yang tersedia.

Sungguh Ulama salaf sangat berhati-hati sekali menjaga waktunya,mereka tidak akan membiarkan waktunya terbuang percuma dan berlalau sia-sia.Mereka cerdas dalam melakukan optimalisasi waktu. Meraka mampu merangkum dua kegiatan sekaligus dalam waktu yang berbarengan.Seperti yang telah disebutkan diatas,mereka berlajar sambil jalan, mendengarkan ilmu ketika di WC, memecahkan persoalan yang rumit disela-sela mandinya, membaca buku saat makan, berlajar disela-sela kesibukan dagang, memikirkan ide dan gagasan ilmu disaat berbaring diatas kasur, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang mengagumkan tentang potret ulama salah dalam optimaliasisi waktu. Bahkan tetap memanfaatkan waktu, ketika memenuhi kewajiban mengadiri undangan, menerima tamu.

-Ibnu Jauzi tetap bekerja tanpa meninggalkan berbicara saat dikunjungi tamu. Beliau menuturkan sendiri tentang bagaimana beliau memanfaatkan waktunya, “ Saat saya menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang paling berharga, maka sudah menjadi kewajiban memanfatkan waktu tersebut untuk berbuat kebajikan.Maka saya tidak menyukai kebiasaan tersebut ( maksudnya kebiasaan bertamu yang tidak membawa manfaat yang banyak terjadi didalamnya obrolan tak tentu arah, duduk berlama-lama, pen), dan tidak suka berlama-lama dengan mereka, karena dua hal.Kalau saya menyalahkan mereka,maka akan terjadi kekurangakraban karena tindakan itu berarti memutus pertalian hati.Kalau saya mengikuti mereka,maka waktu terbuang sia-sia.Akhirnya saya berusaha mengindari pertemuan sebisa mungkin.Kalau saya kalah,maka saya cukup berbicara sedikit saja agar cepat berpisah.Kemudian saya sengaja menyiapkan berbagai pekerjaan sambil terus berbicara pada saat berjumpa dengan mereka, agar waktu tak terbuang sia-sia.Untuk menyiapkan pertemuan dengan mereka, saya sengaja meotong-motong kertas, meraut pensil, mengikat buku-buku.Karena semua itu adalah aktivitas yang memeng harus dilakukan, tanpa harus berpikir dan berkosentrasi.Maka, semua pekerjaan itu saya siapkan untuk saat pertemuan dengan mereka,agar waktu saya tidak terbuang secara sia-sia. ( Saidul Khatir, Ibnu Jauzi)

-Imam Sulaim Ar-Razi, ia wafat pada tahun 447 H.Beliau amat militan dalam menjaga sifat waranya.Beliau selalu melakukan introspeksi dalam soal waktu.Beliau tidak pernah membiarkan waktu berlalu tanpa manfaat, dengan terus menulis, mengajar, membaca tau menyalin ilmu dalam jumlah banyak. Abu faraj menuturkan, “Al-mualli bin hasan pernah menceritakan kepadaku bahwa ia melihat Sulaim Ar-Razi sedang memegang pena yang matanya sudah habis.Ia memotong kayu diujung penanya, sambil bibirnya bergerak-gerak. Al-Mu’amil akhirnya tahu, bahwa ia membaca sesuatu sambil memperbaiki penanya, sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia”.
Yakni, saat kedua tangannya bekerja, beliau menggerak-gerakkan bibirnya untuk berzikir, agar tidak ada waktu berlalu sia-sia, tanpa melakukan ibadah kepada Allah.
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Wustha,Tajuddin As-Subki)

-Ada ulama yang mensayatkan kepada orang yang mengundangnya ke acara walimahan agar disediakan baginya tempat yang agak lapang, guna meletakkan bukunya, yang akan beliau baca disela-sela mengadiri pesta tersebut.Kalau tidak ada,mka beliau lebih memelih tidak mengadiri acara tersebut.

6. Mengurangi tidur, dan mengisi malamnya dengan menuntut Ilmu dan ibadah
Sebagian besar manusia waktu malamnya dimanfaatkan untuk tidur, Jika pun tidak digunakan untuk tidur, mereka menggunakannya bergadang untuk hal-hal yang sepele, yang tidak membawa manfaat uyntuk dunia dan akhiratnya. Namun tidak bagi generasi salafus shaleh umat ini mereka menyadari kemulian zaman, mereka tahu akan hakekat waktu, waktu cepat berlalu, kalau berlalu tidak akan bisa kembali lagi.Mereka menyadari bahwa umur itu singkat, waktu boleh sama tapi prestasi harus beda.Tidak ada jalan lain bagi mereka selain mengurangi tidur mereka.

-Muhammad bin Hasan Asy- Syaibani tidak tidur malam kecuali sangat sedekit sekali.Beliau adalah seorang imam ahli fikih, ahli ijtihad dan ahli hadis.Beliau lahir tahun 132 H, dan wafat 189 H.Konon beliau sering tidak tidur malam.Beliau biasanya meletakkan beberapa jenis buku disisinya.Bila bosan membaca satu buku, beliau akan menelaah yang lain.Beliau menghilangkan rasa kantuk dengan air, sembari berujar ‘ Sesungguhnya tidur berasal dari panas’.” ( Miftahus Sa’adah wa Misbahus Siyadah, I:23).

-Gurunya Imam An Nawawi berkata tentang Al-Hafizh Al- Mundziri, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya.Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari.Saya pernah berdampingan dengannya disebuah madrasah di Kairo.Selama 12 tahun, rumahku berada diatas rumahnya.Selama itu pula saya belum pernah bangun malam pada setiap jammya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala dirumahnya, sedangkan ia hanyut dalam ilmu.Bahkan ketika makan pun ia sibuk dengan ilmu.( Bustanul Arifin, Imam Nawawi)

-Imam An-Nawawi sorang imam yang terkemuka,syaikhul islam, dan banyak menhasilkan karya tulis.Beliau datang ke Damaskus pada tahun 649 H dan menetap disana yaitu di Madrasah Ar-Rawahiyah.Beliau berkata tentang diri beliau, “Saya menetap disana selama dua tahun.Selama itu, saya nyaris tidak pernah tidur.”Beliau berhasil menghafal kitab At-Tanbih selama 4,5 bulan dan membaca seperempat kitab Al-Muhazzab dengan hafala.(Tadzkiratul Huffaz, Adz-Dzahabi)

Inilah keadaan orang-orang shaleh dan kisah-kisah mereka, beginilah seharusnya kita memanfaatkan setiap detik waktu kita.Lalu bagaimana dengan kita? Saudaraku, mereka beruntung sementara engkau terlelap.Mereka meraih kemenangan, sementara engkau meraih tangan kosong.Maka segera kita manfaatkan detik-detik umur kita, tekadkan dalam hati bahwa hari ini kita akan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, memandang setiap kesempatan adalah penting.Mari persembahkan karya yang paling baik dan bermanfat, diusia kita yang pendek ini.

Catatan:
Semoga di tahun yang baru ini kita dapat memanfatkan waktu dengan baik,karena waktu adalah kehidupan dan umur kita sendiri.Dan di Tahun yang baru ini, kita akan bertekad mempersembahkan karya yang paling baik, amalan yang paling bagus, prestasi yang paling gemilang.Semua itu dapat dicapai kalau kita dapat berpacu dan berlomba dengan waktu, serta mampu mengoptimalkan waktu-waktu kita.

Bacaan Referensi:
1. Qimatuz Zaman ‘indal ‘Ulama,SyaikhAbdul Fatah.
2. Khams Wa ‘Isyrun Wa Mi’ah Li Hifdzil Waqti, Abul Qa’qa Muhammad Bin Shalih.
3. Beberapa artikel dari internet yang berhubungan dengan menjaga waktu.

#copasanGrupWasap

Rabu, 30 Desember 2015

Hakikat PERSAHABATAN, belajar dari LANDAK

Sesama Hewan Landak tidak mungkin saling merapat satu dengan lainnya.
Duri duri tajam yg mengitari tubuhnya adalah penghalang utama mereka untuk melakukan hal di atas. Bahkan, kepada anak kandungnya sendiri….

Ketika musim dingin tiba, membawa embusan badai salju susul menyusul, serta cuaca dingin yang menggigit tulang, dalam kondisi kritis seperti ini, para landak itu terpaksa saling
merapat satu dengan lainnya, demi menghangatkan tubuh2nya meski mereka harus berjuang menahan perih & sakitnya duri2 landak lain yang menusuk, melukai kulit-kulit mereka.
Jika sekawanan landak itu telah merasakan sedikit kehangatan,

segera saja mereka saling menjauh,
namun jika rasa dingin kembali merasuk ke dalam tubuh mereka,
mereka akan segera merapat lagi…
demikianlah seterusnya.

Sepanjang malam, landak-landak itu disibukkan kegiatan saling menjauh & saling mendekat.
Merapat terlalu lama akan menimpakan atas mereka banyak luka.
Sementara jika mereka saling menjauh dalam waktu yang lama justru bisa saja rasa dingin menewaskan mereka.
Demikianlah keadaan kita manusia
dalam hubungan interaksi sosial
antara sesama kita dalam hidup ini,
tentu tak seorang pun manusia terbebas dari duri - duri (kesalahan2) yang mengitari dirinya, demikian halnya
orang lain…
Tentu mereka sama sekali tidak akan dapat merasakan kehangatan jika mereka tidak rela bersabar
menanggung perihnya duri-duri (kesalahan) orang lain pada saat saling merapat.

Oleh karena itu
Siapa saja yg hendak mencari sahabat tanpa kesalahan, niscaya ia akan hidup sebatang kara.

Dan barang siapa yg ingin mencari pendamping hidup sempurna tanpa kekurangan, niscaya ia akan hidup membujang.

Dan barang siapa yang berusaha mencari saudara tanpa problem,
niscaya ia akan hidup dalam pencarian yang tiada akhirnya.

Barang siapa yg hendak mencari kerabat yang ideal & sempurna,
niscaya ia akan lalui seluruh hidupnya dalam permusuhan.

Maka, bersabarlah menanggung perihnya kesalahan orang lain,
agar kita dapat mengembalikan keseimbangan dalam hidup ini.

Camkanlah ….
Jika engkau ingin hidup bahagia, jangan menafsirkan segala sesuatu, jangan pula terlalu kritis pada segala hal, serta jangan terlalu jeli meneliti segala sesuatu.
Sebab jika seseorang jeli meneliti asal usul berlian, ia akan mendapati ternyata berlian itu bermula dari
bongkahan batu hitam.

Cinta Rasul

Cinta...

Adalah ‘Ali ketika dia berbaring tidur menggantikan Rasulullah Saw di kasur Nabi, padahal dia tahu bahwa sekelompok orang telah berkumpul untuk membunuh Rasulullah Saw, dia juga tahu bahwa dia mungkin saja tewas di kasur yang sama!!

Cinta..

Adalah Bilal, ketika dia tidak mampu lagi mengumandangkan azan setelah Rasulullah Saw wafat, lalu ketika Bilal mengumandangkan azan lagi atas permintaan ‘Umar saat penaklukan Baitul Maqdis.  Tidak pernah tangisan begitu membahana terlihat sebelumnya, saat Bilal mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”

Cinta...

Adalah Abu Bakar yang mengatakan: “saat kami berhijrah, aku heran dengan munculnya susu yang tercampur air, lalu aku berikan susu tersebut kepada Rasulullah, dan aku katakan: “Minumlah wahai Rasulullah” Abu Bakar mengatakan: “Maka Rasulullah pun minum sehingga hilanglah dahagaku”

Cinta...

Adalah Zubair yang mendengar kabar terbunuhnya Rasulullah, lalu dia pun keluar dengan menyeret pedangnya di jalan-jalan kota Makkah, padahal usianya baru 15tahun.  Agar pedangnya menjadi pedang pertama yang terhunus dalam sejarah Islam

Cinta...

Adalah Rabi’ah bin Ka’b saat Rasulullah Saw bertanya kepadanya “apa yang kamu butuhkan?” Rabi’ah pun menjawab: “aku meminta agar aku bisa mendampingimu di surga”

Cinta..

Adalah Tsauban ketika Rasulullah Saw bertanya kepadanya: “apa yang membuat warna (wajahmu) berubah?” lalu Tsauban menjawab: “aku tidak sakit dan terluka, hanya saja jika aku tidak melihatmu aku menjadi sangat merindu kesepian sampai aku bertemu denganmu”

Cinta..

Adalah ketika Abu Bakar AS-Shiddiq berkata kepada Rasulullah Saw sebelum memasuki gua (Tsur): “Demi Allah, janganlah engkau masuk sampai aku masuk terlebih dahulu, jika ada sesuatu di dalam gua ini maka akulah yang terkena bukan engkau”

Cinta..

Adalah Abu Bakar yang menangisi Rasulullah Saw ketika tampak tanda-tanda telah dekat kewafatannya, lalu Rasulullah menenangkannya: “Janganlah engkau menangis ! Jika saja aku boleh menjadikan seseorang kekasih dari golongan manusia, aku pasti menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku "

Jika para shahabat memiliki cinta yang sangat besar kepada Rasulullah, Lalu seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah ??

#copasanGrupWasap