Selasa, 06 Oktober 2015

Klasemen kekafiran

Klasemen Kekafiran
Emang sepak bola aja yg punya klasemen? Kekafiran juga lho ..
Para ulama telah membuat klasifikasi (ashnaaf) mereka sebagai berikut, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Kisani Rahimahullah:
صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ .
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

  1.  Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).
2. Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.
3. Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.
4. Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengeesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani.
(Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Al Mughni, 8/263)
✏ FN

Tetaplah Bertahan

TETAPLAH BERTAHAN

Kita tidak sedang menggali ladang dunia karena itu terlalu kecil.
Kita hanya ingin menjadi hamba NYA yg sibuk menanam zaitun, meski kita tau, zaitun akan berbuah puluhan tahun lagi. Kita hanya ingin zaitun itu banyak yg menikmatinya...

Kita juga tidak sedang membangun pagar yg tinggi... tapi  ingin membangun jalan dan jembatan yg kokoh yg bisa dilalui oleh ribuan bahkan jutaan kafilah NYA..
Mengantarkan mereka ke terminal yg sdh dilalui Rasulullah saw dan para sahabat serta org2 shalih

Kepada mereka yg sudah lama berdakwah, ingatlah bahwa perjalanan kita masihlah panjang.. amal kita belum seberapa dibanding para pendahulu kita..

Ayo....ayunkan langkah kita hingga kelelahan itu merasa lelah dalam mengejar kita...

Bagi yang sedang lesu, hendaknya tetaplah di barisan ini...tetaplah di jalan dakwah ini. Karena the power is you, engkau adalah kekuatan dakwah kita....engkau adalah aset utama dakwah ini..
Kelesuan hanya akan mengotori riwayat hidup kita nan suci..
Ayo segera bersihkan agar kesucian hatimu tetap terjaga..

Bagi yg sedang futur...
segera cari penyebab dan solusinya... penyebabnya mmg bisa beragam...tapi... selalu masih ada kesempatan buat kita...

Mgk kita hanya merasa lelah,... belum bertemunya antara harapan dan kenyataan, atau merasa kecewa.
Itu semua hal biasa, wahai saudaraku...
Sebagai manusia, setiap kita berhak merasakan itu semua... berhak salah, berhak kecewa, berhak males, dsb...
tapi... selalu ada kesempatan buat kita utk kembali dan memperbaiki...

So,... jangan sia-siakan kesempatan ini...
Segera bangkit dan bergabung kembali bersama mereka yg sudah menjual diri dan kehidupannya demi kenikmatan surgawi...

Cinere 7 dzulhijjah 1436 H.
Baru sempet diposting hari ini... :)

(Masih tentang) Abu Hurairah

Serial Kisah Sahabat Nabi

Abu Hurairah, atau nama aslinya Abdu Syamsi bin Sakher hanyalah seorang buruh upahan penggembala kambing dari keluarga Busrah bin Ghazwan, salah satu pemuka dari kabilah Bani Daus di Yaman. Tetapi sepertinya Allah menghendaki akan meningkatkan derajadnya setinggi mungkin, dengan jalan membawanya kepada hidayah Islam.

Ketika salah satu pemuka Bani Daus, yakni Thufail bin Amr ad Dausi melaksanakan ibadah haji ke Makkah (tentunya sebagai ritual ibadah jahiliah) pada tahun ke sebelas dari kenabian, ia bertemu dengan Rasulullah SAW. Sebenarnya kaum kafir Quraisy telah ‘menasehati’ dirinya agar tidak bertemu Nabi SAW, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali ia diingatkan. Tetapi justru karena intensitas peringatan itu yang membuatnya penasaran dan tergelitik untuk menemui Nabi SAW, dan akhirnya memeluk Islam. Sepulangnya ke Yaman, ia mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Pada mulanya hanya sedikit saja orang yang menanggapi seruannya, yang salah satunya adalah Abu Hurairah tersebut.

Pada awal tahun 7 hijriah, Nabi SAW berencana menggerakkan pasukan untuk menyerang kaum Yahudi di Khaibar. Kabar ini sampai juga ke Yaman, maka Thufail bin Amr mengajak kaum muslimin dari kabilahnya, Bani Daus untuk berhijrah ke Madinah dan menyertai Nabi SAW dalam medan jihad tersebut. Walau dalam keadaan miskin dan tidak memiliki harta yang mencukupi, Abu Hurairah turut juga menyambut seruannya, dan bergabung dalam rombongan hijrah ini.

Setibanya di Madinah, ternyata Nabi SAW dan sebagian besar sahabat baru saja berangkat ke Khaibar. Rombongan Bani Daus tersebut langsung menyusul ke Khaibar untuk bergabung dengan pasukan Nabi SAW, tetapi Abu Hurairah tertinggal di Madinah karena tidak memilikikendaraan dan perbekalan. Usai shalat subuh keesokan harinya, Abu Hurairah bertemu shahabat yang ditunjuk menjadi wakil Nabi SAW di Madinah, yakni Siba' bin Urfuthah al Ghifary (atau sebagian riwayat menyebutkan Numailah bin Abdullah al Laitsy), ia memberi Abu Hurairah kendaraan dan perbekalan untuk bisa menyusul ke Khaibar. Ia berhasil menjumpai Nabi SAW, dan beliau menyuruhnya langsung bergabung dengan pasukan yang telah siap bertempur.

Dalam pertemuan pertama itu, Nabi SAW bersabda kepadanya, “Siapakah namamu?”

Abu Hurairah berkata, “Abdu Syamsi!!”

Abdu Syamsi artinya adalah hamba atau budaknya matahari. Tampaknya Rasulullah SAW kurang berkenan dengan namanya itu, maka beliau bersabda, “Bukankah engkau Abdur Rahman!!”

Maksud Nabi SAW adalah ia dan manusia semua itu adalah hamba Allah Ar-Rahman, maka dengan gembira Abu Hurairah berkata, “Benar, ya Rasulullah, saya adalah Abdurrahman!!”

Sejak itu namanya berganti dari Abdu Syamsi bin Sakher menjadi Abdurrahman bin Sakher, sesuai dengan pemberian Nabi SAW. Sedangkan nama gelaran Abu Hurairah yang berarti ‘bapaknya kucing (betina)’, berawal ketika ia menemukan seekor anak kucing yang terlantar, maka ia mengambil dan merawatnya. Setelah itu ia selalu membawa anak kucing itu dalam lengan jubahnya kemanapun ia pergi, sehingga orang-orang memanggilnya dengan Abu Hurairah. Ketika Nabi SAW mendengar kisah tentang nama gelarannya itu, beliau terkadang memanggilnya dengan nama ‘Abul Hirr”, yang artinya adalah : bapaknya kucing (jantan).

Sepulangnya dari Khaibar, sebagaimana sahabat pendatang (Muhajirin) miskin lainnya, Nabi SAW menempatkan Abu Hurairah di serambi masjid yang dikenal sebagai Ahlus Shuffah, yang berarti menjadi tetangga Nabi SAW. Mereka tidak makan kecuali apa yang diberikan Nabi SAW, sehingga mereka sering mengalami hal-hal yang bersifat mu'jizat dalam hal ini. Misalnya Nabi SAW mendapat hadiah segantang susu, beliau akan menyuruh Abu Hurairah memanggil seluruh penghuni Ahlus Shuffah yang berjumlah sekitar 70 orang (sebagian riwayat, 40 orang) untuk menikmati susutersebut, dan mencukupi. Kadang hanya sepanci masakan daging, atau setangkup kurma, atau sedikit makanan lainnya, tetapi mencukupi untuk mengenyangkan keluarga Nabi SAW dan para penghuni Ahlus Shuffah.

Sebagai buruh gembala kambing, Abu Hurairah juga seorang yang buta huruf (ummi). Tetapi kalau Allah SWT memang telah berkehendak akan memberikan kemuliaan kepada seseorang, mudah sekali ‘jalannya’ walau mungkin ia memiliki banyak kekurangan, bahkan derajad yang rendahdalam pandangan manusia. Seperti halnya terjadi pada Bilal bin Rabah, ternyata Allah SWT mengaruniakan kelebihan lain pada Abu Hurairah, yakni otak yang sangat jenius sehingga mempunyai kemampuan menghafal yang tidak ada bandingannya. Dengan karunia Allah ini, akhirnya ia menjadi seseorang yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Kemampuan Abu Hurairah tersebut ternyata didukung dengan berkah yang diperolehnya dari Nabi SAW. Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda pada beberapa sahabat, "Siapa yang membentangkan surbannya di depanku hingga selesai pembicaraanku, kemudian meraihnya atau menangkupkan ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan sesuatu apapun yang didengarnya dari diriku…"

Abu Hurairah bereaksi cepat mendahului para sahabat lainnya membentangkan surbannya di depan Nabi SAW.Setelah beliau selesai berbicara, ia segera menangkupkan surbannya tersebut ke dirinya.

Dalam peristiwa lainnya, Abu Hurairah bersama dua orang sahabat lainnya tengah berdzikir dan berdoa. Tiba-tiba Nabi SAW datang sehingga mereka menghentikan aktivitasnya untuk menghormati, tetapi beliau bersabda, “Lanjutkanlah doa kalian!!”

Maka salah seorang sahabat melanjutkan berdoa, dan setelah ia selesai berdoa, Nabi SAW mengaminkannya. Sahabat satunya ganti berdoa, dan setelah selesai Nabi SAW mengaminkan doanya. Giliran Abu Hurairah, ia berdoa, “Wahai Allah, aku memohon kepadamu, apa yang dimohonkan oleh dua sahabatku ini, dan aku juga bermohon kepada-Mu karuniakanlah kepadaku ilmu yang tidak akan dapat aku lupakan!!”

Nabi SAW tersenyum mendengar doa Abu Hurairah itu dan mengaminkannya pula.

Setelah kejadian itu, ia tidak pernah terlupa apapun yang pernah disabdakan oleh Nabi SAW. Ia pernah berkata tentang kemampuannya itu, walau bukan bermaksud menyombongkan dirinya,"Tidak ada sahabat Nabi SAW yang lebih hafal daripada aku akan hadits-hadits beliau, kecuali Abdullah bin Amr bin Ash, karena ia mendengar dan menuliskannya, sedangkan aku mendengar dan menghafalkannya."

Sebenarnyalah cukup banyak sahabat yang mempertanyakan bagaimana mungkin ia tahu begitu banyak hadits-hadits Nabi SAW padahal ia tidak termasuk sahabat yang memeluk Islam dan bergaul langsung dengan beliau sejak awal. Tetapi sebenarnya mudah dipahami dengan melihat kondisiyang ada. Walaupun hanya sekitar empat tahun hidup bersama Nabi SAW, tetapi ia hampir selalu bersama-sama beliau, kecuali ketika beliau sedang bersama istri-istri beliau. Ia tidak memiliki perniagaan untuk dijalankannya sebagaimana kebanyakan kaum Muhajirin. Ia juga tidak memiliki tanah pertanian dan perkebunan yang menyibukkannya seperti kebanyakan kaum Anshar. Di waktu-waktu senggangnya, kadang Nabi SAW menceritakan berbagai hal dan peristiwa sebelum keislamannya, atau terkadang Abu Hurairah yang menanyakannya kepada beliau. Jadi, pantaslah ia lebih banyak mengetahuinya daripada kebanyakan sahabat lainnya.

Pada masa khalifah Muawiyah, sang khalifah pernah mengetes kemampuan hafalannya, walau tanpa sepengetahuannya. Abu Hurairah dipanggil menghadap Muawiyah, kemudian diperintahkan menyebutkan semua hadits yang ia dengar dari Nabi SAW. Diam-diam Muawiyah menyiapkan beberapa penulis di tempat tersembunyi untuk mencatat semua hadits yang disampaikan Abu Hurairah itu secara berurutan. Setahun kemudian, Abu Hurairah dihadapkan kembali kepada Muawiyah dan disuruh menyebutkan hadits-hadits tersebut, dan diam-diam juga, Muawiyah memerintahkan para pencatat itu untuk mengecek kebenarannya.

Setelah Abu Hurairah berlalu, para penulis hadits tersebut mengatakan pada Muawiyah bahwa yang disampaikannya tersebut seratus persen persis sama dengan setahun sebelumnya, termasuk urut-urutannya, bahkan tidak ada satu hurufpun yang terlewat atau berbeda. Muawiyah hanya geleng-geleng kepala seolah tidak percaya, tetapi ini memang nyata.

Lebih dari seribu enamratus hadits yang diriwayatkan dari jalan sahabat Abu Hurairah. Tidak akan mencukupi jika semua kisah yang menyangkut dirinya dalam riwayat-riwayat tersebut dijabarkan dalam halaman ini.

Sepeninggal Nabi SAW, Abu Hurairah selalu mengisi sisa waktu hidupnya dengan ibadah dan berjihad di jalan Allah. Ia mempunyai kantung yang berisi biji-biji kurma untuk menghitung dzikirnya, ia mengeluarkannya satu persatu dari kantung, setelah habis ia memasukkannya lagi satu persatu. Secara istiqamah, ia mengisi malam hari di rumahnya dengan beribadah secara bergantian dengan istri dan anaknya (atau pelayannya pada riwayat lainnya), masing-masing sepertiga malam. Kadang ia pada sepertiga malam pertama, atau sepertiga pertengahan dan terkadang pada sepertiga malam akhirnya yang merupakan saat mustajabah. Sehingga malam hari di keluarganya selalu terisi penuh dengan ibadah.

Pada masa khalifah Umar, ia sempat diangkat menjadi amir di Bahrain. Seperti kebanyakan sahabat pilihan Nabi SAW lainnya, ia menggunakan gaji atau tunjangan yang diterima dari jabatannya untuk menyantuni dan membantu orang yang membutuhkan. Untuk menunjang kehidupannya, ia mempunyai kuda yang diternakkannya, dan dan ternyata berkembang sangat cepat sehingga ia menjadi lumayan kaya dibanding umumnya sahabat lainnya.Apalagi banyak juga orang-orang yang belajar hadits dari dirinya, dan seringkali mereka memberikan hadiah sebagaibentuk terima kasih dan penghargaan kepadanya.

Ketika Umar mengetahui Abu Hurairah memiliki kekayaan yang melebihi penghasilannya, ia memanggilnya menghadap ke Madinah untuk mempertanggung-jawabkan hartanya tersebut. Begitu tiba di Madinah dan menghadap, Umar langsung menyemprotnya dengan pedas, "Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?"

Abu Hurairah yang sangat mengenal watak dan karakter Umar, dan juga mengetahui sabda Nabi SAW bahwa Umar adalah "kunci/gemboknya fitnah", dengan tenang berkata, "Aku bukan musuh Allah SWT, dan juga bukan musuh kitab-Nya, tetapi aku hanyalah orang yang memusuhi orang yang menjadi musuh keduanya, dan aku bukan orang yang mencuri harta Allah…!"

"Darimana kauperoleh harta kekayaanmu tersebut?"

Abu Hurairah menjelaskan asal muasal hartanya, yang tentu saja dari jalan halal. Tetapi Umar berkata lagi, "Kembalikan harta itu ke baitul mal..!!"

Abu Hurairah adalah didikan Nabi SAW yang bersikap zuhud dan tidak cinta duniawiah. Walau bisa saja ia berargumentasi untuk mempertahankan harta miliknya, tetapi ia tidak melakukannya. Karena itu tanpa banyak pertanyaan dan protes, ia menyerahkan hartanya tersebut kepada Umar, setelah itu ia mengangkat tangannya dan berdoa, "Ya Allah, ampunilah Amirul Mukminin Umar…!!"

Beberapa waktu kemudian, Umar ingin mengangkatnya menjadi amir di suatu daerah lain. Dengan meminta maaf, Abu Hurairah menolak penawaran tersebut. Ketika Umar menanyakan alasannya, Abu Hurairah menjawab, "Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, dan punggungku tidak dipukul…"

Beberapa saat berhenti, ia meneruskan lagi seakan ingin memberi nasehat kepada Umar, "Dan aku takut menghukum tanpa ilmu, dan bicara tanpa belas kasih…"

Umar pun tak berkutik dan tidak bisa memaksa lagi seperti biasanya.

Pada masa kekhalifahan selanjutnya, Abu Hurairah selalu mendapat penghargaan yang tinggi berkat kedekatannya bersama Nabi SAW dan periwayatan hadits-hadits beliau, sehingga secara materi sebenarnya ia tidak pernah kekurangan, sebagaimana masa kecilnya atau masa-masa bersama Rasulullah SAW. Tetapi dalam kelimpahan harta dan ketenaran ini, Abu Hurairah tetap bersikap zuhud dan sederhana dalam kehidupannya, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.

Pernah suatu kali di masa khalifah Muawiyah, ia mendapat kiriman uang seribu dinar dari Marwan bin Hakam, tetapi keesokan harinya utusan Marwan datang menyatakan kalau kiriman itu salah alamat. Dengan tercengang ia berkata, “Uang itu telah habis kubelanjakan di jalan Allah, satu dinar-pun tidak ada yang bermalam di rumahku. Bila hakku dari baitul mal keluar, ambillah sebagai gantinya!!”

Abu Hurairah wafat pada tahun 59 hijriah dalam usia 78 tahun, pada masa khalifah Muawiyah. Ia memang pernah berdoa, “Ya Allah, saya berlindung kepada-Mu dari tahun enampuluhan, dan dari masa kepemimpinan anak-anak!!”

Pada tahun enampuluhan hijriah itu memang masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah, yang bersikap seperti anak-anak, yakni semaunya sendiri. Dan terjadi berbagai peristiwa yang bisa dikatakan sebagai ‘masa kelam’ dalam sejarah Islam, seperti Peristiwa Karbala, Peristiwa al Harrah, dan Penyerbuan Masjidil Haram.

Ketika ia sakit menjelang kewafatannya, tampak ia amat sedih dan menangis, sehingga orang-orang menanyakan sebab kesedihannya tersebut. Abu Hurairah berkata, “Aku menangis bukan karena sedih akan berpisah dengan dunia ini. Aku menangis karena perjalananku masih jauh, perbekalanku sedikit, dan aku berada di persimpangan jalan menuju ke neraka atau surga, dan aku tidak tahu di jalan mana aku berada??”

Ketika banyak sahabat yang menjenguknya dan mendoakan kesembuhan baginya, segera saja Abu Hurairah berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah rindu bertemu dengan-Mu, semoga demikian juga dengan Engkau….!!”

Tidak lama kemudian nyawanya terbang kembali ke hadirat Ilahi, dan jasadnya dimakamkan di Baqi, di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW lain yang telah mendahuluinya.

Mengenal sahabat nabi Abu Hurairah ra

 🌿🌹Selintas Mengenal Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu🌹🍀

📕Nama dan Kun-yah (Panggilan Gelar)

Nama aslinya yang shahih adalah Abdurrahman bin Sakhr, dan Kunyahnya adalah Abu Hurairah.  

👉 Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Ishaq Rahimahullah, katanya:

اسْمُ أَبِي هُرَيْرَةَ: عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَخْرٍ، مُخْتَلَفٌ فِي اسْمِهِ

                “Nama Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakr, terjadi perbedaan pendapat tentang namanya.”(Imam Abu Nu’aim, Ma’rifatush Shahabah, 4/1846)

👉 Imam Adz Dzahabi bercerita: “Terjadi banyak perbedaan pendapat pada namanya, namun yang benar adalah Abdurrahman bin Sakhr. Ada yang mengatakan namanya adalah: Ibnu Ghanam, ada juga: Abdusysyams, Abdullah. Ada yang mengatakan: Sikkiin. ada juga: ‘Aamir. Ada yang menyebut:  Bariir. Ada yang menyebut:Abdu bin Ghanam. Ada juga: ‘Amru. Ada yang menyebut:Sa’id.

                Disebutkan bahwa pada masa jahiliyah namanya adalah Abdusysyam, Abul Aswad.  Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggantinya dengan Abdullah, dan memberinya kun-yah:  Abu Hurairah (Bapak si kucing kecil).    Telah masyhur bahwa dia diberikan kun-yah dengan sebutan anak kucing.”(Siyar A’lamin Nubala, 2/578)

👉 Imam An Nawawi Rahimahullah menyebutkan:

اختلف فى اسمه اختلافًا كثيرًا جدًا. قال الإمام الحافظ أبو عمر بن عبد البر: لم يختلف فى اسم أحد فى الجاهلية ولا فى الإسلام كالاختلاف فيه. وذكر ابن عبد البر أيضًا أنه اختلف فيه على عشرين قولاً، وذكر غيره نحو ثلاثين قولاً، واختلف العلماء فى الأصح منها، والأصح عند المحققين الأكثرين ما صححه البخارى وغيره من المتقنين أنه عبد الرحمن بن صخر.

                “Terjadi perselisihan pendapat yang sangat banyak tentang namanya. Al Imam Al Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Bar mengatakan: “Belum pernah terjadi pada masa jahiliyah dan masa Islam perbedaan masalah nama sebagaimana namanya.” Ibnu Abdil Bar juga menyebutkan bahwa perbedaan ini ada dua puluh pedapat, yang lain mengatakan tiga puluh pendapat, dan para ulama berselisih pendapat mana yang paling benar. Dan, yang paling benar menurut  mayoritas muhaqqiqin (peneliti) adalah apa yang dishahihkan oleh Al Bukhari dan lainnya dari kalangan ulama yang mutqin (teliti), bahwa namanya adalah Abdurrahman bin Shakhr.”(Tahdzibul Asma wal Lughat, No. 877. Mawqi’ Ruh Al Islam)

👉 Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah ketika menjelaskan hadits kesembilan dalam  hadits Al Arba’un An Nawawiyah:

أكثر النّاس لايعرفون اسم أبي هريرة رضي الله عنه،ولهذا وقع الخلاف في اسم راوي الحديث،وأصحّ الأقوال وأقربها للصواب ما ذكره المؤلف رحمه الله أن اسمه:

عبد الرحمن بن صخر. وكنّي بأبي هريرة لأنه كان معه هرّة قد ألفها وألفته، فلمصاحبتها إيّاه كُنّي بها.

                “Kebanyakan manusia tidak mengetahui nama Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, oleh karena itu terjadilah perbedaan pendapat tentang nama periwayat hadits ini, dan pendapat yang paling benar dan lebih dekat dengan kebenaran adalah yang disebutkan oleh penyusun kitab ini (Imam An Nawawi) Rahimahullah bahwa namanya adalah: Abdurrahman bin Sakhr. Lalu, dia diberikan kun-yah (gelar)  dengan Abu Hurairah karena dia memiliki seokor kucing (Hirrah) yang senantiasa bersamanya, maka karena pertemanan itulah dia dijuluki dengan itu.”(Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Syarh Al Arbain An Nawawiyah, Hal.  129. Mawqi’ Ruh Al Islam)

📘Keutamaannya

Abu Hurairah adalah sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits, walau  kebersamaannya  dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya empat tahun.  Abu Hurairah 5374 hadits, Ibnu Umar 2630 hadits, Anas bin Malik 2286 hadits, Aisyah Ummul Mukminin 2210 hadits, Ibnu ‘Abbas 1660 hadits, dan Jabir bin ‘Abdullah 1540 hadits.

   👉             Imam Asy Syafi’i Rahimahullah mengatakan:

أبو هريرة أحفظ مَن روى الحديث فى دهره

                “Abu Hurairah adalah manusia paling hapal meriwayatkan hadits pada masanya.” (Imam An Nawawi, Tahdzibul Asma wal Lughat, No. 877)

       👉         Imam Adz Dzahabi Rahimahullah menceritakan tentang Abu Hurairah:

                “Dia adalah seorang Imam, Al Faqih (paham agama), Al Mujtahid, Al Hafizh, Seorang sahabat NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam Abu Hurairah Ad Dausi Al Yamani (orang Yaman), pemimpinnya para Huffazh yang terpercaya.  (Siyar A’lamin Nubala, 2/578).

📗Persahabatannya Dengan Nabi ﷺ

                Dia telah meriwayatkan banyak hadits NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga dari banyak sahabat besar, seperti Abu Bakar, Umar, ‘Aisyah, Ubay,  Usamah bin Zaid, Al Fadhl, Bashrah bin Abi Bashrah, dan lainnya. Sedangkan yang mengambil hadits darinya adalah para sahabat dan tabi’in, dikatakan; sampai 800 orang. Imam Bukhari mengatakan bahwa yang meriwayatkan hadits darinya ada 800 orang atau lebih.

                Disebutkan bahwa kedatangan dan keislamannya adalah pada tahun ke tujuh, pada tahun perang khaibar. Qais berkata: bahwa Abu Hurairah mengatakan keada kami: “Saya  besahabat dengan nabi selama tiga tahun.” Sedangkan Hamid bin Abdurrahman Al Humairi mengatakan: “Dia menemani nabi selama empat tahun.”  Kata Adz Dzahabi: “Inilah yang benar.” Abu Shalih mengatakan: “Abu Hurairah adalah sahabat nabi yang paling hafizh.” (Ibid)

📙Wafatnya

                Terjadi perbedaan para sejarawan kapan wafatnya. Al Waqidi menyebutkan Abu Hurairah wafat tahun 59 Hijriyah, usia 78 tahun.

 Al Waqidi mengatakan Abu Hurairah menyalatkan wafatnya  ‘Aisyah, yakni pada Ramadhan 58 Hijriyah, dan menyalatkan Ummu Salamah pada Syawal 59 Hijriyah.”

Abu Ma’syar, Dhamrah, Abdurrahman bin Maghra, Al Haitsam dan lainnya mengatakan, Abu Hurairah wafat tahun 58 Hijriyah.

Hisyam bin ‘Urwah mengatakan bahwa Abu Hurairah wafat tahun 57 Hijriyah, dua tahun sebelum wafatnya Mu’awiyah. Beliau wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi’. Wallahu A’lam (Lengkapnya lihatSiyar A’lamin Nubala, 2/578- 633)

                Semoga Allah ﷻ memasukannya ke dalam surgaNya. Amiin.

                Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.

🌿🍀🌿🍀

✏ FNH

Senin, 05 Oktober 2015

Sujud Sahwi; Apa dan Bagaimana?

Sujud Sahwi; Apa dan Bagaimana?📚
✏Farid Nu'man
✔Definisi (Ta'rif)
📓Secara bahasa (etimologi), sahwi diambil dari kata sahaa  yashuu – sahwan  suhuwwan artinya lupa, lalai. Sahaa fil amri artinya lupa terhadap sesuatu.

📔 Secara istilah (terminologi), sujud sahwi adalah dua kali sujud yang dikerjakan karena lupa terhadap suatu hal penting dari shalat.

✔Kaifiyat (cara)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
كيفيته: سجود السهو سجدتان يسجدهما المصلي قبل التسليم أو بعده
 
Caranya: sujud sahwi sebanyak dua kali sujud dilakukan oleh orang yang shalat sebelum salam atau sesudahnya. (Fiqhus Sunnah, 1/225)

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah pada sujud sahwi terdapat tasyahud dan salam atau tidak. Atau tanpa tasyahud tapi dengan salam? Atau dibedakan antara sebelum salam dan sesudahnya? Atau bagaimanakah ..?

📕Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah meringkas perbedaan tersebut sebagai berikut:
واختلفوا في التشهد في سجدتي السهو والسلام منهما فقالت طائفة لا تشهد فيهما ولا تسليم وروي ذلك عن أنس بن مالك والحسن البصري ورواية عن عطاء وهو قول الأوزاعي،والشافعي لأن السجود كله عندهما قبل السلام فلا وجه لإعادة التشهد عندهما وقد روي عن عطاء إن شاء تشهد وسلم وإن شاء لم يفعل.
وقال آخرون يتشهد فيهما لا يسلم قاله يزيد بن قسيط ورواية عن الحكم وحماد والنخعي وقتادة والحكم وبه قال مالك وأكثر أصحابه والليث بن سعد والثوري وأبو حنيفة وأصحابه. وقال أحمد بن حنبل إن سجد قبل السلام لم يتشهد وإن سجد بعد السلام تشهد وبهذا قال جماعة من أصحاب مالك وروي أيضا عن مالك.
وقال ابن سيرين يسلم منهما ولا يتشهد فيهما.

Mereka berbeda pendapat tentang bertasyahud dan salam pada dua sujud sahwi. Sekelompok ulama mengatakan tidak ada tasyahud dan tidak ada salam, pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik, Al Hasan Al Bashri, dan riwayat dari Atha, dan ini merupakan pendapat Al Auzai dan Asy Syafii, karena menurut mereka berdua semua sujud dilakukan sebelum salam, maka tidak ada alasannya mengulangi tasyahud bagi dua sujud itu. Diriwayatkan dari Atha: jika mau silahkan tasyahud dan salam, jika tidak maka jangan lakukan.

Ulama lain berpendapat, tasyahud dilakukan pada dua sujud itu namun tidak salam, ini pendapat Zaid bin Qasith, dan merupakan riwayat dari Al Hakam, Hammad, An Nakhai, Qatadah, dan ini pendapat Malik dan kebanyakan para sahabatnya,  Al Laits bin Saad, Ats Tsauri, Abu Hanifah dan para sahabatnya.

Berkata Ahmad bin Hambal, jika sujudnya sebelum salam maka tidak ada tasyahud, jika sujudnya sesudah salam maka bertasyahud. Dengan ini pula pendapat segolongan ulama dari sahabat Malik, dan diriwayatkan dari Malik pula. Ibnu Sirin mengatakan: salam pada kedua sujud itu tapi tanpa tasyahud.  (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 10/207-208)

✔Apa yang dibaca ketika sujud sahwi?

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ
Subhana man laa yashuu wa laa yanaam – Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk  madzhab Hanafi dan Syafi'i.

Namun bacaan ini tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:
لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو.
Tidak benar mengkaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Mu’jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)
Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:
قَوْلُهُ سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قُلْت لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا
Ucapannya (Ar Rafi’i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik menurutnya.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan Faraaj:
والصواب: أن يقول في سجود السهو مثل ما يقول في سجود الصلاة
Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid, Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:
وبعض الفقهاء يستحب أن يقول في سجود السهو ( سبحان من لا يسهو ولا ينام ) ، ولكن لا دليل عليه ، فالمشروع هو الاقتصار على ما يذكر في سجود الصلاة، ولا يعتاد ذكرا غيره .

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Su’al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:
قول في سجود السهو كما يقول في سجود الصلاة لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى (سبح اسم ربك الأعلى) قال (اجعلوها في سجودكم) فهو يقول كما يقول في سجود الصلاة وكذلك في الجلسة بين السجدتين يقول فيها كما يقول في الجلسة بين السجدتين في صلب الصلاة ولا ينبغي أن يقول سبحان من لا ينسى سبحان من لا يسهو أو ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala: (sabbihisma rabbikal ala) jadikanlah ia pada   sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tuakhidzna innaa siina aw akhthanaa,karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul Utsaimin, Fatawa Nur Alad Darb,  Bab Shalat No. 1531)

✔Sebab Apakah sujud sahwi terjadi?

Sebab-sebab terjadinya sujud sahwi adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ada ucapan bagus dari  Imam Daud Azh Zhahiri:
لا يسجد أحد للسهو إلا في المواضع التي سجد فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم

Tidak seorang pun sujud sahwi kecuali pada tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sujud padanya. (At Tamhid, 10/207)

🌿Sujud Sahwi terjadi dalam beberapa keadaan berikut:

1. Memberi salam padahal shalat belum sempurna.

Dalilnya adalah: Dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ قَالَ ابْنُ سِيرِينَ سَمَّاهَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نَسِيتُ أَنَا قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَقَامَ إِلَى خَشَبَةٍ مَعْرُوضَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَاتَّكَأَ عَلَيْهَا كَأَنَّه غَضْبَانُ وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَوَضَعَ خَدَّهُ الْأَيْمَنَ عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَخَرَجَتْ السَّرَعَانُ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ فَقَالُوا قَصُرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ فِي يَدَيْهِ طُولٌ يُقَالُ لَهُ ذُو الْيَدَيْنِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ أَكَمَا يَقُولُ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَالُوا نَعَمْ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى مَا تَرَكَ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وكبر. فربما سألوه: ثم سلم؟ فيقول: نبئت أن عمران بن حصين قال: ثم سلم.
       
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat bersama kami pada suatu shalat siang.” Demikianlah Abu Hurairah menamakannya tetapi saya telah lupa. Dan Abu Hurairah berkata: Lalu Beliau shalat bersama kami dua rakaat lalu salam. Kemudian Beliau bangun menuju sebuah kayu yang terbentang di masjid dan bersandar padanya seakan dia sedang marah. Lalu Beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dan merekatkan jari-jarinya, dan meletakan pipi kanannya pada punggung telapak tangan kirinya. Manusia bergegas keluar melalui pintu masjid dan mengatakan: Shalat diqashar! Pada mereka terdapat Abu Bakar dan Umar. Keduanya segan untuk menanyakan hal itu. Pada mereka ada seseorang bertangan panjang yang dinamakan   Dzulyadain, dia bertanya: Wahai Rasulullah, apakah kau lupa atau kau mengqashar shalat? Beliau menjawab: Aku tidak lupa dan tidak juga qashar. Maka nabi bertanya: Apakah benar apa yang dikatakan Dzulyadain? Mereka menjawab Benar. Maka beliau maju dan shalat melanjutkan yang tertinggal, lalu dia takbir dan sujud sebagaimana sujudnya atau lebih panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir, kemudian takbir dan sujud sebagaimana sujudnya  atau lebih panjang, kemudian dia mengangkat kepalanya lagi dan bertakbir. Barangkali mereka bertanya: Kemudian salam? Dikabarkan kepadaku bahwa Imran bin Hushain berkata: Kemudian salam.  (HR. Bukhari   No. 482 dan Muslim No. 573)

            Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam Bab As Sahwi fis Shalah was Sujud Lahu (Bab Lupa Dalam Shalat dan Sujud Karenanya)
Riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sujud sahwi setelah salam, Beliau melakukannya tanpa tasyahud, tetapi ditutup dengan salam lagi sebagaimana ditegaskan oleh Imran bin Hushain. Inilah petunjuk yang sangat jelas tentang cara sujud sahwi.

2. Kelebihan jumlah rakaat shalat.

Ini juga menyebabkan seseorang wajib menjalankan sujud sahwi. Dalilnya adalah:

Dari Abdullah bin Masud Radhiallahu Anhu, katanya:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ
“
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat zhuhur lima rakaat. Lalu ada orang yang berkata kepadanya: Apakah memang rakaat shalat ditambah? Beliau bersabda: Memang kenapa? orang itu menjawab: Engkau shalat lima rakaat. Maka Nabi pun sujud dua kali setelah salam. (HR. Bukhari No. 1168 dan Muslim No. 572)
 Riwayat ini, menunjukkan sujud sahwi Beliau lakukan setelah salam. Sujud sahwi setelah salam dilakukan karena kesalahan tersebut diketahui dan diingat setelah usai shalat (setelah salam).

3.   Lupa melakukan tasyahhud awal atau meninggalkan sunah-sunah dalam shalat.

Dalilnya adalah, dari Ibnu Buhainah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَسَبَّحُوا فَمَضَى فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ
“
Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat, beliau bangun pada rakaat kedua, maka jamaah mengucapkan ‘subhanallah’  maka beliau tetap melanjutkannya, lalu ketika selesai shalat, Belia sujud dua kali lalu salam.” (HR. An Nasa’i No. 1177, 1178,  Ibnu Majah No. 1206, 1207. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan An Nasai No. 1177, 1178, dan Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1206, 1207)
Menurut hadits ini jika sudah terlanjur tegak berdiri, maka imam tidak usah duduk lagi, dia lanjutkan saja tetapi setelah selesai shalat dia sujud dua kali (sahwi) lalu salam. Tetapi, jika berdirinya belum sempurna tegaknya, maka boleh baginya untuk duduk lagi untuk tasyahhud awal, dan akhirnya tanpa melakukan sujud sahwi.

Hal ini ditegaskan dalam riwayat dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ
“Jika salah seorang kalian berdiri ketika rakaat kedua tetapi belum sempurna, maka hendaknya duduk, jika sudah sempurna maka janganlah duduk. Lalu sujudlah dua kali sebagai sahwi.” (HR. Abu Daud No. 949, 950, Ibnu Majah No. 1208. Hadits ini shahih. Lihat Al Misykah Al Mashabih No. 1020, As Silsilah Ash Shahihah No. 341)

Riwayat ini menunjukkan bahwa sujud sahwi juga bisa dilakukan sebelum salam, yakni ketika kesalahan tersebut diketahui dan diingat masih di dalam shalat.

Hadits-hadits ini  juga menunjukkan bahwa meninggalkan sunah-sunah shalat mengharuskan pelakunya untuk sujud sahwi.

🌿 Bagaimana meninggalkan qunut shubuh?

Bagi yang meyakini qunut shubuh adalah sunah, tentu mereka meyakini jika meninggalkannya  atau salah dalam menempatkannya, maka hendaknya sujud sahwi. Inilah keyakinan  masyhur  ulama madzhab Asy Syafi’i.

Berkata Imam Asy Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu:
ولذلك لو أطال القيام ينوى به القنوت كان عليه سجود السهو لان القنوت عمل معدود من عمل الصلاة فإذا عمله في غير موضعه أوجب عليه السهو.
“
Oleh karena itu, jika seseorang memperlama berdiri, dengan itu dia meniatkan sebagai qunut, maka wajib baginya sujud sahwi, sebab qunut adalah amalan tertentu di antara amalan  shalat lainnya, jika dia melakukannya bukan pada tempatnya, maka wajib baginya sahwi.” (Imam Asy Syafi’i, Al Umm, 1/136, Darul Fikr)

Maka, bagi yang berkeyakinan sebagaimana madzhab Asy Syafi’i bahwa qunut itu adalah sunah, sedangkan meninggalkan sunah adalah termasuk sebab terjadinya sujud sahwi, maka sangat wajar dia melakukan sujud sahwi itu.

Tetapi, bagi seseorang yang tidak meyakini adanya qunut shubuh, bahkan membid’ahkannya, karena dia mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hanifah dan lainnya, maka tidak mungkin dia sujud sahwi ketika meninggalkannya, sebab menurutnya qunut shubuh adalah bid’ah dan keliru.

4. Ragu-Ragu Dalam Shalat.

Hal ini juga membuat wajib seseorang untuk sujud sahwi. Dalilnya:
Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الْوَاحِدَةِ وَالثِّنْتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهُمَا وَاحِدَةً وَإِذَا شَكَّ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالثَّلَاثِ فَلْيَجْعَلْهُمَا ثِنْتَيْنِ وَيَسْجُدْ فِي ذَلِكَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
“
Jika  di antara kalian ragu, apakah rakaat pertama dan kedua, maka jadikanlah itu sebagai rakaat pertama saja. Jika kalian ragu pada rakaat kedua dan ketiga, maka jadikanlah itu sebagai rakaat kedua. Oleh karena itu, sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. At Tirmidzi No. 396, Ibnu Majah No. 1204. Hadits ini shahih. Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 396. Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1204)

Dari hadits ini –dan hadits lain yang serupa- Jumhur ulama mengatakan bila seseorang ragu-ragu terhadap jumlah rakaat shalat, maka hendaknya dia meyakinikan rakaat yang lebih sedikit, kemudian dia melakukan sahwi.

Tetapi ada juga ulama yang mengatakan bahwa ragu-ragu dalam shalat,  seseorang yang tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya,  bukan diselesaikan dengan sahwi, tetapi harus diulang shalatnya. Hal ini diinformasikan oleh Imam At Tirmidzi berikut ini:
و قال بعض أهل العلم إذا شك في صلاته فلم يدر كم صلى فليعد .
“
Berkata sebagian ulama: jika seseorang ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya.” (Sunan At Tirmidzi No. 396)

Dan, pendapat jumhur ulama yang menyatakan sujud sahwi adalah pendapat yang lebih kuat dan telah diterangkan dalam berbagai hadits shahih.
Wa akhiru da’wana an alhamdulillahi rabbil ‘alamin .....Wallahu A’lam

Jumat, 02 Oktober 2015

Sempurnakanlah Yang Ada


Seorang ibu cantik berpakaian mewah datang ke psikiater utk konsultasi. Ia merasa seluruh hidupnya kosong tak bermakna.

Psikiater itu memanggil seorang perempuan tua; ibu Ani, salah seorang petugas di kantor..

“Saya minta bu Ani utk menceritakan bagaimana ia menemukan kebahagiaan. Yang harus Ibu lakukan hanya mendengarkan saja” demikian pinta sang Psikiater kepada 'pasien' nya...

Ani duduk di kursi & bercerita, “Suami saya meninggal karena kanker. Tiga bulan kemudian putra tunggal saya meninggal ditabrak truk. Saya tak punya siapa pun. Tak ada yg tertinggal. Saya tak bisa tidur, tak bisa makan, tak bisa senyum. Saya bahkan berpikir mau bunuh diri.

Lalu suatu malam, ketika pulang kerja, seekor kucing mengikuti saya. Karena di luar dingin, saya membiarkan anak kucing itu masuk ke dalam rumah. Saya memberinya susu, yg langsung habis diminum. Anak kucing itu mengeong & mengusapkan badannya ke kaki saya. Utk pertama kalinya dlm bulan itu, saya bisa tersenyum.

Saya lalu berpikir, jika membantu anak kucing bisa membuat saya tersenyum, mungkin melakukan sesuatu utk orang lain bisa membuat saya bahagia.

Jadi, hari berikutnya saya buat kue dan memasak lalu sy bawa ke tetangga yg sakit atau pun yg sehat di sekitar rumah sy..ataupun org yg tdk sy kenal sekalipun.

Setiap hari saya mencoba melakukan sesuatu yg baik pada seseorang. Melihat mereka bahagia membuat saya bahagia.

Hari ini, rasanya tak ada org yg bisa makan lahap & tidur pulas seperti saya. Saya menemukan kebahagiaan, kegembiraan dgn memberikan kegembiraan pada org lain ”, kata Ani.

Mendengar cerita ini, perempuan kaya itu menangis. Ia punya segala sesuatu yg bisa dibeli dengan uang, tapi dia kehilangan hal" yg tak bisa dibeli uang.

Syukur adalah magnet keberkahan. Bersyukurlah atas apa yg telah dimiliki agar kebahagiaan selalu mengisi kehidupan.

Jangan cari kesempurnaan tapi sempurnakan yg telah ada.
 
Jangan fokus pada apa yg hilang, berfokuslah pada apa yg masih dimiliki.

#copasanGrupWasap

Kamis, 01 Oktober 2015

Belajar dari Nokia


Tak dapat disangkal, bahwa mayoritas pengguna HP saat ini pasti mengenal atau bahkan pernah memiliki dan menggunakan HP merk Nokia. Awal-awal tahun 90-an, ketika teknologi HP mulai dikenal, Nokia menjadi penguasa nan digdaya. Namun, kedigdayaan Nokia bukan tanpa akhir, sebagaimana hukum alam bahwa tak ada yang abadi. Saat ini Nokia mungkin hanya menjadi kisah pelengkap sejarah perkembangan HP.
Akhir nya nokia...
Ketika Nokia resmi mundur dari panggung bersejarah, saat konferensi pers, CEO Nokia Jorma Ollila mengumumkan persetujuan akuisisi Microsoft terhadap Nokia, dia mengatakan kalimat terakhir: "Kami tidak melakukan sesuatu kesalahan, tapi saya tidak tahu mengapa kami kalah".
Lalu, bersama-sama dengan puluhan eksekutif Nokia-nya tidak tahan menitikan air mata.

Nokia merupakan perusahaan yang mengagumkan, Nokia tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi dunia berubah terlalu cepat.
Mereka terlena, terlewatkan belajar, terlewatkan perubahan, dan akhirnya kehilangan kesempatan !

Juga, mereka bukan saja melewatkan kesempatan untuk membuat uang, tetapi kesempatan untuk bertahan hidup.
Jika kita "tidak berubah", maka posisi kita akan tergantikan.
Jika PIKIRAN kita tidak mengikuti perkembangan zaman, bersiaplah utk segera tersingkir !

Hikmah Cerita :

1.Keunggulan kemarin akan digantikan oleh tren/kecenderungan esok, tdk segera merubah cara berpikir akan mati pelan2 !

2.Merubah diri sendiri namanya kelahiran kembali, dirubah oleh orang lain namanya tersingkir !

Barangsiapa yang tidak (mau) maju, sejatinya ia (telah) Mundur.

Berusahalah sebaik yang kita bisa, selebihnya biar menjadi takdir atas ikhtiar kita.
Tetap semangat ...