Selasa, 14 Oktober 2014

Lawanlah Jiwamu..!

Lawanlah Jiwamu'

Begitulah,

Kecenderungan jiwa yang melemah, tidak boleh dibiarkan.
Keinginannya untuk selalu lambat, juga jangan didiamkan.
Keinginan dan kehendak nafsu tak boleh menjadi dominan lalu menjadi kebiasaan.

Karena itulah,
Para ulama banyak yang mengajak untuk agar kita mampu menundukkan dan melawan keinginan nafsu.
Mereka mengatakan,
Bahwa melatih dan mengontrol gerak kehendak nafsu itu sebenarnya merupakan kekuatan.
Sebagaimana mereka kerap menganjurkan kita melatih dan memaksa diri agar tidak tunduk pada kebiasaan yang dikendalikan oleh nafsu,
Lalu kemudian, Ibnu Athaillah mengaitkan antara melawan kebiasaan dengan kemampuan seseorang memiliki kejernihan, kecerdasan, keimanan yang tersimpul dalam kata hikmah. Hingga ia mengatakan,

“Jika engkau bingung memilih antara dua hal, Pilihlah yang paling berat dari keduanya bagi nafsumu, lalu ikutilah itu.
Karena sesungguhnya, nafsu tidak akan merasa berat melakukan sesuatu kecuali karena sesuatu itu benar.”
Dan semua yang dirasa ringan oleh nafsu, adalah kebatilan.
“Senantiasalah gerakkan jiwamu agar terus menerus bisa menerima keinginanmu atasnya.”

Ingatlah ketika Abdullah bin Rawahah yang meninggalkan contoh untuk kita dalam melawan nafsu dan jiwanya di saat yang tepat.
Ketika ia ragu berjuang di tengah kecamuk perang Mu'tah,
Ia pun bertutur kepada jiwanya,

“Aku bersumpah kepada jiwaku, bahwa engkau harus turut berjuang. Engkau harus berjuang atau aku yang akan memaksaku berjuang..”

Teruslah berjuang dan bergerak,
Atau bila tidak, kita sendirilah yang akan memaksa diri untuk berjuang dan bergerak.

#taujihUstadz

Belajar dari Sang Pembangun

Di era tahun 1930-an, dikisahkan ada seorang mahasiswa baru di fakultas pertanian di sebuah perguruan tinggi di Mesir. Ketika waktu sholat tiba, diceritakan bahwa mahasiswa itu mencari-cari tempat sholat. Setelah mencari-cari dengan susah payah, akhirnya ia tak mendapatkan apa yang ia cari. Akhirnya ia bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa kampus. “Di fakultas ini tidak ada mushola, yang ada hanya ruangan kecil dibawah lorong sana,” jawab salah satu mahasiswa.

Si mahasiswa pun akhirnya berangkat menuju lokasi yang dimaksud di bawah lorong tersebut. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah tidak percaya atas apa yang ia lihat. Sebuah kamar kecil, kumuh, jorok dan tidak terawat, itulah yang ia dapatkan. “Mereka yang ada di kampus ini, sholat apa tidak ya….,” Tanya mahasiswa ini dalam hatinya dengan terheran-heran. Karena melihat tempat sholat didepannya, tidak layak untuk disebut sebagai mushola.

Iapun tidak pedulikan dengan pertanyaan-pertanyaan hatinya tersebut. Tanpa panjang kata, ia segera masuk ke ruangan kecil lagi kumuh tersebut. Ia dapatkan tikar lama dan kotor. Ia juga melihat ada satu orang yang sedang sholat. Setelah selesai sholat, bertanyalah mahasiswa ini kepada orang yang sholat tadi, yang ternyata karyawan di kampus. “Maaf pak, apa bapak sholat disini?” “Iya, emang kenapa?” jawab karyawan penuh yakin. “Orang-orang yang diatas itu, tidak ada yang sholat dan tempat ini satu-satunya mushola yang ada di kampus,” tambah karyawan memberikan informasi kepada mahasiswa baru tersebut.

Dengan penuh yakin dan semangat yang tinggi, si mahasiswa berkata kepada karyawan, “Kalau saya, saya tidak akan sholat dibawah lorong ini.” Bergegaslah ia keluar ke atas dan mencari-cari lapangan yang layak yang ada di kampus. Setelah menemukan tempat yang layak, ia melakukan hal-hal yang aneh, menurut mahasiswa-mahasiswa fakultas. Ia mengumandangkan adzan dengan suara yang sangat keras dan kencang.

Melihat apa yang dilakukan oleh yuniornya, para mahasiswa itu terkejut dengan kejadian yang mereka lihat. Sambil mengejek dan mengolok-olok mahasiswa baru, para senior dari mahasiwa baru ini menuding-nudingnya dan mengatakan, “Huuuuuu, kampungan, kuno ….” Bahkan yang lebih menyakitkan hati adalah kata-kata mereka, “Gila kamu ya….!”

Namun mahasiwa baru tetap bertahan dan tak bergeming. Ia duduk sejenak kemudian bangkit dan mengumandangkan iqomat, “Allahu Akbar Allahu Akbar……” dan tak satupun yang ikut sholat bersamanya. Sehari dua hari….. mahasiswa ini selalu diledek dan dicibiri oleh teman-teman mahasiswa lainnya.

Akhirnya, ledekan dan cibiran para mahasiswa itu menjadi pemandangan setiap hari. Tak ada hari selain menertawakan dan mengejek-ejek mahasiswa baru itu. Setelah beberapa hari, ada kejadian aneh. Karyawan yang biasa sholat di tempat yang kumuh dan jorok dibawah lorong itu, akhirnya ikut sholat berjamaah dengan mahasiswa. Hari berikutnya, jamaah sholat bertambah menjadi empat termasuk sang mahasiswa. Tepat satu pekan, salah satu dosen kampus akhirnya ikut sholat berjamaah.

Berita tentang sholat berjamaah di tempat terbuka itu, kini tersebar di fakultas dan menjadi buah bibir para mahasiswa. Dekan fakultas pun akhirnya memanggil mahasiswa tersebut. “Wahai anakku, apa yang terjadi itu seharusnya tidak boleh terjadi. Pemandangan yang tidak wajar, sholat di lapangan terbuka.” Tapi melihat kegigihan dari mahasiwa baru ini, pihak dekan memberikan aspirasinya dengan membangunkan sebuah mushola baru. “Yang bersih dan layak untuk sholat berjamaah bagi siapa yang mau sholat didalamnya,” kata dekan penuh ekspresi. 

Dan akhirnya…. Sebuah masjid pertama telah dibangun di fakultas perguruan tinggi di Mesir

Melihat kejadian itu, ternyata mahasiswa-mahasiswa lain dari fakultas-fakultas yang lain, ikut cemburu. “Kenapa kok fakultas pertanian saja, fakultas kita tidak dibangun masjid….” Teriak mereka memprotes rektorat. Dan ….. akibat protes itu, semua fakultas di perguruan tinggi itu dibangunkan masjid.

Hingga hari ini, baik masih hidup atau sudah wafat, amal mahasiswa ini akan terus dikenang. Akibat kejadian di fakultas pertanian itu, semua kampus di Mesir dibangunkan masjid yang mengumandangkan kebesaran Allah ta’ala. 
Allahu Akbar….Allahu Akbar…. 

Lalu, tahukah Anda siapa gerangan mahasiswa itu…..? 

Itulah Hasan Al-Banna 

“Bertindaklah secara positif dan katakan, bahwa Anda mampu untuk merubah…..” #

Kamis, 02 Oktober 2014

Antara Istiqamah dan Tsabat

Ikhwati fillah...
Sambil menemani ifthor antum semua, saya ingin merefresh  apa yg pernah saya  sampekan disini...
Tentang sesuatu yg mesti  menjadi bekalan kita dalam menapaki jalan ini. Yaitu antara sikap Istiqamah dan Tsabat.

Apa itu istiqomah? Apa bedanya dg tsabat?

Sebenarnya sama.
Jika disebut bersama, dua istilah tsb menonjolkan perbedaan.
Tetapi jika disebut terpisah, pd dasarnya dua istilah tsb punya arti yg sama.
Keduanya -istiqomah dan tsabat- berkaitan dg waktu yg panjang.
Inti dari keduanya adalah Sabar atau Kesabaran..
Perjalanan panjang itu perjalanan yg mengharuskan kita untuk berpikir tentang etape atau tahapan.

Istiqomah dan tsabat ini -jika dikaitkan dg etape2 tsb- memiliki sedikit  perbedaan makna.

So...apa perbedaan keduanya?
Tsabat adalah landasan sikap yg membuat seseorang bergerak dg membuat PERSIAPAN2 yg baik di setiap etape, mencari2 peluang di setiap etape, dan melakukan eksekusi2 yg tepat di setiap etape.

Istiqomah adalah landasan sikap yg dicerminkan oleh seseorang dg kegigihannya MEMPERTAHANKAN nilai atau sesuatu yg sdh ada di etape sebelumnya.

Bukan tsabat jika tdk melakukan persiapan, tdk mencari2 peluang dan tdk tepat mengeksekusi peluang.
Dan bkn istiqomah jika nilai yg pernah ada hilang dan semakin hilang dlm etape2 perjalanan yg panjang ini.

Sejatinya, perjuangan ini milik Allah, terjamin akan tetap ada sampai  yaumul qiyamah kelak. perjuangan dalam bentuk taurits/pewarisan risalah. Secara Sunnatullah, proses itu akan dipegang oleh rijalud da'wah. Dan Allah sendiri yg memilih diantara hambaNya  utk mengemban tugas mulia ini.

Siapa saja yg  tidak siap dan menyiapkan diri,  akan diganti oleh yg fresh dan kuat.
Inilah pentingnya istiqamah dan tsabat.

Proses ini tidak kenal yg namanya finish. Menang - kalah pemilu bukanlah finish. Dapat kursi presiden/wapres bukanlah finish. Finish itu saat rijal2 nya wafat dan masuk surga.

Dalam hal ini, Allah menyediakan media berupa proses perjuangan, yg pengen ikut ya ikut.
Ikut berarti siap dgn harakah, yg di dlmnya ada tadhiyah, jg tsabat/istiqomah. Determinasi tanpa ujung kecuali saat akhir hembusan nafas.
Utk itu, persiapkan dirimu selalu wahai ikhwah....

Demikian kuliah onlen ttg istiqamah dan tsabat.

Wallahu a'lam.

Taken from kuwas alias kuliah wasap.

Senin, 29 September 2014

Jangan MAKSIAT

Khalid bin Walid adalah seorang petarung tiada banding di zaman Rasulullah hingga sahabat. Berbagai peperangan yang dipimpinnya selalu meraih kemenangan. Semua musuh-musuhnya dapat ditaklukan dengan pedangnya. Maka pantaslah jika Kholid mendapat julukan dari Rasulullah “Si Pedang Allah”

Saksikanlah perang Yarmuk!! 10ribu pasukan muslimin dibawah komando Kholid mampu menghancurkan 240ribu pasukan Romawi. Disaat yang sama, pada saat perang Yarmuk tersebut, ia memiliki pasukan khusus sebanyak 100 pasukan. Ketahuilah, 100 pasukan khusus ini mampu menghantam habis 40ribu pasukan Romawi. Luar biasa!!

Bagaimana Kholid bisa begitu hebat?

Setelah Kholid dan pasukannya berhasil menghancurkan pasukan Persia di Irak, Kholid kemudian mendapat perintah dari Khalifah Abu Bakar ra. Agar segera berangkat ke Syam untuk menghadang pasukan Romawi yang sudah begitu nafsu ingin membumikan kaum Muslimin pada saat itu. Maka Kholid dan 10ribu pasukannya pun berangkat ke Syam. Ketika Kholid hendak berangkat, Abu Bakar as memberikan nasihat yang begitu singkat dan padat. Namun begitu dalam makna dan efek dari sebuah nasihat tersebut. “Ya Kholid....Jangan Maksiat!!” begitulah nasihat Abu Bakar as kepada Kholid bin walid.

Diperjalanan menuju Syam, Kholid merasa gundah, resah dan gelisah. Ada apakah gerangan, yang membuat hati Kholid tiada menentu??

Kholid menghentikan langkahnya, diikuti oleh seluruh pasukannya. “yaa jundullah....siapa diantara kalian yang tidak memiliki wudhu?” Kholid berteriak kepada pasukannya. Setelah dicek, ternyata ada 1 dari 10ribu pasukannya yang tidak memiliki wudhu!

1 orang pasukannya yang tidak memiliki wudhu telah membuat hati Kholid gelisah. 1 orang yang tak memiliki wudhu adalah maksiat kepada Allah baginya..!!

Rupanya inilah rahasia kesuksesan Kholid dalam menghadapi musuh dalam peperangan yang jumlahnya berlipat lipat dari jumlah kaum muslimin. Keteguhannya dalam mengimani Allah dan Rasul-Nya, Keistiqomahannya dalam menjaga keikhlasan dalam beramal, sikapnya yang tak ingin menonjolkan diri sebagai panglima hebat, terbentenginya hati dari sifat melampaui batas, serta keteguhannya dalam shaff barisan dalam kondisi bagaimanapun barisan itu, menjadi rahasia kemenangan yang selalu terulang.

Bagi Khalid, Tsabat (keteguhan hati) adalah kunci utama dalam meraih kemenangan dalam pertempuran. Satu atau dua tentara yang melarikan diri dari pertempuran akan berdampak negatif pada keteguhan hati pasukan, bahkan lebih parah dan berbahaya dari serangan musuh.

Kisah Kholid yang luar biasa ini hendaknya menjadi renungan kita bersama. Ketika kita menganggap sebuah pengorbanan dalam dakwah ini sudah begitu luar biasa, saat harta kian terkuras, ketika tenaga kian habis, ketika pikiran terus diberikan dalam menyusun puzzle puzzle dakwah, siang malam bertarung mencoba memberikan yang terbaik untuk dakwah ini, dan berharap penuh agar ALLAH memberikan kemenangan atas segala perjuangan yang telah dipersembahkan, seolah layak mendapatkan apa yang diinginkan karena telah merasa berkorban dengan sepenuh daya dan kekuatan..lantas, kemenangan itu tak kunjung hadir, kemenangan itu hanya sekedar angan yang tak jua datang. Semua perjuangan dan pengorbanan siang malam itu...hanya menyisakan air mata; tangis haru penuh pertanyaan...serta sesaknya dada akibat tersianya seluruh pengorbanan ”ya Allah...kurangkah apa yang telah kami lakukan, tidak cukupkah pengorbanan yang telah kami berikan??, kami korbankan apa yang telah kami miliki, harta, waktu, tenaga, keluarga, pikiran serta semua potensi sudah kami persembahkan, lalu mengapa Engkau tidak memberikan kemenangan??”

Lihatlah 10ribu pasukan dengan keteguhan iman yang tak usah dipertanyakan lagi kualitasnya, mereka adalah barisan dengan keteguhan hati yang luar biasa, ternyata 1 orang yang tak memiliki wudhu saja menjadi kegelisahan dan kekhawatiran bagi kafilah dakwah itu. Pantaslah Kholid mendapat kemenangan demi kemenangan. Bagaimana dengan kafilah dakwah kita hari ini??

Jika pengorbanan terasa sudah begitu hebat, yakinkah tidak ada yang maksiat diantara kita?? Jika 1 orang tak berwudhu diantara 10ribu pasukan menjadi kekhawatiran Khalid bin walid..bagaimana dengan kita? Sudah pantaskah kita mendapatkan kemenangan dari-Nya?? Yakinkah diantara pengorbanan yang luar biasa itu tak ada maksiat kepada-Nya??

Mari kita bermuhasabah. Mengevalusi kerja dakwah dan amal amal kita yang selama ini mungkin harus “didandani” kembali. Keikhlasan dalam beramal, kesabaran dalam menghadapi fitnah, keteguhan hati ditengah terjangan ujian dan hantaman mihnah, harus menjadi PR yang sama sama harus kita jawab. Mari kita evalusi diri kita masing-masing. Bukan mengevalusi orang lain, bukan menyalahkan saudara seiman, tapi mari kita berkaca pada cermin kejujuran, sudah sempurnakah amal kita sendiri? Tidak ada maksiatkah selama perjuangan? Jika tidak memiliki wudhu saja adalah sebuah maksiat, bagaimana dengan yang melalaikan sholat??

jangan maksiat...wahai saudaraku....

Senin, 01 September 2014

Harapan ku di tanggal ini

Manusia terbaik adalah yang mengisi waktu-waktunya dengan amalan yang mengantarkan kepada kebaikan dunia dan akhiratnya.

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ“

Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)

Orang yang banyak kebaikannya, setiap kali dipanjangkan umurnya maka akan banyak pahalanya dan dilipatgandakanderajatnya. Maka bertambahnya umur akan bertambah pula pahala dan amalannya.

Tidak ada hebatnya menjadi tua jika itu berarti bertambah bawel, bertambah rewel, bertambah sensitif..
Karena seharusnya Become older become wiser

Mukmin itu, bertambah usianya..bertambah kebaikannya..

أَللَّهُمَّ طَوِّلْ عُمُوْرَنَا فِى طَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُوْلِكَ وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ 

Ya Allah...panjangkan usia kami dalam ketaatan kepada Mu dan taat kpd rasul Mu dan jadikanlah kami hamba2MU yg shaleh.

Rabu, 20 Agustus 2014

Anugerah dari Allah atau ISTISRAJ?

Semoga postingan ini bisa menjadi pengingat kita semua...bahwa apa yg Allah berikan kpd hambaNya, ada kalanya merupakan adzab....

Rajin Bermaksiat Namun Rezeki Lancar dan Sukses Berbisnis

Ada orang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar, bisnisnya sukses, pelitnya luar biasa. Gimana tuh?

Jawabannya ada pada hadits berikut ini:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا ما يحب وهو مقيم على معصيته ؛ فاعلم أنما ذلك منه استدراج ، ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ} [الأنعام: 44].

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW membaca firman: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ: {سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لا يَعْلَمُونَ} [القلم: 44] ؛ قَالَ: كُلَّمَا أَحْدَثُوا خَطِيئَةً جددنا لهم نعمة وأنسيناهم الاسْتِغْفَارَ.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajallah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

عن سفيانَ في قولِهِ {سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُون} [الأعراف: 182] قالَ: نُسبغُ عَليهم النِّعمةَ ونَمنَعُهم الشكرَ.

Sufyan ats Tsauriy menjelaskan firman Allah: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Kami karuniakan nikmat kepada mereka dan kami halangi mereka untuk bersyukur.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk azab yang tidak disadari. Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman azab akhirat tidak dipedulikan. Kalaulah standar sayangnya Allah itu dengan kemewahan hidup dunia, Qarunlah orang yang paling disayangi Allah. Tapi akhirnya ia binasa ditelan bumi.

Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.

Penuntut ilmu juga begitu. Jangan mengira dapat nilai bagus dan selalu sukses adalah ukuran kasih sayang Allah kepadanya. Tapi lihatlah, bagaimana shalat berjama’ahnya, bagaimana ketaatan-ketaatannya kepada Allah dan bagaimana usahanya untuk mengamalkan ilmunya.

Maka berhati-hatilah, kita sedang di posisi mana?

Kesimpulan: Standar sayang atau marahnya Allah itu adalah sejauh mana kita mampu taat kepada-Nya atau sedalam apa tenggelam dalam kemaksiatan.

Kamis, 07 Agustus 2014

Satu Hari di Akhirat

Satu hari di akhirat....

ۚ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu. (Surat al Hajj (22) ayat 47)

يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (surat As Sajdah (32) ayat 5)

Misalnya diasumsikan bhw 1 hari di akhirat juga ada 24 jam, maka :

✔ 1 hari akhirat = 1000 tahun.
✔ 24 jam akhirat = 1000 tahun.
✔ 3 jam akhirat = 125 tahun.
✔ 1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Apabila umur manusia itu rata-rata
60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja...
Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu.

Semoga kita senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. 

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya negeri akhirat itu adalah terlebih baik bagi orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” [Al-An'am ayat 32]

Masihkah kita hanya 'main-main' dalam mengisi kehidupan ini ?

Catatan :
Dalam ayat lain, Al Quran juga menyebutkan bhw 1 hari di akhirat nilainya sama dengan 50 rb tahun di dunia...
Sebagaimana tersebut dalam surat Al Ma'arij (70) ayat 4 :

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.