Selasa, 08 Oktober 2013

belajar ZUHUD dari Abu Ubaidah

Abu Ubaidah adalah seorang sahabat yang terpercaya dan dicintai Rasulullah saw. Dia ikut banyak peperangan membela panji-panji Islam. Bahkan, menjadi panglima perang yang sangat memperhatikan keselamatan tentaranya.

Bahkan Abdullah bin Mas’ud bangga dengannya. “Paman-pamanku yang paling setia sebagai sahabat Rasulullah saw. Cuma tiga orang. Mereka adalah Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah,” begitu ujarnya.

Rasulullah saw. sendiri mengakui kualitas Abu Ubaidah. “Bagi suatu kaum adalah seseorang yang paling mereka percayai dan bagi kaum ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah,” begitu sabda Rasulullah saw.

Di masa pemerintahan Abu Bakar sebagi Khalifah, Abu Ubaidah dipercaya sebagai Ketua Pengawas Perbendaharaan Negara. Abu Bakar kemudian mengangkatnya menjadi Gubernur Syam. Jabatan ini diemban Abu Ubaidah hingga di masa pemerintahan Umar bin Khattab.
Tak lama kemudian Umar mengangkat Abu Ubaidah sebagai Panglima Perang menggantikan Khalid bin Walid.

Suatu ketika, ketika di masa pemerintahan Abu Ubaidah, Syam dikepung musuh. Umar berkirim surat kepada Abu Ubaidah. Isinya, “Sesunggunya tidak akan pernah ada seorang mukmin yang dibiarkan Allah dalam suatu penderitaan melainkan Dia akan melapangkan jalannya, hingga kesulitan akan dibalas-Nya dengan kemudahan.”

Surat itu dibalas oleh Abu Ubadah dengan kalimat, “Sesungguhnya Allah swt. telah berfirman: Ketahuilah bahwasanya kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau, bermewah-mewah, dan saling membanggakan kekayaan dan anak pinak di antaramu, ibarat hujan (menyirami bumi), tumbuh-tumbuhan (menjadi subur menghijau), mengagumkan para petani. Lalu tanaman itu mengering, tampak menguning, kemudian menjadi rapuh dan hancur. Sedang di akhirat kelak, ada azab yang berat (bagi mereka yang menyenangi kemewahan dunia) namun ada pula ampunan dan keridhaan Allah (bagi yang mau bertobat). Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu belaka.” (Al-Haddid: 20)

Surat balasan Abu Ubaidah ini oleh Umar dibacakan di depan kaum muslimin seusai melaksanakan shalat berjamah. “Wahai penduduk Madinah, sesungguhnya Abu Ubaidah mengharapkan aku dan kalian semua suka berjihad,” kata Umar.

Memang Abu Ubaidah dikenal orang di zamannya sebagai orang yang zuhud. Umar pernah berkunjung ke Syam ketika Abu Ubaidah menjabat sebagai gubernur. “Abu Ubaidah, untuk apakah aku datang ke rumahmu?” tanya Umar. Jawab Abu Ubaidah, “Untuk apakah kau datang ke rumahku? Sesungguhnya aku takut kau tak kuasa menahan air matamu begitu mengetahui keadaanku nanti.”

Namun Umar memaksa. Akhirnya Abu Ubaidah mengizinkan Umar berkunjung ke rumahnya. Sungguh Umar terkejut. Ia mendapati rumah Sang Gubernur Syam kosong melompong. Tidak ada perabotan sama sekali.

Umar bertanya, “Hai Abu Ubaidah, di manakah penghidupanmu? Mengapa aku tidak melihat apa-apa selain sepotong kain lusuh dan sebuah piring besar itu, padahal kau seorang gubernur?”
“Adakah kau memiliki makanan?” tanya Umar lagi. Abu Ubaidah kemudian berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang dan memungut arang yang didalamnya.

Umar pun meneteskan air mata melihat kondisi gubernurnya seperti itu. Abu Ubaidah pun berujar, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah sudah kukatakan tadi bahwa kau ke sini hanya untuk menangis.” Umar berkata, “Ya Abu Ubaidah, banyak sekali di antara kita orang-orang yang tertipu oleh godaan dunia.”

Suatu ketika Umar mengirimi uang kepada Abu Ubaidah sejumlah empat ribu dinar. Orang yang diutus Umar melaporkan kepada Umar, “Abu Ubaidah membagi-bagi kirimanmu.” Umar berujar, “Alhamdulillah, puji syukur kepada-Nya yang telah menjadikan seseorang dalam Islam yang memiliki sifat seperti dia.”

Begitulah Abu Ubaidah. Hidup baginya adalah pilihan. Ia memilih zuhud dengan kekuasaan dan harta yang ada di dalam genggamannya. Baginya jabatan bukan aji mumpung buat memperkaya diri. Tapi, kesempatan untuk beramal lebih intensif guna meraih surga.

Senin, 07 Oktober 2013

belajar dari Rabi'ah bin Ka'ab


Rabi'ah bin Ka'ab bercerita tentang riwayat hidupnya dalam Islam. Katanya, "Dalam usia muda jiwaku sudah cemerlang dengan cahaya iman. Hati kecilku sudah penuh berisi pengertian dan pemahaman tentang Islam. Pertama kali aku berjumpa dengan Rasulullah saw. aku langsung jatuh cinta kepada beliau dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sangat tertarik kepadanya, sehingga aku berpaling kepada beliau seorang dari yang lain.

Pada suatu hari hati kecilku berkata, "Hai Rabi'ah! mengapa engkau tidak berusaha untuk berkhidmat menjadi pelayan kepada Rasulullah saw.? Cobalah usahakan. Jika beliau menyukaimu engkau pasti akan bahagia berada di samping beliau dalam mencintainya dan akan beroleh keuntungan di dunia dan akhirat."

Berkat desakan hati, aku segera mendatangi Rasulullah saw. dengan penuh harapan semoga beliau menerimaku untuk berkhidmat kepadanya. Ternyata harapanku tidak sia-sia. Beliau menyukai dan menerimaku menjadi pelayannya. Sejak hari itu aku senantiasa di samping beliau, selalu berada di bawah bayang-bayangnya. Aku ikut ke mana beliau pergi dan selalu siap dalam lingkungan tempat beliau berada. Bila beliau mengedipkan mata ke arahku, aku segera berada di hadapannya. Bila beliau membutuhkan sesuatu, aku sudah siap sedia melayaninya.

Aku melayani beliau sepanjang hari sampai habis waktu Isya' yang terakhir. Ketika beliau pulang ke rumahnya hendak tidur, barulah aku berpisah dengannya. Tetapi, hatiku selalu berkata, "Hendak ke mana engkau hai Rabi'ah? Mungkin Rasulullah membutuhkanmu tengah malam." Karena itu aku duduk di muka pintu beliau dan tidak pergi jauh dari bendul rumahnya.

Tengah malam beliau bangun untuk salat. Sering kali aku mendengar beliau membaca surat Al-Fatihah. Beliau senantiasa membacanya berulang-ulang sejak dari pertengahan malam ke atas. Setelah mataku mengantuk benar, barulah aku pergi tidur. Sering pula aku mendengar beliau membaca, "Sami'allaahu liman hamidah." Kadang-kadang beliau membacanya ulang dengan tempo yang lebih lama daripada jarak ulangan membaca Al-Fatihah.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw., jika seorang berbuat baik kepadanya, beliau lebih suka membalasnya dengan yang paling baik. Begitulah, beliau membalas pula pelayananku kepadanya dengan yang paling baik. Pada suatu hari beliau memanggilku seraya berkata, "Hai Rabi'ah bin Ka'ab!"

"Saya, ya Rasulullah!" jawabku sambil bersiap-siap menerima perintah beliau.

"Katakanlah permintaanmu kepadaku, nanti kupenuhi," kata beliau.

Aku diam seketika sambil berpikir. Sesudah itu aku berkata, "Ya Rasulallah, berilah aku sedikit waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta. Setelah itu akan kuberitahukan kepada Anda."

"Baiklah kalau begitu," jawab Rasulullah.

Aku seorang pemuda miskin, tidak berkeluarga, tidak punya harta dan tidak punya rumah tinggal di shuffatul masjid (emper masjid), bersama-sama dengan kawan senasib, yaitu orang-orang fakir kaum muslimin. Masyarakat menyebut kami "dhuyuful Islam" (tamu-tamu) Islam. Bila seorang muslim memberi sedekah kepada Rasulullah, sedekah itu diberikan beliau kepada kami seluruhnya. Bila ada yang memberikan hadiah kepada beliau, diambilnya sedikit dan lebihnya diberikan beliau kepada kami.

Nafsuku mendorong supaya aku meminta kekayaan dunia kepada beliau, agar aku terbebas dari kefakiran seperti orang-orang lain yang menjadi kaya, punya harta, istri, dan anak. Tetapi, hati kecilku berkata, "Celaka engkau, hari Rabi'ah bin Ka'ab! Dunia akan hilang lenyap dan rezkimu di dunia sudah dijamin Allah, pasti ada. Padahal, Rasulullah saw. yang berada dekat Rabnya, permintaannya tak pernah ditolak. Mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah kebajikan akhirat untukmu."

Hatiku mantap dan merasa lega dengan permintaan seperti itu. Kemudian aku datang kepada Rasulullah, lalu beliau bertanya, "Apa permintaanmu, wahai Rabi'ah?"

Jawabku, "Ya Rasulullah! aku memohon semoga Anda sudi mendoakan kepada Allah Taala agar aku menjadi teman Anda di surga."

Agak lama juga Rasulullah saw. terdiam. Sesudah itu barulah beliau berkata, "Apakah tidak ada lagi permintaamu yang lain?"

Jawabku, "Tidak, ya Rasulullah! rasanya tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut bagiku."

"Kalau begitu bantulah saya dengan dirimu sendiri. Banyak-banyaklah kamu sujud," kata Rasulullah. Sejak itu aku bersungguh-sungguh beribadah, agar mendapatkan keuntungan menemani Rasulullah di surga, sebagaimana keuntunganku melayani beliau di dunia.
Tidak berapa lama kemudian Rasulullah saw. memanggilku, katanya, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?"

Jawabku, "Aku tidak ingin ada sesuatau yang menggangguku dalam berkhidmat kepada Anda, ya Rasulullah. Di samping itu, aku tidak mempunyai apa-apa untuk mahar kawin, dan untuk kelangsungan hidup atau tegaknya rumah tangga.

Rasulullah diam saja mendengar jawabanku. Tidak lama kemudian beliau memanggilku kali yang kedua. Kata beliau, "Apakah engkau tidak hendak menikah, ya Rabi'ah?"

Aku menjawab seperti jawaban yang pertama. Tetapi setelah aku duduk sendiri, aku menyesal. Aku berkata kepada diri sendiri, "Celaka engkau hai Rabi'ah! Mengapa engkau menjawab begitu? Bukankah Rasulullah lebih tahu apa yang baik bagimu mengenai agama maupun dunia, dan beliau lebih tahu daripada kamu tentang dirimu sendiri? Demi Allah jika Rasulullah memanggilku lagi dan bertanya masalah kawin, akan kujawab, ya."

Memang tidak berapa lama kemudian Rasululah saw. menanyakan kembali, "Apakah engkau tidak hendak menikah, hai Rabi'ah?"

Jawabku, "Tentu, ya Rasulullah! Tetapi, siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda maklumi."

Kata Rasululah saw., "Temuilah keluarga Fulan. Katakan kepada mereka Rasulullah menyuruh kalian supaya menikahkan anak perempuan kalian, si Fulanah dengan engkau."

Dengan malu-malu aku datang ke rumah mereka. Lalu kukatakan, "Rasulullah mengutusku ke sini, supaya kalian mengawinkan denganku anak perempuan kalian si Fulanah."

Jawabku, "Ya, si Fulanah?"

Kata mereka, "Marahaban, bi Rasulilah, wa marhaban bi rasuli Rasulillah!" (Selamat datang ya Rasulullah dan dan selamat datang utusan Rasulullah. Demi Allah! Utusan Rasulullah tidak boleh pulang, kecuali setelah hajatnya terpenuhi!"

Lalu, mereka nikahkan aku dengan anak gadisnya. Sesudah itu aku datang menemui Rasulullah saw. Kataku, "Ya Rasulullah! aku telah kembali dari rumah keluarga yang baik. Mereka mempercayaiku, menghormatiku, dan menikahkan anak gadisnya denganku. Tetapi, bagaimana aku harus membayar mahar mas kawinnya?"

Rasulullah memanggil Buraidah ibnu al-Kasib, seorang sayyid di antara beberapa sayyid dalam kaumku, Bani Aslam. Kata beliau, "Hai, Buraidah! kumpulkan emas seberat biji kurma, untuk Rabi'ah bin Ka'ab!"

Mereka segera melaksanakan perintah Rasulullah saw. tersebut. Emas sudah terkumpul untukku. Kata Rasulullah kepadaku, "Berikan emas ini kepada mereka. Katakan, "Ini mahar kawin anak perempuan kalian."

Aku pergi mendapatkan mereka, lalu kuberikan emas itu sebagaimana dikatakan Rasulullah. Mereka sangat senang dan berkata, "Bagus, banyak sekali!"

Aku kembali menemui Rasulullah saw. Kataku, "Belum pernah kutemui suatu kaum yang sebaik itu. Mereka senang sekali menerima emas yang aku berikan. Walaupun sedikit, mereka mengatakan, "Bagus, banyak sekali!" Sekarang, bagaimana pula caranya aku mengadakan kenduri, sebagai pesta perkawinanku? Dari mana aku akan mendapatkan biaya, ya Rasulullah?"

Rasulullah berkata kepada Buraidah, "Kumpulkan uang seharga seekor kibasy, beli kibasy yang besar dan gemuk!"

Kemudian Rasulullah berkata kepadaku, "Temui Aisyah! Minta kepadanya gandum seberapa ada padanya."

Aku datang menemui 'Aisyah Ummul Mukminin. Kataku, "Ya, Ummul Mukminin! Rasulullah menyuruhku minta gandum seberapa yang ada pada ibu."

'Aisyah menggantangi gandum yang tersedia itu di rumahnya. Katanya, "Inilah yang ada pada kami, hanya ada tujuh gantang. Demi Allah! tidak ada lagi selain ini, bawalah!"

Aku pergi ke rumah istriku membawa kibasy dan gandum. Kata mereka, "Biarlah kami yang memasak gandum. Tetapi kibasy, sebaiknya Anda serahkan kepada kawan-kawan Anda memasaknya."

Aku dan beberapa orang suku Aslam mengambil kibasy tersebut, lalu kami sembelih dan kuliti, sesudah itu kami masak bersama-sama. Kini sudah tersedia roti dan daging untuk kenduri perkawinanku, beliau datang memenuhi undanganku. Alhamdulillah.

Kemudian, Rasulullah menghadiahkan sebidang kebun kepadaku, berbatasan dengan kebun Abu Bakar Shidiq. Dunia kini memasuki kehidupanku. Sehingga, aku sempat berselisih dengan sahabat senior Abu Bakar Shidiq, mengenai sebatang pohon kurma. Kataku kurma itu berada dalam kebunku, jadi milikku. Kata Abu bakar, tidak, kurma itu berada dalam kebunnya dan menjadi miliknya. Aku tetap ngotot dan membantahnya, sehingga dia mengucapkan kata-kata yang tak pantas didengar. Setelah dia sadar atas keterlanjurannya mengucapkan kata-kata tersebut, dia menyesal dan berkata kepadaku, "Hai Rabi'ah! Ucapkan pula kata-kata seperti yang saya lontarkan kepadamu, sebagai hukuman (qishash) bagiku!"

Jawabku, "Tidak! Aku tidak akan mengucapkannya!" Kata Abu Bakar, "Saya adukan kamu kepada Rasulullah, kalau engkau tidak mau mengucapkannya!" Lalu dia pergi menemui Rasulullah saw. Aku mengikutinya dari belakang.

Kaumku Bani Aslam mencela sikapku. Kata mereka, "Bukankah dia yang memakimu terlebih dahulu? Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?"

Jawabku kepada mereka, "Celaka kalian! Tidak tahukah kalian siapa dia? Itulah "Ash-Shidiq", sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum muslimin. Pergilah kalian segera sebelum dia melihat kalian ramai-ramai di sini. Aku khawatir kalau-kalau dia menyangka kalian hendak membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lalu dalam kemarahannya dia datang mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah pun akan marah karena kemarahan Abu Bakar. Karena kemarahan beliau berdua, Allah akan marah pula, akhirnya si Rabi'ah yang celaka?"

Mendengar kata-kataku mereka pergi. Abu Bakar bertemu dengan Rasululah saw., lalu diceritakannya kepada beliau apa yang terjadi antarku dengannya, sesuai dengan fakta. Rasulullah mengangkat kepala seraya berkata padaku, "Apa yang terjadi antaramu dengan Shiddiq?"

Jawabku, "Ya Rasulullah! Beliau menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya, seperti yang diucapkannya kepadaku. Tetapi, aku tidak mau mengatakannya."

Kata Rasulullah, "Bagus!" Jangan ucapkan kata-kata itu. Tetapi, katakanlah, "Ghaffarallaahu li abi bakar." (Semoga Allah mengampuni Abu Bakar).

Abu bakar pergi dengan air mata berlinang, sambil berucap, "Jazaakallaahu khairan, ya Rabi'ah bin Ka'ab." (Semoga Allah membalas engkau dengan kebajikan, hai Rabi'ah bin Ka'ab).

Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, Dr. Abdur Rahman Ra'fat Basya

bersegera menuju SURGA



Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Di antara umatku nanti terdapat 70.000 orang akan masuk Surga tanpa hisab. Wajah mereka bersinar sebagaimana bulan purnama'."
 
Abu Hurairah berkata, "Kemudian Ukasyah bin Mihshan al-Asadi berdiri sambil mengangkat nimarah lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, doakanlah aku kepada Allah agar aku termasuk dalam kelompok itu.' Rasulullah bersabda, 'Ya Allah masukkanlah Ukasyah ke dalam rombongan itu!'

Kemudian seorang sahabat dari golongan Anshar berkata, 'Ya Rasulullah, doakan pula aku agar termasuk ke dalam rombongan itu.' Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 'Ukasyah telah mendahuluimu'." (HR. Al-Bukhari, 6542; Muslim, 216.)
sumber : “99 Kisah Orang Shalih” ----

riwayat tsb mengajarkan kepada kita untuk segera merespon setiap kebaikan.... tidak menunggu-nunggu...
betapa indahnya jika semangat Ukasyah bin Mihshan tersebut dimiiliki oleh settiap aktivi dakwah...
sehingga akan melahirkan suasana fastabiqul khoirot dan sur'atul istijabah....

Wallahu a'lam...

Kamis, 03 Oktober 2013

menjadi yang TERPILIH dan TERBAIK


Sesungguhnya perbedaan antara Terpilih dan Terbaik amatlah tipis.
Sesungguhnya keberadaan kita disini ---di jalan dakwah --- saat ini adalah kehendak dan pilihan Allah semata.
Ia menjadikan kita yang TERPILIH diantara sekian banyak umat manusia.
Apakah kita  memilih untuk menjadi yang TERBAIK setelah menjadi yang TERPILIH...,
atau kemudian menyia-nyiakan potensi terbaik kita  (memilih melepaskan diri darinya) ...
semua itu adalah pilihan kita sendiri....

padahal ALLAH memberi kita KEKUATAN

ah,,,susah....
sulit sekali....
ga mungkin bisa...

kata2 tsb seringkali terucap dari mulut kita...
ketika kita gagal....bangkrut dalam usaha.... dsb...
kita merasa sangat berat dan tak kuasa utk bangkit...

mungkin saja sudah berkali-kali mencoba tidak ada satu pun yang berjalan terus. lalu kita berhenti di tengah jalan.

Apa yang menjadikan kita selalu berhenti?
Sederhana, karena kita begitu akrab dengan kata susah atau sulit.
Kita berkata bahwa kita sudah berusaha, tapi ternyata sulit.
“Ternyata susah juga ya......”
Padahal sederhana saja....
Jika kita punya kemauan, maka ambillah tindakan.
Jika susah, kita bisa belajar.
Jika tidak tahu, kita bisa mencari tahu.
Jika lama, kita bisa bersabar.
Sesungguhnya Allah sudah memberikan potensi kepada kita.
kita punya hati, punya akal, punya energi.... mengapa tidak kita gunakan dan optimalkan ?


Memang akan banyak menghadapi masalah. Tapi Allah sudah memberikan akal kepada kita untuk mengatasi masalah.
Memang perlu kerja keras, tapi Allah sudah memberikan tangan dan kaki kepada kita untuk bekerja keras.
Allah sudah memberikan sistem pencernaan yang bisa mengubah makanan menjadi energi. Apa lagi yang kurang?

jangan berhenti karena susah. Kita sudah diberi potensi yang dahsyat oleh Allah untuk mengatasi kesulitan yang kita hadapi.
Kesulitan memang untuk kita hadapi, untuk kita lewati, sebab kemudahan akan datang setelah kesulitan.

“Kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR Ahmad)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Alam Nasyrah:5-6)

semua orang sukses pernah mengalami masa-masa susah. Mereka menghadapi kesulitan seperti kita.
Hanya saja, mereka tidak berhenti. Oleh karena itu, kita pun sama, jangan berhenti karena susah....

SESUNGGUHNYA BESERTA KESULITAN ADA KEMUDAHAN.....

Rabu, 02 Oktober 2013

kumpulan nasehat yang menggugah

Orang yg terkuat bukanlah orang yg selalu menang dalam segala hal, Tetapi mereka yang tetap tegar ketika yang lain jatuh.
-----
ketika kita istiqamah...
bukan berarti kita ga boleh lelah..
istiqamah mengajarkan bahwa kita ga boleh menyerah...
-----
Dakwah ini membutuhkan kesetiaan dan sikap tak mudah beranjak dari barisan.Tapi itu semua harus dilakukan dengan penuh kefahaman, optimis, dilakukandalam keceriaan dan dilakukan secara rileks. Itu semua agar umur dakwah kitapanjang dan agar kita memiliki bekal dihadapanNya.
----
amanah terembankan pada pundak yang semakin lemah. Bukan sebuah keluhan, keputusasaan, terlebih surut kebelakang. Ini adalah awal pertempuran, awal pembuktian siapa diantara kita yang beriman. Wahai diri sambutlah seruan-Nya!!! Orang-orang besar terlahir karena beban perjuangan bukan menghindar dari peperangan...
Ya Rabb.... berilah kami kekuatan utk isiqamah di jalan ini...
---

Di tiap fase, selalu ada pekerja-pekerja dakwah yang kelelahan, jika mereka lelah karena mengusung kebenaran, niscaya Allah akan menguatkan mereka, tapi jika mereka lelah karena tergoda dunia, maka akan ada banyak pekerja lain yang bersedia menggantikannya. Dakwah tak akan kehabisan pekerja, ikut atau tidaknya kita kereta dakwah terus melaju menuju surga 
---

“Dan tidak ada bekal yang layak bagi umat dalam meniti jalan yang keras dan mengerikan ini kecuali jiwa yang beriman, tekad kuat nan jujur, kegemaran berkorban dan berani menanggung resiko. Dan tanpa ini semua gerakan dakwah akan dikalahkan dan kegagalan menjadi sahabat putra-putra dakwah.”

(Risalah Hal Nahnu Qoumun Amaliyun)

----
Jika kau berada di jalan Allah berlarilah kencang, jika sulit maka tetaplah berlari meski hanya lari-lari kecil, bila engkau lelah berjalanlah. Apabila semua itu tak mampu kau lakukan tetaplah maju meski harus merangkak dan jangan pernah sekalipun berbalik arah.

Al-Imam As-Syafi'i رحمه الله
----
"sesungguhnya, pertolongan itu mengiringi kesabaran, sesungguhnya kelapangan itu mengiringi kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan yang menyertainya.”
(H.R. Ahmad)

----
tidak ada yang paling membuat
musuh-musuh dakwah merana dan nestapa,
kecuali para pengusung dakwah tetap tegar
meniti jalan dakwah walaupun berbagai ujian
berat menerpa, serta tetap dapat
mengendalikan emosi dan tidak terseret pada
tindakan di luar kendali.
Maka, langkah pertama menghadapi
guncangan di jalan dakwah adalah bersabar,
berikutnya, bersabar dan seterusnya, bersabar.
Apapun yang terjadi di jalan dakwah ini..
jika sabar selalu menyertai, sesungguhnya
kemenangan sudah kita bukukan dan
kemenangan-kemenangan berikutnya kian
mendekati kenyataan. Insya Allah.
----
Andai perjuangan ini mudah, pasti banyak yang menyertainya.
Andai perjuangan ini singkat pasti banyak  yang istiqomah.
Andai perjuangan ini menjanjikan kesenangan dunia pasti banyak orang yang tertarik padanya.
Tetapi hakikat perjuangan bukanlah begitu, turun naiknya, sakit pedihnya, umpama kemanisan yang tidak terhingga.
Jika lelah, segeralah, bangkitlah segera. Andai terluka, ingatlah Janji-Nya"

(Hasan Al Banna)
-----
Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaranmu bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenanganmu bersama orang-orang yang tidak shalih.

---
"Engkau tak mendapatkan rahasia perjuangan dari buku-buku dan kata orang. Tapi dari pahit getir perjuangan."
----
Kemuliaan bukan pada citra/julukan tapi saat engkau ada di hati mukminin karena cintamu pada Allah lalu malaikat menyuruh mereka mencintaimu
---
Jika dakwah adalah jalan yang panjang. Jangan pernah berhenti sebelum menemukan penghujungnya.

Jika dakwah bebannya berat, jangan minta yang ringan. Tapi mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya.

Jika pendukungnya sedikit, Maka jadilah yang sedikit itu
---
Hanya ranting yg rapuh dan kering yg akan jatuh karena terpaan angin...
----
Dakwah ini dibangun diatas perjuangan bukan kepututusasaan, bukan oleh orang-orang yang lemah, orang-orang yang suka bersantai ria, berleha-leha dan hanya berangan-angan saja. Dakwah ini harus disii oleh orang-orang yang kuat yang memiliki visi dan misi idealis, mimpi-mimpi tinggi tanpa henti yang tidak akan terbeli oleh apapun selain kemuliaan islam. Dakwah ini akan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisasikan cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan kerja nyata bukan sekedar retorika, mujahadah dan kekuatan tekad.
----
Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Bukannya tidak menyakitkan. Bahkan para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan. Tidak…Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari akhirnya menjadi adaptasi, dan rasa lelah itu sendiri akhirnya lelah untuk mencekik iman. Begitupula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. (Alm. Ustadz. Rahmat Abdullah)
---
”Seandainya ada 100 orang pejuang Islam, pastikan salah seorangnya adalah kamu. Seandainya ada 10 orang pejuang Islam, pastikan salah seorangnya adalah kamu. Seandainya hanya tinggal seorang pejuang Islam, pastikan dia ialah kamu…”
----
“Wahai saudara-saudaraku. Jalan dakwah itu dikelilingi oleh “makaruh” (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir dan dibuang. Barang siapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya. Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yagn terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini.. “ (as-syahid Dr. Abdullah Azzam)
---
Sejatinya, tak ada yang mudah, ketika kita menginginkan sesuatu yang sangat berharga.
Pasti butuh perjuangan yang keras dan cerdas untuk meraihnya.
Saat kita berjuangpun, pasti ada saja masalah/kesulitan yang menghadang.
Bahkan terkadang kesulitan itu membuat kita hampir putus asa /menyerah.

tapi...tak ada istilah menyerah dalam perjuangan...
Teruslah bergerak dalam perjuangan karena perjuangan itu tak ada yang sia-sia.
Tugas kita hanya berjuang..
dan biarlah ALLAH yang akan memenangkan perjuangan kita...
----
Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap, TOTALITAS!!! Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah, dan dakwah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul amanah ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Alloh akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini
----
Saudaraku...
sesungguhnya al-haq (kebenaran) TAK-KAN tegak tanpa ada penegaknya.
Kebenaran itu takkan berdiri tegak dengan sendirinya.
Kebenaran (Islam) muncul senantiasa berhadapan dengan kekuatan bathil.
Secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi, kekuatan bathil bermaksud menumbangkan kebenaran, walau memang kebathilan itu pasti lenyap sebagaimana firman Allah:
Dan katakanlah yang haq telah tiba dan yang bathil telah lenyap, dan sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS al-Isra :81)

Namun untuk melenyapkan kebathilan sekaligus menegakkan al-haq tetaplah diperlukan tenaga-tenaga mumpuni yang harus dipikul oleh segenap kaum muslimin, dan itu sudah menjadi sunatullah....

so....pastikan diri kita utk tetap setia didalam barisan pejuang tentara2NYA..
jangan pernah mundur meski selangkah...
----

Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.
Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.
----
Lebih baik memberi maaf dan belas kasihan pada orang yang menyakiti kita, daripada memendam kecewa dan benci yang hanya akan membuat jiwa lelah. Disinilah kebesaran jiwa orang beriman teruji bahwa memaafkan itu lebih dekat dengan taqwa.
----
Dakwah ini adalah proyeknya Allah, dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengan irsyadat (bimbingan) dan taujihat (arahan-arahan) rabbaniyyah wa-nnabawiyah (Rabb dan Nabi), kita akan dimenangkan oleh Allah SWT, insya Allah…

Karena dengan selalu disiplin terhadap manhaj rabbani, dengan taujihat rabbaniyyah, irsyadat rabbaniyah yang diberikan Al-Qur’an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.
---
Sesungguhnya Allah meletakkan kekuatan orang beriman di dalam hatinya, bukan pada anggota tubuhnya. Tidakkah Anda memperhatikan orang tua yang sudah lemah fisiknya tapi masih mampu berpuasa di siang yang sangat panas dan bangun di malam hari untuk melakukan shalat malam? Padahal banyak orang-orang yang masih muda lagi kuat fisiknya tidak sanggup untuk melaksanakannya.” (Dari kitab Hilyatul Auliya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani)
____

pepatah Arab mengatakan, " Inna sukuuta al-aqwiyaa laisa dha'fun. Innamaa huwa furshatun lid-dhu'afaa an yatakallamuu qabla an yasmuthuu lil-abad " (Diamnya orang-orang yang kuat, bukan mencerminkan kelemahan. Namun ia memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah untuk puas hati berbicara, sebelum mereka dibungkam dan diam selamanya)
-----
Betapa banyak orang-orang yang memiliki cita-cita & harapan besar,tak sampai pada puncak cita-citanya karena terkikisnya energi semangat untuk terus melangkah…

Saudaraku,Jika kita adalah manusia-manusia pemilik cita-cita itu,
Maka teruslah berjalan,
sebab waktu terus bergerak.
Teruslah bersabar berjuang,
Sebab tidak akan ada tegarnya langkah kaki tanpa kesabaran..
-----
Air yang diam dan menggenang, berpotensi besar menjadi sarang penyakit. Disana akan hidup bibit nyamuk, bakteri tumbuh subur, dan air semakin lama semakin keruh. Beda halnya dengan air yang mengalir, ia dapat membersihkan banyak hal, semakin kencang alirannya maka semakin kencang daya kikisnya.

Begitu pula layaknya seorang da'i. Ketika seorang da'i hanya diam, maka potensi keburukan akan tumbuh subur dalam dirinya. Sedangkan jika ia selalu bergerak, maka potensi kebaikan akan selalu mengalir, untuk dirinya dan orang lain.
------





















Selasa, 01 Oktober 2013

antara CINTA dan NASEHAT


Rasulullah saw berpesan kepada kita agar mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri kita sendiri....
bahkan cinta ini merupakan salah satu indikator atau tanda keimanan seseorang...
artinya, jika tak ada cinta, maka imannya tak sempurna...



عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]



Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

(Riwayat Bukhori dan Muslim)

disisi lain....Rasul menegaskan bahwa agama ini adalah nasehat....
artinya bahwa setiap muslim berhak dan wajib menerima dan memberi nasehat..


عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم


Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)


jika kita kaitkan kedua hadits tersebut, maka :

1. hendaknya rasa cinta yg ada, TIDAK MENGHALANGI kita utk saling menasehati

2. hendaknya nasehat yg diberikan adalah dalam bingkai CINTA .... nasehat yg menyadarkan, bukan menyalahkan apalagi menghakimi bahkan sampe merendahkan kehormatan saudaranya....
hendaknya nasehat yg diberikan bisa menambah kecintaan diantara kita...

3. kalo kita mencintai saudara kita, maka kita nasehati saudara kita ketika khilaf atau bersalah....

4. kalo kita menerima dan/atau memberi nasehat, maka terimalah dan sampekanlah nasehat tsb dengan penuh cinta...



alangkah indahnya jika kita bisa mengamalkan keduanya....