Selasa, 30 April 2013

Ada kemudahan dalam kesulitan




 

Mungkin sudah sepatutnya kita ingat-ingat kembali, bahwa sesudah lapar pasti aida kenyang, sesudah dahaga pasti ada segar, sesudah mengantuk pasti ada tidur :), sesudah sakit pasti ada sembuh, setiap penderitaan pasti akan berakhir, dan habis gelap terbitlah terang...

“Allah pasti akan mendatangkan kemenangan atau mengadakan keputusan yang lain dari sisiNya” (Qs.Al Maidah ;5: 52)

Gembiralah orang yang dirundung kesusahan, karna Allah akan mendatangkan kemudahan kepadanya, secara mengejutkan, secepat cahaya bagaikan kedipan mata.
Gembiralah orang yang tertimpa bencana, karna Allah akan mendatangkan pertolongannya dan uluran kasih sayangNya.

Betapapun bertubi-tubinya kesulitan, semuanya pasti akan berakhir, kemudian lenyap untuk tidak kembali, semuanya akan Allah gantikan dengan manisnya kebahagiaan dan kemudahan,, Subhanalloh..

Bersama tangisan pasti akan ada sebuah senyuman, bersama ketakutan pasti ada keamanan, begitupun bersama kegelisahan pasti akan ada ketenangan..yakinkanlah diri dan hati kita,,selalu,,,

Api tidak dapat membakar Nabi Ibrahim As yang selalu mengesakan Allah, karena pemeliharaan Robbani telah membukakan jendela yang mengalirkan kesejukan dan membawa keselamatan baginya.
Laut tidak dapat menenggelamkan orang yang pernah diajak bicara langsung oleh Tuhan yang maha pemurah (Nabi Musa As), karna Ia mengatakan dengan suaranya yang kuat dan penuh ketulusan: “sesungguhya Tuhanku akan menyelamatkan dan menunjukan jalan kepadaku”.

Begitupun ketika Rosulullah SAW, ketika berada didalam gua persembunyiannya, beliau menghibur hati sahabatnya (Abu Bakar), maka Allah sematalah yang bersama mereka berdua, maka turunlah rasa aman,pertolongan, dan ketenangan....

Oleh sebab itu, janganlah kita bersempit dada, sebab mustahil suatu keadaan yang menyengsarakan akan berlangsung terus-menerus tanpa adanya perubahan, Mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita semua, “sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan”  (Qs.Al Insyirah;94:6)

Senin, 22 April 2013

Ketika Allah menghendaki kebaikan dari hambaNYA


Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:


1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).



2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة“
Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).


Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya. 


عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


من يرد الله به خيرا يصب منه“

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).


Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ“

Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).


Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).


4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).


Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:


يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ“

Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).


Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر“

Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.


وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ“

Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

Dikutip dari www.cintasunnah.com

Jumat, 19 April 2013

Sudahkah Tilawah Hari Ini ?


Bacalah Al Quran tiap hari dalam jumlah tertentu (mushaf utsmani sekitar 10 lembar) agar kita bisa khatam dalam sebulan.
Jika kita belum mampu, bacalah separuh dari itu..
Jika separuh juga masih terasa berat, maka bacalah satu ayat setiap hari..
Jika satu ayat pun masih terasa berat, maka ambillah mushaf Al Quran kita, lalu dekaplah dan bertanyalah pada hati kita, dosa apa yg sudah kita lakukan sehingga untuk membaca kitab Nya pun terasa berat sekali...

Ya Allah... Mudahkan kami agar mampu konsisten membaca kitab-Mu..

Selasa, 05 Maret 2013

Sedikit tapi Kontinu


Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh.
Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat al Ankabut 1-4.


Kontinuitas dalam beramal memang sulit. Perlu pengorbanan, perlu kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang bisa mematahkan kontinuitas amal. Perlu kepasrahan dan ketundukan penuh pada Allah, untuk meraih suplai energi yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub. Perlu kesabaran berlipat untuk bisa bertahan menjalani ragam tantangan dan halangan yang pasti dijumpai dalam memelihara kontinuitas amal. Tapi, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan surga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah kontinuitas amal itu, meski sedikit, sudah bisa dipetik sejak di dunia.

Ada beberapa alasan mengapa amal yang sedikit tapi berkelanjutan jauh lebih baik daripada amal besar yang tidak berkelanjutan.

1. Sedikit tapi kontinu adalah indikasi keikhlasan.

Ibadah yang dilakukan hanya temporal, sewaktu-waktu, tidak kontinu, sesuai keadaan, adalah tanda keikhlasan yang belum sernpurna. Sebab umumnya aktivitas ibadah yang dilakukan tidak secara terus menerus lebih dimotivasi oleh kondisi lahir dan urusan duniawi. Pendekatan diri kepada Allah dilakukan ketika sedang butuh. Ketika sedang mengalami kesulitan, tertimpa musibah, diuji dengan kesempitan, kesusahan, ia meminta agar Allah menolong dan membantunya meringankan penderitaan, Tapi ketika semua kesulitan itu telah hilang, ia meninggalkan amal-amal ibadah yang sebelumnya dilakukan.

Perhatikan firman Allah swt yang artinya, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (dihilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Qs. Yunus: 12)

Berbeda dengan hamba Allah yang ikhlas, yang tetap istiqamah melakukan ibadah dan amal shalih. Saat diberi kesulitan ia duduk bersimpuh dan sujud memohon pertolongan Allah. Dan ketika diberi kelapangan ia akan semakin banyak bersyukur dan mendekat pada Allah yang melapangkan kehidupannya.

2. Sedikit tapi kontinu adalah mata air rasa nyaman.

Setiap kita memerlukan rasa nyaman, damai dan tenang. Itulah di antara buah istiqamah dalam kebaikan yang dilakukan. Amal shalih, apalagi yang dilakukan secara terus- menerus, meski sedikit akan menciptakan suasana damai dan tenang di dalam hati.

Rutinitas ibadah dalam berbagai bentuknya akan membina jiwa seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah swt. Kontinuitas melakukan ibadah itulah yang membentuk jiwa menjadi seperti itu. Kebahagiaan dan kelezatan dalam hati orang-orang yang dekat dengan Allah tak bisa dirasakan kecuali oleh mereka yar,g merasakan kebahagiaan itu.

Lihatlah perkataan para salafushalih, “Kasihan sekali orang-orang yang lalai itu. Mereka keluar dari dunia tapi mereka belum merasakan puncak manisnya dunia." Puncak manisnya dunia, bagi mereka ada pada kedamaian dan kenikmatan hidup bersama Allah swt.

Ada pula yang mengatakan, “Andai para raja dan para pangeran itu mengetahui kenikmatan apa yang dirasakan oleh para ahli takwa, niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan itu dengan pedang terhunus." (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim)

Ibnu Taimiyah saat di dalam penjara justru merasakan kenikmatan ujian itu. Dalam sebuah surat kepada murid-muridnya ia menulis, “Kami Alhamdulillah dan syukur pada Allah, berada dalam kenikmatan agung yang setiap hari terus bertambah. Allah memperbarui nikmat-Nya demi nikmatnya yang lain. Saya dalam keadaan baik. Kedua mata saya bahkan lebih baik dari sebelumnya. Kami berada dalam nikmat yang sangat besar, yang tak mampu dihitung dan dihisab."

3. Sedikit tapi kontinu adalah strategi.

Perbuatan manusia itu memiliki beberapa tingkatan. Ada perbuatan yang paling mulia dan dicintai oleh Allah swt, daripada perbuatan lainnya. Allah swt berfirman, “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada o-rang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang dzalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (Qs. at-Taubah: 19-20)

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa iman itu memiliki enam puluh lebih cabang – atau tujuh puluh lebih – yang paling tinggi adalah Laa ilaaha illa Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan penghalang yang ada di jalan.” Hal ini menunjukkan bahwa jenjang iman itu bermacam-macam nilai dan tingkatannya.

Amir Asya’bi seorang tabiin menceritakan bahwa suatu ketika beberapa orang keluar dari Kufah dan menyepi untuk melakukan ibadah. Kemudian Abdullah bin Mas’ud diberitahu tentang keadaan mereka. Ibnu Mas’ud mendatangi mereka dan mereka sangat gembira dengan kedatangan Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud bertanya, "Apa yang membuat kalian melakukan hal ini?" Mereka mengatakan, "Kami ingin keluar dari keramaian manusia dan melakukan ibadah." Ibnu Mas’ud berkata, ”Kalau seandainya manusia melakukan semuanya seperti apa yang kalian lakukan, siapa yang akan berperang melawan musuh?"

Menurut Ibnul Qayyim, orang yang dikatakan sangat pemberani adalah orang yang langsung berhadapan musuh dengan senjata-nya. Posisinya di barisan pejuang satu jam dan jihadnya melawan musuh musuh Allah itu lebih baik dari haji, puasa dan shadaqah. Orang yang mengetahui sunnah, hukum halal haram, jalan kebaikan dan keburukan, kemudian ia tetap berbaur dengan manusia mengajarkan mereka dan menasihati mereka tentang Islam itu lebih baik daripada ia sendiri melakukan sholat dan menghabiskan waktu untuk membaca Al Quran dan tasbih.

4. Sedikit tapi kontinu adalah bahan bakar utama.

Orang yang ingin mencari ridha Allah dan memperoleh kebahagiaan akhirat, dan bahkan setiap orang yang pergi mencapai tujuannya tidak akan tercapai kepada tujuannya kecuali dengan dua kekuatan: yakni kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Demikian ujar Ibnul Qayyim rahimahullah. Kekuatan ilmu akan menerangkan jalan dan memposisikan pelakunya agar sampai pada tujuannya, terhindar dari bahaya dan tempat-tempat yang terlarang, atau menjadikannya tersesat. Sedangkan kekuatan amal adalah kekuatan untuk istiqamah dan tetap berupaya melanjutkan perjalanan. Upaya untuk bisa bertahan dan istiqamah melanjutkan perjalanan, adalah dengan mengetahui dan memanfaatkan kemudahan yang diberikan Allah dalam beribadah.

Maka, kita harus berupayakan sekuat daya untuk meningkatkan amal perbuatan setiap saat. Berkomitmen pada jalan kebaikan. Sikap berlebihan dan pemaksaan diri dalam melakukan amal, tak jarang dapat mengeluarkan seseorang dari jalur yang benar akibat diterpa kejenuhan dan rasa bosan.

Dengarkan cerita Buraidah yang suatu ketika pergi keluar rumah untuk sebuah keperluan. Kebetulan saat itu ia bertemu dengan Rasulullah dan berjalan bersamanya. “Dia menggandeng tangan saya, dan kami bersama-sama pergi. Kemudian di depan kami ada seorang lelaki yang memperpanjang ruku’ dan sujudnya. Nabi saw bertanya, “Apakah kamu melihat bahwa orang itu melakukan riya?", Abu berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau melepaskan tanganku, dan membetulkan kedua tangan orang itu dan mengangkatnya sambil bersabda, "Ikutilah petunjuk yang pertengahan.." (Disebutkan oleh al-Haitsami dan Ahmad dalam Majma Zawaid, 1: 62).

Amal yang kontinu pasti berat dilakukan. Tapi, itu biasanya terjadi hanya pada awalnya saja. Ibarat memutar sebuah roda. Terasa berat hanya pada awal putaran. Tapi pada putaran kedua dan ketiga-nya, roda itu akan lebih mudah diputar. Demikian juga dengan kondisi jiwa manusia. 

Yakinlah bahwa ALLAH Maha Pemberi Rizki

Syekh Ali Thantahwi, Allahu yarham, bertutur bahwa beliau mendengar cerita dari Syekh Shadiq Mujaddidi, dubes Afghan di Mesir waktu itu.
Suatu kali syekh Shadiq mendapatkan tugas dari negaranya (Afghanistan) untuk menjalankan misi diplomasi ke Uni Soviet (yang tersisa sekarang adalah Rusia).

Karena khawatir tidak akan mendapatkan makanan halal, maka ia potong sendiri 2 ekor ayam dari rumahnya di Afghanistan, dan meminta kepada istrinya untuk memasaknya dan menjadikannya sebagai bekal perjalanan.

Setelah menempuh perjalanan darat sejauh 4000 km, sampailah dia di sebuah perkampungan muslim yang sangat miskin.
di kampung itu, Syekh Shadiq mendapati satu keluarga yang sangat miskin, dan tanda-tanda kelaparan tampak sekali pada keluarga tersebut.

Dengan senang hati, Syekh Shadiq mensedekahkan 2 ekor ayam bekalnya itu kepada keluarga tersebut.

Tidak lama setelah peristiwa penyerahan 2 ekor ayam tersebut, datanglah telegraph kepada Syekh Shadiq yang menyatakan bahwa beliau harap segera kembali ke Afghanistan, karena misi diplomasi ke Uni Soviet itu tidak diperlukan lagi.

Jadi, perjalanan Syekh Shadiq sejauh 4000 km tersebut seakan "hanya" dalam rangka mengantarkan 2 ekor ayam yang telah disembelih dan dimasak oleh istrinya kepada keluarga miskin tersebut!!

Maha Suci Allah SWT, Dzat Yang Maha Membagi-bagi rizki dengan cara yang hanya Dia pula yang mengetahuinya.

Masihkah kita meragukan akan kemahakuasaan Allah SWT dalam hal rizki dan membagikannya kepada kita?

Kamis, 07 Februari 2013

karena ada kebaikan dibalik musibah yang menimpa kita

Alkisah, suatu hari Nabi Daud AS kedatangan seorang tamu, seorang janda yang nangis tersedu-sedu.
Dengan emosi dan perasaan yang campur aduk, sang perempuan itu berkata: Allah SWT itu sebenarnya adil atau tidak sih?
Nabi Daud: “Memangnya kenapa bu? Kok datang-datang, dengan penuh emosi dan perasaan berkata begitu?”
Perempuan: “Bagaiana aku tidak mempertanyakan, lha aku ini seorang janda, miskin, bahkan sangat miskin, mengasuh tiga anak, ketiga-tiganya perempuan, tidak bisa bekerja, kecuai hanya bisa menenun kain ala kadarnya, sudah berhari-hari aku menenun kain, setelah berhasil menyelesaikan kain tenun yang tidak seberapa, dengan penuh harapan kepada Allah, aku bawa kain tenun itu ke pasar, dengan maksud hendak menjual kain tenun itu, e e e, tiba-tiba datang burung dan langsung menyambar kain tenun saya, ia ambil kain tenun itu dan dibawanya kabur entah ke mana.

Pertama aku marah kepada burung itu, tapi apa yang aku perbuat terhadapnya?! Lalu aku pun terduduk lemas, menangisi dan meratapi nasib yang begitu berat. Sudah beberapa hari ini aku menangis. Sampai akhirnya aku teringat nabiyallah, nabi Daud AS, maka aku datang ke sini, hendak menumpahkan seluruh rasa dan perasaanku kepada nabiyallah, semoga rasa dan perasaan ku ini juga nabiyullah sampaikan kepada Allah SWT, itulah kisahku wahai nabi Allah, sebab aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus menghidupi tiga putriku”.

Tiba-tiba Nabi Daud kedatangan rombongan pedagang. Semua ada 10 orang. Lalu dengan tergopoh-gopoh masing-masing pedagang menyerahkan menyerahkan 100 dinar. Mereka berkata: “Wahai Nabiyallah, uang ini adalah nadzar kami, sebab kami tidak tahu harus diberikan kepada siapa, maka kami serahkan semuanya kepada nabi Allah, dengan harapan, nabi Allah menyerahkannya kepada yang berhak menerimanya”.
Nabi Daud: “Memang apa yang terjadi, kok kalian bernadzar sedemikian besar?”.

Lalu mereka pun bercerita bahwa mereka sedang berada di tengah lautan, tiba-tiba datang badai yang mengombang ambingkan kapal mereka, membenturkannya ke sana sini, sehingga kapal itu bocor dan mereka sangat kuatir bahwa kapal mereka akan karam. Tiba-tiba datang seekor burung yang membawa segulung kain tenun dan menjatuhkannya kepada kami, maka dengan kain itu kami berhasil menambal kebocoran yang ada, dan tidak lama setelah itu badai reda, maka kami sepakat bernadzar akan memberikan uang masing-masing 100 dinar. Karena kami tidak tahu harus diserahkan kepada siapa, maka maka kami menyerahkannya kepada nabi Daud AS”.

Maka Nabi Daud AS berkata kepada perempuan itu: “Wahai hamba Allah, Allah SWT menghargai kain tenunmu dengan harga 1000 dinar, lalu kamu katakan Allah SWT tidak adil!! Ambil 1000 dinar ini, dan pergunakan untuk menafkahi anak-anak dan dirimu!”.

Saudaraku…
Allah SWT menurunkan cobaan kepada kita dengan ha-hal yang membawa kebaikan bagi kita, namun, sayangnya, kita sering menduganya dengan kebalikannya..
Kalau saja bukan karena bala’ yang menimpa, mungkin nabi Yusuf AS menjadi anak manja di sisi orang tua dan saudara-saudaranya.
Oleh karena itu, yakinlah bahwa ada banyak kebaikan menunggu kita di balik suatu bala’ atau musibah yang menimpa kita, asalan kita bersabar…
Ya Allah .. tumpahkan kepada kami kesabaran yang melimpah

Senin, 04 Februari 2013

Sudahkah kita beristighfar ?

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw beristighfar setiap harinya minimal 70x ; di riwayat yg lain ada yg nyebut sampe 100 x...
Padahal beiau adalah manusia yg selalu terjaga dari perbutaan tercela dan dosa, karena beliau ma'shum...

bagaimana dg kita yg selalu bertabur dosa setiap harinya ?
berapa banyak istighfar kita setiap harinya ?
Astaghfirullah al-azhim…
Astaghfirullah al-azhim…
Astaghfirullah al-azhim…

Istighfar ialah memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat, karena tak seorang pun yang terbebas dari kesalahan, baik karena lalai menunaikan kewajiban atau karena melakukan sesuatu yang haram. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas ra.)
Memohon ampun adalah perintah dari Allah SWT. Siapa yang melaksanakannya ia mendapat pahala dan siapa yang meninggalkannya maka ia berdosa. Allah SWT berfirman, ”Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (QS. An-Nasr [110]: 3)

Dia juga berfirman, ”Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, (jika kamu, mengerjakan yang demikian) niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud [11]: 3)

Dan masih banyak lagi ayat yang memerintahkan kita memohon ampun kepada-Nya atas dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Dan, yakinlah bahwa siapa yang memohon ampun kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, niscaya Dia akan memberinya ampunan. Dia Maha pengampun dan Maha penerima tobat.
Berapa jumlah amal yang kita perbuat dalam sehari. Manakah yang lebih banyak mengisi hari-hari kita, amal atau dosa?
Amal yang kita lakukan setiap hari tak menjadi jaminan bagi kita untuk memasuki surga Allah SWT. Tiket menuju surga adalah rahmat Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda, ”Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak seseorang pun yang dapat selamat karena amalnya." Mendengar hal tersebut, para sahabat bertanya, "Termasuk engkau, wahai Rasulullah?! " Beliau Saw menjawab, "Termasuk saya, kecuali jika Allah SWT melimpahkan padaku rahmat dan karunia-Nya. " (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Salah satu jalan untuk mendapatkan rahmat Allah SWT adalah dengan banyak istigfar. Allah SWT berfirman melalui lisan nabi Saleh as., ”Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Naml [27]: 46)

Maka gapailah rahmat Allah SWT dengan selalu menghiasi hati dan lisan kita dengan permohonan ampun kepada-Nya.
Allah SWT juga menyuruh kita memperbanyak istigfar supaya kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang dijamin mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang selalu istigfar. Allah SWT berfirman, ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu)…dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 133)


Istigfar adalah amalan yang sangat istimewa. Karena, salah satu amalan yang dapat menghindarkan azab Allah SWT adalah dengan banyak beristigfar. Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS Al-Anfal [8]: 33)
Karena keistimewaannya itu pula sehingga Allah SWT menggolongkan orang-orang yang senantiasa memohon ampun sebagai pribadi-pribadi terbaik. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.”

Karena keistimewaannya itu pula sehingga Allah SWT menggolongkan mereka termasuk dalam hamba-hamba yang dicintai oleh-Nya. ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah [2]: 222)
Apakah kita pernah merasa galau, jenuh dan semacamnya? Kegalauan adalah salah satu ”musibah” yang senantiasa menghinggapi seseorang. Bahkan Rasulullah saw pun pernah mengalami hal yang sama, namun kesemuanya itu dapat diatasi dengan banyak istigfar.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kegalauan terkadang menghinggapi hatiku; dan sungguh aku akan senantiasa istigfar 100 kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Maka perbanyaklah istigfar; usirlah perasaan-perasaan tersebut dengan banyak istigfar, sehingga kelapangan dada dan kejernihanlah yang menghiasi jiwa dan hati kita.
Manfaat istighfar tak hanya dapat dirasakan di akhirat kelak. Manfaatnya sudah dapat dirasakan ketika kita masih hidup, seperti diberi kemudahan, kelapangan dada dan kejernihan jiwa. Rasulullah saw juga bersabda, “Siapa yang senantiasa beristighfar, niscaya Allah SWT berikan padanya jalan keluar dari kesempitan, kelapangan dari kegalauan, dan rezeki dari arah yang tak terduga.” (HR. Abu Daud, darri Ibnu Abbas ra.)

Melalui lisan nabi Nuh as., Allah SWT berfirman, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Melalui kedua nash (dalil Al-Qur’an dan Hadits) di atas, kita dapat melihat bahwa istighfar itu bukan hanya bermanfaat untuk kehidupan akhirat semata, tetapi ia juga mendatangkan banyak manfaat keduniaan, antara lain:

- Kelapangan dada;
- Jalan keluar dari berbagai persoalan;
- Rezeki dari arah yang tak terduga;
- Memperbanyak harta dan anak, dan
- Kebun-kebun yang di dalamnya terdapa sungi-sungai.

Demikianlah keutamaan dan keistimewaan istighfar. Ia adalah solusi untuk berbagai permasalahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Mari hiasi hari-hari kita dengan memperbanyak istighfar. Iringilah segala aktivitas dan kesibukan kita dengan istighfar, insya Allah, Allah akan berikan solusi atas berbagai permasalahan yang kita hadapi.

Wallaahu A’lam