Rabu, 23 Desember 2015

Andai aku yang berada di liang lahat itu

Embun Pagi

ANDAI SAJA AKU YANG BERADA DI LIANG ITU

» يَا لَيْتَنِي كُنْتُ صَاحِبُ الْحُفْرَةِ «
"Andai saja aku yang berada di liang lahat itu." (Perkataan Abdullah bin Mas'ud saat menyaksikan penguburan jenazah Abdullah Dzul Bajjadain seperti dikutip Ibnu Hisyam dalam kitab 'sirah'nya).

Ikhwani wa akhawati fillah,
Saat itu suasana malam terasa gelap gulita, cuaca dingin menusuk tulang. Para sahabat pun beristirahat total di perkemahan ala kadarnya yang mereka dirikan, agar tubuh kembali segar dan sehat karena keesokan harinya mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Mereka baru keluar meninggalkan Tabuk, negeri yang baru saja mereka taklukan dari tangan Romawi tanpa melalui kontak senjata; Rajab tahun 9 H. itulah peperangan terakhir yang dikomandani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. 

Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu terbangun dari tidurnya. Sayup-sayup ia mendengar suara seseorang yang sedang menggali tanah. Terdorong perasaan ingin mengetahui apa yang terjadi, maka ia bangkit dan memandang ke alam sekitar. Samar-samar ia melihat ada cahaya lampu yang tidak benderang. Ia mendekat ke arah lampu tersebut.

Dari jarak yang tak terlalu dekat, ia melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sedang berada di dalam liang, sementara Abu Bakar dan Umar berada di sekitar liang yang digali oleh beliau.  Kedua sahabat itu menerangi beliau dengan pelita. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Dekatkan jenazah saudara kalian itu kepadaku!."

Ketika bersiap hendak meletakkannya di liang lahatnya, beliau berdo'a, “Ya Allah, sesungguhnya sore tadi aku telah ridha kepadanya, maka ridhailah dia."

Air mata menetes dari kedua mata beliau seraya bersabda, "Sesungguhnya ia mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Ibnu Mas‘ud berkata, “Demi Allah, sungguh aku bercita-cita seandainya saja aku yang menempati posisi sahabat itu. Padahal aku lebih dahulu masuk Islam 15 tahun sebelum dia."

Ikhwani wa akhwati,
Siapakah sahabat mulia itu?,
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menggali liang dan menguburkan sahabat ini dengan kedua tangan beliau?.
Kedudukan istimewa yang tidak sederhana di hati Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

Dia adalah Abdullah Dzul Bajjadain al-Muzani. Sahabat yang syahid setelah berjuang melawan demam yang menderanya di Tabuk. Mungkin kita mengerutkan dahi mendengar nama sahabat ini, yang mungkin tidak ada dalam kamus ingatan kita.

Namanya memang tidak setenar sahabat lainnya. Dan bahkan namanya sangat asing di telinga kita. Ia disebut Abu Nu'aim dalam kitab 'hilyatul auliya' sebagai salah seorang ahli Shuffah. Tapi ketidak masyuran namanya bukan berarti tidak memiliki keistimewaan di hati Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Beliau menggali kubur dan memakamkan sahabat ini dengan kedua tangan beliau, menjadi bukti betapa mulia sahabat ini di mata beliau.

Ikhwani wa akhawati,
Beberapa literatur standar menyebutkan bahwa ia bernama; Abdul Uzza dari kabilah Muzaniyah. Yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Kedua orang tuanya meninggal dunia saat ia menikmati masa kanak-kanak. Lalu ia diasuh oleh pamannya sampai usia 16 tahun. Setelah mendengar beberapa ayat al-Quran yang dibaca oleh sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam perjalanannya ke Madinah, ia memeluk Islam dan merahasiakan ke-Islamannya di hadapan pamannya selama tiga tahun. Jika ia hendak melaksanakan shalat, ia keluar ke padang sahara agar tidak diketahui oleh paman dan masyarakatnya.

Setelah ia mengabarkan ke-Islamannya, sang paman marah dan menarik semua pemberian yang pernah ia berikan kepada Abdul Uzza. Tak terkecuali baju yang melekat di tubuhnya. Namun ia tak bergeming. Karena hidup dalam naungan Islam tak bisa ditukar dengan lembaran-lembaran bergambar Sukarno Hatta, intan permata dan bahkan kepingan emas seberapa pun jumlahnya.

Di tengah perjalanan menuju Madinah, ia menemukan seonggok kain. Ia mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. Sehelai kain itu ia jadikan sebagai sarung. Dan yang lain ia jadikan sebagai selendang. Layaknya ia sedang ihram di tanah suci.

Ia sampai di Madinah sebelum Subuh. Dan kebiasaan Rasulullah  Shallallahu alaihi wa sallam   setelah shalat, beliau memperhatikan wajah-wajah para sahabat satu persatu. Setelah beliau menemukan wajah asing yang belum pernah beliau lihat, beliau bertanya, "Siapakah engkau ini? Dan mengapa engkau berpakaian seperti ini?."

Ia menjawab, "Namaku; Abdul Uzza. Dan aku mengenakan pakaian seperti ini karena pamanku mengusirku beberapa waktu yang lalu dan menarik semua pemberiannya termasuk pakaian yang kukenakan. Aku sabar selama tiga tahun sehingga aku datang menemui Engkau dalam keadaan istiqamah mentaati Allah Subhanahu wa Ta'ala 

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Sejak hari ini namamu bukan Abdul Uzza, tapi Abdullah Dzul Bajjadain. Allah akan mengganti kedua potong pakaianmu ini dengan istana dan pakaian di surga. Engkau bisa mengenakannya kapan engkau suka dan menikmati hidangan di dalam istanamu apa yang engkau suka."

Allahu Akbar! Adakah satu kebahagiaan yang melebihi kabar gembira ini wahai saudaraku?. Tentu tidak ada.

Setelah itu ia menjadi penghuni Shuffah dan banyak menghafal al-Quran, yang ia dengar dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Ia dikenal sebagai sahabat yang mengeraskan suara saat berdo'a dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ibnu Adra' menuturkan, “Pada suatu malam aku pergi bersama Rasulullaah Shallallahu alaihi wa sallam , kemudian beliau melewati seorang lelaki di dalam masjid yang sedang berdo'a dan mengangkat suaranya tinggi-tinggi. Aku (Ibn Adra’) berkata, ‘Wahai Rasulullaah, barangkali lelaki ini sedang riya’ (memamerkan ibadahnya).’ Beliau bersabda: "Bukan, dia sedang berdo’a dan mengadu kepada Allah.” (HR. Baihaqi).

Ketika hendak berangkat ke Tabuk, Dzul Bajjadain berkata kepada Nabi,  “Berdo'alah kepada Allah agar mengaruniaiku kesyahidan wahai Rasulullah."

Maka Nabi mengikatkan seutas tali berwarna coklat (terbuat dari batang sebuah pohon). Beliau berdoa, “Ya Allah, aku mengharamkan darahnya untuk orang-orang kafir." Mendengar do'a beliau, Dzul Bajjadain berkata, “Bukan itu yang kuinginkan."

Nabi bersabda, “Sesungguhnya ketika engkau keluar untuk berperang, kemudian engkau sakit demam hingga wafat, atau terlempar dari hewan tungganganmu hingga lehermu patah, maka engkau adalah syahid."

Dan sejarah mencatat, ia syahid karena demam yang dideritanya. Allah dan rasul-Nya meridhaimu wahai Dzul Bajjadain.

Ikhwani wa akhawati,
Mari kita mengambil mutiara berharga dari kisah Abdullah bin Naham al-Muzani, yang digelari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam "Dzul Bajjadain" pemilik baju yang dibelah dua.

• Sahabat agung ini mengajari kita hakikat sebuah keikhlasan. Walau namanya tak dikenal dan tak seharum sahabat lainnya, tapi prestasi ubudiyah di mata Allah dan rasul-Nya sangat mengagumkan. Maka dalam berjuang membesarkan dakwah, jama'ah dan partai dakwah kita tercinta, keikhlasan menggapai ridha Ilahi menjadi harga mati.

• Kemiskinan substansinya bukanlah miskin harta. Tapi miskin semangat, militansi, kreasi dan aksi serta enggan berbagi dan mewarnai umat. Kader dakwah yang miskin adalah kader yang tidak berkontribusi apapun dalam perjuangan suci. Tersenyum dalam kemalasan. Tidur nyenyak dalam kealpaan. Melangkah pasti dalam ketidakpastian hati.

• Keberkahan usia tidak diukur seberapa lama kita hidup. Tapi seberapa besar prestasi yang kita ukir di dunia ini dalam ruang ibadah, ranah dakwah, dan medan perjuangan. Dzul Bajjadain hanya berusia 23 tahun. Walau demikian ia mampu mengambil hati Rasulnya. Berapa usia kita hari ini saudaraku? Dengan apa kita memikat hati Rasul junjungan kita?.

• Mahalnya harga sebuah hidayah. Berada di pangkuan hidayah, hidup terasa berpelangi. Itulah yang dirasakan oleh Dzul Bajjadain. Maka ia rela semua barang miliknya disita oleh pamannya selama iman di hati tetap tumbuh dengan suburnya. Hidayah terbesar yang kita kecap saudaraku, adalah hidayah bergabungnya kita dengan kafilah dakwah. Sebagai tanda syukur kita dengan kucuran nikmat ini adalah kita bagi kenikmatan ini kepada orang lain. Dengan melakukan rekrutmen dan membina orang-orang dekat kita, hingga mereka bisa merasakan keindahan hidup dalam naungan dakwah seperti yang kita rasakan saat ini.

• Istiqamah di atas jalan ketaatan dan tetap berada dalam gerbong dakwah, merupakan sebab meraih ridha Allah dan Rasul-Nya. Pernah kita mengukur kadar keistiqamahan kita wahai saudaraku?.

• Dibolehkannya memberi gelar kepada orang lain dengan gelar-gelar yang baik, sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi terhadap kebaikan dan prestasi kader dakwah. Jangan bakhil kepada orang lain, berikan pujian dan apresiasi tulus terhadap kebaikan dan prestasi mereka.

• Menghormati dan menghargai orang lain bukan hanya ketika masih hidup, begitupun setelah kepergiannya. Seperti yang diperbuat Nabi  Shallallahu alaihi wa sallam. Di mana beliau membuat liang dan menguburkan Dzul Bajjadain dengan kedua tangan beliau. Adakah penghormatan dan penghargaan yang lebih tinggi dari ini?. Saudaraku, pernahkah kita mendo'akan secara khusus kader-kader dakwah yang telah mendahului kita?, tetapkah kita menghormati dan menjalin hubungan mesra dengan keluarganya?.

• Memahat cita-cita setinggi mungkin. Terlebih untuk kebahagiaan hidup di akherat. Sebagaimana ucapan Abdullah bin Mas'ud, "Andai saja aku yang berada di liang itu." Tanpa cita-cita tinggi, yakni bisa menjadi tetangga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya di surga kelak, mustahil kita dapat terlontar ke puncak prestasi.

• Dekat dan mencintai semua lapisan masyarakat. Melayani dan berkhidmah untuk umat, bukan sekadar slogan dan gincu pergaulan. Tapi terwujud di alam realita kehidupan. Seperti itulah yang diperbuat oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam terhadap para sahabat, termasuk mereka yang menjadi ahli Shuffah. Karena berdekatan dan menyanyangi umat akan menetaskan keberkahan dalam hidup kita.

Ikhwani wa akhawati,
Di hadapan kita terhampar medan jihad dan perjuangan yang luas. Bukan mengangkat senjata atau peperangan fisik lainnya. Tetapi medan rekrutmen dan ranah membina umat. Agar mereka mengenal dan bergabung dengan dakwah kita. Agar mereka terbina dengan metode pembinaan kita. Agar mereka mengikuti pola dan proses kaderisasi kita. Agar mereka pun nyaman bernaung di bawah payung partai dakwah kita.

Dan hal itu akan terwujud, jika bara api yang ada di dada Abdullah Dzul Bajjadain, berpindah ke dalam dada kita. Karena orang yang tidak memiliki bara api di dadanya, tidak akan pernah membakar semangatnya meraih kemuliaan dan surga-Nya. Sanggupkah kita menjadi sosok Abdullah Dzul Bajjadain di zaman modern ini?.

والله اعلم بالصواب

Pamoyanan,  13 Rabi'ul Awal 1437 H / 23 Desember 2015 M

الفقير الى الله

Senin, 21 Desember 2015

Yang Bangkrut di Akhirat

Siapakah orang bangkrut itu? apakah orang yang usahanya rugi ataukah orang miskin, sakit, jelek?

Rasulullah menjelaskan dalam sebuah hadits tentang orang yang bangkrut tersebut.


Rosulullah SAW bersabda: “Tahukah kalian siapakah orang yang muflis (bangkrut) itu?”

Mereka menjawab : “Orang yang muflis di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala solat, puasa dan zakat.

Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu.

Maka sebagai tebusan atas kezalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.
” (HR Muslim no.6522)

Agar kita terhindar dari nasib sebagai orang muflis maka kita harus mampu menjaga lisan dan perbuatan kita dari perbuatan yang merugikan orang lain. Rosulullah bersabda :

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.” (HR Bukkhari)

Yang dimaksud dengan “sesuatu yang ada di antara dua janggutnya” adalah mulut, sedangkan “sesuatu yang ada di antara dua kakinya” adalah kemaluan.

Dihadits lain Rosulullah bersabda :

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, Muslim)

Ketika kita terlanjur melakukan perbuatan dzalim berupa gosip (ghibah), fitnah, menghina, dan menyakiti dengan cara lain maka kita harus segera meminta maaf kepadanya lalu mohon ampun kepada Allah. Allah tidak akan mengampuni dosa dzalim kita sebelum meminta maaf.

Nabi SAW bersabda: “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR. Bukhori, Muslim)

Walau terkadang orang yang disakit tidak mudah bisa memaafkan tetapi kita harus berusaha meminta maaf sebagai bentuk penyesalan dan berjanji tidak mengulangi.

Semoga Allah menjaga kita dari nasib buruk di akhirat nanti sebagai orang bangkrut tersebut, padahal kita mengira sebelumnya kita sebagai orang yang beruntung. aamiin



oleh Ustadz Herman Budianto,

menjadi PENGUSAHA dalam pandangan ISLAM

Menjadi pengusaha sangatlah mulia dalam Islam. Rosulullah memberikan motivasi agar umat Islam menjadi penguasaha dan terus bekerja yg halal dan baik. Membenci penganggur dan peminta-minta.

1.Dari Al-Miqdam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Kasbir Rojuli wa ‘Amalihi Biyadihi II/730 no.2072).

2.Dan di dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah di dalam As-Sunan, Kitab At-Tijaroot Bab Al-Hatstsu ‘Ala Al-Makasibi, no.2129. al-Kanani berkata, ‘Sanadnya Hasan’, Lihat Mishbah Az-Zujajah III/5).

3.Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Pedagang yang senantiasa jujur lagi amanah akan bersama para nabi, orang-orang yang selalu jujur dan orang-orang yang mati syahid.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fit Tijaroti no. 1130)

4. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:.

“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya, apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang yang sedang kesulitan.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, Bab Hifzhu Al-Lisan IV/221).

5. Dari Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada seseorang bertanya, “Penghasilan apakah yang paling baik, Wahai Rasulullah?” Beliau jawab:

“Penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad no.16628)

6. Rosulullah dan para sahabat seperti Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dll adalah pedagang yg sukses.

Tetapi terdapat ancaman yg keras bagi pedagang yg tdk jujur

Sesungguhnya para pedagang (pengusaha) akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai para penjahat kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan jujur.” (HR. Tirmidzi, Kitab Al-Buyu’ Bab Ma Ja-a Fi At-Tujjar no.1131)

Sehingga utk menjadi pengusaha diperlukan ilmu islam agar terhidar dari hal yang haram seperti riba, penipuan dll.
dari Ustadz Herman Budianto

Sabtu, 19 Desember 2015

Surat untuk (para) Bunda (dan Ayah)

Untuk bunda yang sedang menunggu hasil nilai raport ananda tercinta,

SURAT UNTUK PARA BUNDA

Sebentar lagi bunda akan di undang ke sekolah untuk mengambil raportku,

Bunda, mungkin bunda kecewa karena aku tidak jadi juara dan bahkan masuk ranking pun tidak karena aku adalah anak yang biasa-biasa saja di kelas, tapi tahukah bunda bahwa aku adalah anak yang selalu jujur mengerjakan setiap soal-soal ujian.

Bunda, mungkin bunda kecewa karena aku belum lancar membaca, menulis dan berhitung, tapi tahukah bunda bahwa aku terus berusaha keras dan kelak satu ketika aku akan bisa seperti anak lainnya.

Bunda, mungkin bunda kecewa karena aku tidak pandai matematika, tapi tahukah bunda bahwa aku pandai berdoa dan selalu berdoa untuk bunda setiap aku beribadah.

Bunda, mungkin bunda kecewa karena aku lambat belajar di sekolah, tapi tahukah bunda bahwa aku adalah anak yang cepat sekali jika diminta untuk membantu bunda dirumah.

Bunda, mungkin engkau kecewa karena nilai-nilai raportku tidak sebaik nilai teman-temanku, tapi tahukah bunda bahwa menurut mereka aku adalah teman yang sangat baik bagi mereka.

Bunda, mungkin engkau kecewa dan malu memiliki anak seperti aku, tapi aku tidak pernah merasa kecewa dan malu memiliki bunda seperti bunda, dan bahkan aku begitu sayang sama bunda.

Bunda, mungkin engkau marah melihat ada satu nilai di bawah kkm di raport ku, tapi tahukah bunda bahwa aku mengerjakannya dengan jujur tanpa pernah mau ikut-ikutan teman-temanku yang tidak jujur.

Bunda, engkau mungkin kecewa jika membandingkan diriku dengan teman-teman sekelasku yang hebat-hebat, tapi tahukah bunda bahwa aku tidak akan pernah mau membandingkan bundaku dengan bunda-bundanya teman-temanku betapapun hebatnya bunda-bunda mereka.

Sungguh tak pernah terlintas sedikitpun di benakku untuk membandingkan bundaku dengan bundanya teman-temanku meskipun menurut mereka bundaku adalah bunda yang biasa-biasa saja, karena aku selalu berusaha menerima bundaku apa adanya, aku selalu berusaha mencintai bundaku apa adanya, dan aku merasa sudah sangat bahagia seandainya bunda juga mau menerima dan mencintaiku apa adanya meskipun aku hanyalah anak yang biasa-biasa saja disekolah.

Terimakasih bunda telah mau membaca suratku, dan aku sungguh bersyukur engkau telah menjadi bundaku dan aku telah menjadi anakmu.

Terimakasih juga bunda mau datang ke sekolah untuk mengambil raportku.

- Dari Anakmu -

#Setiap_Anak_Adalah_Berlian
#Setiap_Anak_Punya_Kelebihan
#Jangan_Menilai_Anak_Hanya_Dari_Angka2

#COPASANGRUPWASAP

Selasa, 15 Desember 2015

Hakikat KEJUJURAN

HAKIKAT KEJUJURAN

Imam al-Junaid bin Muhammad al-Baghdadi berkata

حقيقة الصدق أن تصدق في مواطن لا ينجيك منها إلا الكذب

"Kejujuran sejati adalah ketika kamu tetap memilih jujur di saat tidak ada cara lain bagimu untuk menyelamatkan diri selain dengan cara berdusta."

Senin, 14 Desember 2015

Rahasia Kemenangan Rasulullah saw Dalam Setiap Peperangan

Perjuangan yang dilakukan Rasulullah, baik dalam dakwah, membentuk kepribadian pengusungnya, membangun tatanan negara yang penuh dengan amalan, termasuk bagaimana mengatur strategi dalam fase jihad melawan kebatilan memerlukan strategi yang cukup brillian. Namun, kalau kita perhatikan, Rasulullah dan para sahabat juga memerhatikan beberapa pilar jihad sebagai langkah sunatullah sekaligus aspek terbesar kemenangan setiap perjuangannya, baik pilar-pilar jihad yang sifatnya maknawi maupun materi.
Adapun pilar-pilar jihad yang bersifat maknawi, dalam buku "Strategi Perang Rasulullah” karya Muhammad Abu Ayyasy disebutkan sebagai berikut.

1. Quwwatul Iman; Kekuatan Iman
Basis keimanan inilah kunci kemenangan di setiap medan pertempuran. Bahwa sesungguhnya kemenangan itu adalah milik Allah, dan akan Allah berikan kepada setiap tentara-Nya yang memperkuat aspek keimanan. Tsiqah, percaya bahwa pertolongan Allah akan turun. Ini juga sifat yang harus dibangun. Yakin bahwa Allah akan menepati janji-Nya, yakin bahwa kemenangan dan kekuatan akan dianugerahkan Allah kepada pasukan-Nya, yakin bahwa Allah membeli pengorbanan para mujahid dengan surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan, sebuah keyakinan bahwa kematian yang paling baik adalah kematian di saat ia dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah. Semangat keimanan inilah yang Rasulullah bangun sebelum memberangkatkan pasukannya ke medan perang.


Allah SWT berfirman.
"Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka memberikan bai'at kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka. Lalu, Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dam memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat. Dan harta rampasan perang yang banyak yang mereka ambil. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS Al-Fath [48]: 18-19)

Begitu juga Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 125--126, Al-Hujurat ayat 15, Ghafir ayat 51, dan firman Allah lainnya yang menegaskan aspek keimanan sebagai pilar kekuatan mujahid dan syarat turunnya pertolongan Allah SWT.
Bahkan, ketika sebuah perjuangan, apa pun bentuknya ketika meninggalkan aspek keimanan ia akan kehilangan ruh perjuangan itu sendiri, atau akan berdampak kekalahan. Hati dengan keimanan, akal yang persenjatai dengan ilmu, jiwa para mujahid yang selalu dekat pada Allah, inilah password Rasulullah dan kaum muslin contohkan kepada kita.

2. Ittihad Ash-Shufuf; Kesatuan Barisan
Allah SWT memberikan statemen kecintaan-Nya dengan format barisan kaum muslim yang rapi guna mengokohkan barisan kekuatan. 


Unsur-unsur yang harus ditegakkan di antaranya.

a. Kekuatan hubungan yang kuat antarkaum muslim
Itulah kenapa Rasulullah telah hijrah dari Mekah ke Madinah mempersaudarakan antara prajurit dakwah, Muhajirin, dan Anshar. Membangun persaudaraan keimanan (al-ukhuwah al-imaniyah). Tujuannya untuk saling merasakan beban dakwah bersama, berjuang bersama dalam perjuangan, saling menguatkan dalam perjuangan suci. Dari sinilah titik tolak kekuatan kaum muslim. Adanya jalinan hubungan yang kuat antarprajurit inilah yang sanggup menjadikan umat Islam dan pasukan muslim laksana satu jasad dan satu tubuh yang saling melengkapi dan saling berkaitan. Tidak ada hubungan yang lebih kuat daripada akidah, dan tiada akidah yang lebih kuat daripada Islam.


"Berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian ketika kalian bermusuhan. Lalu, Allah mempersatukan hatimu, sehingga berkat nikmat-Nya kalian. menjadi bersaudara. (dan ingat juga) ketika kamu berada di pinggir neraka, lalu dia menyelamatkanmu darinya, demikianlah Dia menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kalian agar mendapat petunjuk." (QS Ali lmran [31: 103)

b. Kepercayaan antara Pemimpin dan Pasukan
Adanya saling percaya dalam tubuh pasukan merupakan salah satu aspek kemenangan perjuangan Islam. Saling percaya antarprajurit, prajurit terhadap pemimpin maupun pemimpin terhadap pasukan itu sendiri. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah ketika dalam perang Badar. Rasulullah menerima saran dan kritik dari para sahabat tentang memilih strategi tempat dalam bermarkas.


c. Adanya Ketaatan dan Kepatuhan
Inilah aspek terpenting dari kemenangan dakwah. Taat terhadap instruksi komando adalah kewajiban bagi setiap pasukan. Hal ini ditunjukkan oleh para sahabat dalam menyikapi setiap komando strategis dari Rasulullah selaku panglima tertinggi dalam setiap peperangan, dan mereka mendapat kemenangan. Namun, ketika para sahabat berada di puncak gunung Uhud terpesona dengan harta yang hampir saja ditinggalkan oleh kaum musyrik (ghanimah), kaum muslim hampir saja mengalami kekalahan yang sangat telak. Ketaatan adalah harga mahal yang harus dibayar untuk setiap fase perjuangan.


Allah SWT berfirman.
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih paham dalam sesuatu hal, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir.” (QS An-Nisa' [4]: 59)


Geliat Kemenangan Dakwah

Hari ini Hari ini kita kan berjuang
Jangan ragu jangan takut hadapi rintangan
Pacu langkah rapatkan shafmu dimedan perang
Luruskan niat hanya Allah satu tujuan (Ibnu Hamzah)

Saudaraku seperjuangan, setiap kontribusi kita adalah bukti nyata akan begitu cintanya kita kepada pemilik cinta yang hakiki. Hingga cinta yang menebar di tanah pertiwi ini kita satukan menjadi sebuah gerakan kebaikan yang terstruktur.

Kita adalah bagian yang tidak bisa saling terpisahkan, kita adalah satu bagian yang utuh. Karena perjuangan dalam membangun peradaban bukanlah pekerjaan yang mudah, bukanlah sebuah kesempatan untuk membangun kejayaan pribadi. Maka kesatuan kita menjadi kesatuan yang utuh dalam membangun peradaban menuju soko guru yang membawa perubahan.

Sehingga hal yang harus terus kita benahi adalah kesadaran. Kesadaran bahwa kemenangan kita adalah karena Allah SWT. Setiap aktifitas kebaikan kita adalah wujud dari misi kita sebagai manusia yaitu untuk beribadah dan khalifah. Dimanapun kaki berpijak, maka keberadaannya akan menelurkan kebaikan-kebaikan.

Selanjutnya adalah Kesadaran bahwa kita tidak bisa berjuang sendirian, kita tidak bisa membangun negeri ini hanya dengan satu gerakan. Namun kita sadar bahwa mihwar kebangkitan akan kita sambut bersama-sama dengan cucuran keringat bersama. Sehingga ukhuwwah harus terus diperkuat. Mempertemukan kebaikan antar sesama adalah keharusan kita. Karena kita muslim adalah bersaudara.

Setiap kebaikan yang dibangun, akan menemukan dinamikanya masing-masing. Karena memang begitulah geliat dari kebaikan itu sendiri. Karena syurga itu hanya bisa dicapai dengan pengorbanan yang besar. Bahkan pengorbanan itu akan mendekatkan kita dengan aroma syurga yang telah Allah janjikan untuk orang-orang beriman.

Yakinlah, kesulitan-kesulitan yang hadir hanyalah badai yang menggoyangkan keteguhan kita. Pesona dunia, hanyalah gurauan yang menipu kita untuk sampai pada tujuan besar peradaban. Bahkan pesonanya dunia hanyalah setetes dari lautan kenikmatan akhirat.

“Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seorang yang memasukan jarinya kedalam lautan luas maka perhatikanlah yang tersisa.” (HR. Muslim)

Kita sadar bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Setiap cucuran air mata yang telah mengalir adalah sebuah penggugah agar tidak berada dalam kenyamanan dunia yang memesona. Jika tidak begitu, maka kita tidak akan siaga setiap waktu dalam menyikapi permasalahan yang berkecamuk dalam pikiran bangsa ini.

Merdekakan pikiran kita, jadikan pesona dunia untuk inspirasi syurga. Berjuang merupakan kekhasan kita, karena kita merupakan pergerakan yang berorientasi atas kerja-kerja nyata. Bukanlah sebatas kata yang hadir untuk menidurkan lebah-lebah yang kelaparan.

Semoga Allah senantiasa menunjukan kita pada jalan yang lurus. Ihdinasshiraatal mustaqiim. Seperti janji Allah didalam Al Quran “Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. Al Ankabut : 69)

Biarkan dinamika yang hadir sebagai bagian dari kemenangan-kemenangan besar. Karena kemenganan-kemenangan didepan merupakan buah dari ujian-ujian yang datang. Seperti nasihat dari salah seorang guru besar peradaban ini.

Saat itu, seorang bertanya kepada imam syafi’I, “Ya Abu Abdillah, mana yang lebih baik antara seorang yang diberi tamkin (kemenangan) atau yang mendapat ujian dari Allah?” dengan bijak, Imam Syafi’I menjawab, “tamkin akan terwujud setelah seorang mendapat ujian. Allah ta’ala telah menguji nabi nuh, Ibrahim, musa, isa dan Muhammad Saw, ketika mereka bersabar atas ujian yang diberikan, maka Allah kokohkan kedudukan mereka. Jangan seorang pun diantara kalian yang mengira lepas dari rasa sakit.”

Dinamika yang hadir, merupakan bukti bahwa kemengan-kemenangan besar ada didepan kita. Aroma kemenangan itu begitu kuat dan semakin dekat. Mari mendulang suara kebangkitan yang tertebar di daratan nusantara.

Kita raih dan satukan menjadi langkah bersama dalam menyongsong cita-cita besar peradaban. Biarkan lelah-lelah itu menjadi sejarah. Sejarah yang akan menjadi saksi dipersidangan kelak di hadapan Allah SWT. Saudaraku, didepan gerombolan kata ini, sungguh saya melihat calon-calon penghuni syurga. Wallahu a’lam


___________
by al faqiir, NH