Selasa, 21 November 2017

Nikmatilah Hidupmu

Nikmatilah kehidupanmu,
tidak perlu dibandingkan dengan orang lain.
Rasa iri hati kita terhadap orang lain
hanya akan membawa lebih banyak penderitaan.
Lebih baik pikirkanlah apa yang kita miliki.
Hal tersebut akan menjadikan kita lebih banyak bersyukur dan membuat kita bahagia.

Ubah SIKAP dan SUDUT PANDANG


Tugas kita adalah menyalakan lentera...
bukan mencela kegelapan....
Barangkali kita memang tidak bisa mengubah keadaan, tetapi kita bisa mengubah sikap dalam menghadapinya...

Membingungkan, Hidup Manusia

Orang Bijak ditanya
"Apakah yang paling membingungkan di dunia ini?"
dia menjawab : "Manusia",
Karena manusia "Mengorbankan Kesehatannya" hanya "Demi uang";
Lalu dia "Mengorbankan Uangnya",
"demi Kesehatan".

Karena di dalam gerak ada kehidupan

Hidup ini harus bergerak. Tidak boleh diam dan berhenti dalam satu titik saja. Kita harus terus bergerak. Dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Dari satu karya ke karya lainnya. Dari satu kebaikan ke kebaikan lainnya. Dari satu prestasi ke prestasi lainnya. Dari satu kondisi ke kondisi lainnya. Bahkan kadang, dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan interval dan ukuran-ukuran yang berimbang. Karena hidup perlu dinamika. Karena di dalam gerak ada kehidupan, dalam makna yang sesungguhnya.
Bahkan, Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk terus bergerak, ketika Ia menyuruh kita menyambung satu pekerjaan dengan pekerjaan lain.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Qs. Alam Nasyrah: 7 )

Pemimpin Keren : Umar bin Abdul Aziz

Suatu malam, khalifah Umar bin Abdul Aziz berada bersama sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba angin memadamkan lentera yang menerangi mereka.
Lalu Umar langsung saja berdiri dan menyalakannya kembali.
Sahabat-sahabatnya berkata: Kenapa anda tidak memerintahkan salah seorang di antara kami untuk menghidupkannya kembali, wahai Amirul Mukminin?
Beliau menjawab: Apa yang akan mengurangi nilai diriku?
Aku bangkit untuk menghidupkan lentera itu dan aku adalah Umar, kemudian aku kembali duduk dan aku tetap seorang Umar.
#PemimpinKeren

Senin, 23 Oktober 2017

dan Aku Hanya Bisa Menangis Rindu Membaca Kisah Ini

suatu hari....
Abu Bakar, lelaki tinggi kurus itu menjinjing kainnya
terlunjak jalannya, tertampak lututnya, gemetar tubuhnya
“sahabat kalian ini sedang kesal, maka berilah salam padanya dan hiburlah hatinya....”, demikian kata Sang Nabi pada majelisnya....

“antara aku dan putera al Khaththab”, lirih abu bakar..

dia genggam tangan nabi junjungan, dia tatap mata beliau dalam-dalam..
“ada kesalahfahaman. lalu dia marah dan menutup pintu rumah.
kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya,
tapi dia tak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkan...
” demikian 'sang pembenar' (as_shidiq) meneruskan ceritanya....

tepat ketika abu bakar selesai berkisah, ‘umar datang dengan resah...
“sungguh aku diutus pada kalian”, Sang Nabi pun bersabda...
lalu kalian berkata : ‘engkau dusta!’, wajah beliau memerah
hanya abu bakar seorang yang langsung mengiyakan, : ‘engkau benar!’
lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya.
masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?


‘umar berlinang, beristighfar dan berjalan simpuh mendekat
tapi tangis abu bakar lebih keras, air matanya bagai kaca jendela lepas
katanya, “tidak ya Rasulallah.. tidak.. ini bukan salahnya..
demi Allah akulah memang yang keterlaluan..
” demikian ungkapan abu bakar...
lalu diapun memeluk ‘umar, menenangkan bahu yang terguncang


Ya Allah jika kelak mereka berpelukan lagi di sisiMu
mohon sisakan bagian rengkuhannya untuk kami
pada pundak, pada lengan, pada nafas-nafas ini...

Kumpulkan kami bersama mereka... wahai Rabb kami....


* syukron utk ust Salim A Fillah. ...

Memaafkan Itu Mulia

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya.

Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang. Umar bertanya, "Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?"
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, "Aku datang ke negri ini hanya untuk membunuh Muhammad!".
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.

Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, "Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?".

Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, "Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!" Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, "Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu".

Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, "Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah)." Si musyrik itu menjawab dengan ketus, "Aku tidak akan mengucapkannya!". Rasulullah membujuk lagi, "Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah." Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, "Aku tidak akan mengucapkannya!"


Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negrinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, "Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah."

Rasulullah tersenyum dan bertanya, "Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?" Tsumamah menjawab, "Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin."

Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, "Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah."

Saudaraku... apa yang bisa kita simpulkan dari kisah ini?

Apakah kita pengikut ajaran beliau?
Tapi Pernahkan kita memaafkan kesalahan orang? Pernahkah kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengkikut beliau...

Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.

#copasanWAG