*INVOLUSI DAKWAH KULTURAL*
_Ketika populasi Kader Bertambah, Tetapi Tidak Bertumbuh_
*A. Mukaddimah*
Dalam beberapa tahun terakhir kita menyaksikan paradoks yg menarik: jumlah kader bertambah, aktivitas dakwah semakin ramai, struktur semakin membesar, tetapi capaian dakwah justru terasa stagnan.
Kita berjalan cepat, tetapi tidak maju. Kita bergerak banyak, tetapi tidak tumbuh jauh. Kita sibuk mengisi ruang internal, tetapi kehilangan daya jelajah keluar.
Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis kepemimpinan atau kurangnya inovasi program. Ia adalah gejala kultural yang dalam, tentang involusi dakwah kultural.
Istilah involusi dikenal dalam antropologi sebagai keadaan ketika suatu sistem bekerja semakin keras dan semakin rumit, tetapi hasilnya tidak berkembang.
Clifford Geertz menggambarkan involusi sebagai gerakan intensif tanpa ekspansi; upaya yang banyak tanpa pertumbuhan yang berarti.
Dalam konteks dakwah, involusi terjadi ketika energi kader tersedot ke dalam, siklus kegiatan berputar, namun kurangnya orientasi publik dan ummat, dan inovasi yang muncul sebatas perbaikan format bukan perluasan ruang. Dakwah berjalan, tetapi tidak menembus batas.
Artikel ini ingin membedah gejala tersebut dan menawarkan arah transformasi.
Sebab involusi bukan sekadar masalah, tetapi tanda bahwa sudah tiba waktunya mereposisi kembali orientasi dakwah.
*B. Fenomena Involusi:*
Gerakan yang Sibuk tetapi Tidak Produktif
Jika kita melihat aktivitas dakwah selama satu dekade terakhir, kita menemukan pola yang mirip involusi: semakin banyak program, semakin padat agenda pekanan, semakin bervariasi kelas pelatihan, tetapi dampak sosial dakwah tidak meluas.
Pertumbuhan kader tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan pengaruh.
Lingkaran tarbiyah bertambah, tetapi lingkaran penerimaan publik menyempit.
Involusi membuat gerakan terjebak dalam “kultur aktivitas”—seolah-olah semakin banyak kegiatan berarti semakin baik.
Namun dalam realitas sosial, banyak kegiatan: tidak selalu berarti banyak perubahan.
Aktivitas internal tidak otomatis menghasilkan relevansi eksternal. Bahkan, terlalu banyak kegiatan internal dapat menyedot energi kreatif yang seharusnya dipakai untuk menjawab kebutuhan masyarakat (Al Islamu huwalhallu)
Dakwah akhirnya menjadi seperti roda yang terus berputar di tempat—bergerak cepat, tetapi tidak berpindah. Sejenis treadmill syndrome
*C. Mengapa Involusi Terjadi?*
Mengurai akar masalah Kultural dalam dakwah
Setidaknya ada beberapa sebab mengapa involusi dakwah muncul dan bertahan.
*1. Dominasi orientasi internal*
Ketika fokus utama gerakan adalah mengelola kader (meskipun ini juga penting)—bukan mengembangkan potensi dan aset umat—maka energi dakwah habis untuk maintenance internal.
Strukturalisme yg terkadang cukup terasa sektoralnya, membentuk cara berpikir bahwa keberhasilan dakwah diukur dari kerapian struktur beserta indikator indikator kinerja, bukan kedalaman pengaruh sosial.
*2. Repetisi format yang disakralkan*
Banyak model pembinaan dan program dakwah yang diulang dari tahun ke tahun tanpa pembaruan paradigma.
Format dijaga, tetapi maknanya mengerdil. Dakwah jatuh pada formalisme: mengulang tanpa memperluas, dan mendalam.
*3. Minimnya ekspansi lahan dakwah*
Lahan dakwah baru—komunitas urban, anak muda digital, keluarga modern, isu lingkungan dan change climate, seni, budaya, lifestyle—belum digarap serius.
Akibatnya, kader bertambah tetapi ladangnya tetap sempit. Maka terjadilah “kepenuhan ruang”, bukan “perluasan ruang”.
*4. Kebiasaan menata ulang struktur, bukan budayanya*
Kita sering memperbaiki SOP, mengubah departemen, menyusun ulang timeline, roadmap, renstra, blueprint (meskipun itu juga penting) tetapi jarang memperbarui cara kita membangun hubungan sosial, menciptakan makna, memproduksi narasi, menghadirkan simbol, atau membentuk budaya. Perubahan struktural tidak menyentuh akar kultural.
*5. Dakwah menjadi self-referential*
Gerakan mulai merujuk pada dirinya sendiri: kegiatan untuk kader, bahasa untuk kader, agenda untuk kader. Publik dan ummat menjadi penonton, bukan subyek dakwah." Ketika dakwah tidak lagi berbicara dengan bahasa umat, maka dakwah kehilangan daya tariknya.
Inilah akar involusi dakwah, gerakan menatap ke dalam, bukan menjangkau keluar.
*D. Gejala Involusi:*
Lima Tanda yang Mudah Terlihat
Dari akar masalah tersebut, muncul beberapa gejala nyata:
1. Aktivitas banyak, tetapi tidak menghasilkan pengaruh baru.
Kegiatan demi kegiatan dilakukan, tetapi tidak memunculkan perubahan sosial yang signifikan (ishlah wa taghyir ijtima’i)
2. Kader sibuk tetapi tidak menginspirasi.
Kader aktif di lingkaran internal, tetapi tidak punya jejak pengaruh di masyarakat.
Minimnya para syakhsiyah barizah (Key Opinion Leader) di semua lini kehidupan.
3. Kaderisasi bertambah, tetapi jaringan sosial tidak berkembang.
Jumlah halaqah, circle, kelas terus bertambah, tetapi tidak diikuti pertumbuhan komunitas dakwah di luar struktur.
4. Program berjalan, tetapi semakin less relevant.
Banyak kegiatan masih berorientasi format lama yang tidak menjawab persoalan zaman.
Isu strategis yang kekinian dan kedisinian di masyarakat, justru disiapkan narasinya oleh pihak pihak yg berkepentingan, sehingga masyarakat kehilangan navigasi yg berorientasi pada dakwah jamahiriyah.
5. Inovasi teknis menggantikan inovasi strategis.
Ada perbaikan desain, media, atau modul, tetapi tidak pada rethinking, reinventing, serta repositioning dakwah dalam ekosistem gerakan sosial yang lebih besar.
Jika gejala ini muncul serentak, maka involusi sedang bekerja.
*E. Jalan Keluar: Dari Involusi Menuju Evolusi Dakwah*
Involusi bukan akhir. Ia adalah sinyal bahwa gerakan memerlukan lompatan orientasi.
Mengatasi involusi tidak cukup dengan menambah program atau mempercantik format. Yang dibutuhkan adalah reorientasi paradigma dakwah.
*1. Reposisi orientasi: dari internal ke publik*
Dakwah harus kembali melihat masyarakat sebagai ladang utama. Energi kader harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan umat: problem keluarga, pendidikan, ekonomi, digital culture, pemuda, lingkungan, kesehatan mental, dan seterusnya.
*2. Membuka lahan dakwah baru*
Pertumbuhan kader harus diimbangi dengan pertumbuhan domain dakwah. Penguatan Ekosistem dakwah harus diperluas ke:
- Komunitas anak muda
- Dunia kreatif dan seni
- Ruang digital dan AI
- Pendidikan keluarga
- Isu-isu publik dan kebangsaan serta internasional.
- Lingkungan dan sosial-ekonomi
Semakin banyak ladang, semakin besar potensi evolusi.
*3. Transisi dari culture of repetition ke culture of relevance*
Format lama bisa dipertahankan, tetapi relevansinya harus diperbarui. Dakwah harus mengembangkan kemampuan:
- membaca isu isu masyarakat (think and feel)
- memproduksi makna
- membangun narasi
- menjalin kedekatan emosional
- menggerakkan komunitas
Relevansi lebih penting daripada rutinitas.
*4. Membangun agen dakwah yang kreatif dan menjadi pionir*
Kader tidak cukup menjadi pelaksana program. Ia harus menjadi pencipta jalan, pembuka ruang, dan penggerak komunitas. Gerakan membutuhkan pionir, bukan hanya operator.
*5. Mengembalikan ruh dakwah sebagai transformasi budaya*
Dakwah bukan hanya penyampaian ayat dan hadits, tetapi proses membentuk budaya hidup: akhlak, gaya hidup, cara berpikir, cara bermasyarakat.
Ketika dakwah kembali pada fungsi kulturalnya, involusi akan berubah menjadi evolusi.
*F. Khotimah: Evaluasi Diri untuk Melanjutkan Perjalanan*
Involusi bukan musibah; ia adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa kita telah mencapai batas dari pendekatan lama dan perlu memasuki pendekatan baru.
Pertanyaannya adalah: apakah kita siap melompat?
Beberapa pertanyaan reflektif untuk kader dan pemimpin dakwah:
Apakah kita sedang bertumbuh atau hanya bergerak?
Apakah aktivitas kita menambah pengaruh atau hanya menambah kesibukan?
Apakah dakwah kita masih dominan berbicara dengan masyarakat atau hanya dengan struktur internal?
Apakah kita berani keluar dari kultur lama untuk membuka ruang dakwah yang lebih luas?
Jika jawabannya mengarah pada perubahan, maka involusi adalah pintu menuju evolusi.
Gerakan dakwah hanya akan menemukan kembali kekuatannya ketika ia berani memperluas lahan, memperbarui paradigma, dan menembus batas-batas struktur organisasi untuk menjadi gerakan jama’iyah yang besar, inklusif, dan relevan.
Dakwah harus kembali membuka jalan (tathwiriyah), bukan hanya menjaga jalan (ta'shiliyah) .
Gerakan dakwah yang harus kembali menumbuhkan umat, bukan hanya menambah struktur. Dan kader harus kembali menjadi pionir yang membawa cahaya, bukan hanya pelaksana yang menjaga lampu.
Saatnya dakwah keluar dari involusi—dan kembali menjadi gerakan perubahan yg berarti dan bermakna dalam kehidupan.[]Amu
☪️
*Madrasatuna*