Selasa, 20 Januari 2026

ALLAH SELALU MENGEJUTKAN KITA DENGAN SENJATA YANG DIPILIHNYA!

ALLAH SELALU MENGEJUTKAN KITA DENGAN SENJATA YANG DIPILIHNYA!

Oleh: Adham Syarqawi


Mungkin sekarang kamu bertanya di dalam hati: Bagaimana Allah akan memulihkan hak-hakku?

Atau mungkin kamu bahkan lebih marah lalu berkata: Bagaimana Allah akan membalaskan dendamku?

Kamu sekarang melihat pada sebab, karena segala sesuatu di hadapanmu tampak meragukan dan sulit!


Kawan!

Jangan memikirkan kesulitan kondisimu,

Pikirkanlah kuasa Allah yang kamu seru!

Sejak kapan kita bertanya kepada Allah tentang "bagaimana," wahai sahabatku?

Urusan "bagaimana" itu hak prerogatif Allah semata.

Kita harus berdoa kepada-Nya dengan penuh keyakinan. Itu saja!


Terkait strategi pertempuran dan senjata pembalasan, itu menjadi urusan Allah, Yang Mahakuasa, yang akan mengaturnya dengan hikmah-Nya!

Allah selalu mengejutkan kita dengan senjata yang dipilih-Nya untuk pertempuran!


Ketika Nabi Nuh as mengangkat tangannya ke langit, berdoa: “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku)!” (al-Qamar: 10), tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa pembalasan Allah akan begitu dahsyat dan menghancurkan!

Mungkin yang dinantikan adalah Allah menghancurkan mereka dengan satu pukulan atau teriakan!

Tidak seorang pun di bumi atau di langit yang menyangka bahwa air akan menjadi senjata pertempuran!

Senjata yang dipilih Allah untuk membantu hamba-Nya yang terzalimi.

Perintah ilahi kepada langit untuk menurunkan hujan, kepada bumi untuk mengeluarkan airnya, dan kepada laut untuk meluap, itu menenggelamkan bumi sampai ke ujungnya, hingga tidak ada tempat berlindung dari ketetapan Allah kecuali kepada Allah!


Kisah-kisah Al-Quran bukan untuk hiburan, sahabatku!

Semuanya adalah akidah dan pelajaran tentang keimanan.

Orang-orang yang terzalimi tidak punya pilihan selain menyampaikan pengaduan mereka!


Adapun detail pertempuran dan senjatanya, itu semua berada dalam kekuasaan Yang Maha Kuasa yang menetapkan segala sesuatu dengan kebijaksanaan-Nya! 


Sekiranya kamu hidup di zaman Namrud, dan melihatnya memerintahkan orang-orang bersujud kepadanya, lalu dengan sombong mendebat Nabi Ibrahim as dengan mengatakan, "Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan!" (al-Baqarah: 258), kamu mungkin bertanya pada diri sendiri dengan heran: Bagaimana Allah akan mengubah semua ini?

Senjata mematikan apa yang akan dipilih Allah untuk menghinakan tiran ini?

Dan tentu saja, tidak pernah terlintas dalam pikiranmu bahwa Allah Yang Maha Tinggi, akan mengirim satu tentara diantara tentara-tentara-Nya untuk menghukumnya,


tentara kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang!

Seekor nyamuk! Ya, seekor nyamuk yang dimasukkannya ke dalam hidungnya, lalu tinggal di otaknya!

Namrud tidak bisa tenang sampai orang-orang yang biasa bersujud kepadanya memukuli kepalanya dengan sepatu mereka.

Begitulah cara Allah, sahabatku, mengatur segala sesuatu dengan cara yang mencengangkan!


Kawan!

Sekiranya kamu menyaksikan saat Nabi Ibrahim as diletakkan di dalam manjaniq (alat pelempar) untuk dilemparkan ke dalam api!

Kamu mungkin akan berkata dalam hati: Mungkin Allah akan memadamkan api itu dengan air yang diturunkan dari langit sekaligus!

Itulah satu-satunya solusi jika api itu membakar atas kehendaknya sendiri!

Tetapi api ini hanya membakar atas perintah Tuhannya, maka Dia memerintahkannya untuk menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim as. Lalu Ibrahim as pun selamat!

Allah Mahakuasa mengubah sifat-sifat benda jika Dia menghendakinya. Pisau tajam tidak membunuh Ismail as, sahabatku!


Ikan paus buas dan pemangsa tidak melumat Yunus as, meskipun menelannya.

Segala sesuatu di alam semesta ini bekerja atas perintah Allah, maka jangan melihat pada sebab-sebab yang ada,

Bersamalah dengan Tuhan pemilik segala sebab, maka Dia akan mencukupimu!

Semoga kedamaian menyertai hatimu. (ars) 

Rabu, 14 Januari 2026

tentang ORIENTASI

 

Allah swt berfirman didalam surat ar Rum ayat 30 :


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا 

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah)…”


ayat tersebut mengingatkan kita semua terkait orientasi…

Bahwa hendaknya kita selalu berorientasi kepada agama yg hanif ini... yang akan mengantarkan kita kepada surga dan keridhoan Allah SWT.


Dimanapun dan sebagai apapun, orientasi kita tetap untuk agama yg hanif ini, untuk menegakan kalimat Allah..

Ketika orientasi sudah menyimpang, maka akan berakibat terjadi penyimpangan terhadap tujuan dakwah.

Padahal, penyimpangan dari orientasi dan  tujuan dakwah adalah hal yang paling mematikan bagi setiap aktivis, dan sangat berpotensi menghambat kemajuan dakwah secara keseluruhan. 

Bukan saja paling mematikan secara individual, tapi juga bisa menghancurkan jamaah.

Sebab itu mengapa dalam forum-forum kita selalu diingatkan jangan sampai kita mengalami  disorientasi. 

Ketika sudah terjadi disorientasi, biasanya kita akan terjebak dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, terjebak  dalam  sikap pragmatis.

Qona'ah, Merasa Cukup dan Lapang Dada

 

Qona’ah adalah sikap menerima dengan lapang dada terhadap rezeki dan ketentuan Allah 'Azza wa Jalla, disertai rasa syukur serta tidak berlebihan dalam menginginkan sesuatu yang ada di luar kemampuan.


Dalam bahasa sederhana, qona’ah berarti puas dengan apa yang dimiliki, tanpa rasa iri pada orang lain, namun tetap berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan yang halal dan baik.


Unsur Qona’ah:

-Menerima apa yang Allah berikan dengan hati ridha.

-Bersyukur atas nikmat yang ada, sekecil apapun.

-Tidak tamak terhadap milik orang lain.

-Tetap berusaha dengan ikhtiar yang baik, bukan pasrah buta.


Manfaat Qona’ah:

-Menumbuhkan ketenangan hati dan jiwa.

-Menghindarkan diri dari sifat iri dan dengki.

-Membuat hidup lebih sederhana dan berkah.

-Menjadi dasar kesabaran dan tawakal.


🕌 Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qona’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim).


Allahu ta'ala a'lam bishawab.

INVOLUSI DAKWAH KULTURAL

 

*INVOLUSI DAKWAH KULTURAL*

 _Ketika populasi Kader Bertambah, Tetapi Tidak Bertumbuh_ 


*A. Mukaddimah*

Dalam beberapa tahun terakhir kita menyaksikan paradoks yg menarik: jumlah kader bertambah, aktivitas dakwah semakin ramai, struktur semakin membesar, tetapi capaian dakwah justru terasa stagnan. 

Kita berjalan cepat, tetapi tidak maju. Kita bergerak banyak, tetapi tidak tumbuh jauh. Kita sibuk mengisi ruang internal, tetapi kehilangan daya jelajah keluar. 

Fenomena ini bukan sekadar persoalan teknis kepemimpinan atau kurangnya inovasi program. Ia adalah gejala kultural yang dalam, tentang  involusi dakwah kultural. 

Istilah involusi dikenal dalam antropologi sebagai keadaan ketika suatu sistem bekerja semakin keras dan semakin rumit, tetapi hasilnya tidak berkembang. 

Clifford Geertz menggambarkan involusi sebagai gerakan intensif tanpa ekspansi; upaya yang banyak tanpa pertumbuhan yang berarti. 

Dalam konteks dakwah, involusi terjadi ketika energi kader tersedot ke dalam, siklus kegiatan berputar,  namun kurangnya orientasi publik dan ummat, dan inovasi yang muncul sebatas perbaikan format bukan perluasan ruang. Dakwah berjalan, tetapi tidak menembus batas. 

Artikel ini ingin membedah gejala tersebut dan menawarkan arah transformasi. 

Sebab involusi bukan sekadar masalah, tetapi tanda bahwa sudah tiba waktunya mereposisi kembali orientasi dakwah.


*B. Fenomena Involusi:*

 Gerakan yang Sibuk tetapi Tidak Produktif

Jika kita melihat aktivitas dakwah selama satu dekade terakhir, kita menemukan pola yang mirip involusi: semakin banyak program, semakin padat agenda pekanan, semakin bervariasi kelas pelatihan, tetapi dampak sosial dakwah tidak meluas. 

Pertumbuhan kader tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan pengaruh. 

Lingkaran tarbiyah bertambah, tetapi lingkaran penerimaan publik menyempit.

Involusi membuat gerakan terjebak dalam “kultur aktivitas”—seolah-olah semakin banyak kegiatan berarti semakin baik. 

Namun dalam realitas sosial, banyak kegiatan: tidak selalu berarti banyak perubahan. 


Aktivitas internal tidak otomatis menghasilkan relevansi eksternal. Bahkan, terlalu banyak kegiatan internal dapat menyedot energi kreatif yang seharusnya dipakai untuk menjawab kebutuhan masyarakat (Al Islamu huwalhallu)

Dakwah akhirnya menjadi seperti roda yang terus berputar di tempat—bergerak cepat, tetapi tidak berpindah. Sejenis treadmill syndrome


*C. Mengapa Involusi Terjadi?* 

Mengurai akar masalah Kultural dalam dakwah 

Setidaknya ada beberapa sebab mengapa involusi dakwah muncul dan bertahan.


*1. Dominasi orientasi internal*

Ketika fokus utama gerakan adalah mengelola kader (meskipun ini juga penting)—bukan mengembangkan potensi dan aset umat—maka energi dakwah habis untuk maintenance internal.

Strukturalisme yg terkadang cukup terasa sektoralnya, membentuk cara berpikir bahwa keberhasilan dakwah diukur dari kerapian struktur beserta indikator indikator kinerja, bukan kedalaman pengaruh sosial. 


*2. Repetisi format yang disakralkan*

Banyak model pembinaan dan program dakwah yang diulang dari tahun ke tahun tanpa pembaruan paradigma. 

Format dijaga, tetapi maknanya mengerdil. Dakwah jatuh pada formalisme: mengulang tanpa memperluas, dan mendalam.


*3. Minimnya ekspansi lahan dakwah*

Lahan dakwah baru—komunitas urban, anak muda digital, keluarga modern, isu lingkungan dan change climate, seni, budaya, lifestyle—belum digarap serius. 

Akibatnya, kader bertambah tetapi ladangnya tetap sempit. Maka terjadilah “kepenuhan ruang”, bukan “perluasan ruang”.


*4. Kebiasaan menata ulang struktur, bukan budayanya*

Kita sering memperbaiki SOP, mengubah departemen, menyusun ulang timeline, roadmap, renstra, blueprint (meskipun itu juga penting) tetapi jarang memperbarui cara kita membangun hubungan sosial, menciptakan makna, memproduksi narasi, menghadirkan simbol, atau membentuk budaya. Perubahan struktural tidak menyentuh akar kultural. 


*5. Dakwah menjadi self-referential*

Gerakan mulai merujuk pada dirinya sendiri: kegiatan untuk kader, bahasa untuk kader, agenda untuk kader. Publik dan ummat menjadi penonton, bukan subyek dakwah." Ketika dakwah tidak lagi berbicara dengan bahasa umat, maka dakwah kehilangan daya tariknya.


Inilah akar involusi dakwah, gerakan menatap ke dalam, bukan menjangkau keluar.


*D. Gejala Involusi:* 


Lima Tanda yang Mudah Terlihat

Dari akar masalah tersebut, muncul beberapa gejala nyata:

1. Aktivitas banyak, tetapi tidak menghasilkan pengaruh baru. 

Kegiatan demi kegiatan dilakukan, tetapi tidak memunculkan perubahan sosial yang signifikan (ishlah wa taghyir ijtima’i)


2. Kader sibuk tetapi tidak menginspirasi. 

Kader aktif di lingkaran internal, tetapi tidak punya jejak pengaruh di masyarakat. 


Minimnya para syakhsiyah barizah (Key Opinion Leader) di semua lini kehidupan. 


3. Kaderisasi bertambah, tetapi jaringan sosial tidak berkembang. 

Jumlah halaqah, circle, kelas terus bertambah, tetapi tidak diikuti pertumbuhan komunitas dakwah di luar struktur.


4. Program berjalan, tetapi semakin less relevant. 

Banyak kegiatan masih berorientasi format lama yang tidak menjawab persoalan zaman. 


Isu strategis yang kekinian dan kedisinian di masyarakat, justru disiapkan narasinya oleh pihak pihak yg berkepentingan, sehingga masyarakat kehilangan navigasi yg berorientasi pada dakwah jamahiriyah.


5. Inovasi teknis menggantikan inovasi strategis. 

Ada perbaikan desain, media, atau modul, tetapi tidak pada rethinking, reinventing, serta repositioning dakwah dalam ekosistem gerakan sosial yang lebih besar.


Jika gejala ini muncul serentak, maka involusi sedang bekerja.


*E. Jalan Keluar: Dari Involusi Menuju Evolusi Dakwah*

Involusi bukan akhir. Ia adalah sinyal bahwa gerakan memerlukan lompatan orientasi.


Mengatasi involusi tidak cukup dengan menambah program atau mempercantik format. Yang dibutuhkan adalah reorientasi paradigma dakwah.


*1. Reposisi orientasi: dari internal ke publik*

Dakwah harus kembali melihat masyarakat sebagai ladang utama. Energi kader harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan umat: problem keluarga, pendidikan, ekonomi, digital culture, pemuda, lingkungan, kesehatan mental, dan seterusnya.


*2. Membuka lahan dakwah baru*

Pertumbuhan kader harus diimbangi dengan pertumbuhan domain dakwah. Penguatan Ekosistem dakwah harus diperluas ke:


- Komunitas anak muda

- Dunia kreatif dan seni

- Ruang digital dan AI

- Pendidikan keluarga

- Isu-isu publik dan kebangsaan serta internasional.

- Lingkungan dan sosial-ekonomi


Semakin banyak ladang, semakin besar potensi evolusi.


*3. Transisi dari culture of repetition ke culture of relevance*

Format lama bisa dipertahankan, tetapi relevansinya harus diperbarui. Dakwah harus mengembangkan kemampuan:

- membaca isu isu masyarakat (think and feel) 

- memproduksi makna

- membangun narasi

- menjalin kedekatan emosional

- menggerakkan komunitas


Relevansi lebih penting daripada rutinitas.


*4. Membangun agen dakwah yang kreatif dan menjadi pionir*

Kader tidak cukup menjadi pelaksana program. Ia harus menjadi pencipta jalan, pembuka ruang, dan penggerak komunitas. Gerakan membutuhkan pionir, bukan hanya operator.


*5. Mengembalikan ruh dakwah sebagai transformasi budaya*

Dakwah bukan hanya penyampaian ayat dan hadits, tetapi proses membentuk budaya hidup: akhlak, gaya hidup, cara berpikir, cara bermasyarakat. 


Ketika dakwah kembali pada fungsi kulturalnya, involusi akan berubah menjadi evolusi.


*F. Khotimah: Evaluasi Diri untuk Melanjutkan Perjalanan*

Involusi bukan musibah; ia adalah cermin. Ia menunjukkan bahwa kita telah mencapai batas dari pendekatan lama dan perlu memasuki pendekatan baru.


Pertanyaannya adalah: apakah kita siap melompat?

Beberapa pertanyaan reflektif untuk kader dan pemimpin dakwah:

Apakah kita sedang bertumbuh atau hanya bergerak?

Apakah aktivitas kita menambah pengaruh atau hanya menambah kesibukan?

Apakah dakwah kita masih dominan berbicara dengan masyarakat atau hanya dengan struktur internal?

Apakah kita berani keluar dari kultur lama untuk membuka ruang dakwah yang lebih luas?


Jika jawabannya mengarah pada perubahan, maka involusi adalah pintu menuju evolusi. 

Gerakan dakwah hanya akan menemukan kembali kekuatannya ketika ia berani memperluas lahan, memperbarui paradigma, dan menembus batas-batas struktur organisasi untuk menjadi gerakan jama’iyah yang besar, inklusif, dan relevan.


Dakwah harus kembali membuka jalan (tathwiriyah), bukan hanya menjaga jalan (ta'shiliyah) .

 Gerakan dakwah yang harus kembali menumbuhkan umat, bukan hanya menambah struktur. Dan kader harus kembali menjadi pionir yang membawa cahaya, bukan hanya pelaksana yang menjaga lampu.

Saatnya dakwah keluar dari involusi—dan kembali menjadi gerakan perubahan yg berarti dan bermakna dalam kehidupan.[]Amu


☪️

*Madrasatuna*

KHOSYYAH – RASA TAKUT

 

Tarbiyah adalah mengembangkan potensi diri anggotanya agar secara fikry, physically dan qalby terus meningkat.
Akan tetapi sayangnya urusan hati kurang diperhatikan dengan maksimal.

Padahal Hasan Al-Banna sangat concern dengan hati yang bersih.

الشهيد حسن البنا: وَلَقَدْ كُنْتُ، وَمَا زِلْتُ أَقُوْلُ لِلْإِخْوَانِ فِيْ كُلِّ مُنَاسَبَةٍ أَنَّكُمْ لَنْ تُغْلَبُوْا أَبَدًا مِنْ

أ‌- قِلَّةِ عَدَدِكُمْ

ب‌- وَلَا مِنْ ضَعْفِ وَسَائِلِكُمْ

ت‌- وَلَا مِنْ كَثْرَةِ خُصُوْمِكُمْ

ث‌- وَلَا مِنْ تَآلُبِ الْأَعْدَاءِ عَلَيْكُمْ، وَلَوْ تُجْمِعُ أَهْلُ الْأَرْضِ جَمِيْعًا، مَا اسْتَطَاعُوْا أَنْ يَنَالُوْا مِنْكُمْ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَلَيْكُم

وَلَكِنَّكُمْ تُغْلَبُوْنَ أَشْنَعَ الْغَلَبِ، وَتَفْقِدُوْنَ كُلَّ مَا يَتَّصِلُ بِالنَّصْرِ، بِسَبَبِ إِذَا

أ‌- فَسَدَتْ قُلُوْبُكُمْ

ب‌- وَلَمْ يُصْلِحِ اللهُ أَعْمَالَكُمْ

ت‌- أَوْ إِذَا تَفَرَّقَتْ كَلِمَتُكُمْ، وَاخْتَلَفَتْ آرَاؤُكُمْ


Syahid Hasan Al-Banna: Aku selalu berkata, dan masih kukatakan, kepada ikhwah sekalian bahwa kalian tidak akan pernah dikalahkan, bukan karena:

a) jumlah kalian sedikit

b) sumber daya kalian terbatas

c) banyaknya musuh kalian

d) gabungan kekuatan musuh kalian melawan kalian. Sekalipun seluruh penduduk bumi bersatu melawan kalian, mereka tidak akan mampu melukai kalian. Kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk kalian.

Tetapi kalian akan menderita kekalahan yang paling mengerikan dan kehilangan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemenangan karena:

a) hati kalian menjadi rusak

b) Allah tidak memperbaiki amal kalian

c) atau hancurnya persatuan kalian dan kalian saling bertikai


Dampak dari keberhasilan tarbiyah ruhiyyah seharusnya adalah hati semakin khasyyah kepada Allah. Dan inilah puncak keimanan dan ketakwaan.

Semakin banyak ilmu yang dimiliki seorang kader seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ (28)

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (28)


Begitu juga Nabi SAW menghubungkan ilmu dengan khosyyah kepada Allah:

Dari Aisyah RA, Nabi SAW yang berkata:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَنَزَّهُونَ عَنْ الشَّيْءِ أَصْنَعُهُ، فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Mengapa orang-orang menahan diri dari melakukan sesuatu yang aku lakukan? Demi Allah, aku adalah orang yang paling berilmu tentang Allah dan paling takut kepada-Nya.” (Bukhary dan Muslim)


Pun Nabi SAW berdoa memohon khosyyah kepada Allah:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : قَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُومُ مِنْ مَجْلِسٍ حَتَّى يَدْعُوَ بِهَؤُلاَءِ الدَّعَوَاتِ لأَصْحَابِهِ :( اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا )

رواه الترمذي (رقم/3502) وقال: حسن غريب. وصححه الألباني في " صحيح الترمذي ".


Dari Ibnu Umar RA beliau berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam jarang meninggalkan majelis tanpa memanjatkan doa-doa ini untuk para sahabatnya:

(Ya Allah, berilah kami rasa takut kepada-Mu sehingga kami tidak durhaka kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu sehingga kami masuk surga-Mu, dan keyakinan yang memudahkan kami menghadapi musibah dunia, dan berilah kami pendengaran yang dapat dinikmati.) Dan berilah kami penglihatan dan kekuatan selama Engkau masih memelihara kami, dan jadikan itu warisan kami. Berilah kami kemenangan atas orang-orang yang menzalimi kami, dan bantulah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan agama kami sebagai beban, dan janganlah dunia ini menjadi perhatian terbesar kami atau batas pengetahuan kami. Janganlah Engkau berikan kekuasaan atas kami kepada orang-orang yang tidak mengasihani kami. [Diriwayatkan oleh At-Tirmidhi (3502).


Ada beberapa keutamaan takut kepada Allah, diantaranya adalah:

1. Mencegah kemaksiatan

Ternyata khosyah inilah yang mencegah seseorang dari maksiat. Kalau sudah ada khosyah tak perlu cctv untuk taat. Buktinya Habil tak mau membunuh saudaranya karena rasa takut kepada Allah. Qs Al-Maidah, ayat 28:

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ (28)


“Jika kamu mengulurkan tanganmu untuk membunuhku, aku tidak akan mengulurkan tanganku untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (28)


2. Mendorong untuk berbuat ikhlas

Rasa takut kepada Allah bukan hanya mencegah dosa tapi juga mendorong untuk beramal dan ikhlas. Firman Allah dalam surat al-Insan:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10)

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. Sungguh, kami takut akan (azab) Tuhan pada hari (ketika) orang-orang berwajah masam penuh kesulitan."


3. Rasa takut kepada Allah tanda Allah berbuat baik kepada orang tersebut

Dan ternyata Khosyyah pada seseorang tanda Allah menginginkan kebaikan pada dirinya. Firman Allah dalam surat al-Mukminun:

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (55) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَلْ لَا يَشْعُرُونَ (56) إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (57) 

“Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya. Sungguh, orang-orang yang karena takut kepada Tuhannya. (itulah orang yang mendapatkan kebaikan).”


4. Generasi yang memiliki rasa khossyah kepada Allah layak memimpin

Dan ternyata generasi yang khosyyah kepada Allah layak mengganti generasi yang rusak.

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ (14)


“Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di bumi setelah mereka. Itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (14)


5. Khossyah mendatangkan perlindungan

Khosyyah juga mendatangkan perlindungan Allah, hadits Nabi SAW;

وعن أبى هريرة رضي الله عنه، عن النبى صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ “سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله‏:‏ إمام عادل، وشاب نشأ في عبادة الله تعالى، ورجل قلبه معلق بالمساجد، ورجلان تحابا في الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال، فقال‏:‏ إنى أخاف الله، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه، ورجل ذكر الله خالياً ففاضت عيناه” ‏(‏‏(‏متفق عليه‏)‏‏)‏

Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), Nabi (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: “Ada tujuh orang yang akan diberi naungan Allah pada hari kiamat, yaitu: seorang penguasa yang adil; seorang pemuda yang tumbuh besar dalam ibadah kepada Allah; seorang laki-laki yang hatinya terikat pada masjid-masjid; dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah; seorang laki-laki yang didekati oleh seorang wanita yang berstatus tinggi dan cantik, tetapi ia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’; seorang laki-laki yang memberi sedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanannya; dan seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian dan matanya berlinang air mata.” (Diriwayatkan oleh Nabi Muhammad SAW)


6. Rasa khossyah kepada Allah menghindarkan seseorang dari adzab

وعن ابن عباس، رضي الله عنهما قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ “عينان لا تمسهما النار عين بكت من خشية الله، وعين باتت تحرس في سبيل الله‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه الترمذي وقال‏:‏ حديث حسن‏.‏ ‏)‏‏)‏‏.‏

Dari Ibnu Abbas (semoga Allah meridai keduanya), beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah (shalawat dan salam kepadanya) bersabda: “Dua mata tidak akan tersentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di jalan Allah.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidhi, yang berkata: Ini adalah hadits yang baik.)


7. Khossyah mendatangkan ampunan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ كَانَ رَجُلٌ يُسْرِفُ عَلَى نَفْسِهِ، فَلَمَّا حَضَرَهُ الْمَوْتُ قَالَ لِبَنِيهِ إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَحْرِقُونِي ثُمَّ اطْحَنُونِي ثُمَّ ذَرُّونِي فِي الرِّيحِ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ قَدَرَ عَلَىَّ رَبِّي لَيُعَذِّبَنِّي عَذَابًا مَا عَذَّبَهُ أَحَدًا‏.‏ فَلَمَّا مَاتَ فُعِلَ بِهِ ذَلِكَ، فَأَمَرَ اللَّهُ الأَرْضَ، فَقَالَ اجْمَعِي مَا فِيكِ مِنْهُ‏.‏ فَفَعَلَتْ فَإِذَا هُوَ قَائِمٌ، فَقَالَ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ قَالَ يَا رَبِّ، خَشْيَتُكَ‏.‏ فَغَفَرَ لَهُ ‏"‏‏.‏ وَقَالَ غَيْرُهُ ‏"‏ مَخَافَتُكَ يَا رَبِّ ‏"‏‏.  (البخاري)

Dari Abu Hurairah (semoga Allah meridainya), dari Nabi (shalawat dan salam kepadanya), yang berkata: “Ada seorang laki-laki yang sangat berlebihan dalam dosa-dosanya. Ketika kematian mendekatinya, ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Nanti ketika aku mati, bakarlah aku, lalu gilinglah aku, lalu sebarkanlah debu mayatku agar ditiup angin. Karena Demi Allah, Tuhanku berkuasa atas diriku, (jika menemukan mayatku) Dia akan menghukumku dengan hukuman yang belum pernah Dia timpakan kepada siapa pun.’ Maka tatkala ia mati, anak-anaknya melakukan hal itu dan terjadi padanya. Kemudian Allah memerintahkan bumi, lalu Dia berkata, “Kumpulkanlah apa yang ada di dalam dirimu hai bumi.” Maka bumi pun melakukannya, dan terjadilah, ia berdiri di depan Allah. Allah bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan hal itu?” Ia menjawab, “Ya Tuhan, karena rasa takut kepada-Mu.” Maka Allah mengampuninya.” Dan riwat lain berkata, “Karena takut kepada-Mu, ya Tuhan.” (Bukhari)


8. Khosyah menyebabkan tambahan 2 syurga, orang yang takut kepada Allah mendapatkan total 4 syurga. Firman Allah dalam surat an-Naziat:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى (41)

Surat Arrahman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ (46) 

وَمِنْ دُونِهِمَا جَنَّتَانِ (62)

“Adapun bagi orang yang takut berdiri di hadapan Tuhannya dan menahan diri dari [mengikuti] hawa nafsunya (40), maka sesungguhnya surga akan menjadi tempat berlindungnya (41), 

Surat Arrahman:

Dan bagi orang yang takut, tempat Tuhannya adalah dua surga (46)

Selain dari kedua (surga) itu ada dua surga (lagi). (62)


Semoga kader-kader dakwah seiring dengan waktu pembinaan yang semakin lama, semakin meningkat rasa takut kepada Allah. Sehingga ketika menjadi da’I hanya mengharapkan balasan dari Allah. Dan tatkala menerima amanah baik sebagai pejabat atau pun posisi tertentu tetap jujur dan bertanggungjawab serta amanah karena rasa khossyah yang selalu meliputi.

Allahu A'lam.