Kamis, 06 Oktober 2016

Sahabat Sejati

📝 Bukan Sekadar Kata 📝:

📌📌 Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup menempuh hujan bersama kita, bukan yang hanya mau menumpang payung kita. Ketika hujan hilang, ia pun ikut hilang......✅✅
💧💧📗📘📙📔📒💦💦

_______________________
📝BukanSekadarKata📝:

Bahagia itu....


Bahagia itu bukan berarti kita (bisa) memiliki semua yang kita cintai...
Bahagia itu mencintai semua yang kita miliki..

Bahagia itu sederhana...
Jika kita tidak bisa membuatnya bahagia, maka jangan membuat ia terluka...

Bahagia itu...
selalu bersyukur kepadaNYA....

Rabu, 05 Oktober 2016

tetap SEMANGAT

Seberat apapun beban masalah yang kita hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tidak pernah melebihi batas kemampuan kita...
Ga ada soal yg ga ada jawabannya...
Ga ada gembok yg ga ada kuncinya...

Ketika malam sudah larut dan pekat, pertanda Fajar akan segera tiba...
Tetap Semangat...

tentang CINTA

Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan, cinta akan memahami, menerima dan rela ununtuk berkorban. Karena cinta seharusnya membuatmu bahagia bukan terluka.

Janganlah kamu mencintai seseorang karena paras/wajahnya, hartanya dan jabatannya, tapi cintai karena kebaikan dan ketulusan hatinya karena diantara itu semua, hanya kebaikan dan ketulusan hatinya yang tetap abadi.

Jika kamu mencintai seseorang, cintailah dia apa adanya, bukan karena kamu ingin dia menjadi seperti yang kamu inginkan, karena sesungguhnya kamu hanya mencintai cerminan diri kamu pada dirinya.

Selasa, 04 Oktober 2016

episode KESABARAN


    
Suatu hari, Rasulullah SAW bertamu ke rumah Abu Bakar Ash-Shidiq.
Ketika sedang bercengkrama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui menemui Abu Bakar dan langsung mencela Abu Bakar.
Makian, kata-kata kotor keluar dari mulut orang itu.
Namun, Abu Bakar tidak menghiraukannya.
Ia melanjutkan perbincangannya dengan Rasulullah.

Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum.
Semakin marahlah orang Arab Badui tsb.
Untuk ketiga kalinya ia mencerca Abu Bakar dengan makian yang lebih menyakitkan dari sebelumnya...
Selaku manusia biasa, akhirnya, dibalaslah makian orang Arab Badui tersebut.
Maka terjadilah 'Perang Mulut'.

Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya.
Beliau meninggalkan Abu Bakar 'Tanpa Mengucapkan Salam'.
Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Abu Bakar tersadar dan menjadi bingung.

Dikejarnya Rasulullah yg sudah sampai di halaman rumahnya.
Kemudian Abu Bakar berkata :
"Wahai Rasulullah, janganlah Engkau biarkan aku dalam kebingungan yg sangat dalam.
Jika aku berbuat kesalahan, tolong jelaskan kesalahanku...
"

Rasulullah menjawab,
"Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dg membawa kemarahan, memfitnahmu lalu mencelamu, kulihat engkau tenang, diam dan engkau tidak membalas. Aku bangga melihat engkau orang yg kuat mengahadapi tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian. Dan aku tersenyum karena Ribuan MALAIKAT turun di sekelilingmu mendoakan dan memohonkan ampun untukmu, kepada ALLAH SWT."
Begitu pun yg kedua kali, ketika ia mencela serta memfitnahmu dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya.
Oleh sebab itu, aku tersenyum.

Namun...
Ketika ketiga kalinya ia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu.
Hadirlah iblis di sisimu.
Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan denganmu.
Aku tidak ingin berdekatan dengan iblis , dan aku pun enggan memberi salam kepada iblis."

Setelah itu Abu Bakar menangis....

Abu Dzar, yang selalu 'sendirian'

Wanita itu menyadari bahwa suaminya akan wafat, tak lama lagi. Butir-butir air mata mulai membasahi pipinya.

“Mengapa engkau menangis?” tanya lelaki itu, yang tak lain adalah Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu ‘anhu.

“Bagaimana mungkin aku tidak menangis, sementara engkau akan wafat dan aku tidak punya kain untuk dijadikan kafan…” jawabnya sesenggukan.

“Jangan menangis, bergembiralah. Sebab saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Akan wafat seorang laki-laki diantara kalian di tanah gersang, disaksikan sekelompok orang beriman.’ Para sahabat yang mendengar hadits ini, semuanya telah meninggal di kota, di kampung, atau di tempat lain. Tinggallah aku yang kini akan meninggal di tanah gersang ini.”

Abu Dzar sengaja mengasingkan diri di tanah gersang perbatasan Madinah dan Rabdzah. Sebab, sahabat yang zuhud ini tak mau terkena fitnah dunia. Umat Islam saat itu telah mencapai kemenangan dan perluasan wilayah. Ia melihat banyak orang hidup mewah dan meninggalkan kesederhanaan. Ia telah berdakwah dan mengajak khalifah untuk menggerakkan umat Islam kembali hidup sederhana seperti pada zaman Nabi, namun dakwahnya yang ‘tegas’ dipandang sahabat lain tidak tepat dengan kondisi masyarakat. Akhirnya ia pun mengasingkan diri, demi persatuan umat Islam.

Beberapa saat kemudian sang istri keluar dari gubuk mereka dan melihat ke kanan dan ke kiri. Dan dengan izin Allah, rupanya ada rombongan musafir yang melintasi tempat itu.

“Tolong, lelaki muslim meninggal, kafanilah dia.”
“Siapa laki-laki ini?” tanya para musafir.
“Abu Dzar Al Ghifari.”
“Sahabat Rasulullah?”
“Iya..”


Dengan penuh haru mereka pun mendatangi Abu Dzar Al Ghifari. Salah seorang pemuda kebetulan membawa kain pemberian ibunya. Kain itulah yang dipakai untuk mengkafani Abu Dzar Al Ghifari.

Semoga rahmat Allah selalu tercurah kepada Abu Dzar...

Mukmin dan Dunia

Tidaklah berbahaya..
jika sebuah kapal berada diatas air
Tetapi yang berbahaya adalah...
Jika ada air didalam kapal

Keberadaan seorang mukmin di dunia
Bukanlah suatu masalah
Yang menjadi masalah adalah...
Jika dunia berada di hati seorang mukmin